"kebenaran" poems
Jalan menuju hatiku
Bagaikan jalan berliku
Bagaikan jalan berbatu
Yang tikungannya tajam
Penuh rintangan
Jalanan jalanan ini menjadi saksi
Bagaimana cinta bisa membutakan,
Membutakan kalian dari kebenaran Tempat kalian tikung menikung
tanpa memikirkan lagi pertemanan.
Jalanan jalanan ini menjadi saksi
Bahwa cinta itu ada
Dan untuk mendapatkannya
Butuh banyak pengorbanan
Butuh banyak waktu
Jalanan jalanan ini pernah menjadi saksi sebuah kisah cinta
Kisah cinta tentang dua orang
Yang dulu saling menyayangi
Kisah aku dan kamu.
Mar 2, 2017
Mar 2, 2017 at 2:58 AM UTC
Salam hangat untuk pembaca yang terhormat,
Apa kamu tahu apa yang lebih cerdas dari berada di tengah-tengah dan jadi pengamat sebelum benar-benar memihak? Atau, apa menurutmu tindakan itu bukanlah tindakan yang akan dilakukan oleh orang-orang intelektual yang sesungguhnya? Apakah menurutmu itu adalah tindakan orang-orang bodoh yang tidak peduli atau orang-orang pemikir yang berhati-hati?
Kakekku menyisipkan kata ‘median’ pada nama awalku dan ia jadikan kata itu sebagai nama kecilku, juga nama panggilanku. Di antara nama lengkapku yang berbunyi, Mediana Prawirahardja, kata yang diartikan sebagai nilai tengah itu ia tetapkan sebagai nama panggilan untukku. Harapannya adalah agar aku akan memiliki sifat yang sama dengan kata itu. Berada di tengah. Netral. Damai. Berada di tengah dan menilai, atau berada di tengah dan memiliki nilai.
Nama adalah doa dan lama-kelamaan, aku mulai lelah menjadi pengamat yang hanya bisa menyaksikan dan mencari-cari kebenaran yang belum terungkap di antara hiruk-pikuk masyarakat yang hilir-mudik penuh hingar-bingar ini, di balik dunia yang berantakan ini.
Sep 5, 2017
Sep 5, 2017 at 2:52 AM UTC
Cinta yang terangkat cepat
Bagai desir angin senada
Hilang
Serapi kau susun dinding berduri
Mencari kebenaran
Mencari teman
Mencari kebenaran
Mencari hati berkeping
Amarah
Berhenti, biar sekejap saja
Duniaku sudah neraka bagiku
Cukup
Aku ingin hidup.
Sep 24, 2017
Sep 24, 2017 at 7:48 AM UTC