Submit your work, meet writers and drop the ads. Become a member
Noandy Jan 2016
Laut Anyelir*
Sebuah cerita pendek*

Apa kau masih ingat kisah tentang laut di belakang tempat kita tinggal? Laut—Ah, entah apa nama sebenarnya—Yang jelas, itu laut yang oleh paman dan para tetangga disebut sebagai Laut Anyelir. Kau mungkin lupa, sibuknya pekerjaan dan kewajibanmu jauh di seberang sana sepertinya tidak menyisakan tempat-tempat kecil dalam otak dan hatimu untuk mengingat dongeng muram macam itu. Tapi aku ingat, dan tak akan pernah lupa. Hamparan pantainya yang kita injak tiap sore setelah bersepeda selama 10 menit menuju Laut Anyelir, angin sepoinya yang samar-samar membisikkan gurauan dan terkadang kepedulianmu yang terlalu sering kau sembunyikan, dan bau asinnya yang busuk seperti air mata.

Kau mungkin  lupa mengapa Laut Anyelir disebut demikian.

Kau juga mungkin sudah lupa ombak kecil dan ketenangan Laut Anyelir kala malam yang terkadang berubah menjadi merah darah saat memantulkan bulan serta arak-arakan awan dan bintangnya.

Iya, pantulan bulan dan bintang yang lembut pada air Laut Anyelir pada saat tertentu berwarna merah,

Semburat merah dan bergelombang,

Seperti rangkaian puluhan bunga Anyelir merah yang dibuang ke laut lambangkan duka.

Biasanya, setelah terlihat berpuluh bercak-bercak merah melebur di Laut Anyelir, akan ada sebuah duka nestapa yang menyelimuti kita semua. Mereka bilang, laut bersedih dan melukai dirinya untuk hal-hal buruk yang tak lama akan datang. Menurutku itu kebetulan saja, mungkin hanya puluhan alga merah yang mekar atau ada pencemaran.

Tapi aku masih tak tahu mengapa semua hal itu selalu terjadi bertepatan,

Dan, sudahlah, laut itu memang cocok disebut sebagai Laut Anyelir. Aku tidak berlebihan seperti katamu biasanya.

Kau sangat suka cerita sedih, mungkin sedikit-sedikit masih dapat mengingat kisah sedih dari paman yang juga tak percaya soal pertanda Laut Anyelir, cerita soal kekasihnya yang hilang saat mereka berenang di pantai sore hari ketika kemarin malamnya, air laut berwarna merah.

Benar, hari ulang tahun mereka bertepatan, dan pernikahan untuk bulan depan di tanggal yang sama juga sudah direncanakan dengan baik. Kekasih paman sangat jago dalam berenang, ia mengajari paman yang penakut dengan gigih, sampai pada sore hari ulang tahun mereka, paman mengajaknya untuk berenang di Laut Anyelir sekali lagi,

Sebagai hadiah,

Untuk menunjukkan bagaimana paman mengamalkan segala ilmu yang diajarkannya, sebagai pertanda bahwa mereka dapat berenang bebas bersama, kapanpun. Mereka memakai pakaian renang sebelum mengenakan baju santai dan berbalap sepeda ke pantai seperti yang biasanya kita lakukan. mereka langsung berhamburan ke Laut Anyelir tanpa memperdulikan desas-desus tadi pagi bahwa kemarin malam airnya berubah warna. Kekasih paman sangat terkejut dan bangga melihat jerih payahnya selama ini terbayar. Berbagai macam gaya yang ia ajarkan telah dilakukan oleh paman, dan sekarang ia akan mencoba menyelam dengan melompat dari sebuah karang tepat di tengah laut. Paman mendakinya—Ia handal mendaki, dan sekarang handal berenang—Lalu menatap kekasihnya dengan rambut kepang dua yang melihatnya begitu bahagia. Ia melompat dengan indah, dan meskipun sedikit kesusahan untuk kembali menyeimbangkan dirinya dalam air, paman akhirnya muncul dengan wajah sumringah, memanggil serta mencari-cari kekasihnya.

Tapi ia tak ada di sana,
Ia tak ada dimanapun.

Itu kali terakhir paman melihat kekasihnya, melihatnya tersenyum, sebelum akhirnya ia menemukan pita merah rambutnya terselip diantara jemari kakinya.

