Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"kudengar" poems
Kudengar adzan berkumandang Ah! Subuh datang Membangunkanku dari istirahat malam Mengecoh mimpi indah malam itu Belum, kubelum siap bangun Tapi semesta mendoktrinku Kuharus bangun dan terjaga Kuiyakan saja mereka Sesaat pagi tiba Kelembutan angin memuaskanku Segar aroma udara memenuhiku Pipit mericau ramai Sesal tak ada dalam benakku Hanya puas dan sentosa Kutak menyesal bangun subuh Aku ingin pagi ini bujur Tiba-tiba sengat datang Tolong! Tolong aku Siang datang mencuri pagiku Aku mulai belingsatan Panas matahari mengantup Aku bergidik Meratap Siang jahat! Aku kutuk siang Namun ia tak mau pergi Ia malah semakin menjadi-jadi Aku hilang kendali Aku marah Kembalikan pagiku! Aku memohon pada siang Aku menangis Bahkan aku bersujud "Siang, aku rindu pagiku" Aku rindu ricauan pipit pagi itu Aku kehilangan angan-angan Novita Olivera.
0
Apr 30, 2016
Apr 30, 2016 at 1:19 PM UTC
Selamat Tinggal Pagi
Pernahkah kau bertanya, seakan kau benar-benar ingin tahu? Apa itu resah? Mengapa ada salah? Dimanakah tuan rumah? Siapakah pemilik masalah? Kapankah semua musnah? Atau, Kau benar-benar peduli soal logika? Dan berhenti percaya? Soal keajaiban Yang dulu kau harapkan? Kudengar darimu hanya dusta-dusta Tentang mitos orang tua Kau gigih bertapa, atau apalah namanya Cobalah renung dalam dungumu Yang kau sembah dengan ragu Inilah aku, sang atheis Bertuhan tanpa rengek, dan tangis
0
Apr 8, 2016
Apr 8, 2016 at 7:42 PM UTC
Atheis
Dalam kerlap kerlip dunia malam Debuman musik keras menggema dalam telinga Menggeliat diantara tubuh para adam Mengumbar buah dada Menebar wewangian erotis Menarik para lebah mendekat Jalang bukan sembarang jalang Mendesah indah hanya bermodalkan tubuh molek Selembar uang sengaja tersangkut dalam lingerine Senyuman diberikan Membuat libidoku tak terbendung lagi Mengoyak pakaian minim yang menghalang akses untuk menjelajah tubuhmu Kau mendesah lagi Melodi indah mengiringku menuju surga dunia Peluh yang menyatu malam itu menjadi saksi Betapa indahnya tubuhmu bak bidadari Kuhantam titik titik nikmat dalam tubuhmu Kau bernyanyi, nyanyian erotis terindah yang pernah kudengar Kutatap wajahmu, rona merah dan peluh menyatu Wajah sempurna Penglihatanku berkabut Sekelebat cahaya putih menyilaukan terlihat Ketika kita bersama menikmati indahnya surga dunia Benih benih janin tak sanggup kubendung lagi Kau pun mendesah lagi Ah, kau memang bukan sembarang jalang
0
Dec 30, 2016
Dec 30, 2016 at 10:38 PM UTC
MALAM
Yang bermula dengan suara, Berakhir juga dengan suara. Disaat kita harus sepakat bahwa semuanya mesti disudahkan Sedunia tak henti-hentinya mencekokkanku dengan bayangnya Karena belum genap 24 jam sejak kesepakatan bahwa semuanya sudah, Ku dengar suaranya dimana-mana, Kali ini, lagi-lagi, tanpa rupa Disaat dunia mendengarnya bercerita tentang gadis manis berduduk seorang diri, Atau tentang bagaimana akal serta tubuhnya dikupas habis oleh hidup sehingga dia tak punya pilihan selain menerima bahwa ia dan mutlaknya semua manusia adalah tunggal; adalah sendiri; adalah harus menelan, memahami, lalu (jika beruntung) mencintai kesendirian itu sendiri Atau sekiranya tentang bagaimana ia mengibaratkan air mata bagai tanda suatu yang kuat, yang tak malu, yang berteriak, yang patut diwadahkan jika bisa; Lalu disimpan, bukan dilihat untuk sekedar menyenangkan diri bahwa kita ditangisi Namun sebagai tanda bahwa pada dasarnya semua manusia akan berserah diri Tak ada habisnya menganalisa karya—ataupun jiwa—yang memang dari lahir sudah pamungkas Karena disaat bongkahan karyasuara itu berisi wejangannya untuk mereka yang mencari Suara itu bercerita kepadaku tentang hal-hal yang agaknya butuh dua kali hidup dan dua kali mati untuk menemukan inti; Seperti perempuan Seperti keyakinan Seperti kesendirian dalam kehidupan dan kematian Seperti jarak dan waktu yang superfisial disaat kita sadar akan Tuhan Dimalam itu, Dimalam saat aku menyadari bahwa ada hal-hal yang jawabannya tak bisa kucari dalam prosa Sang Nabi atau puisi Jalalludin Rumi, Ia berkata, “Tak akan—sampai mati—ku mencampuri urusan akal perasaan dengan keyakinan yang sebetulnya sudah ada sebelum apapun.” Disaat itu juga aku memutuskan untuk mundur sepuluh langkah, Karena disaat kalimat itu kelar terlontar, Adalah bukan suaranya yang kudengar, Namun Ibunya. Ibu, sama halnya dengan keyakinan, sudah ada sebelum apapun. Malam ini aku pamit.
