"melebur" poems
seluruh hidup, kau akan berdengung menyanyikan lagu selamat tidur ke telinga ini,
dan di tempat tidur mati ini akan menjadi semua saksi..
suatu hari ku kan memuat sebuah memoar di dalam genggaman tanganmu..diiringi sebuah melodi terputus-putus dan bergetar..
mereka menemukan cinta dan ketenangan seperti mereka belum pernah mengenalnya..seperti sebuah daging yang diangkat dari sinar matahari
mereka menemukan cinta dan ketenangan seperti mereka belum pernah mengenalnya..dan tulisan berakhir tanpa sebuah resolusi..sebuah revolusi
sebuah kesudahan perlahan, meleleh, melebur melalui ruang dan waktu ke dalam diri lagi..kebutuhan sebuah realita akan menjadi hampa..
mereka berteriak kepada kehampaan “oh wahai kosmos, oh cahaya suci!”..
ia akhirnya belajar dari sebuah bayangan tidak hanya pada kegelapan
dan kepada mereka yang tidak percaya pada sebuah proses, kelak akan menjadi akar yang busuk di dalam sebuah kandungan.
Mar 29, 2012
Mar 29, 2012 at 10:47 AM UTC
Palembang, 24 November 2013
Suara itu
Suara yang tak terdengar, suara yang membeku
Menyentuh dalam kalbu
Miris, suara itu
Bau itu
Bau yang tak tercium, bau yang melebur
Menyayat hatiku
Kasihan bau itu
Pandangan itu
Pandangan yang terpaku, hanya diam membisu
Mengabaikanku
Tak menoleh sedikitpun
Sentuhan itu
Senyuhan palsu, yang tak tersentuh
Memukulku, di sini
Di arah sini, dekat hatiku
Pikiran ini
Pikiranku, yang tak berujung
Memikirkanmu
Membuat aku ragu
Nov 24, 2013
Nov 24, 2013 at 10:15 AM UTC
Kuharap ingatanku tidak
Berjalan mundur perlahan
Dengan keteguhan
Lalu berdiam
Melebur
Hancur
Seperti
Jam
Jam
Di
Ran
Ting
Ranting
Lukisan Dali
Kuharap aku
Disalib
Melayang
Tanpa
Lihat
Duka
Mu
Hantu-hantu
Vermeer
Dalam
Ruang
Ter
Tutup
Menjelma
Meja
Menopang
Detik
Demi
Detik
Dali,
Mungkin begitu
Seru dunianya
Tanpa kau di dalam sana
Sep 8, 2016
Sep 8, 2016 at 9:06 AM UTC
*there is no implied right to dim the sun ..
there is no sign most solemn moon ..
when wood was burn by the fire until melted charcoal,
then earth sincerely embracing ember without a groan..*
┈┈┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶ ƦУ »̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈┈┈┈┈┈┈
"tiada tersirat sang mentari kan meredup,
tiada tersurat rembulan kan tersyahdu..
bila kayu terbkar oleh api hingga melebur arang,
maka bumi kan tulus merangkul bara tanpa mengerang.."
Dec 21, 2013
Dec 21, 2013 at 5:45 PM UTC
Dikatakan berdampingan
bagai langit dan laut.
Dibatasi garis,
mengiris miris.
Dipisahkan antara,
membawa lara.
Kemudian
akankah
diamnya langit dan laut
teralih dengan ramainya
ombak dan pasir?
Pada akhirnya mereka bedebur.
Akankah kita juga ikut melebur?
Jul 7, 2020
Jul 7, 2020 at 9:10 AM UTC
Rumah joglo di tengah sawah.
Dengan cahaya remang yang berasal dari pojok ruangan ini.
Pemutar piringan hitammu baru selesai kau perbaiki.
Ku memilih untuk mendengarkan album Chet Baker Sings dengan vokalnya, seingatku itu milik mendiang kakekmu.
Gelas-gelas tinggi sudah kau siapkan, sebotol anggur dari Bordeaux sudah ku buka.
