Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"kewarasan" poems
Mata itu membiru duka lama yang menderu Badai dan lindu mengantar jasad tubuhku Terbilang sudah berapa kali kau dan aku berjanji Diantara pagi haru dan sedikit isak tangis merdu Aku suka kala kau menangisi canda tawa terbawa pula hawa panas diantara kata berlalu Rapat-rapat tak ada dalam bisik-bisik mayat Sedepak dari liang lahat berpijak, jemari kaki peti-peti mati digusur pergi Lelah lelaki itu bertelingkah Membuang gelas yang telah dituang Meracau melampau dari batas kewarasan Disana dia merumput maut, meraut ribut Pergi pulang membaur diantar lalu lalang kabut
0
Nov 16, 2016
Nov 16, 2016 at 12:39 PM UTC
Diantar Pulang Kabut
Sepuluh berkumpul, Yang tujuh berganti. Dunia ini masih sangat gila. Kehidupan tak boleh berbaik hati Sedang kematian mati dimutilasi Oleh segregasi manusia waras tak tahu diri Dunia ini berakhir gila. Saking gilanya, Yang berhimpun terkapar mati. Tergeletak dipenggal, meninggal Akal dan luhur budi berganti Jadi, Sekumpulan gila mengibarkan selebaran selamat tinggal Yang lain menggasak grafiti dan vandal Begundal disisakan termarjinal Kewarasan mewabah ganas tak terbantahkan Lalu muncul manusia Bergerombol berebut botol-botol alkohol Berharap ikut gila sedikit saja, jadi mereka tak ikut menderita Sepuluh gila beraliansi Yang tiga bertumbuh Tujuh lainnya berempati
0
Oct 27, 2017
Oct 27, 2017 at 4:22 PM UTC
Liga Manusia Gila
Pada gersangnya bibir, kerongkongan merengek tersedu-sedu seperti laki-laki kecil sepulang sekolah. Seiring dengan semakin mencekamnya kantung mata yang menghitam, dan kemarau yang tak kunjung usai bersemayam pada kelopak yang lelah, gadis kecil menyandarkan jiwanya pada ayunan yang rapuh di halaman belakang rumah tua. Di seberang persimpangan jalan, laki-laki kecil menggerutu tentang udara yang mencekik seluruh tubuhnya. Ia menyusuri jalanan tempat orang-orang kehilangan rasa. Terus berjalan di belakang waktu. Waktu yang menggerogoti jiwa orang-orang di sekitarnya. Di atas rumah pohon, di awal musim penghujan, gadis kecil bersedih. Ia menangisi bekas luka yang tak jua sembuh. Luka yang menghidupkan kembali ketakutannya. Dan ketakutan yang pada akhirnya akan memenggal kakinya di akhir musim. Musim berlalu-lalang, orang-orang datang dan pergi dengan pasti. Tapi apakah pergi selamanya tentang menghilang? Musim baru selalu tiba, sesekali tepat waktu, seringkali sulit terprediksi. Seperti kedatangan dan kepergian, kapanpun ia akan mengetuk pintu kewarasan.
0
Aug 1, 2020
Aug 1, 2020 at 12:07 AM UTC
Musim-Musim Yang Selalu Kita Tangisi.