J A M Aug 2014
In the hotel room
You feel more at home

You sleep better without

Without anything
Without everything

Without real life

Depriving yourself
As martyrs often do
Tim Knight May 2013
Hiding in toilet suites
on hotel floors,
above showers-for-two,
and below countless stairs.

Dodge large lobby hallways
and the corridor artery, early-décor, maze,
run past cleaner’s cupboards:
potions for the unsavoury, unclean,
another lost, single mother.

A room service delivery
to a door you don’t own,
yet it keeps the unknown
fears and doubts

Flick and press that remote
because long nights lead
to hours of unrest,
you’re tired of this hotel,
you’re tired of their upper-class clientèle,
you’re tired of that artificial smell,
you’re tired.
from coffeeshoppoems.com
Francis Duggan Apr 2010
It's Friday evening from life's cares we'll have a brief leave taking
And lets go to the Basy Pub for hour of merry making
In confines of the Settlers Bar the voice of mirth is ringing
And Pete Atkinson from Dublin Town an Irish song is singing.

The Mckelvey men father and son are talking of horse racing
They know the horses inside out from form and race card tracing
Has Vo rogue gone over the hill, can Horlicks race to glory
Can Almaarad come bouncing back and go down in history?

Phil Cronin go back down the years he flick back through life pages
To friends he knew in Millstreet Town he has not seen for ages
Big Jerry Shea and Mister O, James Manley hale and hearty
And Johnny Sing from Millview Lane the life of every party.

Brave Harry the brave English man the one as tough as leather
You'll only see that man in shorts no matter what the weather
A man of elephantine strength yet gentle and kind hearted
And he has taken life's hardest blow since his son this world departed.

Big Mick Kissane the Kerry man he doesn't like Maggie Thatcher
And he feels that for Union bashing that few in history could match her
Still he won't go back to Kenmare to weather wet and hazy
He'd much prefer Mt Evelyn it's nearer to the Baysy.

Mick Kelleher and Phil Schofield well into greyhound breeding
They talk of how greyhounds should be schooled and for them proper feeding
Two greyhound trainers and of late their reputations growing
And Millstreet Town keep racing on when others dogs are slowing.

Vin Schofield a Manchester Man he does love Man United
And every time United win he feel proud and delighted
But United not doing well of late of late they're not impressing
And this too much for him to take he find it all depressing.

Galway's Matt Duggan and Westmeath's Sean Fay the hurling game debating
On the first sunday of September who will be celebrating
Can Westmeath make the big break through or will Galway flags be waving
Or will Tipperary still be champs their reputation saving?

And Marty Kerins from Mayo a good and happy fellow
I've never met him in bad mood I've always found him mellow
He love the Bayswater Hotel he say there is none better
And to be kept from Settlers Bar he'd have to be in fetter.

And Mick O Shea from Dublin his friends are in the many
And he doesn't have one enemy and he doesn't deserve any
He's given homes to Homeless souls and he's easily moved to pity
And good a man as ever came to live in this great City.

The amazing J D Ellis his name and fame keep spreading
And he has bounced back from the floor and for the top he's heading
Still he is easily stirred up and Garry Carter does the stirring
And el tigre he begins to growl the cat's no longer purring.

It's friday evening from life's cares we'll have a brief leave taking
And where better than the Basy Pub for hour of merry making
In Confines of the Settlers Bar the voice of mirth is ringing
And Pete Atkinson from Dublin Town an Irish song is singing.
Joshua Brown Mar 2015
I plunge into the cold water on that warm July day
no goggles, only the loose-fitting swimming trunks
I swim through the blur of chlorine
pushing through the water
when a familiar tune I heard hours earlier traps itself in my brain
and I suddenly become weightless, a plane high above in the air

The water is pure blue sky, below me the clouds
And at the bottom the city in ruins
I take my plane and dive down below the clouds
past the blur, until the city is in view just below me

