Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"membayangkan" poems
voice over: narrator Pemberitahuan terakhir disuarakan, keberangkatan pesawat tujuan Frankfurt Airport akan lepas landas tak lama lagi lagi, orang-orang bersiap masuk kabin. Ada satu hal yang terlintas di pikiran Atlas; ia tahu Venus tidak akan datang. Tidak dalam hitungan waktu tiga puluh menit, sepuluh menit, apalagi lima menit. Percuma saja menunggu, Venus benar-benar tidak datang. Perpisahan mereka sudah berlangsung semalam, pertemuan terakhir yang berhasil membuat Atlas berkali-kali memutar ulang seluruh adegan, mendengar suara gelak tawa mantan pacarnya dalam benak khayal, membayangkan senyuman Venus yang ia lukiskan untuknya terakhir kali. Pertemuan terakhir mereka kemarin bahkan tidak terasa seperti perpisahan, namun tetap bagi Atlas terasa begitu janggal. Mungkin karena terlalu tiba-tiba dan cepat, pertemuan terakhir yang merupakan perpisahan, pertemuan terakhir paling bahagia dan paling sedih, yang juga menyudahi hubungan singkat mereka. Sejenak Atlas merasa sendu. Dalam lubuk hatinya masih sesekali berharap Venus meneleponnya, mengatakan bahwa ia akan datang mengucapkan selamat tinggal. Namun, nyatanya ucapan selamat tinggal Venus hanya berupa memori-memori tentangnya; seratus hal yang tertanam sejati di dalam hati Atlas mengenai segala hal tentang kejanggalan perempuan itu, gelak tawanya, senyumanya, aroma tubuhnya, kerlingan matanya, rambut hitam tebalnya, wajah pemikirnya, serta sosoknya yang seringkali membuat dirinya bertanya-tanya; kisah apa saja yang tidak diketahuinya, yang pernah terjadi dalam sejarah hidupnya sehingga membentuk pribadi sepertinya yang begitu terlihat bagai keajaiban seni paling nyata di mata Atlas? Baginya, Venus adalah sebuah takdir dan keajaiban menjadi satu. Dan, ia tidak akan pernah ada niat untuk melupakannya.
0
Jan 28, 2017
Jan 28, 2017 at 6:56 AM UTC
daydreaming part 2: tentang perpisahan
voice over: narrator Pemberitahuan terakhir disuarakan, keberangkatan pesawat tujuan Frankfurt Airport akan lepas landas tak lama lagi lagi, orang-orang bersiap masuk kabin. Ada satu hal yang terlintas di pikiran Atlas; ia tahu Venus tidak akan datang. Tidak dalam hitungan waktu tiga puluh menit, sepuluh menit, apalagi lima menit. Percuma saja menunggu, Venus benar-benar tidak datang. Perpisahan mereka sudah berlangsung semalam, pertemuan terakhir yang berhasil membuat Atlas berkali-kali memutar ulang seluruh adegan, mendengar suara gelak tawa mantan pacarnya dalam benak khayal, membayangkan senyuman Venus yang ia lukiskan untuknya terakhir kali. Pertemuan terakhir mereka kemarin bahkan tidak terasa seperti perpisahan, namun tetap bagi Atlas terasa begitu janggal. Mungkin karena terlalu tiba-tiba dan cepat, pertemuan terakhir yang merupakan perpisahan, pertemuan terakhir paling bahagia dan paling sedih, yang juga menyudahi hubungan singkat mereka. Sejenak Atlas merasa sendu. Dalam lubuk hatinya masih sesekali berharap Venus meneleponnya, mengatakan bahwa ia akan datang mengucapkan selamat tinggal. Namun, nyatanya ucapan selamat tinggal Venus hanya berupa memori-memori tentangnya; seratus hal yang tertanam sejati di dalam hati Atlas mengenai segala hal tentang kejanggalan perempuan itu, gelak tawanya, senyumanya, aroma tubuhnya, kerlingan matanya, rambut hitam tebalnya, wajah pemikirnya, serta sosoknya yang seringkali membuat dirinya bertanya-tanya; kisah apa saja yang tidak diketahuinya, yang pernah terjadi dalam sejarah hidupnya sehingga membentuk pribadi sepertinya yang begitu terlihat bagai keajaiban seni paling nyata di mata Atlas? Baginya, Venus adalah sebuah takdir dan keajaiban menjadi satu. Dan, ia tidak akan pernah ada niat untuk melupakannya.
Continue reading...
4
Palembang, 19 Juni 2012 Apa yang salah pada diriku? Membuka lembaran lama, mengenangmu Menangis lagi, mengingat kamu Membayangkan wajahmu Mengingat raut senyum indahmu Apa yang salah pada diriku? Mencuri bagian hidupmu Menyimpannya di memoriku Apa yang salah pada diriku? Bergerak pun enggan Berjalan pun aku tak mampu Pikiran ini tak terfokus Karena tergenangi kenangan yang lalu Apa yang salah pada diriku? Menunduk bersandar dagu pada lutut Berdoa, meminta pada-Nya Apa yang salah pada diriku? Berucap pun aku tak sanggup Hanya bisa mendengar lagu, dan aku ingat kamu Untuk berbaring lagi punggungku hampir runtuh Duduk pun tak bisa lagi Apa yang salah pada diriku? Melototi layar putih Hanya ada putih Apa yang salah pada diriku? Mata ini tak mau tertutup, tak bisa tidur Terjaga siang dan malam Aku bernafas seakan tak ada lagi udara Aku melihat seakan tak ada lagi hal yang nyata
0
Jun 18, 2012
Jun 18, 2012 at 3:36 PM UTC
Apa Yang Salah Pada Diriku?
dengan apa aku harus mencintaimu? bertahun-tahun aku habiskan untuk mencari namamu entah pada do'a yang mana atau pada ayat ke berapa dengan apa aku harus mencintaimu? bertahun-tahun aku lewatkan demi menemukanmu entah pada sunyi yang mana atau pada sepi di mana dengan apa aku harus mencintaimu? bertahun-tahun aku arungi dengan menyusuri jejakmu entah pada dzikir yang bagaimana atau sujud yang mana dengan apa aku harus mencintaimu? bertahun-tahun aku membayangkan wajahmu pada setiap entah dan setiap langkah yang ngungun lalu aku bertanya: dengan apa aku harus mencintaimu?
0
Aug 3, 2017
Aug 3, 2017 at 9:39 AM UTC
dengan apa aku harus mencintaimu
Mulai mengelilingi lautan pagi ini Berusaha menjernihkan pikiran Mencoba mengumpulkan akal sehat Sembari menemani nelayan berlayar Membayangkan beberapa hal menarik Bersamamu Berlayar bersama Hingga petang lalu menikmati beberapa lauk pauk disamping lautan Berulang kali mengurungkan impian Demi kenyataan Yang membungkam ekspetasi Hanya perjalanan waktu yang dapat menjawab semua Sembari merenungkan cara agar kau dapat disampingku kembali
0
Jul 2, 2019
Jul 2, 2019 at 6:41 AM UTC
Segenap Harapan.