Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"melahirkan" poems
bukan dentuman rasa yang membuat ini indah hatiku tidak berdegup kencang didekatmu perutku tidak melahirkan kupu-kupu dalam pelukanmu semuanya setenang lautan, kini meski orang bilang sepi sama dengan bosan tapi air beriak tanda tak dalam, sayang dan tak ada yang pergi jauh melewati arung jeram aku mencintaimu dalam kesunyian aku harap kau merasakan hal yang sama, juga
0
Feb 2, 2014
Feb 2, 2014 at 11:30 AM UTC
tenang
"Dalam segala manis dan tragisnya perkawinan, Kami sebagai perempuan, mati berkali-kali Dan lahir pula kembali— Tentu juga berkali-kali Disaat kau menyaksikan puluhan katup bibir yang mengatakan “Sah.” Disaat itu pula, Kau seakan disadarkan Bahwa kau tak lebih dari pisau yang harus terus diasah Bukan supaya tajam untuk dapat menikam, Namun supaya siap mencacah manis-pahitnya peristiwa kehidupan menjadi dadu-dadu kecil Lalu menanyakan untuk menyerapnya kembali Untuk diri sendiri Kau, Mati dan lahir lagi, Bukan sebagai isteri, Namun seutuhnya sebagai wanita yang mengayomi Sampai akhirnya kematian itu berdiri di depan pintu Untuk menjemputmu lagi Disaat kau duduk dan melihat pandangan puluhan manusia Yang seakan-akan mengatakan, “Berpandailah dengan urusan dapur.” Mereka dengan bodohnya menutup mata kepada fakta Bahwa sekarang, kau adalah busur Yang dengan senantiasa akan mengarahkan kemana anak-anak panahmu melaju Kau, bertulang rusuk dan adalah tulang rusuk Bukan tulang rusuk dari lanangmu, Namun dari rumah segala rumah Disaat insan keci itu menangis lahir, Disitulah Tuhan dengan segala kuasa-Nya menyemukakanmu Dengan kelahiran yang absolut. Mutlak. Nyata. Tanpa majas atau embel-embel. Kau, bukan hanya wanita bersusu yang menyusui; Walau serapanmu terhadap puji-kejinya kehidupan Akan juga diserap oleh ‘anak panah’ mu Melalui air susu dan tutur katamu Disaat kau melahirkan anak manusia, Tentunya tanpa tanda tanya, Kau betul-betul Lahir kembali."
0
Apr 18, 2019
Apr 18, 2019 at 10:25 PM UTC
Lahir Matinya Perempuan
"Dalam segala manis dan tragisnya perkawinan, Kami sebagai perempuan, mati berkali-kali Dan lahir pula kembali— Tentu juga berkali-kali Disaat kau menyaksikan puluhan katup bibir yang mengatakan “Sah.” Disaat itu pula, Kau seakan disadarkan Bahwa kau tak lebih dari pisau yang harus terus diasah Bukan supaya tajam untuk dapat menikam, Namun supaya siap mencacah manis-pahitnya peristiwa kehidupan menjadi dadu-dadu kecil Lalu menanyakan untuk menyerapnya kembali Untuk diri sendiri Kau, Mati dan lahir lagi, Bukan sebagai isteri, Namun seutuhnya sebagai wanita yang mengayomi Sampai akhirnya kematian itu berdiri di depan pintu Untuk menjemputmu lagi Disaat kau duduk dan melihat pandangan puluhan manusia Yang seakan-akan mengatakan, “Berpandailah dengan urusan dapur.” Mereka dengan bodohnya menutup mata kepada fakta Bahwa sekarang, kau adalah busur Yang dengan senantiasa akan mengarahkan kemana anak-anak panahmu melaju Kau, bertulang rusuk dan adalah tulang rusuk Bukan tulang rusuk dari lanangmu, Namun dari rumah segala rumah Disaat insan keci itu menangis lahir, Disitulah Tuhan dengan segala kuasa-Nya menyemukakanmu Dengan kelahiran yang absolut. Mutlak. Nyata. Tanpa majas atau embel-embel. Kau, bukan hanya wanita bersusu yang menyusui; Walau serapanmu terhadap puji-kejinya kehidupan Akan juga diserap oleh ‘anak panah’ mu Melalui air susu dan tutur katamu Disaat kau melahirkan anak manusia, Tentunya tanpa tanda tanya, Kau betul-betul Lahir kembali."