Malam menjelang, semua warga dikerahkan untuk mencari kekasihnya, namun sampai bulan penuh terbangun di langit dan dilayani beribu bintang yang menyihir air laut menjadi kebun anyelir, kekasihnya masih tak dapat ditemukan.

Itulah sebabnya apabila mendengar laut berubah warna lagi kala malam, paman tak akan memperbolehkan kita untuk mendekati laut sampai dua hari ke depan.

Kau bukan saudaraku—Bukan saudara kandungku. Tapi aku menganggapmu lebih dari sekedar teman, bahkan lebih dari saudara kandung atau saudara angkat. Kau bukan saudaraku, tapi paman begitu peduli padamu seperti anaknya sendiri. Sama seperti bagaimana ia menyayangiku.

Dahulu kami hanya rajin mendengarmu, tetangga pindahan, memainkan gitar di kamarmu sendirian, melihatmu dari balkon lantai 2 rumah kayu kami sampai kau akhirnya sadar dan tidak pernah membuka tirai jendelamu lagi. Mungkin kau malu, tapi kami masih dapat mendengar sayup-sayup suara gitarmu. Namun setelahnya, paman justru hobi melemparkan pesawat-pesawat kertas yang berisi surat-surat kecil. Mereka kadang berisi gambar-gambar pemandangan alam—Salah satunya Laut Anyelir—Dan surat-surat itu sering tersangkut di tralis kamarmu. Akhirnya paman memberanikan diri dan menggandeng tanganku untuk segera mengetuk pintu rumahmu, usiaku belum beranjak belasan, dan aku hobi mengenakan celana pendek serta sandal karet yang mungkin tidak cukup sopan dipakai untuk memperkenalkan diri. Tapi kalian tidak peduli, dan menyambut kami dengan ramah—Paman menceritakan bagaimana ia menyukai musik-musik kecilmu, dan mengajak kalian untuk melihat-melihat keadaan sekitar sekaligus berkenalan dengan para warga,

Paman mengajak kalian ke Laut Anyelir,

Kalian menyukainya;

Dan paman mulai bercerita soal kisah Laut Anyelir yang menghantui, serta ketakutan-ketakutan warga. Tapi ia belum menceritakan kisahnya.

Namun kalian, sama seperti kami yang menghibur diri,
Tidak peduli, dan tidak takut akan semburat merah pertanda dari Laut Anyelir.
“Benar, itu mungkin hanya kebetulan!”
Sahut kalian.

Hampir dua tahun kita saling mengenal, dan pada hari ulang tahunmu, paman mengajak kita semua untuk berpiknik di pantai Laut Anyelir pada sebuah sore yang cerah. Aku memakan lebih dari 3 kue mangkuk, bahkan hampir menghabiskan jatahmu. Tapi tidak masalah, orangtuamu juga tidak menegurku. Kau sudah menghabiskan jatah klappertaartku, dan menyisakan hanya satu sendok teh.

Apa kau masih ingat betapa cantiknya Laut Anyelir saat matahari tenggelam? Seperti sebuah panggung sandiwara yang set nya sedang dipersiapkan saat-saat menuju lampu menggelap. Matahari sirna dan berganti dengan senyum bulan di atas sana, bintang-bintang kecil perlahan mulai di gantung dengan rapih,

Dan air laut yang biru gelap berubah menjadi lembayung,

Sebelum akhirnya mereka menderukan ombak, dan terlihat bercak-bercak merah pada tiap pantulan cahaya bintang. Sekilas terlihat seperti lukisan yang indah namun sakit. Kalian tidak takut, justru takjub melihat replika darah menggenang pada hamparan lautan luas dengan karang ditengahnya. Paman langsung menyuruh kita semua untuk bergegas membereskan keranjang piknik, dan berjalan pulang diiringi deru angin malam. Ia tak memperbolehkan kita mendekati pantai esok harinya.

Esok lusanya, kedua orangtuamu pergi ke kota untuk melapor pada atasannya, kau dititipkan pada paman. Mereka berjanji untuk pulang esok harinya,

Tapi mereka tidak pulang.
Mereka tidak kembali,
Dan kita masih menganggapnya sebagai sebuah kebetulan saja.
Kau bersedih, namun tidak menangis.

