"mandi" poems
No more vibrant bazaars with vegetables lined across carts
No more shouts of vendors piqued with anticipation for the day's sell
No more selling of fruits and poultry to the hordes of families lining near a mandi
I must be on the wrong street, my memory fails me.
No more spices being sold for a day of solace from the midnight cries of a mewling child?
No more rabble of vendors that belong on fields, away from home and from their wives?
Is this even Delhi?
Oh! Look a tricolor map on a desolate stretch of empty push-carts
Why does that torn flag that unites us all hang low in humility?
Where are all the people of the city?
Is that my India putting on a broken disguise?
The only thing holding me together is my dignity
Jan 26, 2021
Jan 26, 2021 at 12:43 PM UTC
Yes Sandi is my name
Im the player in her game
Chess is
Checkers times two
Had fun toying
With you
My friend
My friend
Mandi mentioned you
As I laid
Fingers splayed
Teasing her sin
Sandi
She moaned
Playful lusted tone
He's a great young man
Thoughts of you
Interrupted
She begged
Grabbing hands
Mandi
Mandi
What a woman you are
Kept a young man falling
Free like comets
From stars
Oh Mandi
You knew
That you had a lover
Who looked just like you
Mandi I assumed you didn't lie
Notice shock
Looking up
On you
Going down
On that guy
Sandi
Baby you called out
What the hell was that about
Mandi i thought you cared
Somehow the exhausting
********** we shared
Couldn't satisfy you
Mandi go to hell
Take your man
Downtown with you
My poem
Murray
Feb 2, 2012
Feb 2, 2012 at 8:07 PM UTC
Pagi memamah bangkai di halaman. Bangkai yang kami mangsa bersama semalam sembari duduk melingkar dan mengumpat atas ketidakmujuran yang menghantui kami. Ah, tapi ketidakmujuran dan kesendirian itu toh akhirnya diobati oleh makan malam bersama yang getir dan sangit. Kami sendirian bersama. Kami tidak mujur dan sendirian bersama agar dapat menyantap makan malam ini. Makan malam dengan menu bangkai bersaus pedas ditambah rempah, baunya yang pedih menusuk sengaja kami umbar sebagai pertanda bahwa kami telah hadir di kaki gunung yang belum menampakkan kehangatannya. Kaki gunung yang masih menjegal kaki kami. Kaki gunung yang tajam. Tapi malam mewujud dari lingsir menjadi lengser dan mentari dengan cepatnya kembali mencemooh melalui pagi. Lebih cepat dari kami yang sedang memangsa bangkai. Lebih cepat dari kunyahan kami pada tiap otot dan lemak. Sisa-sisa bangkai yang kami mangsa bersama semalam pun tercecer di halaman bersama bulir beras serta bebijian yang terjatuh dari kelopak mata kami, gantikan air mata. Kami harus membuang bangkai itu segera dan tak boleh sampai terlihat memangsa bangkai. Memangsa bangkai bukanlah hal yang patut dibanggakan terlebih lagi di kaki gunung yang beradab. Halaman kami berbau bangkai. Tak masalah jika aroma itu menujam hidung kala malam, karena manusia yang lalai akan menganggapnya sebagai mimpi belaka. Namun jika sampai bau itu tercium kala pagi maka kami lah yang akan kena kutuk. Kami akan menjadi anak-anak terkasih setan kaki gunung. Meski kami memangsa bangkai, kami tak menginginkannya. Kami hanya ingin bahagia dan dapat saling mencintai. Bangkai-bangkai itu tercecer dan kami tak memiliki tanah untuk mengubur bongkahan yang kini dimamah oleh pagi yang acuh. Pagi yang dingin. Pagi yang memanas. Pagi yang bising. Pagi yang dangdut. Pagi yang berdebu. Pagi yang memamah bangkai di halaman. Kami tak memiliki tanah untuk mengubur bangkai yang kami mangsa. Segala tanah telah beralih pada bak lapuk di kamar mandi agar kami dapat mensucikan diri siang nanti. Dan yang tersisa di halaman hanyalah bangkai, bulir beras, serta darah yang mengalir deras dari sungai di belakang kami. Pagi baru di ujung kepala. Belum banyak mata yang dapat menyaksikan nestapa kami. Bangkai-bangkai yang belum selesai kami kunyah, kami harus segera menyingkirkannya.
Pagi memamah bangkai di halaman. Kami memamah bangkai di halaman.