Makan malam kita sudah tandas, dua piring penuh berisi daging sapi yang sore tadi ku panggang, hampir matang penuh, bersama hancuran kentang yang sedikit dibubuhi garam dan lada, dengan saus krim jamur.
Jasmu sudah kau tanggalkan dan sampirkan di sisi sofa coklat tua itu.
Gaun hitamku masih rapih melekat pada tubuhku, namun rambutku, yang hanya sepanjang bahu, sudah ku urai, agar kau bisa menghirup harum bunga sakuranya.
Kita menari, pelan, sembari menengguk asam dan manisnya anggur Bordeaux itu.
Ku kira Chet Baker telah letih bernyanyi dan bermain trumpet, suaranya perlahan hilang, digantikan oleh suara jangkrik dari luar sana.
Aku pun lelah, ku rebahkan tubuhku di sofa coklat itu, menyandarkan kepala di dekat sampiran jasmu, menghirup bau cendana yang hampir hilang.
Kau menghampiriku, memelukku erat, menghirup leherku, pipiku, dan mengecup bibirku.
Pelan-pelan, satu per satu pakaian kita tanggal, di bawah cahaya temaram, ditemani suara jangkrik, kita melebur, melebur jadi satu.
Tanah Ubud, tak pernah gagal membuatku jatuh cinta, sengaja maupun tidak.
Jun 5, 2020
Jun 5, 2020 at 1:57 PM UTC
Apa yang terjadi ketika
minyak tanah bertemu api?
Kebakaran.
Itulah yang terjadi pada kami
Saling menghabisi sampai terlalu sering.
Tapi terkutuklah!
Tiada habis-habisnya sumber daya kami,
mungkin baru habis kala reyot nanti!/
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Saat-saat kami melebur
menghasilkan bunga api yang berkobaran—
saling mengadu tinggi lidah api,
hingga disembur air mata
dari mulut sang jawara,
itu lebih berharga dalam sarekat ini
dibandingkan bercokol bagai sahaya di kelas./
Sungguh absurd.
Sepertinya kami harus jauh-jauh
dari lahan gambut,
biar tak ada lagi karhutla bersengkarut.
Sebab Lautan pun
membara dekat-dekat kami./
Tapi
Jangan serius-serius betul lah
Kami lucu benar, percayalah.
Kami lebih suka berkelakar,
daripada diciduk karena jadi makar.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
#ReformasiDikorupsi
Sep 27, 2019
Sep 27, 2019 at 9:23 PM UTC
Setetes, dua tetes, tiga tetes, empat tetes
Air hujan akhirnya kembali pulang ke kampung halamannya
Ke tanah kering,
Berisi hamparan debu dan keluhan para penghuni kota yang melebur jadi satu
Melagu, menyelimuti atmosfer kota yang dihinggapi kebosanan dan ketergesaan
Kemajemukan dan kesamaan-kesamaan
Kebebasan dan keterbatasan
Kesempatan dan hambatan-hambatan
Jalan panjang menuju rumah
Dihuni sepi, tetesan hujan di jendela bus, dan pikiran-pikiran tak lumrah
Trotoar basah dan langit gelap
Berhenti di satu halte,
Seorang laki-laki berkemeja kotak-kotak datang menghampiri
Tanyanya,
“Hai, di sini kosong?”
Perempuan itu diam, mengangguk.
“Kosong.”
Laki-laki itu duduk di sebelahnya, memangku tas ransel hitam, dan bertanya lagi,
“Tahu kenapa langit tiba-tiba menangis?”
Perempuan itu menggeleng.
“Kenapa?”
Laki-laki itu bicara lagi, mendekatkan kepalanya,
“Karena langit sedang mencari rumahnya yang lama hilang.”
Tepat saat itu,
Si perempuan tersadar,
Terlalu lama ia tenggelam,
Dalam percakapan yang hanya hidup di ruang imajinasinya.
Aug 26, 2019
Aug 26, 2019 at 7:30 AM UTC