"lantunan" poems
sore itu dingin.
kupandangi tetes-tetes air yang perlahan hinggap di atas permukaan kaca jendela
secangkir teh dalam genggaman, berbalut tabahnya menahan rindu.
kutunggu kabar
namun tak juga kunjung datang
duduk di atas kursi teras, menanti suaramu hadir di ujung pesawat.
teleponku lagi-lagi kau abaikan, seperti tak pernah sekalipun terlintas minat untuk kau angkat.
terlalu sibuk atau apa?
biar kunanti lagi bersama rintik hujan.
semenit
lima menit
sepuluh menit
dua puluh menit
lima puluh menit
kutunggu telepon balasanmu
namun belum juga kau
izinkan aku mendengar suaramu
aku diam
bersama alunan musik yang dimainkan hujan, air mataku turun
biarkan!
aku letih
berpura-pura merasa tidak sakit hati
bersama lantunan rintik hujan, serta guntur yang belum pula lelah bersahutan, pada dunia mereka seolah mengatakan; alam pun bisa menyuarakan air matanya, dan memiliki jeda jujur yang panjang, berhenti berusaha ceria.
kemudian aku sadar;
seperti alam yang sedang menangis, aku benar-benar letih berpura-pura.
May 22, 2016
May 22, 2016 at 7:20 AM UTC
Tenggelam dalam riak nafasmu
Bagai ombak bertalu-talu di tepian kalbu
Terbuai oleh lantunan irama kehidupan
Bersenandung dibalik kerangkeng iga
Aku perahu di lautan luasmu
Tanpa dermaga yang hendak ku tuju
Hening malam tak kuasa membungkam
Detak yang berteriak memuja semesta
_______________________________
*Engulfed in the ripples of your breath
Tides pulsing at the shorelines of soul
Lulled by the chanting rhythm of life
Strumming against the rib cage
I am a boat in your vast ocean
Without a harbor to go to
The silence of night can't hold in
the heartbeats that bellow praises to universe*
Jul 22, 2014
Jul 22, 2014 at 11:43 AM UTC
Lantunan lagu sendu mengiringi malam
Ketika mereka lelap dalam senyap
Mata yang tak tertutup itu menangis
Memandang bintang-bintang di angkasa
Berharap bisa tenggelam di dalam gelapnya
Namun semesta sedang bercanda
Seakan-akan mereka mengutuknya untuk selalu ingat
Tanpa henti sehingga mata itu tak bisa lagi tertutup
Bagaimana bisa tertutup
Ketika malam tiba ia selalu ada
Feb 19, 2016
Feb 19, 2016 at 3:54 PM UTC
Jadi, bukan puisi atau lantunan ayat yang ingin ku tuliskan.
Hanya hal biasa yang mungkin kau lupa eksistesinya.
Kamu lupa berterima kasih dengan segala sesuatu yang kamu lewati. Kamu pernah berjanji ingin berubah (apaan anjing omdo).
Kamu pernah mengingkari dan selalu aku yang memaafkan. Kukatakan itu wajar.
Tapi melebihi batas wajar itu, kamu terus acuh dan acuh.
Brengsek.
Cacian saja sudah puas aku lontarkan?
Aku butuh lebih dari ini, bukan hanya kata-kata pedas yang kamu butuhkan.
Kamu butuh mati.
Kamu butuh mati rasa.
Feb 19, 2017
Feb 19, 2017 at 1:00 PM UTC
Pada tiap bait puisiku
berisikan lantunan merdu
perihal dia dan suka.
Larik-larik sajaknya dirancang manis
menyurat rasa yang tersirat.
Pada tiap bait puisiku
kuingat tatapnya yang hangat dan malu-malu
membuat aku gugup melulu.
Dipuisi ini, kutulis rayu dalam kata
tuk ramu gugupku jadi haru.
Pada Rabu di sorenya
bernada, mendera, bergelora
berbicara perihal harinya yang gembira.
Oct 25, 2022
Oct 25, 2022 at 12:50 PM UTC
Saat hatimu dilanda kegelapan
Yakinlah penerangmu tiada lain
Selain Allah SWT
Penerang dari segala kegelapan
“Dan kami turunkan dari Al-Qur’an
Suatu yang menjadi penyembuh
Dan rahmat bagi orang-orang yang beriman
Dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim
Selain kerugian. “
Lantunan ayat tersebut
Bismillah...
Bawa aku pergi dari kelam
Selamat diriku
Ya Allah SWT.
Dec 17, 2017
Dec 17, 2017 at 6:33 AM UTC
Aku yang diantara
sebagai pelipur lara
bercanda tawa
dengan dirinya
Aku yang diantara
kuamati wajahnya
lantunan nadanya
kuingat senyumnya
Aku yang diantara
ingin kusimpan dirinya
sayang hanya sementara
sekarang kau kembali padanya
Mar 8, 2019
Mar 8, 2019 at 8:09 PM UTC