Aku yang sedikit lebih gemuk darimu memboncengmu dengan sepeda merahku dan mencoba untuk menghiburmu yang terus-terusan memeluk gitar di Laut Anyelir. Aku yakin saat itu aku pasti sangat menyebalkan; terus-terusan berbicara tanpa henti dan menarik lengan bajumu dengan erat sampai kau memarahiku karena takut akan sobek.

Tapi akhirnya aku berhasil membujukmu untuk memainkan gitarmu lagi, kau tersenyum sedikit,
Dan entah kenapa aku cukup yakin kau mulai tidak menyukaiku karena terlalu memaksa;
Namun menurutku itu sama sekali bukan masalah.

Kau mulai tinggal bersama paman dan aku sejak saat itu, dan menjadi kesayangannya. Ketika kita sudah cukup dewasa ia selalu membawamu saat bekerja di toko jam—Kau sangat handal dalam merakit jam serta membuat lagu-lagu untuk jam kantung automaton dengan kotak musik—dan aku ditinggalkan sendiri untuk mengurus pekerjaan rumah. Tapi tetap saja aku tak dapat menghilangkan kebiasaanku untuk menyeretmu bersepeda ke Laut Anyelir saat senggang dan tidak bekerja; kau akan memainkan gitarmu dan aku akan entah menulis surat untuk teman-temanku atau menggambar, dan terkadang menghujanimu dengan berbagai pertanyaan yang tak pernah kau jawab.

Begitu kita kembali, paman yang biasanya akan menggantikanmu untuk bercerita dan bercuap-cuap sampai makan malam dan kita pergi tidur.

Kau orang yang pendiam,
Dan aku yakin paman kesepian.
Orang yang kesepian terkadang banyak berbicara.

Seiring usiaku bertambah, cerita menyenangkan paman terkadang berubah menjadi cerita-cerita yang pedih dan menyayat hati. Kau tak mengatakannya, tapi aku dapat melihat dari matamu bahwa kau sangat menikmati mendengar cerita seperti itu. Aku tak menyukainya, tapi aku tak akan menyuruh paman untuk berhenti bercerita demikian. Kalian berdua membutuhkannya.

Saat itulah paman menceritakan kisah tentang dirinya dan kekasihnya saat kita akan menyelesaikan makan malam. Aku kembali tidur dihantui cerita mengenai laut yang melahap kekasihnya itu. Dalam mimpi, aku seolah dapat melihat ombak darah menerjang dan melahapku. Aku tidak ingin hal itu terjadi padaku, padamu, atau pada paman. Aku mulai menghindari Laut Anyelir pada saat itu.

Bunga Anyelir,
Dalam bahasa bunga, secara keseluruhan ia menunjukkan keindahan dan kasih yang lembut, seperti kasih ibu, kebanggaan, dan ketakjuban; namun kadangkala kita tidak memperhatikan arti masing-masing warnanya—
Anyelir merah muda berarti aku tak akan pernah melupakanmu,
Anyelir merah menunjukkan bahwa hatiku meradang untukmu,
Anyelir merah gelap merupakan pemberian untuk hati yang malang dan berduka.
Kurasa semua itu menggambarkan Laut Anyelir dengan tepat.

Setelah itu paman mulai makin sering bercerita soal kekasihnya yang hilang di Laut Anyelir. Aku tidak tahu mengapa, namun sore itu kau begitu ingin untuk pergi ke Laut Anyelir dengan gitarmu. Kali ini kau yang menggeretku menuju tempat yang selama beberapa hari kuhindari itu, kau tahu bagaimana aku menolak untuk pergi, kau yang biasanya tak ingin repot bahkan sampai menyiapkan sepedaku dan mengendarainya lebih dahulu.

Aku tak ingin kau pergi sendirian, aku mengikutimu. Kurasa tidak apa, tidak akan ada apapun hal buruk yang terjadi. Lagipula kita tidak akan berenang atau berencana untuk pergi jauh setelahnya.

Aku mengikutimu menuju Laut Anyelir. Kau duduk tanpa sepatah katapun, hanya menatapku. Dan mulai memainkan Sonata Terang Bulan oleh Beethoven dengan gitarmu saat matahari menjelma menjadi bulan. Saat itu barulah aku tersadar bahwa itu hari ulang tahunku, dan kau sengaja memainkannya untukku. Malam itu kita menghabiskan waktu cukup lama di tepi Laut Anyelir berbincang-bincang, meskipun aku lebih banyak berbicara daripadamu. Aku tidak membawa surat-suratku, jadi aku hanya bisa memainkan dan memelintir rambutmu sambil berkata-kata.

