Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"liku" poems
Ríete de la noche, Pagtawanan mo ang gabi, Laugh at the night, del día, de la luna, ang araw, ang buwan, at the day, at the moon, ríete de las calles torcidas de la isla, *pagtawanan mo ang liku-likong landas sa isla,* **laugh at the twisted streets of the island,** ríete de este torpe muchacho que te quiere, *pagtawanan mo ang torpeng lalaking ito na nagmamahal sa iyo,* **laugh at this clumsy boy who loves you,** pero cuando yo abro los ojos y los cierro, *ngunit kapag bubuksan at isasara ko ang aking mga mata,* **but when I open my eyes and close them,** cuando mis pasos van, kapag ako ay umalis, when my steps go, cuando vuelven mis pasos, kapag ako ay muling bumalik, when my steps return, niégame el pan, el aire, la luz, la primavera ipagkait mo na sa akin ang tinapay, ang hangin, ang liwanag at ang tagsibol, **deny me bread, air, light, spring,** pero tu risa nunca porque me moriría. *wag lamang ang iyong mga ngiti dahil ito ay aking ikasasawi.* **but never your laughter for I would die.**
0
Sep 4, 2015
Sep 4, 2015 at 3:39 PM UTC
Pablo Neruda's TU RISA
Perasaan ini terus bergelung Bersembunyi di dalam relung. Seakan mencoba tuk keluar, namun keadaan tak mendukung. Ia pun lelah akan waktu yang terus berjalan namun berbanding terbalik dengannya Yang hanya duduk beralaskan rasa percaya Menatap langit kelabu menunggu turunnya rintikkan hujan pertama. Walau kerinduannya semakin lama semakin bertambah, Ia tak pernah bosan untuk membendungnya Dan menunggu, Menunggu datangnya hujan. Karena ia percaya bahwa seberapa besar kerinduannya, seberapa dalam rasa sakitnya, dan seberapa lama ia menanggung deritanya, hujan yang turun akan menyapu bersih luka di relungnya. Bagaikan obat penawar yang selalu ia temukan saat penyakitnya kembali datang. Ia tak pernah bosan bercerita kepada langit, yang dengan setia mendengar celotehannya. Sambil menunggu turunnya hujan, ia bercerita akan lika liku yang ia alami. Mendongak menatap langit, dan bercerita. Sejenak ia dapat mengalihkan perhatiaannya dari hingar bingar sekitar dan menemukan ketenangannya sendiri. Yaitu bersama langit, saat menunggu hujan. Rintikan pertama menerpa wajahnya. berhasil mengangkat sudut-sudut bibirnya. Ia tersenyum. Yang ditunggu memang tak pernah datang terlambat. Diikuti dengan rintikan lainnya dan kemudian hujan turun dengan deras. Inilah kebahagiaannya. Namun juga kesedihannya. Saat rintikan hujan yang turun berhasil membuatnya tersenyum sekaligus menangis. Karena dapat membawa ketenangan dan penghapus luka, namun juga dapat membawa kerinduan yang turun disetiap rintikannya. “Jika hujan tidak dapat membuatku seutuhnya bahagia, lantas kemana lagi aku harus mengadu?”
