Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"kucing" poems
Terbatas; terkunci; sendirian. Mataku menyerap gambar-gambar di dalam lingkunganku, Dan sekali-kali saya menemukan tanganku mencoba bergenggam Masa depan yang punya saya; Mungkin hanya di pikiranku. Saya adalah seekor kucing kecil di pingir jalan; Diabaikan, kotor, jelek.
0
Feb 19, 2015
Feb 19, 2015 at 3:54 PM UTC
kejebur
Dia yang memberikan irama obrolan begitu hangat di penghujung fajar, Aku terlarut di dalamnya Aku meminta lagi irama itu di fajar selanjutnya Aku adalah oasis yang membantu melepaskan dahaganya, kala ia berkelana di gurun nan tandus Namun setelah segar kembali ia menyumbat mata air dengan pasir Lalu ia berkelana kembali Tuk mencari oasis selanjutnya, tuk menyumbat yang lain-lainnya Dia lalu kembali ke jalan berkerikil menuju rumahnya Dikala ia harus memilih di antara menyimpan kucing yang ia temukan di dalam sebuah peti emas di pinggir jalan Atau dia akan pergi dengan peti emas dan meninggalkan kucing itu tak bertuan
0
May 6, 2017
May 6, 2017 at 11:12 AM UTC
All I Ask
Tak tahu mengapa tiba-tiba Fatima terjatuh. Orang-orang pikir dia tertidur. Mereka mencoba membangunkan, namun sia-sia. Disentuh dengan hati-hati, tak juga berhasil. Fatima dengan sepasang burka berkeliling di dunia ide. Mimpi-mimpi yang awalnya ilusi, kini nyata. Dia menari-nari diatas kesedihannya. Fatima mondar mandir mencari-cari sepasang burkanya. Burkanya yang satu dipasangkan di kepala pak Kucing. Pak Kucing adalah teman yang baik. Artinya dia menemani Fatima dalam ide dan materi. Pak Kucing berkata bahwa Fatima adalah gadis yang cantik. Fatima terharu mendengarnya, tetes-tetes air matanya jatuh membasahi burkanya. Pak Kucing menghibur, dengan membacakan teka-tekinya; "Tiba-tiba, orang-orang merasa sia-sia berhati-hati. Mimpi-mimpi kini menari-nari, mondar-mandir mencari-cari tetes-tetes teka-tekinya"
0
Nov 11, 2017
Nov 11, 2017 at 10:46 AM UTC
Fantasi Fana Fatima
si pembawa vespa ku dengar suara bising dari dalam rumah ku suaranya semakin mendekat oh ternyata dikau si pembawa vespa itu.. malam itu sangat dingin karna hujan habis mengguyur alam semesta aku dan si pembawa vespa menyusuri sepanjang jalan sambil ia berkata "lihat itu ada kucing pakai kerudung bawa samurai"
0
Nov 15, 2018
Nov 15, 2018 at 11:45 PM UTC
si konyol
Sambil mengendarai mobil, aku melirik calar yang menghiasi tangan kananku. Merah seakan salah satu kucingku baru saja mengamuk. Tapi hanya aku dan sebilah pisau di kamar yang tahu itu bukan hasil karya seekor kucing melainkan binatang yang jauh lebih biadab, depresi. Lampu dijalanan berubah merah, sambil melihat sekeliling aku tersenyum mengamati hiruk pikuk yang sedang terjadi. Aku jadi rindu perasaan utuh yang lambat laun terkikis waktu dan kalimat-kalimat bernoda. "Kurang kuat iman sih" Tak ada kaitannya dengan imanku, sayang. "Mungkin cuma ada di kepalamu saja." Dan kepalaku adalah satu-satunya tempat dimana aku tak bisa lari. "Memang penyebab depresimu apa?" Karena 1095 hariku tercemar darah, puntung rokok, pecahan gelas, dan caci makian tiada henti. Tak semudah itu untuk keluar hidup-hidup dari kandang singa, harus ada luka yang aku tanggung seumur hidup. "Apakah kau gila?" Aku bukan gila, aku baik-baik saja. Hanya ada bagian di dalam sana yang mati dan tak bisa diperbaiki lagi. Lampu hijau dan klakson dari mobil membangunkanku dari suara-suara itu. Tapi ketika sudah melaju dengan kecepatan yang nyaman ada satu suara yang muncul lagi, menoreh hatiku. "Aku tak habis pikir bagaimana seseorang bisa nekat melukai dirinya sendiri sedangkan masih banyak yang bisa dilakukan" Kalau kau tak paham, tak mengapa. Tapi aku melakukan itu bukan untuk mati, aku lelah tak merasa apapun karena ada bagian di dalamku yang memang sudah mati. "Kau mirip banteng ketaton" Ya, aku marah kalau kau seenaknya menyebut aku gila. Aku terluka kalau kau seenaknya main hakim sendiri. Calar itu adalah sebuah pengingat bahwa aku masih hidup.
