Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"melayang" poems
Bila memang AKU BUKAN PILIHAN HATI MU Biar ku pendam CINTA DALAM HATI ku Sungguh, yang akan ku berikan UNTUKMU SELAMANYA Pergilah kau SEJAUH MUNGKIN membawa LAGUKU Ke TEMPAT TERINDAH di SURGAMU RASA SAYANG ini hanya untukmu Dan ku akan menunggu DI SINI UNTUKMU Berharap kau bawa LAGU CINTA yang TERCIPTA UNTUKKU WAKTU YANG DINANTI akankah datang? DEMI WAKTU ku kan berubah Tak akan SEPERTI YANG DULU Yang hanya berkhayal melihat wajahmu Di BAYANG SEMU Sungguh indah kau bagiku TIADA YANG SEPERTI DIRIMU Yang ku kagumi sepanjang waktu Ku rindu SAAT INDAH BERSAMAMU Walau di mimpiku aku mencintaimu Namun, APALAH ARTI CINTA tanpa hadirmu Kumohon IZINKAN AKU Member CIUMAN PERTAMA KU untukmu Karna saat indah itu mungkin TAKKAN TERULANG BERJANJILAH kau tuk selalu menghiasi ku Karena tak satupun SAHABATKU yang indah seperti mu Ku ingin terbang MELAYANG UNTUK TEMUKAN dirimu yang SESUNGGUHNYA Ku sadari memang BUKAN AKU untukmu Tapi, aku hanya ingin kau BERIKAN AKU CINTA Meski sedikit, walau terpaksa Tak lelah SUARA HATI ku memanggilmu Yang ingin menjalani CERITA BERSAMAMU DOA ku panjatkan selalu Memohon tuk bertemu kamu Meskipun kamu punya CINTA YANG LAIN Ku rela melepasmu untuknya Kau TAK PERLU mengaku bahwa kau cinta aku Memang, tak pernah kau cinta aku Yang ku kenang kini adalah Ku bahagia mengenal LAKI-LAKI seperti kamu
0
Oct 16, 2011
Oct 16, 2011 at 10:33 AM UTC
Ungu
"Dunia ini terlalu indah untuk dilukis, Sayang," Begitu katanya "Dunia ini juga terlalu luas untuk dipahami, Sayang," Begitu pula katanya Aku tetap tak mengerti Mengapa masih ada orang yang merasa dunia ini Terlalu sempit untuk diketahui Terlalu sulit untuk dijelajahi Apakah jendela cakrawala mereka saja yang sempit? Atau nyali mereka saja yang tak bisa berdiri sendiri? Hanya berani menguntit ditemani mata menyipit? Barangkali pikiran mereka juga hanya bisa mengintip? "Dunia ini dipenuhi orang aneh, Sayangku," Ujarnya kemudian Secangkir teh diteguknya perlahan "Dunia ini juga dipenuhi orang berotak kosong, kamu tahu itu," Kukatakan dalam hati bahwa aku tahu Tentu saja kami berdua tahu Bumi ini dihuni benak-benak yang melayang liar di balik masing-masing bahu Yang tak bisa diam walau hanya menunggu waktu Menunggu pikiran gila lainnya merayap masuk ke dalam kepalanya Membuat secarik kertas dan sebuah pulpen meleleh di tangannya Melantunkan kalimat-kalimat indah menjadi sebuah sajak Menyulapnya menjadi sebuah mahakarya yang terus menanjak Kukatakan sekali lagi dalam hati bahwa aku tahu Tentu saja kami berdua tahu Bumi ini juga dihuni benak-benak licik yang tak punya dinding malu Yang meraup beribu untung tak kenal waktu Diam-diam aku bertanya juga Di manakah jiwa-jiwa kotor itu bisa membeli dinding malu? Mengapa mentalnya tak beda jauh dengan mental para benalu? Orang-orang aneh itu masih terus menunggu waktu Orang-orang berotak kosong itu malah berlari meninggalkan waktu Orang-orang aneh itu terus menciptakan karya Orang-orang berotak kosong itu malah dibicarakan di berita pagi dan dunia maya Orang-orang aneh itu terus menumbuhkan bunga di atas nama bangsa Orang-orang berotak kosong itu malah menumbuhkan duri di bawah nama bangsa Seperti yang saat ini banyak terjadi, Seniman dan Koruptor.