I level the bomber and let it soar low above the ground
Over the pale white shells of buildings
I remember the museum exhibit that inspires this flight

I walk through, studying the pictures and the uniforms and the weapons on display
when in the distance of the room beyond I hear the familiar tune:
Brian Eno's "Ascent (An Ending)". It brings me closer, and I move past the exhibits
at a quickening pace, past the slow browsers
glancing only briefly to read, to catch a glimpse of an object, a photo, a map

I keep going, "Ascent" on a loop, its minimalist beauty entrancing me
until I find a large television in a small corner.
A few people are gathered around, solemn,
the television entrancing them, the music washing over the room.

First the white words centered against the black screen: "The Bomb".
The come the white-and-black photos and footage of the mushroom clouds hovering above Hiroshima, then Nagasaki,
standing tall like ungainly trees in an empty field.

The soundtrack to the short video before me is "Ascent",
or rather an excerpt, a piece of it, stirring strange emotions
Familiar ones that I give attribution to when I listen to it on my own.
Yet it feels different coming from this;
on the screen a few photographs of corpses and burnt victims flash by.
And then the screen fades to black, a moment of silence
before it all starts again

I hear this loop and see these images before me as I fly above
the imagined city in ruins
And for a brief moment I am the Enola Gay;
I will only know it at the bottom of a hotel pool
I was inspired to write the rough draft of this in the afternoon after I took a swim. Earlier in the day, my father and I went to the National WWII museum in New Orleans, and I came across the exhibit that I first saw as a child and which had the most profound effect on me.
ic Mar 2014
his smiling self,
walked through the hotel door,
and greeted his new, innocent
lover who is clueless about his
greedy intentions.

she smiles at him,
as she looks behind his back,
to find another expensive gold
necklace that will soon be around
her bruised neck.

she is still unaware
of his real character,
and who is the man behind
that facade of sophistication.

*but, just like the others, he is just another greedy man with a pile of money, looking for some fun.
Noandy Jan 2016
Hotel Saudade*
Sebuah cerita pendek*

“Ceritakan padaku,”
Aku yakin semua orang pernah mendengar perintah, atau permintaan itu; diikuti dengan waktu senyap dan getir setelah diminta untuk bercerita dan mencoba menata tutur sedemikian rupa. Menata tutur untuk menyanyikan, dan menuliskan (jika dalam surat,)  pengalaman, senda gurau, romansa, kehilangan,
Rindu, yang entah bagaimana caranya,

Beberapa mengakui bahwa setelah bercerita, mencurahkan isi hati, mereka merasa lega seolah ada beban yang terangkat. Tapi, cerita tidak hanya dapat diutarakan hanya dalam bentuk sepatah kata, sepanjang tangis, pun dalam tawa. Pada sebuah perjalananku (pertamakalinya aku berpergian sendiri, menggantikan ayahku untuk merancang dan menggambar iklan salah satu perusahaan kenalannya.) Aku bertemu seseorang yang memutarbalikkan pandanganku mengenai cerita pengalaman pribadi.
Aku tak tahu siapa dirinya,
Aku belum tahu siapa dirinya—
Namun pria ini mengaku bahwa ia tak memiliki cerita,
Cerita apapun.

Inilah cerita yang kupunya untukmu, cerita yang aneh,
Bukan aneh dalam artian mengerikan.
Malam itu kereta sampai terlalu larut, dan niatanku untuk mencari penginapan yang lebih dekat dengan pusat kota telah lenyap; aku sudah lelah. Sebenarnya aku dapat datang besok, tapi aku memilih untuk datang 2 hari lebih awal dari hari yang dijanjikan agar dapat bersantai.

