Submit your work, meet writers and drop the ads. Become a member
M e l l o Jul 19
ang buhay
ay parang pagtawid
sa kalsada
tingin sa kanan
tingin sa kabila
nag aantay na maging
berde ang ilaw
na nasa kabila
mabilisang pagtawid
sa kalsadang abala
sumasabay sa mga taong
hindi kilala
wag kang tumawid
pag ang umilaw ay pula
mas mabuting mag-antay
kesa masagasaan ka
Poem of the day.
Penyair itu melangkahi pengemis pincang yang lelap itu.
Kasurnya adalah trotoar dan mimpinya ntah apa.
Jangan bahas mimpi jadi jutawan dengan kemeja dasi rambut klimis.
Mimpi basah saja harus sembunyi sembunyi.
Kan takut toh masturbasi di pinggir kali ?

Soalnya guys,
coli itu pun harus pake tangan kanan
selain soal tekanannya yang konstan ..

KALAU TANGAN KIRI KIRI KIRI,
Disangka PKI !
Ini perihal dosa Illahi saudara saudari!



Lalu pengemis itu Menatap angannya setinggi bintang di lantai 53 menara menara ibu kota.
Mengelus ngelus perut kurusnya.
Alhamdullilah, hari ini bisa santap sisa paha ayam dari restoran kebarat baratan itu.

Mungkin baginya, Tuhan menjelma dalam bentuk tempat sampah.
Menyediakan pangan sisa sisa umat kesayangan-Nya.
Dan dia, umat yang lupa ia punya.

Pagi datang.
Ia terus berjalan tanpa alas kaki.
Sekelibat melihat lamborgini, berkawal polisi.
Presiden mungkin ah?
Nomor satu, atau duah?

Dia tidak pernah berharap pada Tuhan.
Atau presiden.
Mungkin ia harus tetap berjalan saja.
Atau mungkin ia harus berharap pada ratu adil.
Entah kapan ia munculnya.

Apa ketika jari-jari kakinya lepas.
Hingga tidak bisa melangkah lagi.
Atau lelah menguasai tubuh.
Hingga enggan melangkah lagi.
Atau seluruh kakinya patah
Pun ia tidak peduli lagi?

Apa ratu adil sedang sibuk memasang konde besarnya
Takut takut tidak terlihat cantik saat hadir sebagai pahlawan kesiangan.
Atau ratu adil sedang sibuk
Memutuskan hukuman adil untuk penyair ini yang mempertanyakan kuasa Ilahi dia punya?
Atau mungkin ratu adil berhati dingin.
Seharusnya iya karena mana mungkin beliau yang welas asih membiarkan hambanya pontang panting,
malah sibuk mengurus penyair mengkritik program kerja-Nya tahun ini.

Yah ..

Memperhatikan pengemis itu terpincang-pincang lebih asyik daripada mengurus Tuhan.
Presiden. Atau ratu adil.

Apakah Mas Aristoteles meramalkan distopia pada nusantara?
Pertama kali saya bacakan di Paviliun Puisi, edisi Dys/Utopia pada 6 April 2019.
Anneliese Nov 2018
Hujan menghantui kota metropolitan
Tiang tiang berdiri dengan canggungnya
Dingin menikam kulit
Mengeruak sampai sayat hati

Aku memandangi kedua sepatuku
Sambil sesekali menoleh
Kiri kanan
Tak kunjung juga datang

Tuhan,
Biarlah hari ini
Aku ingin melihatnya
Walaupun hanya sekian detik
Tak apa, sungguh

Tanpa melihat wajahnya pun
Hanya sekedar perawakannya saja
Itu sekadar cukup bagiku

Bahkan begitu saja,
Bisa membuat kakiku melayang

Disela-sela derasnya hujan,
Aku berdoa
Biarlah doaku ini
Menerjang tajamnya hujan

— The End —