Kita menghabiskan waktu cukup lama di tepi Laut Anyelir, dan tidak menyadari bahwa air lautnya berubah menjadi merah. Aku terkejut dan berlari seperti anak anjing ketakutan ketika menyadarinya; kau berganti menarik lengan bajuku dan berkata bahwa tidak apa, bukan masalah. Aku, kau, dan paman akan terus bersama. Mungkin Laut Anyelir berubah merah bukan untuk kita namun warga pemukiman yang lain, pikirmu.

“Jangan berlebihan, kau manja, selalu bertanya, dan terlalu membesar-besarkan sesuatu.” Katamu, sekali lagi. Itu hal yang selalu keluar dari mulutmu.

Pintu rumah kuketuk, paman membukakan. Aku terkejut ketika tahu bahwa paman sudah menyiapkan banyak makanan kesukaanku termasuk klappertaart; kali ini aku tidak memperbolehkanmu untuk memakan klappertaartku. Ternyata ini rencana kalian berdua untuk membuat pesta kecil-kecilan di hari ulang tahunku, merangkap ulang tahun paman keesokan harinya.

Paman, tidak kusangka, ingin mengajak kita untuk berenang di Laut Anyelir esok. Ia ingin mengingat masa mudanya ketika menghabiskan banyak waktu berenang bersama kekasihnya di Laut Anyelir, dan kata paman, kita adalah pengganti terbaik kekasihnya yang belum kembali sampai sekarang.

Aku tidak ingin mengiyakannya, mengingat barusan kita melihat sendiri air laut berubah warna menjadi merah darah. Tapi aku tak ingin kau lagi-lagi mengucapkan bahwa aku manja dan berlebihan. Aku menyanggupi ajakan paman. Namun aku takkan berenang, aku tidak pernah belajar bagaimana caranya berenang, dan tidak mau ambil resiko meskipun aku percaya kalau kau dan paman akan mengajariku.

Esok pagi kita berangkat dengan sepeda. Kali ini paman memboncengku, dan kau membawa keranjang piknik yang sudah kusiapkan sejak subuh serta memanggul gitarmu seperti biasa.
Begitu tiba, kau dan paman langsung menyeburkan diri pada ombak biru Laut Anyelir dan berenang serta mengejar-ngejar satu sama lain. Aku duduk di tepian air, menggambar kalian yang begitu bahagia sampai akhirnya kalian keluar dari air untuk mengambil roti lapis dan botol minum. Setelah menghabiskan rotinya, paman berdiri dan kembali ke air sambil berkata lantang,

“Aku akan mencoba menyelam dari karang itu lagi.”
Tanpa menoleh ke arah kita.
“Jangan, paman. Kau sudah tua.”
“Sebaiknya tidak usah, paman. Hari makin siang.” Kau juga mencoba menghentikannya, tetapi paman tidak bergeming. Ia bahkan tak menatap kita dan terus berenang sampai ke tengah. Kau mencoba menyusulnya dengan segera, tapi sebelum kau sampai mendekati karang,

Paman sudah terjun menyelam.

Setelah tiga menit yang terasa lama sekali, kau menunggu ditengah lautan dan aku terus memanggil paman serta namamu untuk kembali ke tepian, paman tetap tidak muncul.

Kau menyelam, menyisir sampai ke tepi-tepi untuk mencari paman, namun hasilnya nihil, dan kau kembali padaku menggigil. Aku membalutkan handuk padamu, dan meninggalkanmu untuk kembali bersepeda dan memanggil warga yang tak sampai setengah jam sudah berbondong-bondong mengamankan Laut Anyelir dan mencari paman.

Malam hari datang,
Hari perlahan berganti,
Bulan demi bulan,
Tahun selanjutnya—
Paman masih belum kembali, dan kita tak memiliki kuburan untuknya.

Kita tinggal berdua di rumah itu, kau bekerja tiap pagi dan aku memasak serta mengurus rumah. Disela-sela cucianku yang menumpuk dan hari libur, kau rupanya tak dapat melepaskan kebiasaan kita untuk bersantai di Laut Anyelir yang sudah lama ingin kutinggalkan. Aku tak dapat menolak bila itu membuatmu senang dan merasa tenang.

