"kalbu" poems
*when the moon writhe and crawling the silent night..
it was time to layover yearning who clotted for sweetheart..
when the sun excited to greet the morning ..
it was time to embed cheerfulness on the idol of conscience..
sprinkle knitted heart turmoil and dew drops each cavity of jasmine petals ..
i greet to you, my dearest sister..
each twist will crease beautiful crowded heart longing ..
so that relieved you feel full carefree breathing..
with the presence of me,
i will fulfill your every drought in the lake of your worries ..
i will treat every your petulant in lap with more excellent attention ...
return back to you as always, my dearest sister..
to pulling the curtain the recesses of the heart that always hiding ..
to wrapping blush smolder desire in your heart arms ..
because your bliss, my dearest sister..
it's most beautiful thing that can i enjoy ever ..*
-the poetry is dedicated to a sincere friend of mine, Ha-
┈┈┈┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶ ƦУ »̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈┈┈┈┈┈┈┈
adinda
kala sang rembulan menggeliat merayapi malam sunyi..
tibalah waktu untuk menyinggahi gigilnya kerinduan sang kekasih sanubari..
kala sang mentari bersemangat menyambut pagi ..
tibalah waktu untuk menyematkan kecerian pada sang pujaan nurani..
menyemaikan untaian gejolak kalbu dan meneteskan embun disetiap rongga kelopak melati..
kusambut darimu, adinda...
setiap simpul lipatan hati yang sesak akan indahnya kerinduan..
agar terasa lega engkau bernafas penuh riang..
bersama hadirku,
kan kupenuhi setiap kekeringan ditelaga keresahanmu..
kan kumanjakan setiap rajukanmu dipangkuan perhatian nan syahdu...
berpulang selalu kepadamu, adinda..
untuk menyibakan tirai pada relung hati yang selalu bersembunyi..
untuk membalut rona kerinduanmu yang membara dalam dekapan hati ..
kerena bahagiamu, adinda...
adalah merupakan hal terindah yang dapat kunikmati..
Jan 13, 2014
Jan 13, 2014 at 1:32 AM UTC
Tenggelam dalam riak nafasmu
Bagai ombak bertalu-talu di tepian kalbu
Terbuai oleh lantunan irama kehidupan
Bersenandung dibalik kerangkeng iga
Aku perahu di lautan luasmu
Tanpa dermaga yang hendak ku tuju
Hening malam tak kuasa membungkam
Detak yang berteriak memuja semesta
_______________________________
*Engulfed in the ripples of your breath
Tides pulsing at the shorelines of soul
Lulled by the chanting rhythm of life
Strumming against the rib cage
I am a boat in your vast ocean
Without a harbor to go to
The silence of night can't hold in
the heartbeats that bellow praises to universe*
Jul 22, 2014
Jul 22, 2014 at 11:43 AM UTC
Palembang, 24 November 2013
Suara itu
Suara yang tak terdengar, suara yang membeku
Menyentuh dalam kalbu
Miris, suara itu
Bau itu
Bau yang tak tercium, bau yang melebur
Menyayat hatiku
Kasihan bau itu
Pandangan itu
Pandangan yang terpaku, hanya diam membisu
Mengabaikanku
Tak menoleh sedikitpun
Sentuhan itu
Senyuhan palsu, yang tak tersentuh
Memukulku, di sini
Di arah sini, dekat hatiku
Pikiran ini
Pikiranku, yang tak berujung
Memikirkanmu
Membuat aku ragu
Nov 24, 2013
Nov 24, 2013 at 10:15 AM UTC
kulantunkan - lembut
kunyanyikan - kesenian
kukumandangkan - religi
kuikrarkan - formal
kulafazkan - detail
kuucapkan selamat malam duhai..... hahay.. :D
mana nih yang pas ya..