Aku menjinjing tasku keluar stasiun dan membenarkan topiku, melihat kanan dan kiri dengan was-was sebelum bertanya pada orang-orang sekitar apakah ada penginapan di sekitar sini. Kau tahu betapa canggungnya aku bila bertanya ini dan itu, aku tak biasa berpergian sendiri! Namun karena keadaan mendesak, ya beginilah jadinya. Aku mendapat rujukan bahwa dengan berjalan kaki (sedikit jauh, tapi tak sejauh bila harus menjelajah malam atau menjadi angkutan untuk ke pusat kota) aku dapat sampai ke sebuah penginapan yang namanya terlalu puitis—Hujung Malam.
Apa maksudnya? Penghujung malam?
Apalah yang ada dalam sebuah nama, yang penting aku dapat tidur tenang malam ini, dan berganti penginapan keesokan harinya!

Dinginnya malam kala itu membuat mantel dan bajuku yang berlapis mejadi tidak berguna. Aku sedikit berlari melintasi trotoar yang digenangi beberapa kubangan air kecil, terlihat bak emas disinari pantulan lampu jalan. Sesekali menggosok lensa kacamata bulatku dengan sarung tangan hitam yang kukenakan. Ranting-ranting gemeretak, seolah merasakan juga dingin yang menusuk tulang. Setibanya di sana, aku tidak menyangka bahwa bangunan penginapan satu lantai ini terlihat lebih tua (tapi sangat terawat) dan lebih besar dari kelihatannya. Aku diantar ke kamarku yang terletak pada lorong yang tepat mengelilingi sebuah taman besar.

Setelah mempersilahkan keluar pegawai penginapan yang terlalu ramah bagiku, aku membuka pintu dan memperhatikan keadaan taman kala malam; didepan tiap kamar diletakkan dua buah kursi dan meja kecil. Sebuah pohon besar berdiri gagah di sudut taman, pada bagian tengahnya terdapat air mancur yang dikelilingi patung-patung pualam kecil; malaikat, anak-anak, dan bidadari tak berhati.

Aku mulai memperhatikan keadaan sekitar (yang tak biasanya kulakukan) dan barulah aku menyadari bahwa aku tidak sendirian.
Tidak, tak ada hantu.

Hanya ada sayup-sayup suara harmonika tak sumbang, yang dimainkan dengan tepat dan sedih pada pedihnya malam dingin.
Aku tahu lagu ini,
Lagu zaman Tudor itu, lagu orang-orang yang ditinggalkan.

Aku menoleh seolah digiring oleh angin yang baru saja berhembus, beberapa kamar kosong (kupikir itu kamar kosong, lampunya dindingnya tak menyala) duduk seorang pria berambut panjang, digelung rapi ke belakang, hanya mengenakan kemeja dan rompinya.

Ia ramping, namun pakaiannya tidak lebih besar dari tubuhnya dan justru terpasang pas pada tubuhnya. Rambut bagian depannya yang panjang dan tak ikut terikat rapi ke belakang berjatuhan, membingkai tulang pipinya yang terlihat jelas. Pria itu sibuk dengan alat musiknya dan memejamkan matanya tanpa menyadari kehadiranku. Aku juga sibuk, sibuk memperhatikannya bermain dan mengingat bagaimana Greensleeves selalu menyayat hatiku. Ini kali pertamanya aku mendengar lagu itu dimainkan pada harmonika.

Setelah ia menyelesaikan musiknya, aku menyapa dari kejauhan sambil memegangi gagang pintu kamarku,
Ia hanya menatap ke depan tanpa menoleh atau menjawab, duduk di kursi depan kamarnya dengan kaki kanan disila pada lutut kaki kirinya. Aku hanya dapat melihat hidungnya yang mancung dan matanya yang dibayangi gelap, ia terlihat cantik, dan sepi. Setelah menunggu sedikit lama dan masih tetap diabaikan, aku menghangatkan diriku di kamar. Aku akan berpindah penginapan besok siang.