0
Jan 18, 2014
Jan 18, 2014 at 2:37 AM UTC
Dunia, Seni, Koruptor
"Dunia ini terlalu indah untuk dilukis, Sayang," Begitu katanya "Dunia ini juga terlalu luas untuk dipahami, Sayang," Begitu pula katanya Aku tetap tak mengerti Mengapa masih ada orang yang merasa dunia ini Terlalu sempit untuk diketahui Terlalu sulit untuk dijelajahi Apakah jendela cakrawala mereka saja yang sempit? Atau nyali mereka saja yang tak bisa berdiri sendiri? Hanya berani menguntit ditemani mata menyipit? Barangkali pikiran mereka juga hanya bisa mengintip? "Dunia ini dipenuhi orang aneh, Sayangku," Ujarnya kemudian Secangkir teh diteguknya perlahan "Dunia ini juga dipenuhi orang berotak kosong, kamu tahu itu," Kukatakan dalam hati bahwa aku tahu Tentu saja kami berdua tahu Bumi ini dihuni benak-benak yang melayang liar di balik masing-masing bahu Yang tak bisa diam walau hanya menunggu waktu Menunggu pikiran gila lainnya merayap masuk ke dalam kepalanya Membuat secarik kertas dan sebuah pulpen meleleh di tangannya Melantunkan kalimat-kalimat indah menjadi sebuah sajak Menyulapnya menjadi sebuah mahakarya yang terus menanjak Kukatakan sekali lagi dalam hati bahwa aku tahu Tentu saja kami berdua tahu Bumi ini juga dihuni benak-benak licik yang tak punya dinding malu Yang meraup beribu untung tak kenal waktu Diam-diam aku bertanya juga Di manakah jiwa-jiwa kotor itu bisa membeli dinding malu? Mengapa mentalnya tak beda jauh dengan mental para benalu? Orang-orang aneh itu masih terus menunggu waktu Orang-orang berotak kosong itu malah berlari meninggalkan waktu Orang-orang aneh itu terus menciptakan karya Orang-orang berotak kosong itu malah dibicarakan di berita pagi dan dunia maya Orang-orang aneh itu terus menumbuhkan bunga di atas nama bangsa Orang-orang berotak kosong itu malah menumbuhkan duri di bawah nama bangsa Seperti yang saat ini banyak terjadi, Seniman dan Koruptor.
Continue reading...
39
Fadil sungguh memilikinya Akan bahagia terasa selamanya Dihiasi lirik lagu yang indah Itulah momen special sepanjang masa, dengan Luapan cinta kasih di sekelilingnya Angkasa, bagai terbang melayang Nuansa hati hadir tercipta Ejaan kata terhias di awan-awan Sungguh indah langit terhias Pegang tangan erat-erat Untuk menantang tornado yang datang Tak terlepas, bahkan jangan sampai Riang selalu walau terhempas Agar cinta kan sampai bersama di surga
0
Oct 16, 2011
Oct 16, 2011 at 10:13 AM UTC
F.A.D.I.L A.N.E.S P.U.T.R.A
Andai aku seindah mu Rasa hati ku kan bahagia Lekuk senyum ku tak seindah mu Oh, sungguh berbeda antara kita Namun, ku tak peduli Semua akan hilang terbawa angin Yang akan tercipta rasa cinta, terus membuat ku bermimpi Merpati terbang melayang Indah tak kan hancur sedikitpun Rusa berlari kencang Akankah menggapai kebahagiaan? Luapan cinta tak tergapai Dalam hati ku berkata Inikah takdir hidup ku? Creates by Aridea Purple
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:33 AM UTC
A.R.L.O.N.S.Y M.I.R.A.L.D.Y
Kuharap ingatanku tidak Berjalan mundur perlahan Dengan keteguhan Lalu berdiam Melebur Hancur Seperti Jam Jam Di Ran Ting Ranting Lukisan Dali Kuharap aku Disalib Melayang Tanpa Lihat Duka Mu Hantu-hantu Vermeer Dalam Ruang Ter Tutup Menjelma Meja Menopang Detik Demi Detik Dali, Mungkin begitu Seru dunianya Tanpa kau di dalam sana
