"koridor" poems
1/
Biasanya aku melihatmu di pojokan ruang itu. Melamun betapa sedih dan merananya jika jadi dirimu. Senyummu usang, sudah selayaknya kau buang. Atau paling tidak, kau gadaikan ke pasar loak. Pertimbangkan, aku bahkan menawarkan diri untuk jadi gerobak rombengnya.
2/
Mengamatimu bagai meneliti susunan arsitektur sarang semut, bercabang rumit walau sekelumit rahasiamu tak terungkit, atau paling tidak cerita masa lalu mu tak pernah terkuak.
Omong-omong, sudah tiga hari aku datang dan duduk di bangku yang sama, bahkan meja dan kursinya tak segan menyapaku dari kejauhan "kawan, mari duduk sini dan amati keindahan". Aku tak begitu paham bahasa furnitur, jadi ku jawab seadanya.
3/
Duduk diam mengawasi kerumunan, siapa tahu kau kembali terlihat, tanpa terhalangi punggung, atau ransel. Pintu maupun kerudung. Jangan bilang aku penguntit, karena aku tak bermaksud buruk. Aku hanya tak tahu apa yang harus ku lakukan untuk sekedar bertukar sapa, atau paling tidak tatapan mata. Menurut ku matamu cukup layu jika tak ada kawanmu yang menemani. Air mukamu tak pernah kulihat benar-benar menikmati hidup merdeka, mereka tetap saja terjajah. Entah karena sedih atau kecewa.
4/
Hari ini kau tak ada di antara kerumunan, tak ada dalam ruang, tak ada diantara rekan, tak pula hadir dalam lamunan. Aku takut telah menculikmu tanpa sengaja dengan tatapan. Aku terus memandang kedepan, mendengar percakapan.
5/
Tak ada. Aku tahu. Tak berharap pula aku akan tibamu di dalam ruang.
6/
Aku mendengar gosip dan rumor, bahwa kau yang di ujung ruang telah berpindah ke lain ruang. Ujung koridor. Aku bergegas kesana.
7/
Hari ini aku berhasil mengejarmu, berbicara padamu. Tapi kau tampak tak senang, dan hanya mengulang kata-kataku. Aku juga tak sengaja menemuimu di toilet. Masih mengulang kata-kataku. Sore ini aku berjanji akan menemuimu di ruang ujung koridor.
Kala itu, dia menghadap cermin. Menyapa citranya sendiri. Di ruang ujung koridor.
Oct 18, 2017
Oct 18, 2017 at 11:08 PM UTC
entah hari ini atau kemarin
koridor senja coba aku leati
sepi memang hari mulai gelap
semilir sisa angin hujan menggelitik
aku terbiasa menopang diri sendiri
berjalan sendiri tak pernah menjadi debat
lembap dinginnya bagai selimut di malam hari
yang menusuk matahari pagi
entah ekspektasi belaka atau hanya egoku
tidak, aku tidak pernah sekedar bertanya
segala tanya atau tidak kutulis itu tulus
karena aku tumbuh dengan menghargai
aku bisa jadi salah
kupu - kupu menggeliat di perutku sempat hilang
namun, di koridor gelap itu
mengapa mereka datang lagi
Dec 8, 2017
Dec 8, 2017 at 9:52 PM UTC
rem yeri
mağduruyum uzun zamandır
imarlı ifrazlı
hatta
ifrazatlı uykularım var
geçer diyor mütehassıs
saatleri geçirme
bir poşet leblebi yazıyor rengarenk
otanı için depresif günlere
koridor...
dar ve loş
ne güzel de bakmış o yıllar
susçu cazibe
kreşondo çakıp durdu
yüzdü denizlerimde
su dalgası
perma
küt
hepsi içimde
kalıcı yaralar gibi
devşiriyor her defasında
yeni bir kesiğe
son geyşa da gitti
şeyla bakıyorum maziye
dün de
kalsa da dikiş izi
sırıtıp
tepemi attırıyor
makas unutuyor kimi
ölmezsem bir ümit sözde
ama geçti bor’un festivali
woodstock gündem’de
eski kayıtlara bakıyorum
jimmy esrarla sahnede
ama tırmalamıyor kulağı
üflüyor sadece
kim anıyor beni bilmem
belki hapın etkisinde
yürüyorum
yollar buz
başım kel
gözüm perde
ne zaman kliniğe gelsem
kayıp oluyorum bu evrende
akşam soğuk bir odam var
bir mum, biraz meze
bir de şarap olur mutlaka
gülümser plaktan zeki
göçerim hayallere
yakışıklı ölümdür tek arzum
şişmeden kafa, gövde
uzatırlar bir şarkıya kefeni
usulca girerim içine...
Mar 9, 2019
Mar 9, 2019 at 11:49 AM UTC