*kukumandangkan maklumat yang merindu..
oleh sanubari yang tersenyum kelu..
dari iman penghapus birahi dalam kalbu..
membangkitkan cinta yang menggebu..
hingga ranting direlung hati tak sempat betanya..
akan kemana gundah dalam jiwa terbawa..
mungkinkah hanya sebuah nestapa...?
yang tersingkap oleh nafsu dunia fana..
nurani yang kian membangkang..
bertanya pada tubuh yang terkekang..
merebahkan raga dihamparan angan yang tak lekang...
adakah keikhlasan yang terjengkang..
tutur bijakmu sering tak terhiraukan..
seluas samudra perhatian kau berikan..
dalam kasihmu tersandar persahabatan..*
Jan 21, 2014
Jan 21, 2014 at 10:30 AM UTC
Panas terpapar auramu
Menggeliat menyapu menyeluruh
Hingga gugur kalbu
Terbakar oleh angan para penyelatu
Hilang perlahan menggugur
Berasap menghilang semu
Layaknya debu-debu tertiup sang bayu
Memudar seperti bayang nafsu
Dari pemilik warna warna itu
Menjajakan aksara palsu
Mendulang manis ucap rindu
Membiaskan maki dalam untaian lagu
Menerkam mangsa yang diam terpaku
Sampai penuh hasrat itu
”Oh, Jadi seperti ini rupa asli kawan kawanku? sugguh lucu”
Oct 1, 2016
Oct 1, 2016 at 10:13 AM UTC
terasa sesak dalam benak
saat kata 'sampai jumpa' tak terelak
terasa sedih dalam raga
ketika berhenti saling menjaga
akan terasa siksa dalam kalbu
saat nanti tiba rasa rindu yang menyerbu
kawan,
ingatlah, jumpa ini takkan terlupa
segala hal yang telah ditempa
segala hal yang berujung nestapa
semua insan yang telah menjadi siapa-siapa
takkan bisa terlupa
candaan
berhasil mencairkan
ujian
berhasil menguatkan
kebencian
hilang dalam percakapan
kesedihan
hilang dalam dekapan
kawan,
jangan sesali jumpa ini
isak tangis kini
jangan biarkan membebani
kawan,
masa depan menanti
impian tak mungkin berhenti
si pelerai jumpa memang tak punya hati
namun, jangan berkecil hati
percayalah kita kan berjumpa lagi nanti
semesta pasti mengerti
bahwa ini adalah bagian dari rencana si takdir pasti
mempertemukan
lantas
memisahkan
tetapi tenang
rencana si takdir yang dicanang
takkan dibuatnya kita terus berlinang
terima kasih kepada semua insan
yang berpapasan
yang telah menjadi panduan
yang telah memberi acuan
yang telah berlisan
merajut angan
May 27, 2019
May 27, 2019 at 10:53 PM UTC
Ada hal yang terlalu indah.
Tak bisa di jamah,
Pembicaraan dengan mu yang mengusik kalbu ,
Menambah candu pada irama suaramu.
Singkat , penuh arti.
Kau yang terlalu pemalu,
Aku yang begitu terpaku.
Ingin bercakap hingga lupa waktu.
Namun gengsi masih terbelenggu.
Diam-diam menatap ,
Diam-diam bergejolak,
Matapun saling menatap,
Garis senyum mulai terkuak.
Kita sama-sama saling
Saling tahu,
Saling ingin,
Dan tak saling mengungkapkan,.
Sore yang mnjadi saksi mata,
Pada pembicaraan di meja kedua,
akan sekeping hati yang kian pasrah,
Rasa Ketidakpastian yang ditelan mentah,
Menjadi tema pembicaraan yang kian membetah.
Sejatinya, harapan kian menggersang,
Mengikis hati tanpa bak diiris pedang,
Dan semakin rasa ini mendalam,
Semakin menumbuh renjana dalam diam.
-Tan
May 30, 2020
May 30, 2020 at 6:15 AM UTC
Hidup begitu singkat untuk disesali
Indah sedemikian nyata di depan kalbu
Duka rembulan diatas awan temaram
Untuk kemudian ditelan pagi
Pergi tak tersisa meninggalkan jejak kenangan
Dec 30, 2021
Dec 30, 2021 at 11:22 PM UTC