0
Sep 8, 2016
Sep 8, 2016 at 9:06 AM UTC
Ingatanku Bukan Salvador Dali
Aku pernah menjadi angin Menyusuri tingkap-tingkap rumahmu Membawa sejuknya pagi ke kamarmu Semilir menyentuh kulitmu, membangunkanmu Aku pernah menjadi awan Melayang-layang mengikutimu Menahan risau sampai menghitam Mendung kala itu Aku pernah menjadi lagu Kala kau menatap melalui kaca jendela Beradu dengan deru hujan Sayup menemani lamunanmu Aku pernah menjadi nada Suara yang kau beri warna Yang terus kau latih Selalu kau nyanyikan Aku pernah menjadi naskah Cerita indah di balik luka Dan kau adalah ratunya Drama yang kau pentaskan Aku pernah menjadi malam Dingin namun memberimu kebebasan Mengakhiri harimu yang lelah Menemanimu terlelap
0
Sep 8, 2017
Sep 8, 2017 at 5:10 AM UTC
Pernah
Kutatap senyuman indah itu. Senyuman yang selalu membuat hati melayang layang. Oh Tuhan, Boleh aku menyimpan senyuman itu? Aku tidak ingin senyuman itu hilang.
0
Jun 28, 2018
Jun 28, 2018 at 12:32 PM UTC
Senyuman
Ingin rasanya melayang jauh ke masa lampau Takkan ku biarkan sosoknya hadir Jauh ke masa lampau... Takkan ku biarkan kebahagiaan tersingkir Saat awan lahir ke peraduan Kenangannya memanggil manja Dengan menerobos dinding kenyataan Nyatanya ia telah hilang tak membekas apa-apa Perasaan semakin tinggi menjulang Kamu - Senja - Aku akan selamanya satu Kau benar telah memilih pergi Aku benar telah memutuskan menunggumu kembali.
0
Jun 4, 2018
Jun 4, 2018 at 8:25 AM UTC
Untuk Perasaan.
Ahh, judul... Kuliat ia akhir-akhir ini begitu menyebalkan Begitu merangah, berusaha mencolok Aku tidak yakin dia melakukannya dengan tidak sadar Aku tahu dia menginginkan sesuatu Kuasa! Aha, itu sudah pasti kuasa Kuliat ia begitu sombong hanya karena posisinya yang sedikit diatas Memandang rendah kata-kata serumpun yang ada di bawahnya Acuh melihat titik dan koma yang baginya tak ada apa-apanya Hanya karena font yang sedikit tebal dan size yang agak besar Membuat masyarakat kata memilihnya untuk mewakili suara mereka Pun merasa tak sebanding dengan apa yang dimiliki ‘Si Congkak’ itu Kata merasa rendah, titik koma tak berdaya Dan mereka... Kalah atas kedaulatannya sendiri Padahal judul hanya tak sadar Bahwa kuasa yang dimilikinya itu bukan karena dirinya sendiri Ia lahir karena keresahan kata Yang terombang-ambing bagai kapal di ganasnya lautan Menggantung bagai kepompong, terpenjara dalam ketidaksempurnaan Melayang-layang bak daun jatuh ditiup angin, tak tentu arah Mendambakan hidup yang bahagia dan tenteram untuk merdeka Karena ketakutan kata-lah Judul hadir sebagai jawaban Agar kata dilirik pembaca Agar kata digunakan dalam ruang diskusi Agar kata hidup dalam kepala Mengakar kokoh dan menjadi abadi Judul adalah cerminan pemimpin di negeri ini Seperti kacang yang acuh pada kulit, lupa diri Bahwa dirinya ada untuk mendengar keresahan Bukannya malah menjadi dalang kerusuhan Bahwa dirinya ada untuk mengerti suara yang dimarjinalkan Bukannya malah membuang muka, lalu lantas pergi meninggalkan Lihatlah ibu yang telah melahirkan Yang terpinggirkan mengandung harapan Yang menanti dengan merapal doa disetiap malam Anak baik jadilah baik Wahai kalian yang duduk manis di kursi tahta Bangkitlah! Kata-kata dan rakyat jelata yang dipandang sebelah mata Mendengarlah! Wahai judul "Si Congkak" juga para pemimpin negeri yang berlagak sok kuasa