Continue reading...
39
Pernahkah kita memikirkan, bagaimana cara Maria melahirkan Yesus P i k i r k a n l a h.... Ya...benar sama seperti manusia, seperti seorang ibu yang melahirkan Menahan sakit dan berpeluh Tak seorang dokter ataupun bidan membantu Hanya tangan Tuhan, Sang Allah Bapa yang memberikan kekuatan Menopang dan dapat menjalankan persalinan dengan sempurna Maria seorang perawan yang tidak pernah melahirkan sebelumnya Melakukan kehendak Tuhan seperti yang sudah dikatakannya: "Jadilah kepadaku seperti kehendakMu" Berserah ditanganNya, diantara kesendirian dan kemustahilan Berseru kepada Tuhan:' KehendakMu Tuhan kulaksanakan!" Jadilah kita seperti Maria pada jaman ini Berserah akan kehendak Tuhan Walau jalan tak lapang, walau rintangan tak kurang Tetapi tanganNya tak pernah melepaskan kita Pelukkannya tak pernah kurang kehangatan KasihNya yang selalu menyertai IMANUEL...
0
Dec 20, 2016
Dec 20, 2016 at 9:12 PM UTC
Imanuel
Pemerintah Indonesia secara terang-terangan melakukan pemerasan dan perampasan terhadap sumber kekayaaan di tanah Papua. Masyarakat Papua kerap dihalangi dalam menentukan taraf hidupnya, mereka dibenturkan dengan kebijakan yang justru bertentangan dengan kebiasaan hidup masyarakat Papua. Bentuk menghalan-halangi masyarakat Papua untuk bertanggung jawab dan menentukan kehidupannya sendiri merupakan sebuah bentuk penindasan yang ditutupi dengan iming-iming kesejahteraan palsu. Hal ini hendak menggambarkan campur tangan pemerintah Indonesia dalam mencampuri fitrah ontologi penentuan nasib masyarakat Papua. Hingga kini pemerintah Indonesia melakukan tindakan yang semakin memperlihatkan penindasan terhadap masyarakat Papua. Mereka dituduh makar, ditakuti-takuti, diteror bahkan hingga dibunuh! Pemerintah Indonesia layak menyandang julukan "si kejam" atas tindakannya selama ini kepada masyarakat Papua. Pemerintah Indonesia yang dengan kekuasaannya melahirkan orang - orang yg terhempas dari kehidupannya sendiri. Bagaimana bisa masyarakat Papua memulai kehidupan yang bebas, sedangkan mereka adalah hasil dari kekejaman itu sendiri? Bagaimana mungkin mereka mendukung suatu tindakan yang membawa mereka kepada kehidupan yang terindas?
