"kuingat" poems
Hidup dengan segala problematikanya
sejenak senang sejenak tenang
sejenak buram sejenak suram
Matahari bawaku cahaya
Tapi aku kepanasan
Hijab bawaku perlindungan
Tapi aku tertutup
Pohon bawaku udara
Tapi aku tumbangkan untuk wi-fi
Ini baik tapi ini buruk.
Lalu hadir kerutan ditengah keningku
Melengkapi lipatan hitam mata ini
Hasil semua akar-akar pikiran
Bola matapun sekarang berfilter
Kuingat mawar pemberiannya
Gambar persembahan mereka
Seluruh tumpahan merah muda itu
Tapi tetap saja kabut dari belakang datang
Ia bersembunyi hanya tuk muncul kembali
-
-
-
Mengapa begini?
Terlalu banyak tapi
Mengindahkan kebingungan
Terbawa kelelahan
Nov 10, 2014
Nov 10, 2014 at 6:58 AM UTC
Seteguk apapun, semua tak akan berakhir
Aku adalah seorang pemabuk yang selalu menguarkan harum arak kemanapun aku pergi. Anggur, dan berbotol-botol ***** telah kutenggak pagi ini. Dan hanya hari ini pula aku ingin bicara, tentang segenggam racun yang kalian semua suntik ke dalam nadi dan pembuluhku.
Topeng
yang dengan bangga kalian pakai
tak ubahnya ketelanjangan
hanya mengumbar malu dan aib
Tawa
yang sesenggukan kalian jeritkan
hanyalah tangis jiwa kalian yang memudar
memutihkan kejujuran dan kebajikan
Oh, beginikah cara kerja dunia
berduri dan berbatu, sama saja
disetiap lajurnya
kemanapun aku pergi, dijejali
mulutku dengan dusta dan hanya dusta
belaka
Menghitamnya jiwaku, seandainya
bagai langit malam
tak ada chandra di ufuknya
Sudah selayaknya aku berkabung atas jiwaku, dimana dia merintih penuh sesal dan tanya. Apakah lalu lalang motor dan diesel itu memusingkan kepala atau hanya sebuah kesibukan belaka. Dan dengan itu pula jiwaku berakhir, terdiam, dalam kematian.
Kukubur dia dengan layak, diantara nisan-nisan lain disekitarku, yang diberi nomor, sesuai urutannya. Jiwaku tersungkur di nomor tujuh. Beruntung sekali!
Kukubur dia, pelan sekali dengan tertidur. Tak berharap bangun lagi di keesokan pagi. Kutaburi bunga-bunga dan prosa yang harum, dan kusiram dengan sebotol Martini dan bir.
Harum. Seharum embun yang kau injak ditepian jalan.
Wangi. Sewangi sukmamu yang kuingat telah pergi.
Aku adalah pemabuk. Yang selalu menenteng sebotol arak, bermabuk di tepian jalan kehidupan. Mengambil jeda diantara kalimat-kalimat mencela dan busuk, yang tergelincir masuk ke dalam telingaku.
Botol-botol inilah sang penawar, berminum pula para nabi terdahulu menyesali umatnya, sedangkan aku?
Menyesali kalian.
Sep 7, 2016
Sep 7, 2016 at 12:30 PM UTC
Pada tiap bait puisiku
berisikan lantunan merdu
perihal dia dan suka.
Larik-larik sajaknya dirancang manis
menyurat rasa yang tersirat.
Pada tiap bait puisiku
kuingat tatapnya yang hangat dan malu-malu
membuat aku gugup melulu.
Dipuisi ini, kutulis rayu dalam kata
tuk ramu gugupku jadi haru.
Pada Rabu di sorenya
bernada, mendera, bergelora
berbicara perihal harinya yang gembira.
Oct 25, 2022
Oct 25, 2022 at 12:50 PM UTC
memang aku tak pantas
aku bukan yang bisa dimiliki
memiliki pasangan jiwa yang bisa
yang mampu..
selalu kuingat kamu
malam ini yang penuh dengan hati gegana..
aku sekarang percaya
kamu adalah bisa..
berbohong bukanlah pilihanku
hati ini berteriak seolah berkata
..bahwa memang tidak ada yang layak
setelah setahun berlalu sudah kulihat yang ada..
tidak ada dan tidak ada
aku tak mengerti mengapa hati ini terus berteriak..
seolah tidak ingin tidak ada kamu disini
hati memang membutuhkanmu
hati memang tidak bisa menolak
..karena hanya kamu yang mampu berjalan hingga kiamat nanti
dan hanya dirimu yang mampu menyakiti jiwa dan ragaku
takkan ada yang bisa
takkan pernah.
Oct 7, 2016
Oct 7, 2016 at 2:27 PM UTC
Aku yang diantara
sebagai pelipur lara
bercanda tawa
dengan dirinya
Aku yang diantara
kuamati wajahnya
lantunan nadanya
kuingat senyumnya
Aku yang diantara
ingin kusimpan dirinya
sayang hanya sementara
sekarang kau kembali padanya
Mar 8, 2019
Mar 8, 2019 at 8:09 PM UTC