Dan aku bersyukur,
Selama hampir setahun penuh, sama sekali aku tak melihat air Laut Anyelir berubah warna lagi menjelang malam. Memang beberapa hal buruk sesekali terjadi, namun aku sangat bersyukur karena aku tak melihat pertanda kebetulan itu dengan mata kepalaku sendiri.

Pada suatu hari kau memberiku kabar yang menggemparkan, ini pertamakalinya aku melihat senyuman lebar di wajahmu; kau terlihat semangat, bahagia, penuh kehidupan. Kulihat para pria-pria muda di sekitar sini juga sama bahagianya denganmu. Mereka bersemangat, dan mereka bangga akan adanya hal ini karena ini adalah waktu yang tepat untuk berkontribusi kepada negara. Katamu, tidak adil bila yang lain pergi dan berusaha jauh disana sedangkan kau hanya berada di sini, memandangi laut.

Kau memohon untuk kulepaskan menjadi sukarelawan perang, dan aku menolak.
Kau memohon, aku menolak,
Kau memohon, aku menolak,
Aku menolak, kau memohon.

Dan karena aku sepertinya selalu memberatkanmu, atas pertimbangan itu, aku ingin membuatmu lega dan bahagia sekali lagi—Aku akhirnya melepaskanmu untuk sementara, asal kau berjanji untuk kembali kapanpun kau diizinkan untuk kembali.

Kau tak tahu kapan, dan aku akan selalu menunggu.

Aku akan selalu berada di sini, dengan Laut Anyelir yang berubah warna, dan hantumu serta hantu paman
Gitarmu yang selalu kau rawat,
Untuk sementara waktu aku takkan bisa menarik ujung lengan bajumu,
Dan tak akan mendengarmu memanggilku manja dan berlebihan.

Kita tidak pergi ke Laut Anyelir sore itu, begitu pula esok harinya. Kita sibuk mempersiapkan segala hal yang kau butuhkan untuk pergi, aku memuaskan menarik ujung lengan bajumu, dan menyelipkan harmonika pemberian paman yang tidak pernah bisa kugunakan untukmu.

Ia akan lebih baik bila berada di tanganmu, dan ia akan menjadi pengingat agar kau pulang ke rumah, kembali padaku.

Kita tidak melihat ke Laut Anyelir sampai hari keberangkatanmu, di mana dengan sepeda kau akhirnya memboncengku untuk pergi ke pelabuhan. Kita tidak melihat Laut Anyelir, aku tak tahu apa airnya berubah warna atau tidak.

Setelah kau naik ke kapal d
Jor Oct 2015
I.
Noo'y akin pangg naaalala,
Nung una kitang makita.
Ako'y humanga na,
Lalo na sa taglay **** ganda.

II.
Nakaka-akit ang iyong bintana ng kaluluwa.
Lalo na’t sa tuwing ngumingiti ka.
Hindi ko mapigilan ang sariling,
Ngumiti rin pabalik sa iyo, sinta.

III.
Araw-araw na tayong magkasama
Sapagkat pareho tayo ng tropa.
Asaran dito, asaran diyan.
Kulitan dito, kulitan diyan.

IV.
Hanggang sa lagi na kitang hinahanap-hanap,
‘Pag wala ka para akong sinakluban ng ulap.
Napapansin na rin nila na kapag wala ka,
Para raw akong lantang-gulay kasama.

V.
Hindi ko rin alam kung bakit ganun?
Lito pa rin ako hanggang ngayon.
Gusto na ba talaga kita?
Hindi ko rin alam ang aking nadarama!
Ikaw ang pintuang may bukas,
Siyang pag-asang maibsan ko ang taglamig na kalinga.

Ikaw ang bintanang may hangin,
Siyang susulyap sa pangungulila.

Ikaw ang sahig na sasalo,
Siyang saklolo sa pagkahingal at pang-aabuso.

Ikaw ang mesang may hain,
Siyang magbibigay lakas sa panloob na damdamin.