0
Feb 27, 2021
Feb 27, 2021 at 11:55 AM UTC
JUDULNYA ADALAH JUDUL
Ahh, judul... Kuliat ia akhir-akhir ini begitu menyebalkan Begitu merangah, berusaha mencolok Aku tidak yakin dia melakukannya dengan tidak sadar Aku tahu dia menginginkan sesuatu Kuasa! Aha, itu sudah pasti kuasa Kuliat ia begitu sombong hanya karena posisinya yang sedikit diatas Memandang rendah kata-kata serumpun yang ada di bawahnya Acuh melihat titik dan koma yang baginya tak ada apa-apanya Hanya karena font yang sedikit tebal dan size yang agak besar Membuat masyarakat kata memilihnya untuk mewakili suara mereka Pun merasa tak sebanding dengan apa yang dimiliki ‘Si Congkak’ itu Kata merasa rendah, titik koma tak berdaya Dan mereka... Kalah atas kedaulatannya sendiri Padahal judul hanya tak sadar Bahwa kuasa yang dimilikinya itu bukan karena dirinya sendiri Ia lahir karena keresahan kata Yang terombang-ambing bagai kapal di ganasnya lautan Menggantung bagai kepompong, terpenjara dalam ketidaksempurnaan Melayang-layang bak daun jatuh ditiup angin, tak tentu arah Mendambakan hidup yang bahagia dan tenteram untuk merdeka Karena ketakutan kata-lah Judul hadir sebagai jawaban Agar kata dilirik pembaca Agar kata digunakan dalam ruang diskusi Agar kata hidup dalam kepala Mengakar kokoh dan menjadi abadi Judul adalah cerminan pemimpin di negeri ini Seperti kacang yang acuh pada kulit, lupa diri Bahwa dirinya ada untuk mendengar keresahan Bukannya malah menjadi dalang kerusuhan Bahwa dirinya ada untuk mengerti suara yang dimarjinalkan Bukannya malah membuang muka, lalu lantas pergi meninggalkan Lihatlah ibu yang telah melahirkan Yang terpinggirkan mengandung harapan Yang menanti dengan merapal doa disetiap malam Anak baik jadilah baik Wahai kalian yang duduk manis di kursi tahta Bangkitlah! Kata-kata dan rakyat jelata yang dipandang sebelah mata Mendengarlah! Wahai judul "Si Congkak" juga para pemimpin negeri yang berlagak sok kuasa
Continue reading...
43
di ruang 3x3 meter kusesap lagi secangir kopi yang sudah tak lagi hangat masam terkecap, pahit tersisa buih-buih krema berjejer rapi di ujung mulut cangkir menggetarkan diri menciptakan nada detak jantung yang semakin tinggi dan mengundang semut-semut emosi pada ujung jemariku didekap dibekap kebencian bersarang pada ekor jiwaku yang semerawut semakin hari, semakin menjadi-jadi amarah yang tak terbendung perkara hati bukanlah sebatas ruang bukan juga sekedar sudut yang bisa disinggahi, diacak-acak, lalu ditinggal begitu saja tanpa dibereskan ibumu saja marah kalau kamarmu berantakan debaran  demi debaran candu pada cairan pekat ini terkadang mengundang rasa kantuk bagai lorong tanpa ujung pikiranku melayang masuk ke masa lampau amarah dan kebencian mengombangambingku belum reda kesalku kutuk bertaburan dari bibirku ada rangkaian rencana cela yang menari-nari di kepalaku apa warasku pergi? apa warasku pergi? apa warasku pergi? benci ini tak perlu lagi disiram terjebak realita semu, mantra-mantra sukar dipahami tetapi nyata efeknya betapa sulitnya meracik ramuan ketenangan jiwa kalau kamu jahat, lalu aku balas jahat apa bedanya kamu dan aku? aku tidak mau sepertimu bukan pilhan pasif, dengan sadarku warasku ada aku pemenang petak umpetnya!
