"kemarau" poems
/1/
Merindu berarti meranggas
Bak guguran detik demi detik
Pada tangan pedih di petang hari
Merindu berarti meradang
Saat senandung semu
Dari semua kisahmu
Menorehkan luka
Pada jejak lisanku
Yang tak kunjung bermuara
Karena kita yang bertualang
Hanyalah jiwa dalam deru
Jerit
/2/
Siapa yang tinggal dalam gelap
Jika bukan sekumpul hantu
Dan kepulan sisa ragamu
Yang denyut nadinya
Sangat susah untuk kuraba
Untuk apa membunuh diri
Bila ternyata
Tak pernah hidup
Di cinta hingar bingar
Di pilu tak berpijar
Sumbu tubuhmu
Akankah menyala lagi
Apabila ku dekap dalam ratap?
/3/
Terbitnya kabut
Setelah fajar
Takkan bisa
Gantikan
Kenanganmu dalam redup
Mar 19, 2016
Mar 19, 2016 at 3:43 AM UTC
Ketika hujan menangis
Merindukan kemarau panjang
Di manakah kita?
Di antara tetesan air mata yang terpejam
Sore itu kita membeku sedingin sunyi
Yang kau hanyutkan dari dekap
Menuju resah
Meninggalkan harap
Terombang-ambing sendiri
Lenyap dalam senyap
Jun 21, 2018
Jun 21, 2018 at 2:39 AM UTC
seperti angin di musim panas
sayupnya menghempas kemarau didada ini
Dec 1, 2018
Dec 1, 2018 at 6:06 AM UTC
Akhir-akhir ini kemarau
tak kunjung pulang
aku ingin hujan
aku ingin dia datang
turun deras
mengucuri segala resah, rindu
dan perkara yang tak kunjung hilang
aku ingin hujan
datang membawaku
pergi bersamanya
mengalir melewati segala sudut dan celah dunia
supaya ketika saatnya aku pulang,
resah dan perkaraku telah tertinggal
di tempat-tempat yang mungkin
tak akan pernah kusinggahi lagi.
Aug 28, 2019
Aug 28, 2019 at 4:29 AM UTC
Pada gersangnya bibir, kerongkongan merengek tersedu-sedu seperti laki-laki kecil sepulang sekolah.
Seiring dengan semakin mencekamnya kantung mata yang menghitam, dan kemarau yang tak kunjung usai bersemayam pada kelopak yang lelah, gadis kecil menyandarkan jiwanya pada ayunan yang rapuh di halaman belakang rumah tua.
Di seberang persimpangan jalan, laki-laki kecil menggerutu tentang udara yang mencekik seluruh tubuhnya.
Ia menyusuri jalanan tempat orang-orang kehilangan rasa.
Terus berjalan di belakang waktu.
Waktu yang menggerogoti jiwa orang-orang di sekitarnya.
Di atas rumah pohon, di awal musim penghujan, gadis kecil bersedih.
Ia menangisi bekas luka yang tak jua sembuh.
Luka yang menghidupkan kembali ketakutannya.
Dan ketakutan yang pada akhirnya akan memenggal kakinya di akhir musim.
Musim berlalu-lalang, orang-orang datang dan pergi dengan pasti.
Tapi apakah pergi selamanya tentang menghilang?
Musim baru selalu tiba, sesekali tepat waktu, seringkali sulit terprediksi.
Seperti kedatangan dan kepergian, kapanpun ia akan mengetuk pintu kewarasan.
Aug 1, 2020
Aug 1, 2020 at 12:07 AM UTC