"membelenggu" poems
Aku terlalu kecil
Sekecil titik di atas kertas kusut
Aku hanyalah satu dari ribuan
bahkan tak terlihat
Terlindung dalam cangkang sempit dan tipis
Bersembunyi di balik daun yang mulai berubah warna
Rumah pertamaku
akhirnya aku terlahir
sebagai sesuatu yang aneh
Aku si buruk rupa
Tubuhku dipenuhi bulu
Merangkak lemah menyusuri ranting
Menggerogoti daun disekitar
membuatnya berlubang
melarikan diri dari burung
Bergulat dengan semut rangrang
Membuat saya jatuh ke tanah
Hingga buluku rontok berserakan
Hanya cacing yang menyapa
Mereka membenci saya sangat
Aku bisa terbunuh, tidak semuanya menerimaku
sampai aku terjebak dalam dimensi lain
Aku si ulatbulu kesepian yang bersembunyi
Bertapa di dalam kantung usang yang kecil
Mencoba untuk membunuh waktu
Berjuang dalam kegelapan untuk mencapai keindahan
Sudah cukup persinggahanku
Mengarungi kerasnya penantian panjang yang membelenggu
Aku terlahir kembali
menjadi berbeda dan mereka menyukaiku
kebahagiaan berlimpah tiba
terbang tanpa batas dengan kedua sayap yang cantik
pergi ketempat yang indah yang kumau
Sep 16, 2016
Sep 16, 2016 at 10:23 PM UTC
Aku adalah sang waktu
Pejalan klise dari masa lalu
Aku adalah sang waktu
Tak pernah terbayang apalagi tersentuh
Aku adalah sang waktu
Hujan dan badai tak pernah hentikan laju
Aku adalah sang waktu
Sering dilupakan namun tak kenal pilu
Aku adalah sang waktu
Langkah tak berdaya siap membunuhmu
Aku adalah sang waktu
Menggerus detik yang kian rapuh
Aku adalah sang waktu
Tak diharapkan namun seketika membelenggu
Jan 18, 2019
Jan 18, 2019 at 9:39 AM UTC
Apa yang ku mahu
Hanya ku yang tahu
Biar ada datang membelenggu
Akan datang angin menyatu
Lari,lari pergi saja diriku
Jauh ke puncak aku tetap berlalu
Aku jiwa lama termangu
Bosan, letih jadi diriku
Kerna ada saja yang rasa tahu
Lebih dari rohku.
16 April 2012
Jun 26, 2018
Jun 26, 2018 at 2:54 AM UTC
ada rasa haru, mungkin rindu
saat ku pejam mata
karena disitu, sentuhmu membelenggu
dekapmu masih erat
kecupmu masih di bibirku
memori yang berputar
berlari secepat angin
yang merambah rambutku
saat ku terduduk diboncengmu
aku tidak memandang kebelakang
aku tidak akan memandang kebelakang
namun sejumput rasa tertinggal
tak ingat untuk dibawa pergi bersama pisahmu
dan kini yang tersisa, hanya belaka
May 28, 2018
May 28, 2018 at 2:02 PM UTC
Sejak kapan kita menjadi pendiam dan enggan tuk bertukar kabar?
Sudah lama rasanya tidak membersihkan debu yang makin tebal, bersarang (yang kuyakin) di masing-masing satu ruang kecil nan sempit di hati kita. Aneh rasanya mengingat dulu masing-masing dari kita pernah saling menguatkan satu sama lain dikala masa kejatuhan, saling membahagiakan di tengah badai yang bergemuruh.
Pada akhirnya, waktu seolah memaksa kita melanjutkan perjalanan dengan cara berpisah, saling memilih arah yang berbeda. Seolah memberi isyarat bahwa kau dan aku memang tidak diciptakan untuk bersama. Dan benar, waktu membuktikan ucapannya. Kita lambat laun mewujud bumi dan langit, hitam dan putih, atau bahkan air dan api.
Memilih tunduk dengan titah sang waktu, dengan ego yang kau Tuhan-kan, mulai berjalan tanpa beban meninggalkan semua kenangan, termasuk aku yang tertahan di persimpangan jalan. Sedangkan aku; dengan perasaan kalut yang membelenggu hati, coba berjalan memikul sisa-sisa petualangan kita, menjinjing sekantong mimpi yang kala sedih maupun bahagia pernah kita kumpulkan bersama-sama.
Berteman sunyi, terus berjalan meski sepi sendiri.
Feb 22, 2021
Feb 22, 2021 at 9:39 AM UTC