0
Jul 3, 2019
Jul 3, 2019 at 12:56 PM UTC
W A R A S
Andaikan aku dirimu Akan kulangkahkan kakiku keluar pintu Melayang seringan bunga kertas Kan kupenuhi hari-harimu dengan warna indahku Andaikan aku dirimu Akan kujelajahi setiap sudut kota Kutelisik namamu di papan-papan pengumuman Kucari wajahmu dalam setiap poster iklan Kan kuceritakan padamu hargamu bagiku Sambil mengantarmu pulang ke rumah Andaikan aku dirimu Aku akan berkawan dengan malam Kutangisi bintang-bintang jauh yang berpendar lemah Kemudian kupeluk rembulan dengan erat Kurayu agar ia mau menyinari jendela kamarmu Dan sinar lembut sewarna perak menerpa wajahmu Indah menemani kau yang terlelap Andaikan aku dirimu Jikalau nanti kau tak melihat diriku Aku sedang mencari pulau yang tak dikelilingi air Biar kuisi dengan lautan kembang api Agar kau menyaksikan letupan-letupan rindu penuh warna Merasakan jarak indah yang menyiksa
0
Jan 31, 2018
Jan 31, 2018 at 10:21 AM UTC
Teori Galaksi
Awan lara bersayapkan derita Diselimuti kabut tersenyum manis Tak perlu senyum itu kau balas Sebentar lagi menuju terang Kabut sirna melayang-layang Apa kabar... Tanyakan padaku Berikan sedikit suaramu Tak kuasa lagi mengharap cahaya Namun aku ingin melangkah Walau tanpa cahaya Mungkin ada suara Aku baik-baik saja... Sampaikan padaku Dari tepian jauh aku melihat Jangan coba kau menggapai Cukup doa yang mengantar Tanpa perlu kembali lagi
0
Nov 25, 2017
Nov 25, 2017 at 12:28 PM UTC
Sampaikan Nanti
/I/ Tik, tik, tik, angka-angka berdetak di tengah malam yang riuh dalam sunyi. Aku melukis senyum pada langit pirau yang terjebak dalam ruang-ruang gelap. Jendela mempersilahkan gagak masuk menyampaikan rekam tawa dari orang-orang yang melukis kesedihan di birai bibir. Seolah parade, bergembiralah seisi ruangan yang hanya ada aku saja di dalamnya. /II/ Kota mulai curiga kepada siapa saja yang mencoba menetap. Berlari dan tergesa adalah cara bunuh diri dalam kota yang melaju cepat dan semakin cepat. Aku memilih menjebak diriku dalam ruang tak berpintu, yang lantainya kususun dari debur gelombang bulan purnama. Ranjangnya mencekik kerongkonganku di pagi hari yang tak pernah tiba. /III/ Apakah terlambat untuk menjadi diriku sendiri? Ataukah terlalu cepat untuk menemukan diriku dalam tubuh yang nirmakna? Jika kesunyian berbunga makna, seharusnya aku menemui makna atas diriku pada suatu pagi di ujung simpul tali. Aku melayang, engkau menerka udara. Aku hidup, engkau perdebatkan prosesi pemakaman dalam daftar-daftar tak kasat mata. /IV/ Seekor nyamuk menganggu kewarasaannya dalam menghitung berapa bintang yang tak pernah melempar cahaya. Keningnya menjelma komidi putar, menjauh, mendekat, pergi dan kembali. Suara-suara berbaris, mempersempit lorong waktu dan jembatan kota yang mulai menua. Telapak tangannya bergetar seiring detak jantung yang terus mempercepat kembang-kempisnya. /V/ Senang pernah bersua, tapi aku tak ingat. Di antara aku dan lainnya, siapa yang memperkenalkan diri di awal pertemuan? Begitu juga esok hari, wajah siapa yang tergores dalam cermin? Siapa yang mengucap selamat tinggal dalam jumpa yang seharusnya tak pernah menjadi sebuah perpisahan?