0
May 30, 2018
May 30, 2018 at 8:15 AM UTC
Ketaton
Sambil mengendarai mobil, aku melirik calar yang menghiasi tangan kananku. Merah seakan salah satu kucingku baru saja mengamuk. Tapi hanya aku dan sebilah pisau di kamar yang tahu itu bukan hasil karya seekor kucing melainkan binatang yang jauh lebih biadab, depresi. Lampu dijalanan berubah merah, sambil melihat sekeliling aku tersenyum mengamati hiruk pikuk yang sedang terjadi. Aku jadi rindu perasaan utuh yang lambat laun terkikis waktu dan kalimat-kalimat bernoda. "Kurang kuat iman sih" Tak ada kaitannya dengan imanku, sayang. "Mungkin cuma ada di kepalamu saja." Dan kepalaku adalah satu-satunya tempat dimana aku tak bisa lari. "Memang penyebab depresimu apa?" Karena 1095 hariku tercemar darah, puntung rokok, pecahan gelas, dan caci makian tiada henti. Tak semudah itu untuk keluar hidup-hidup dari kandang singa, harus ada luka yang aku tanggung seumur hidup. "Apakah kau gila?" Aku bukan gila, aku baik-baik saja. Hanya ada bagian di dalam sana yang mati dan tak bisa diperbaiki lagi. Lampu hijau dan klakson dari mobil membangunkanku dari suara-suara itu. Tapi ketika sudah melaju dengan kecepatan yang nyaman ada satu suara yang muncul lagi, menoreh hatiku. "Aku tak habis pikir bagaimana seseorang bisa nekat melukai dirinya sendiri sedangkan masih banyak yang bisa dilakukan" Kalau kau tak paham, tak mengapa. Tapi aku melakukan itu bukan untuk mati, aku lelah tak merasa apapun karena ada bagian di dalamku yang memang sudah mati. "Kau mirip banteng ketaton" Ya, aku marah kalau kau seenaknya menyebut aku gila. Aku terluka kalau kau seenaknya main hakim sendiri. Calar itu adalah sebuah pengingat bahwa aku masih hidup.
Continue reading...
20
Hai kamu...ya kamu... Kucingku melihatku maju mengendus Hmmm....kamu mau disayang kah Kataku sambil mengelus-elus kepalanya Errrrr....tertanda gembira Baiklah sayang aku terus membelai Errrrr....kepalanya menengadah Baiklah ku cium kepalamu Hitam warnamu tapi tak sehitam hatimu Sungguh kau laksana anak yang baru Mengerti sedikit, bergerak sedikit Tidak marah atau membuat kesal Kucingku....bicara dari hati ke hati Mengerti mengapa aku menyayanginya Merasakah setiap usapan dan kata2 sayangku kepadanya....
0
Oct 31, 2017
Oct 31, 2017 at 11:23 PM UTC
Kucing hitamku
MALAM yang indah, bulan sabit tiba-tiba hilang dari pandangan. KLISE; bunyi burung malam dibarengi meong kucing-kucing kecil, bunyinya seperti +-@$"'=,/::! aku diam, aku tak sanggup gugup atas dua jiwa yang sudah ditelan bersama potongan tuna setengah segar. kutukan penantang tuhan. nging
0
Sep 21, 2020
Sep 21, 2020 at 8:54 AM UTC
OKLASASADU