"kicau" poems
Kemana kau tuan,hilang tanpa pesan
Meninggalkan hamba dengan sejuta kerinduan
Boleh hamba mengatakan? Bahwasanya kehilangan tuan,tidak pernah hamba inginkan
Bahkan,sejak kepergian tuan
Hamba masih berdiri disini,mempertahankan,berharap tuan akan merubah arah pijakan
Dan kembali ke sisi di pangkuan
Semenjak tuan pergi,
Desau angin mulai menyepi,
Kicau burung tak terdengar lagi
Berganti dengan sesak nafas hamba,dan suara tangis yang kian menusuk telinga
Hamba masih belum bisa menerima kenyataan,
Bahkan,merelakan tuan pergi saja masih terasa menyakitkan
Jun 21, 2019
Jun 21, 2019 at 1:11 PM UTC
Obrolan ceria menyambut pagi
Memaksaku menguap untuk terakhir kalinya
Suaramu bergetar lembut melalui sambungan telepon
Kau menceritakan mimpi semalam
Sambil menyanyikan sebuah lagu
Tak kau biarkan dunia melihatmu bersedih
Walau aku tahu,
Semalam tak sedikitpun kau mampu pejamkan mata
Derik jangkrik bertukar dengan kicau burung
Namun aku tak ingin apapun menukar dirimu
Kau adalah malaikat kala mimpi burukku
Kau layaknya bintang di siang hariku,
Surya pada malam-malamku
Kau nyanyikan sebuah lagu cinta
Suaramu menghangatkan sejuknya embun
Nafasmu menghidupkan diriku
Memberi warna pada duniaku
Membirukan langitku yang selalu hitam
Memerahkan hatiku yang biru
Kita akhiri percakapan hari ini
Kau menutup panggilan telepon dan melanjutkan harimu
Aku meresap sisa-sisa suaramu yang menggema dalam kepalaku
Kubawa suara itu dalam doa-doaku
Semoga suara itu masih bisa kudengar lagi nanti
Semoga masih ada lagu cinta untukku
Sep 13, 2018
Sep 13, 2018 at 1:40 AM UTC
Tawa renyahmu di sela-sela bisikan lembut
Menghangatkan malam yang dingin
Ingin kumiliki sepasang sayap di belakang pundakku
Agar bisa kubawa tubuhku ke hadapanmu, kapanpun kau katakan rindu
Kupasrahkan seluruh ragaku atas senyummu yang menyihir
Kurelakan setiap jengkal kata yang kuucapkan,
setiap detik yang kulewatkan,
setiap nafas yang kuhembuskan,
setiap detak dari jantungku,
Untuk kau kuasai
Malam-malam yang membelaiku dengan lembut
Memberiku alasan untuk terlelap dengan nyaman
Namun kau datang meretas mimpiku
Suaramu selembut angin memetik dedaunan musim gugur,
menggema dalam kepalaku
Senyummu semanis madu mengaliri relung-relung hatiku
Sentuhanmu sedahsyat guntur menggelegar
Memaksaku terbangun seketika dan menyadari
Kaulah mimpi yang tak ingin kusudahi
Kau menumbuhkan taman bunga di tengah padang pasirku
Kau memaksa bulan muncul di saat pagi hariku
Kau memutar badai pada lautku yang tenang
Kau memancing senyum saat hari-hari kelam
Kau bara apiku yang terus meradang
Kau kicau merdu yang menyambut sejuknya pagi
Kau bintang-bintang yang menutup dinginnya malam
Kau cinta yang mengisi hatiku hingga memerah
Aug 28, 2018
Aug 28, 2018 at 9:26 AM UTC
Bandung begitu kelabu,
dadaku kosong
rentang fokus kabur entah kemana
ada kacau yang meruang di tubuhku
tersisip kicau yang kian gaduh kepalaku
terus menerus menimbang
mempertanyakan perkara ranah juang
bolak balik singgah pada keraguan
lalu sebentar mampir pada keyakinan
ia, aku, terpicu keras sekali
kilas balik membeludak dalam benak
beririsan dengan manisnya kenyataan
yang juga selalu menjagaku erat
aku benci terpicu seperti ini,
guru geografi pernah ajarkan
ketika panas bertemu dingin, terjadilah puting beliung
ada puting beliung yang meruang di tubuhku
lalu hembusan nafas mengembalikan sadarku
cepat-cepat harus kukerdilkan imajinasi
ya Bapa di Sorga, bebaskan aku dari kekang gelisah
aku hanya ingin melepaskan apa yang perlu dilepaskan
aku lelah mengunci diri dalam kegelapan
Mar 2, 2020
Mar 2, 2020 at 1:44 PM UTC