0
Mar 9, 2016
Mar 9, 2016 at 3:15 AM UTC
Hujan Pembawa Rindu
Perasaan ini terus bergelung Bersembunyi di dalam relung. Seakan mencoba tuk keluar, namun keadaan tak mendukung. Ia pun lelah akan waktu yang terus berjalan namun berbanding terbalik dengannya Yang hanya duduk beralaskan rasa percaya Menatap langit kelabu menunggu turunnya rintikkan hujan pertama. Walau kerinduannya semakin lama semakin bertambah, Ia tak pernah bosan untuk membendungnya Dan menunggu, Menunggu datangnya hujan. Karena ia percaya bahwa seberapa besar kerinduannya, seberapa dalam rasa sakitnya, dan seberapa lama ia menanggung deritanya, hujan yang turun akan menyapu bersih luka di relungnya. Bagaikan obat penawar yang selalu ia temukan saat penyakitnya kembali datang. Ia tak pernah bosan bercerita kepada langit, yang dengan setia mendengar celotehannya. Sambil menunggu turunnya hujan, ia bercerita akan lika liku yang ia alami. Mendongak menatap langit, dan bercerita. Sejenak ia dapat mengalihkan perhatiaannya dari hingar bingar sekitar dan menemukan ketenangannya sendiri. Yaitu bersama langit, saat menunggu hujan. Rintikan pertama menerpa wajahnya. berhasil mengangkat sudut-sudut bibirnya. Ia tersenyum. Yang ditunggu memang tak pernah datang terlambat. Diikuti dengan rintikan lainnya dan kemudian hujan turun dengan deras. Inilah kebahagiaannya. Namun juga kesedihannya. Saat rintikan hujan yang turun berhasil membuatnya tersenyum sekaligus menangis. Karena dapat membawa ketenangan dan penghapus luka, namun juga dapat membawa kerinduan yang turun disetiap rintikannya. “Jika hujan tidak dapat membuatku seutuhnya bahagia, lantas kemana lagi aku harus mengadu?”
Continue reading...
29
Kala malam tampakkan luka Terlapis kasih, beringsut malu Ia terbakar gugur lebur Dan tidak termaafkan Sesap tangismu sendiri, Relung jiwa telah berkeluh Sembahyang doakan maut Akan pilu cinta dursilamu Dengarlah tembang petaka Perlahan menggoda luhur Gapai lika-liku serapahnya Dan kenakan sebagai selambu senja kini Jika malaikat merasuk pada Sekuntum bunga di pelupuk mata Rimba ruak ini tak akan lebih Besar dibanding seuntai rindu durjana Maka dengan itu, Akan kuajak berpesta pora Sedu-sedan iblismu Di taman mahakama bersimbah dosa Lepaskan genggaman tangan itu Dari lentera di sunyi gulita Karena sinarnya yang rupawan Telah meleleh dalam lumrah darah getir Ikutlah denganku, Kita kan menari semalam suntuk Sampai yang tercium dalam hati Hanya bau anyir perpisahan
0
Nov 24, 2015
Nov 24, 2015 at 9:07 AM UTC
Despondensa Amoris
Makulimlim ang kalangitan habang pilit kong inaaninag kung ikaw ay nasaan Mga palad natin kapatid kung hindi man nagkadaupan Tukoy kong iisa ang ating pinagmulan Mapula, kulay-dugo, ang agaw-buhay na liwanag sa likod ng mga ulap Alam kong lumubog na ang araw sa kanluran Hinihintay ng katuwang sa buhay ngunit ang sagot mo sa mga panaghoy ay hindi marinig ng naulilang pandinig. Hinahanap ng mga magulang ang anak na inaasahang sa takdang panahon sa kanila’y maghahatid sa himlayan. Mabato, matarik, ang piniling lakbayin Liku-likong landas tungo sa mithiin ng Sambayanang hindi palaring pamunuan ng mga bayaning magigiting sa halip na mga kawatan at mga salarin Mabato, matarik, ang piniling lakbayin Ngunit hindi ka natakot na ito’y tahakin Hindi ka umurong at di mo pinansin ang mga pasakit, ang mga pasanin. Dakila ka, kapatid At ang ‘yong paglisan, may hatid mang lungkot na ang punglong malupit, takbo mo’y tinapos, hininga mo’y nalagot At sa huling bugso, tatabunan ng lupang kalayaan ang dulot mula doo’y sisibol, sanlibong punlang aabot hanggang sa dulo, hanggang sa tugatog Aalalahanin ka sa araw ng tagumpay at pagtutuos Para sa Sambayanan, bawat puso’y sasabog!
0
Sep 27, 2017
Sep 27, 2017 at 1:15 PM UTC
Saludo
Lakad, akyat, kahit pagód, dala ay tuwâ. May pakanta-kanta pa ng Beatles, sadyâ. Buti classic, edad ay 'di-ga'nong" halata . . .
0
Feb 4, 2019
Feb 4, 2019 at 10:29 AM UTC
Liku-likong landas - 1