0
Jun 18, 2020
Jun 18, 2020 at 1:18 PM UTC
Negara, Teror & kesejahteraan palsu
Deru dan hening turun ke hilir Ingatan kita hanyut menuju muara Angin meniupkan wangimu Rindu menyala di perapian Melahirkan kehidupan tanpa suara Sedang awan berdusta tentang hujan Yang tak seindah dari balik jendela Namun aku lebih membenci jarak Yang membangun antara sebelum kita
0
Nov 22, 2017
Nov 22, 2017 at 12:44 AM UTC
Untitled
Ahh, judul... Kuliat ia akhir-akhir ini begitu menyebalkan Begitu merangah, berusaha mencolok Aku tidak yakin dia melakukannya dengan tidak sadar Aku tahu dia menginginkan sesuatu Kuasa! Aha, itu sudah pasti kuasa Kuliat ia begitu sombong hanya karena posisinya yang sedikit diatas Memandang rendah kata-kata serumpun yang ada di bawahnya Acuh melihat titik dan koma yang baginya tak ada apa-apanya Hanya karena font yang sedikit tebal dan size yang agak besar Membuat masyarakat kata memilihnya untuk mewakili suara mereka Pun merasa tak sebanding dengan apa yang dimiliki ‘Si Congkak’ itu Kata merasa rendah, titik koma tak berdaya Dan mereka... Kalah atas kedaulatannya sendiri Padahal judul hanya tak sadar Bahwa kuasa yang dimilikinya itu bukan karena dirinya sendiri Ia lahir karena keresahan kata Yang terombang-ambing bagai kapal di ganasnya lautan Menggantung bagai kepompong, terpenjara dalam ketidaksempurnaan Melayang-layang bak daun jatuh ditiup angin, tak tentu arah Mendambakan hidup yang bahagia dan tenteram untuk merdeka Karena ketakutan kata-lah Judul hadir sebagai jawaban Agar kata dilirik pembaca Agar kata digunakan dalam ruang diskusi Agar kata hidup dalam kepala Mengakar kokoh dan menjadi abadi Judul adalah cerminan pemimpin di negeri ini Seperti kacang yang acuh pada kulit, lupa diri Bahwa dirinya ada untuk mendengar keresahan Bukannya malah menjadi dalang kerusuhan Bahwa dirinya ada untuk mengerti suara yang dimarjinalkan Bukannya malah membuang muka, lalu lantas pergi meninggalkan Lihatlah ibu yang telah melahirkan Yang terpinggirkan mengandung harapan Yang menanti dengan merapal doa disetiap malam Anak baik jadilah baik Wahai kalian yang duduk manis di kursi tahta Bangkitlah! Kata-kata dan rakyat jelata yang dipandang sebelah mata Mendengarlah! Wahai judul "Si Congkak" juga para pemimpin negeri yang berlagak sok kuasa
0
Feb 27, 2021
Feb 27, 2021 at 11:55 AM UTC
JUDULNYA ADALAH JUDUL
Ahh, judul... Kuliat ia akhir-akhir ini begitu menyebalkan Begitu merangah, berusaha mencolok Aku tidak yakin dia melakukannya dengan tidak sadar Aku tahu dia menginginkan sesuatu Kuasa! Aha, itu sudah pasti kuasa Kuliat ia begitu sombong hanya karena posisinya yang sedikit diatas Memandang rendah kata-kata serumpun yang ada di bawahnya Acuh melihat titik dan koma yang baginya tak ada apa-apanya Hanya karena font yang sedikit tebal dan size yang agak besar Membuat masyarakat kata memilihnya untuk mewakili suara mereka Pun merasa tak sebanding dengan apa yang dimiliki ‘Si Congkak’ itu Kata merasa rendah, titik koma tak berdaya Dan mereka... Kalah atas kedaulatannya sendiri Padahal judul hanya tak sadar Bahwa kuasa yang dimilikinya itu bukan karena dirinya sendiri Ia lahir karena keresahan kata Yang terombang-ambing bagai kapal di ganasnya lautan Menggantung bagai kepompong, terpenjara dalam ketidaksempurnaan Melayang-layang bak daun jatuh ditiup angin, tak tentu arah Mendambakan hidup yang bahagia dan tenteram untuk merdeka Karena ketakutan kata-lah Judul hadir sebagai jawaban Agar kata dilirik pembaca Agar kata digunakan dalam ruang diskusi Agar kata hidup dalam kepala Mengakar kokoh dan menjadi abadi Judul adalah cerminan pemimpin di negeri ini Seperti kacang yang acuh pada kulit, lupa diri Bahwa dirinya ada untuk mendengar keresahan Bukannya malah menjadi dalang kerusuhan Bahwa dirinya ada untuk mengerti suara yang dimarjinalkan Bukannya malah membuang muka, lalu lantas pergi meninggalkan Lihatlah ibu yang telah melahirkan Yang terpinggirkan mengandung harapan Yang menanti dengan merapal doa disetiap malam Anak baik jadilah baik Wahai kalian yang duduk manis di kursi tahta Bangkitlah! Kata-kata dan rakyat jelata yang dipandang sebelah mata Mendengarlah! Wahai judul "Si Congkak" juga para pemimpin negeri yang berlagak sok kuasa
Continue reading...
43