Ikaw ang kutsilyong gagalos,
Sa yugto ng buhay na akala'y perpekto.
At ang tubig na didilig,
Sa *uhaw at lantang isip.
Noandy Jun 2016
Antara aku dan Beethoven
Tidak ada kamu

Aku tidak mendengarmu dalam
Sonata Terang Bulan
Kamu tidak meredam dan menelan
Kesedihan, pun kepedihan

Kamu tidak memantulkan
Wajah remang bulan
Kala gugurnya di
Hilir redup sungai

Kamu berteriak
Terlalu lantang
Di malam hari

Sedang antara aku dan Beethoven
Tidak ada kamu
Kami menjalin kesedihan
Berdua saja

Aku dalam kata
Beethoven,
Dalam denting

Kamu berteriak
Terlalu lantang.

Sayangnya
Kami tidak mendengar
Jeritanmu
Kami tidak mau mendengar
Amukmu

Piano Sonata nomor empat belas,
Kuhanyutkan surat tak berbalas.

Di C kres minor,
Aku takut ia terdampar,

Opus dua puluh tujuh nomor dua,
Karena kau jeritkan amuk tanpa duka.
013017

Gusto kong umiyak -- gusto kong ipasalo Sayo ang bawat luha, bawat luhang matagala nang gustong bumaha -- gustong bumaha at magpatangay Sayo.

Sa bawat pagkakataong ibinubuhos Mo ang Iying presensya -- mga pagkakataong lumayo ako Sayo -- lumayo ako sa kabila ng pag-ibig **** pang-walang hanggan. Oo, oo at sigurado akong patuloy akong kakapit Sayo gaya noon -- noong unang beses kong pinanghawakan ang bawat pangako **** kailanma'y hindi pumalya. Mga pangakong akala ko noo'y hindi na mangyayari -- pagkat noo'y nagpatalo ako sa sarili kong panahon at binalewala ang oras **** mas mahalaga.

Mahal Kita at walang katapusan ang alay Mo. Ni hindi ko kayang palitan o mapantayan o higitan ang pag-ibig Mo.

Kailan Ka ba sumuko? Wala akong matandaan kahit ang tanda ko na -- kahit ang tanda ng orasan sa tabi ko. Napapagod ako, nanghihina ako at bumibigay ako pero kahit kailan, Ika'y patas -- patas ang pag-ibig Mo.

Kanina ko pa gustong ituntong ang mga paa ko sa hagdan -- sa hagdang patungo Sayo. Na kahit di Kita masilayan ngayo'y aabangan Kita at hihintayin Kita. Gusto kong iluhod ang lahat, ilatag sa paanan Mo ang bawat sakit kasi hindi ko kayang mag-isa. At kung pupwede lang na bumaba Ka ngayon, kung pwede lang -- ay yayakapin Kita.

Ama, kung ganito man ang tamang pagsambit ng Ngalan Mo; yakapin Mo ang anak **** lantang-lanta na't uhaw sa presensya Mo. Kung ganito ang paghihintay na kailangan kong maramdamang may mga bagay na hindi kayang ayusin, hihintayin pa rin Kita.

Wala, wala na akong masasambit pa. Tinig Mo pa lang, kahit simpleng bulong lang, ako'y napaluluhod sa galak. Iiyak na naman ako at mismong sa harapan Mo, ibibigay ko ang lahat -- Sayo ang lahat, Ama. Sayo, oo Sayo.
M G Hsieh Jun 2016
wala naman makapagsasabi, kung kelan matutupad ang tunay na pangarap
    nalalaman mo pa ba kung ano ang binubulong ng puso?
    hinde pa ba ito natatabunan
    ng alaala ng kahapong pinagmulan?

    nais kong umangat mula sa putik na aking minana:
    ambisyon ang umuudyok
    pagkatotoohanin ng kasiyahan, ang bawat layaw ng laman
    na tulak ng mundo
    pabilis nang pabilis ang ikot
    habulin man
    unahan man
    kelangan pagbayarin

    bawat hubog sa atin ng tinaguriang
    collective consciousness
    nang kung sino man matalinong tumawag dyan,
    dyan! mapangahas na pangngalang marangal!

    sino ba ako pag humiwalay ako sa collective consciousness na yan?
    anong napala ko dyan, itinulak ako
    (di kayat, nagpatuak ako?)
    patungo sa isang kanto nyan
    dahil kelangan kong sundin
    ang moralidad
    ang paniniwalang
    gawa-gawa rin lang
    ng aking kapwa

    hinde ko tinatakbuhan
    ang aking
    social responsibility
    na syang dinikta na lipunan
    na dapat akong kumayod at tuparin
    ang oblgasyon ko sa kanya

    no.