0
Aug 1, 2020
Aug 1, 2020 at 12:28 AM UTC
Berdansa Dalam Gemerlap Rumah Sakit Jiwa.
/I/ Tik, tik, tik, angka-angka berdetak di tengah malam yang riuh dalam sunyi. Aku melukis senyum pada langit pirau yang terjebak dalam ruang-ruang gelap. Jendela mempersilahkan gagak masuk menyampaikan rekam tawa dari orang-orang yang melukis kesedihan di birai bibir. Seolah parade, bergembiralah seisi ruangan yang hanya ada aku saja di dalamnya. /II/ Kota mulai curiga kepada siapa saja yang mencoba menetap. Berlari dan tergesa adalah cara bunuh diri dalam kota yang melaju cepat dan semakin cepat. Aku memilih menjebak diriku dalam ruang tak berpintu, yang lantainya kususun dari debur gelombang bulan purnama. Ranjangnya mencekik kerongkonganku di pagi hari yang tak pernah tiba. /III/ Apakah terlambat untuk menjadi diriku sendiri? Ataukah terlalu cepat untuk menemukan diriku dalam tubuh yang nirmakna? Jika kesunyian berbunga makna, seharusnya aku menemui makna atas diriku pada suatu pagi di ujung simpul tali. Aku melayang, engkau menerka udara. Aku hidup, engkau perdebatkan prosesi pemakaman dalam daftar-daftar tak kasat mata. /IV/ Seekor nyamuk menganggu kewarasaannya dalam menghitung berapa bintang yang tak pernah melempar cahaya. Keningnya menjelma komidi putar, menjauh, mendekat, pergi dan kembali. Suara-suara berbaris, mempersempit lorong waktu dan jembatan kota yang mulai menua. Telapak tangannya bergetar seiring detak jantung yang terus mempercepat kembang-kempisnya. /V/ Senang pernah bersua, tapi aku tak ingat. Di antara aku dan lainnya, siapa yang memperkenalkan diri di awal pertemuan? Begitu juga esok hari, wajah siapa yang tergores dalam cermin? Siapa yang mengucap selamat tinggal dalam jumpa yang seharusnya tak pernah menjadi sebuah perpisahan?
Continue reading...
26
kulihat warna dedaunan begitu indah melayang di udara begitu kuat namun rapuh hingga terbang terbawa angin begitu rindang namun sekejap hilang ditelan pergantian bumi apakah benar yang kulihat adalah dedaunan? ataukah hanya hatiku menipu sang mata yang telah lama merindukannya biar biarlah tetap aku abadikan indah yang kulihat malam itu tersimpan jelas dalam hati dan mataku apapun itu dedaunan tetaplah dedaunan akan selalu indah walau sudah jauh pergi bersama angin
0
Jul 25, 2018
Jul 25, 2018 at 8:02 AM UTC
Dedaunan
Sedari kecil, aku mendambakan sepasang sayap di belakang punggung. Ingin aku arungi langit yang melintang dengan bebas. Ingin aku jelajahi awan yang seperti gumpalan kapas. Ingin aku miliki sepasang sayap agar anganku lepas. Burung-burung yang mengambang melantunkan tawa bahagia. Ketika aku menengadah, pandangan mereka jatuh menimpa iris jelaga. "Kenapa kamu tidak terbang?" kicauan mereka membentuk kalimat tanya. "Aku ingin, tapi takdir menyuruh aku menapaki tanah," timpalku sedikit berteriak. Burung-burung tertawa, melingkari kepalaku dengan serangkai gelak. Aku termenung, menatap sayap-sayap yang terbang menjauh. Andai aku bisa terbang, akan aku susul mereka yang mengambang. Akan aku lintasi awan sampai berlubang. Akan aku imbangi laju mereka tanpa secuil bimbang. Sayangnya, aku