0
May 10, 2019
May 10, 2019 at 9:17 AM UTC
Suara Tanpa Rupa
Yang bermula dengan suara, Berakhir juga dengan suara. Disaat kita harus sepakat bahwa semuanya mesti disudahkan Sedunia tak henti-hentinya mencekokkanku dengan bayangnya Karena belum genap 24 jam sejak kesepakatan bahwa semuanya sudah, Ku dengar suaranya dimana-mana, Kali ini, lagi-lagi, tanpa rupa Disaat dunia mendengarnya bercerita tentang gadis manis berduduk seorang diri, Atau tentang bagaimana akal serta tubuhnya dikupas habis oleh hidup sehingga dia tak punya pilihan selain menerima bahwa ia dan mutlaknya semua manusia adalah tunggal; adalah sendiri; adalah harus menelan, memahami, lalu (jika beruntung) mencintai kesendirian itu sendiri Atau sekiranya tentang bagaimana ia mengibaratkan air mata bagai tanda suatu yang kuat, yang tak malu, yang berteriak, yang patut diwadahkan jika bisa; Lalu disimpan, bukan dilihat untuk sekedar menyenangkan diri bahwa kita ditangisi Namun sebagai tanda bahwa pada dasarnya semua manusia akan berserah diri Tak ada habisnya menganalisa karya—ataupun jiwa—yang memang dari lahir sudah pamungkas Karena disaat bongkahan karyasuara itu berisi wejangannya untuk mereka yang mencari Suara itu bercerita kepadaku tentang hal-hal yang agaknya butuh dua kali hidup dan dua kali mati untuk menemukan inti; Seperti perempuan Seperti keyakinan Seperti kesendirian dalam kehidupan dan kematian Seperti jarak dan waktu yang superfisial disaat kita sadar akan Tuhan Dimalam itu, Dimalam saat aku menyadari bahwa ada hal-hal yang jawabannya tak bisa kucari dalam prosa Sang Nabi atau puisi Jalalludin Rumi, Ia berkata, “Tak akan—sampai mati—ku mencampuri urusan akal perasaan dengan keyakinan yang sebetulnya sudah ada sebelum apapun.” Disaat itu juga aku memutuskan untuk mundur sepuluh langkah, Karena disaat kalimat itu kelar terlontar, Adalah bukan suaranya yang kudengar, Namun Ibunya. Ibu, sama halnya dengan keyakinan, sudah ada sebelum apapun. Malam ini aku pamit.
Continue reading...
29
Obrolan ceria menyambut pagi Memaksaku menguap untuk terakhir kalinya Suaramu bergetar lembut melalui sambungan telepon Kau menceritakan mimpi semalam Sambil menyanyikan sebuah lagu Tak kau biarkan dunia melihatmu bersedih Walau aku tahu, Semalam tak sedikitpun kau mampu pejamkan mata Derik jangkrik bertukar dengan kicau burung Namun aku tak ingin apapun menukar dirimu Kau adalah malaikat kala mimpi burukku Kau layaknya bintang di siang hariku, Surya pada malam-malamku Kau nyanyikan sebuah lagu cinta Suaramu menghangatkan sejuknya embun Nafasmu menghidupkan diriku Memberi warna pada duniaku Membirukan langitku yang selalu hitam Memerahkan hatiku yang biru Kita akhiri percakapan hari ini Kau menutup panggilan telepon dan melanjutkan harimu Aku meresap sisa-sisa suaramu yang menggema dalam kepalaku Kubawa suara itu dalam doa-doaku Semoga suara itu masih bisa kudengar lagi nanti Semoga masih ada lagu cinta untukku
0
Sep 13, 2018
Sep 13, 2018 at 1:40 AM UTC
Lagu cinta
Sejengkal rindu dalam bogor Dahulu kudengar sebuah dongeng tentang Kota diatas awan, Bogor, Kota yang tiada hari tanpa hujan Kota tiada pemandangan gedung kaca Kota tiada pemandangan selain Gunung Salak Perkenalan kala itu mengantarkan mengenal lebih jauh tentang Bogor Tatkala itu Bogor sungguh sebagaimana kota diatas awan Kini rupanya tak begitu indah, tak seperti masa itu Namun, Bogor tentu setia dengan beribu kenangannya Bogor tetap saja Kota yang setia menyimpan ingat, Bogor tetap melangkah seperti biasanya, Sayur tetap disediakan pedagang di pagi gelap Angkot tetap tabah menunggu penumpang Tugu kujang tetap setia di tempatnya berada Bogor, kenang itu selamanya. Terimakasih. Muhammad Iqbal Ramadhan Bogor, 22 Agustus 2021
0
Aug 23, 2021
Aug 23, 2021 at 2:02 AM UTC
Sejengkal Rindu
Rasakan aku di setiap deruh nafasmu Dekap aku dalam malam sunyimu Bercengkramalah denganku gaduh di dalam ruang petakan Sejenak tenang tenggelam dan terhanyutkan kedalam tatapan hangatku Peluh dalam gelap Hanya deruh nafas yang kudengar Sempurna sudah aku menjadi pecandu Pecandu aurora Auroraku
0
Mar 19, 2018
Mar 19, 2018 at 5:07 AM UTC
Oh Auroraku