    ang tinutukoy ko
    ay ang binubulong
    ng bawat saloobin

    natabunan na ito
    ng sigaw ng damdamin

    sinong makakapagsabi
    kung kelan matutupad ang pangarap?

    ito ba'y aking hahabulin
    pipilitin
    paglalabanan
    sa hilaw na panahon?
    (tulad ng sigaw ng damdamin
    na tumilapon sa akin?)

    ang bulong ng saloobin
    hinuhukay ko pa
    ito'y nasa ilang
    lantang lanta na ako
    binging bingi
    ngunit naririnig ko pa
    sinasakop nya ako
    umaasang bubuhayin ko muli.
Noandy Feb 2016
Yang mengutarakan salam pagi ini
Hanya sesayat keheningan
Dari reruntuhan nafas yang tiap isapnya
Riuh dirundung rindu

Perhatikan,
Ini salah satu pertanda
Soal dekadensi kidung
Yang biasanya, tanpa kita sadari
Teralun lemas tiap pagi
Lembut tanpa gemericik

Kidung itu bisa jadi sudah keterlaluan
Bisa jadi ia terlalu sadis pada sepi tiap subuh.
Senandung itu, memang benar,
Sebatas bisikan-bisikan lantang
Yang gemar memuja sepi dengan memporak-porandakannya,
Yang gemar menghantui sunyi agar  terlelap sebelum terbit.

Mungkin,
kidung itu terlalu masokis
Bernyanyi sendiri tanpa ada yang
Peduli pada dendangnya yang kelewat mengusik
Dan kelewat menggoda, sehingga semua lebih memilih
Terlelap saja. Bukan berdansa.

Ini salah satu pertanda
Soal dekadensi kidung perih
Yang biasanya teralun malas tiap pagi
Menggerakkan setan-setan kecil
Untuk membutakan mata dan membuat tuli dalam sekejap.
Jangan berdansa.

Tak ada yang peduli, semua masih tertidur.
Dan itu bisa jadi salahmu sendiri.
Tapi tak apa, iblis masih menyayangimu
Dengan sangat manusiawi.

Lagipula, seperti pagi ini,
Kesunyian kembali bersila pada permadaninya
Ditemani kicauan mencibir burung rohani.

Selamat pagi,
Senyap.

Anda yakin tidak ingin bangun
Dan menanggapi kidung yang terus memanggil
Untuk berdansa setengah jiwa?
Subuh hanya datang seterbit sekali.
Tuhan hanya merindu lima kali sehari.
Kevin V Razalan May 2020
Walang labis, walang kulang,
Kung magliyab ang pluma kong laging natatakam,
Mga salitang lilikhain nito'y namumutiktik sa sabik,
Malinggal ang dila, nagagalak kung maghasik.

Madalas ay parang lantang gulay,
Kung gumuhit ng salita ay matamlay,
'Di matuka ng uwak kung ialay,
Minsa'y kulang-palad kung panlasa'y 'di bagay.

Sa tuwing hahampas ang higanteng salot,
Rubdob ng damdamin ay mapusok,
Tatamuhing sugat ay balon na 'di maabot,
Pilat ay siyang mararanasan, patawad ko'y suntok sa usok.

Minsan nama'y isang mapagtangis,
Ulan sa ulop katumbas ay luhang hitik kaysa pawis,
Ipapatalos sa huwad **** puso ang nalasap na pait at sakit,
Sa pluma ko'y tutungayawin ka't isasakdal sa piitan ng malasahan mo rin ang pait.

Hindi na sapat ang galak na malalasap,
Gayong panulat at puso'y nakaranas ng dusa at alat,
Naglahong bula ang hiwaga nitong kaibuturan ng pusong marilag,
Sa pinta mo'y nagmistulang kahabag-habag.

Umpisahan mo ng pumikit, ng mahagilap mo rin ang sinapit,
Madalas man akong matinik , sayo'y hindi na iimik,
Nitong plumang binuling at pinatulis ko sa inani ko sa'yo,
Ngayo'y kakikintalan mo ng hayag na masakit ngunit pawang totoo.

