Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"kedai" poems
Sebetulnya tidak ada yang terlalu berbeda pada Jogja malam itu, namun memang spesial. Ada kamu di hadapanku, diterangi remangnya lampu kedai kecil tempat kita berdua berteduh dari gerimis dan dinginnya kota Jogja malam itu. Kamu tidak banyak bicara, sibuk dengan sepiring gudeg dan segelas wedang jahe favoritmu. Aku tidak bisa berhenti memandangi parasmu. Meski hanya diterangi lampu remang-remang, dan peluh yang basah akan air hujan, bagiku kamu tetap nomor satu. Sang pemilik kedai pun memutar piringan hitam miliknya, terlantunlah ‘Berdua Saja’. Aku masih ingat betul tatapanmu malam itu seiring dengan alunan lagu. Sederhana, teduh, dan penuh dengan kehangatan. Malam itu, aku sadar bahwa rumah tempatku pulang bukanlah bangunan bata beratap dengan satu pintu dan dua jendela. Malam itu aku sadar, Sepasang mata bola yang teduh dan hangat itulah tempatku pulang. Kamulah tempatku pulang.
0
Oct 22, 2016
Oct 22, 2016 at 12:20 AM UTC
11.00 - Aku, Kamu dan Jogja.
Dalam retrospeksi minda naif kecilku pernah berimaginasi memikirkan dunia luar sana yang bagaikan fantasi hati merontakan suatu kebebasan yang diimpi namun kini ku sedari, itu semua hanyalah persepsi seorang gadis kecil yang dahulunya bercita-cita tinggi masa sudah tiba untuk kembali ke realiti. Selamat datang ke Kota Korupsi di mana manusia-manusia bertopengkan syaitan kehausan kuasa, kerakusan harta duniawi dipuja, dipuji dan disanjung tinggi pil penawar pula makanan ruji untuk depresi tiada lagi tempat mengadu, tempat meluahkan hati hanya tinggal kata-kata yang kehilangan erti terpapar di kotak skrin empat segi. Bangsaku semakin alpa, agamaku jauh sekali soal halal haram tidak dipertikaikan lagi hanya topik sembang santai di kedai kopi bicara hari nanti ditolak dahulu ke tepi. Dunia yang dahulu semakin pudar hanya serpihan di hujung sudut memori masa berlalu terlalu pantas, terlepas dari jari-jemari sekarang sudahpun tiba generasi baru menapakkan kaki namun, lihatlah sejarah mengulangi dirinya sekali lagi selagi nafas belum terhenti selagi kita belum pergi.
0
Dec 29, 2017
Dec 29, 2017 at 6:45 AM UTC
Kota Korupsi
berdiri aku di tengah sibuk pasar kelihatan ragam manusia -bermacam ada yang berpaut berpegangan tangan aku tahu rasanya indah dan sentiasa selamat di kedai kecil sana ada anak menangis meminta untuk dibelikan --umpama masalah dunia, paling besar tersenyum aku hai anak, andai kau tahu apa itu resah remaja dan getir si tua pandangan aku terkunci pada yang keliru ditangan nya penuh dengan pilihan dan aku kenal rasa itu dimana cuma mahu yang sempurna sekali lagi aku tersenyum --mana mungkin ada yang cukup keluh aku pada dunia pentas paling besar dan ramainya pemain pentas ini ada yang yakin dengan watak nya yang biasa sahaja juga ada aku? aku cuma memerhati dan syukur kerana masih punya nikmat untuk rasa riuh pasar -f 611am 3rd oct
0
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 8:21 PM UTC
bising dan riuh
Aku mengikuti intuisi jiwaku intuisi jiwaku, kemana masa depan membawaku? sejenak kuberpikir kita hanya menari di bumi ini hanya untuk sementara. aku tahu impian ini cukup besar, maka perkecil ekspetasi akan hal itu tentang menjadi ayah yang baik rumah yang luas dan nyaman, kacamata coklat gagang yang patah, itu tidak bertahan selamanya. Aku keras seperti batu tebing, aku melihat daun yang layu hingga mekar mudah percaya dan naif tentang banyak hal, banyak hal yang kutentang tetapi aku hanya diam dan lebih banyak mendengarkan. dihantui perasaan kehilangan berlebihan dan perasaan bersalah tentang banyak hal, dan aku benci film romance yang berkendara di tepi pantai, anak kecil yang nakal, berita hoax, kedai kopi yang memutar lagu terlalu keras, sate yang belum matang, semut, dan wanita yang menari di tempat umum, tabel - tabel membuatku bingung, drama tentang pria ideal juga membuatku muak, Netanyahu keparat dan pembunuh. 2025 reydmh
0
May 3, 2025
May 3, 2025 at 11:03 AM UTC
Dari kekacauan sampai {KEDAMAIAN}
Sunyi nian, sungguh Ketika intuk ku tempuh Lalu hampa melanda angkuh Lenyap semua yang ku butuh Dilematis sekali menggapai asa Hingga nuragapun terkesan percuma Sungguh, hanya daksa yang ku punya Sisanya, tak ada yang benar-benar berguna Pada setiap derap ku melangkah Tak mungkin terasa resah Ketika Sang Penguasa bertitah.
0
Feb 14, 2025
Feb 14, 2025 at 10:27 AM UTC
Sebuah Catatan Kecil di Lantai Dua Kedai Kopi