tidak bisa terbang. Aku cuma bisa menengadah, menatap biru dan biru dan biru yang membentang. Aku pandangi tirai biru sampai warnanya bergeser jadi abu. Siang yang biru diganti malam yang kelabu. Mirip seperti mimpi-mimpi yang dengan cepat menjadi semu. Pikirku, sedari dulu mimpiku selalu gagal bertaruh. Mungkin aku terlalu belagu? Terlalu banyak menaruh harap pada hidup? Aku berusaha maklum, berdamai dengan gagal yang mengikuti aku seperti hantu. Namun, terbang seperti burung adalah satu-satunya mimpi yang tidak mau aku buat luruh. Aku ingin terbang, menyapa semilir angin yang menerpa wajah. Aku ingin terbang, merangkai kapas di atas awan untuk menutup luka. Aku ingin terbang. Aku ingin terbang. Aku ingin damai datang ketika tubuhku melayang di udara. Maka, kepada Tuhan yang tinggalnya jauh di atas semesta, aku mohon dengan amat sangat agar aku bisa terbang. Aku menaiki undakan, menatap gemerlap kota yang mengimitasi kawanan kunang-kunang. Kedua tangan aku rentangkan, berharap Tuhan menjahit sayap yang kilau gemilang. Aku melompat, menantang kelam yang memenuhi langit malam. Aku terbang.
0
Apr 3, 2025
Apr 3, 2025 at 10:24 AM UTC
Aku Ingin Terbang
Sedari kecil, aku mendambakan sepasang sayap di belakang punggung. Ingin aku arungi langit yang melintang dengan bebas. Ingin aku jelajahi awan yang seperti gumpalan kapas. Ingin aku miliki sepasang sayap agar anganku lepas. Burung-burung yang mengambang melantunkan tawa bahagia. Ketika aku menengadah, pandangan mereka jatuh menimpa iris jelaga. "Kenapa kamu tidak terbang?" kicauan mereka membentuk kalimat tanya. "Aku ingin, tapi takdir menyuruh aku menapaki tanah," timpalku sedikit berteriak. Burung-burung tertawa, melingkari kepalaku dengan serangkai gelak. Aku termenung, menatap sayap-sayap yang terbang menjauh. Andai aku bisa terbang, akan aku susul mereka yang mengambang. Akan aku lintasi awan sampai berlubang. Akan aku imbangi laju mereka tanpa secuil bimbang. Sayangnya, aku tidak bisa terbang. Aku cuma bisa menengadah, menatap biru dan biru dan biru yang membentang. Aku pandangi tirai biru sampai warnanya bergeser jadi abu. Siang yang biru diganti malam yang kelabu. Mirip seperti mimpi-mimpi yang dengan cepat menjadi semu. Pikirku, sedari dulu mimpiku selalu gagal bertaruh. Mungkin aku terlalu belagu? Terlalu banyak menaruh harap pada hidup? Aku berusaha maklum, berdamai dengan gagal yang mengikuti aku seperti hantu. Namun, terbang seperti burung adalah satu-satunya mimpi yang tidak mau aku buat luruh. Aku ingin terbang, menyapa semilir angin yang menerpa wajah. Aku ingin terbang, merangkai kapas di atas awan untuk menutup luka. Aku ingin terbang. Aku ingin terbang. Aku ingin damai datang ketika tubuhku melayang di udara. Maka, kepada Tuhan yang tinggalnya jauh di atas semesta, aku mohon dengan amat sangat agar aku bisa terbang. Aku menaiki undakan, menatap gemerlap kota yang mengimitasi kawanan kunang-kunang. Kedua tangan aku rentangkan, berharap Tuhan menjahit sayap yang kilau gemilang. Aku melompat, menantang kelam yang memenuhi langit malam. Aku terbang.
Continue reading...
16