✍: pensword
Di ko alam kung bakit ako nagkakaganito
Ang alam ko lang ay nagseselos ako.
Nagagalit ako pag nakikita ko magkasama kayo.
Nagseselos ako dahil sa pagmamahalan niya.

Hindi ko maalala kung kalian pa kita minahal.
Pero tuwing nakikita kita, ang takbo ang oras ay kay bagal.
At tuwing nakikita kitang may kasamang iba, ako’y nasasakal.
Tuloy, galit sa aki’y umiiral.

Bakit ba ako sa iyo’y patay na patay?
Kapag ako’y nagseselos para akong lantang gulay.
Sa iyong ganda, ako nabubuhay.
Sa pagkaselos sa inyo, ako’y namamatay.
Domina Gamboa Mar 2018
Wala na ang mga paru-paro sa tiyan.
Naglaho sila nang hindi ko namamalayan.
Kilig ay hindi na rin maramdaman.
Hindi na kita kinasasabikan.

Ano ba ang nangyari?
Napagod na ang puso.
Hindi ko na mawari.
Isip ko’y gulung-gulo.

Ang dating gigil na puso,
Ngayo’y parang lantang halaman.
Ang dating sabing sa iyo,
Ngayo’y parang hindi nga naman.

Susulat sulat ng tulaan,
Mauuwi rin pala sa iwanan.
Nagsawa, napagod, nahirapan,
Namanhid, napuno, hindi na lumaban.

Tapos na, ito na ang dulo.
Ito na ang huling tula para sa’yo.
Sana palayain mo na ako.
Gaya ng paglaya ng mga paru-paro.
Falling out. Being tired.
a daydreamer Nov 2018
Di dalam tulang belulangku ini
Ada diriku yang terpendam;
Ia sudah bergejolak
Saat lampu padam,
Seakan memanggilku
Dengan suara lantang.

Dan saat aku melihat sebatang rokok
Yang menyala di genggamanku,
Aku menjadi ingat,
Kalau diriku yang gelap ini,
Tidak muncul saat senja datang.
a daydreamer Oct 2018
Aku terbakar dalam diam
Dengan detak jantung kencang
Dan kekuatan menghilang

Kesunyian di dalam diriku ini
Tak mempunyai ketenangan
Ia memberontak, membising,
Menjatuhkan serpihan kaca
Dengan tangan lantang

Aku mencoba berteriak
Tapi tenggorokanku menolak,
Seolah dicekik oleh tangan hitam
Yang mengingat mimpi buruk malam.
Phia Alika Dec 2019
Hiruk pikuk kebencian
Menjadi bagian dari malam ini
Suara-suara lantang itu
Berhasil memenuhi gendang telinga ini
Atas dua insan yang berkecamuk
Penantian keadilan serta merta
Aku bersembunyi dalam doaku yang terburu-buru
Sabar, katamu.
Bagai asupan yang bahkan aku tidak lapar sekalipun
85 Dumating na ang bisperas ng kasalan
Abalang-abala ang buong kaharian

86 Gayundin ang mga kawal na nagbabantay
Sa prinsipeng hina na parang lantang gulay

87 Buong araw nakatalukbong ng kumot
Ayaw kumain, sa lahat nayayamot

88 Sa parang bata na may sumpong
Nakaantabay ang nilalang na buhong

89 Sa may tsimineya
‘Di randam, ‘di amoy, ‘di rinig, ‘di kita

90 Lumitaw, lumubog ang buwan
Paggising ng lahat kinabukasan

91 Wala na ang prinsipe! Wala na!
Walang nakapansin! Naglahong parang bula!

-06/21/2012
*Gintong Lupa Series
My Poem No. 139
nabilah Jul 2020
Mati sudah hati dan segenap perasaanku kau bunuh
Mati semua pengharapanku kau regas
Mati rupa dan baikmu dalam ingatanku kau rampas habis
Lalu dengan mudah kau bilang maaf
Sertamerta lantang kau bersumpah serapah mampu menghidupkan yg mati
Tidak.
Kau bukan Tuhan, kau bajingan
Biar aku yg bersaksi bahwa kau pantas dikubur sedalam-dalamnya sebisa semauku
Mati, mati
Kau buat kamu menjadi mati.

— The End —