Serreh, 2017
Aug 17, 2017
Aug 17, 2017 at 10:21 AM UTC
Jam tujuh pagi tadi Ibu mengetuk pintu
Bunyi ketukan itu sampai empat kali terulang
Di ketukan empat setengah,
Pintu terbuka setengah juga
“Ya?”
“Mandi, Mbak.”
“Pingin tidur lagi.”
“Tapi hari ini hari kemenangan.”
Raut wajahnya yang telah menjadi warisanku tak sedikitpun menunjukkan bahwa dia telah memenangkan apapun.
Tidak seperti kebanyakan orang,
Untuknya hari ini bukanlah tentang seberapa kental kolam santan yang menyimbahi santapan-santapan
Bukan juga tentang berpeluk-rindu dengan orang-orang sambil sesekali bertukar kabar
Lelah mengutuk dirinya karena seumur hidup merasa kalah,
Aku tahu bahwa sehari saja ia ingin merasa menang.
Ia sendiri tahu betul saat hari ini berakhir dan tamu berpamit untuk pulang setelah semua habis terkunyah; ia akan kembali merasa kalah.
Menang atas dan untuk apa?
Seribu kata maaf pun ia telan begitu saja tanpa mencerna kata tersebut keluar dari mulut siapa
Tanpa adanya hari kemenangan yang dibanjiri oleh teks bersampul maaf,
Hidupnya memang sudah tentang meminta maaf dan memaafkan
Tak ada pilihan lain.
Hanya saja hari ini sinar sendu wajahnya menunjukkan bahwa akhirnya,
Setidaknya untuk dia,
Harapan pahitnya terhadap ‘maaf dan memaafkan’ akan diselebrasikan;
Dan seperti dirinya, lebih dari sejuta orang akan melakukannya walaupun untuk sehari saja.
Kepada siapa lagi ia harus meminta maaf dan meminta dimaafkan?
Jun 5, 2019
Jun 5, 2019 at 8:40 AM UTC
Tiga musim berturut-turut aku berupaya keras menggila
Di saat kewarasanku sedang ambruk
Pada saat yang sama aku tidak tahu apakah kau sadar bahwa aku sedang merasa
Atau jangan-jangan kau memang tidak pernah memerdulikannya
Sedikit banyak aku berharap semoga kau tidak perlu membaca ini
Jika iya, artinya aku sudah tiada di sini
Meskipun aku harus melihatmu mengenakan kaus hitam dengan rambut sepanjang itu—tentunya aku tak tahu bahwa rambutmu bisa tumbuh sepanjang itu
Dengan bunga berwarna kuning di telinga
Kau nampak seperti orang asing di mataku dan itu membawa ketersengsaraan sendiri
Suara-suara teriakan temanmu yang membuatku tertunduk layu
Semoga kau sadar bahwa—ya, aku keliru, tapi bukan itu harapanku
Aku tak pernah berburu air mata
Cacatnya tindak-tanduk
Dambaan-dambaan fana
Janjimu menjadi cerminan bahwa semuanya tak semestinya terjadi
Jika ya, artinya kau sudah tiada di sini
Mengenai ibuku—kau tahu dia tak paham bahasa tubuhku
Tak paham raut lukaku
Untuk perundingan hening pada pagi buta lain nya
Sepertinya kita terbiasa mengemasi firasat
Untuk senyuman tanpa arti dan tangisan tanpa rupa yang masih saja dipertimbangkan
Akankah kau halang aku untuk menghembus telapak kaki nya?
Jika ya, artinya aku sudah tiada di sini
Si Manis, yang tutur kata nya lembut
Namun siap untuk memecahkan piring makan kesukaanmu
Ruam pada tubuhmu
Bukan salahmu
Masihkah kau berdiam mematung?
Untuk anjing-anjing yang terus kau rawat
Noda pada kamar mandi yang kau bersihkan
Dan kaki-kaki yang kau pijat
Jika ya, artinya kau sudah tiada di sini
Jan 22, 2021
Jan 22, 2021 at 11:45 PM UTC
UKFT has launched Made It, a collaboration between the trade body, Graduate Fashion Week and Marks & Spencer designed to bring together graduate designers and UK manufacturers.
As part of the initiative, which was launched at a reception at the Houses of Parliament last night, Marks & Spencer and the UKFT will sponsor a number of Graduate Fashion Week winners to have their collections made in the UK.
In addition, to promote a better understanding of UK manufacturers and to encourage designers to use them as their preferred source of manufacturing, the UKFT, Marks & Spencer and Graduate Fashion Week will host a series of Masterclasses at five select universities across the country.
Hosted by Damian Collins MP, UKFT and Graduate Fashion Week, the reception included a catwalk show and was attended by key policy makers, industry influencers, major retailers, leading brands and UK manufacturers, with special guests including Graduate Fashion Week ambassadors Alesha Dixon, Mandi Lennard and Caryn Franklin as well as designer Zandra Rhodes and fashion critic Suzy Menkes.
“The UK has some of the best designer graduates in the world and some of the most talented manufacturers – Made It brings them together. Not only will we see the creation of some stunning collections, the project will also help to ensure the success of the next generation in understanding the business of fashion, which is a fundamental part of UKFT’s purpose and key whether you are developing a new brand, working with manufacturers or growing business overseas,” said UKFT chairman Nigel Lugg.
Graduate Fashion Week managing director Martyn Roberts said the initiative was “a wonderful opportunity” for GFW students to get first hand knowledge and experience of working with British manufacturers. “These are vital skills for fashion design graduates and essential for keeping Britain at the forefront of design,” he said.Read more at:http://www.marieaustralia.com/bridesmaid-dresses | www.marieaustralia.com/red-carpet-celebrity-dresses
Nov 10, 2016
Nov 10, 2016 at 1:31 AM UTC
A knocking...
Knocking on the door
Pick yourself up off the floor
I'm here for you
Open the door, let me in
I'm your friend.
Been by your side through thick and thin
And as you've been there for me,
Let me assure you
I'll never leave.
And you best believe
After all we've been through
The times we've cried, laughed and held each other tight
And like this night when things grow dimmer for you
I'll be the light to help you though.
And I know you'd do the same for me
Although I pray and wish hopefully that my light stays bright
There will come a very dark night
I'll need you to hold my hand.
Although it may not be planned
One of these night I may not be able to stand
When I hear the knocking on the door,
I'll let you in
And when you pick me up off the floor,
I'll know I've found my best friend.
Aug 7, 2014
Aug 7, 2014 at 2:35 PM UTC
Story for the gods
Mandi the queen
In silk sack
Can you hum a song
Witout knowing the song
Yes off course
Why of course
Bring it on the podium
Rings the othodox bell
Time to go
Mandi in shining attire
weighing options
Shining silk sack shining
Rythm fails. . .
Sep 9, 2014
Sep 9, 2014 at 7:09 PM UTC
I knew
I guess i knew from the start
That i could love you
With my whole heart
You gave no clue
You had a lover
And they looked just like you
I find it hard to believe
How you could be such a tease
Your so go
It's like you send me with ease
Please say it's not true
You couldn't have a lover
Who looks just like you
Mandi i want you to understand
Whatever you do
It's better with a man
Let me help you conceive
You wouldn't have to make believe
Mandi why can't you see
All that you need
You have with me
Girl i'm just a fool
You have what you want
And they look just like you
Mandi what else can i say
Your having fun
Going downtown your way
My Fathers Poem
Feb 2, 2012
Feb 2, 2012 at 7:58 PM UTC
6 a.m di Surabaya - 1 a.m di Gaza
Saat bangun tidur badanku terasa lemas.
Masih terlalu pagi aku masih ingin berbaring di kasur.
Sambil kubuka akun X orang orang Gaza yang kukenal.
Tapi hanya akun Omar yang tampak aktif.
Memposting apapun yang sedang dia alami.
Omar mengeluh susah tidur.
Kedinginan berselimut kain tipis usang.
Banyak nyamuk masuk ke tendanya.
Sementara di luar suara zanana mengganggu.
Diselingi ledakan bombardir pesawat jet.
10 a.m di Surabaya - 05 a.m di Gaza
Aku bosan menunggu antrian bank yang ramai.
Sambil menunggu sepi kubuka lagi akun Omar.
Dia mengeluh melihat banyak belatung.
Merubung sisa tepungnya yang hampir kadaluwarsa.
Dia tak bisa lagi membuat roti.
11 a.m di Surabaya - 06 a.m di Gaza
Aku menunggu ojek online di tepi jalan.
Sambil merokok kubuka lagi akun Omar.
Dia mengeluh kehabisan sabun dan shampo.
Sementara air untuk mandi dan mencuci.
Hanya tersisa setengah ember.
01 p.m di Surabaya - 08 a.m di Gaza
Aku sedang makan siang di Peneleh.
Makan pecel sambil kubuka lagi akun Omar.
Dia mengeluh saat mengantri di toko.
Menghabiskan waktu dan tenaga.
Berdesak desakan hanya untuk sekantung roti.
04 p.m di Surabaya - 11 a.m di Gaza
Saat sore aku nongkrong di Wonokromo.
Minum kopi sambil kubuka lagi akun Omar.
Dia mengeluh setelah belanja di pasar.
Bawang , tomat , terong , kentang dan cabai.
Harganya semakin naik tak terjangkau.
06 p.m di Surabaya - 01 p.m di Gaza
Aku sedang duduk di beranda masjid.
Menunggu isya sambil kubuka lagi akun Omar.
Dia mengeluh setelah berjalan jauh.
Merasakan kepanasan dan kelelahan.
Hanya untuk mengecas ponselnya di solar panel dekat pantai.
08 p.m di Surabaya - 03 p.m di Gaza
Aku masih makan malam di Tunjungan.
Makan rawon sambil kubuka lagi akun Omar.
Ternyata di Gaza sedang hujan deras.
Omar mengeluh setelah tendanya kebanjiran.
Barang barangnya basah terkena air hujan.
09. p.m di Surabaya - 04 p.m di Gaza
Temanku mengajak minum kopi di kafe.
Minum cappucino sambil kubuka lagi akun Omar.
Dia mengeluh sudah lama tidak makan ayam.
Yang bisa dia lakukan hanyalah menggambar ayam.
Lalu menaruhnya di atas piring kosong.
10 p.m di Surabaya - 5 p.m di Gaza
Aku sedang menonton sepakbola.
Saat jeda kubuka lagi akun Omar.
Dia mengeluh setelah memeriksa Gofundme.
Hampir seminggu tak mendapat donasi.
Sementara uangnya hanya tersisa puluhan shekel.
01 a.m di Surabaya - 08 p.m di Gaza
Tengah malam aku bersiap tidur.
Sambil berbaring di kasur kubuka lagi akun Omar.
Ternyata pemukiman dekat tendanya baru saja dibombardir.
Omar mengeluh setelah kelelahan membantu evakuasi.
Dia hampir muntah melihat serpihan tubuh berlumuran darah.
03. a.m di Surabaya - 10 p.m di Gaza
Aku merasa kesulitan tidur.
Sambil mendengarkan musik kubuka lagi akun Omar.
Ternyata dia masih tetap mengeluh.
Merasa lelah terus menerus mengeluh.
Terlalu banyak keluhan hingga kelelahan mengeluh.
Aku juga lelah melihat Omar terus mengeluh.
Tapi orang yang menderita memang harus mengeluh.
Hanya mayat yang tak bisa lagi mengeluh.
Mayat tak merasakan penderitaan untuk dikeluhkan.
Daripada menjadi mayat lebih baik Omar tetap hidup walaupun terus mengeluh.
November 2024
By Alvian Eleven
Dec 9, 2024
Dec 9, 2024 at 1:44 PM UTC
Aku ingin jadi anak kecilmu.
Menyusup di antara pagimu,
menjadi sibukmu,
di malam hari sebelum lelap.
Menyusup di ember jemuran,
di kuda-kudaan,
di bak mandi,
di kaus kaki bayi,
begitu mungil sampai aku muat untuk selalu ada di mana-manamu.
Tanya aku tentang apa yang paling kumau,
jawabku satu dan akan selalu:
Aku ingin lahir dari jalan tengahmu, besar sebagai anak kecilmu.
Mar 5, 2023
Mar 5, 2023 at 12:54 PM UTC
Words are wind
is a thing you used to love to say
when I would start "defending"
him
"Words are wind, Mandi!
Anyone can give you words!"
You would leave the air silent
only then with your own.
The space between us entirely empty of you.
This was not the vacuum of last spring.
There would be no side of highway hand plucked wildflowers.
No phones vibrating with your messages between thighs in sessions.
No intertwined sweat soaked limbs in the sauna of a midday tent.
I was thankful of it.
I longed for your nearness but not your misplaced romance or hope.
No -I would have you now in the Autumn.
Too depressed to breathe;
you would never draw me close.
Your words only came with
alcohol, *** or some combination of
supposed truth serums.
As you had said though:
"Words are wind, Mandi!"
And your words somehow both too abundant and too few
blew through that space between us
like a winter's Gale.
Seeking shelter from the elements you created
meant leaving you to find your own way through.
The only way out for either of us.
It is nearly spring again now.
I know it must be because
I can see primrose
defying all logic with it's
near invisible courage.
I champion it on with its
welcomed heralding of a needed
new season.
I hope that we both get to be
Ok.
Feb 5, 2020
Feb 5, 2020 at 2:07 AM UTC