Ternyata esok berkata lain.
Aku membuka pintu kamarku untuk sarapan dan mendapatinya lagi di tempatyang sama, seolah ia tidak beranjak semalam suntuk.
“Selamat pagi,” sapaku canggung.
“Kau selalu di sini?”
Ia tidak menjawab, hanya menatapku, dan saat itulah aku melihat matanya yang tidak lebih redup dari matahari senja di laut kala mendung.

Ia tidak menjawab, dan aku malah menggeret kursi dari depan salah satu kamar kosong untuk kutempatkan disebelahnya. Kami duduk bersebelahan dalam diam, hanya ditemani rintik hujan yang tak hentinya menghujat; ia mulai memainkan harmonikanya.

Aku beranjak untuk sarapan, dan memperpanjang masa sewa kamarku sampai beberapa hari ke depan.

Setelah aku kembali, ia masih tetap duduk disana, benar-benar tak berpindah dan terus memainkan harmonikanya. Aku tak dapat memperhatikannya lebih lama, aku harus beristirahat dan bersiap-siap untuk besok.

Hari berikutnya tidak banyak yang berubah, pagi masih tetap dirundung hujan dan pria itu masih duduk termenung menghadap taman. Aku bergegas untuk sarapan sebelum pergi ke kota dan menyempatkan diri untuk bertanya mengenai pria yang tak beranjak dari tempatnya. Ada yang bilang bahwa ia dulunya buronan, teman pemilik penginapan yang lalu diberi tempat tinggal disini. Yang lainnya mengatakan bahwa ia dahulu pelancong yang akhirnya memutuskan untuk tinggal dalam penginapan setelah diberi kamar oleh bapak pemilik penginapan yang terkesima olehnya.

Sepulang dari kota aku mengeringkan payungku yang basah kuyub dan mantel yang bagian depannya basah karena terkena air dari kereta kuda yang mendadak lewat didepanku. Bagian bawah gaunku penuh lumpur, dan aku tak tahu apa jadinya sepatuku ini. Aku tak ambil pusing dan kembali keluar kamar untuk sekali lagi mencari tahu tentangnya.
Entahlah, ada hal yang membuatku merasa tertarik. Mungkin karena lagu Tudor itu, mungkin karena ia sama sekali tidak berbicara dan beranjak dari kursi kecil itu. Hanya sesekali melepas ikatan rambutnya, dan membuka jam kantungnya.

Aku sekali lagi menduduki kursi yang kuletakkan di sebelahnya, dan langsung melontarkan pernyataan dan pertanyaan,
“Mereka bilang kau dulunya buronan,” ia terus memandangi jam kantungnya,
“Kenapa kau selalu duduk di kursi ini?”
Aku kira ia takkan menjawabnya, namun malah sebaliknya.
“Memangnya kau tahu kalau aku selalu di sini?”
“Karena aku selalu melihatmu di sini.”
“Itu hanya sebagian bukan keseluruhan.” Ia mengangkat bahunya. “Karena kau selalu melihatku duduk memandangi taman bukan berarti aku selalu melakukannya.”

Aku mengintip jam kantung yang di genggamannya, belum ia tutup. Jarum detiknya tak berjalan, begitu juga jarum panjang dan pendeknya. Namun derasnya hujan dan gema suaranya membuat kesan bahwa jam itu terus berjalan mengejar rindu. Ia mengutak-atik sedikit jamnya, dan jam itu mengeluarkan suara kotak musik. Tapi ini bukan jam kantung dengan kotak musik yang biasa kita lihat, jarum jamnya berputar secara terbalik.

“Boleh aku tahu siapa namamu?” aku mencoba mengajaknya berkenalan.
“Aku membuatmu teringat akan apa?”
“Apa? Entahlah.”
“Bukannya kau berlagak seolah mengenalku? Mengatakan aku selalu di sini.”
“Kau mengingatkanku pada senja di laut saat mendung.”
“Kalau begitu, namaku Laut. Aku selalu di sini seperti laut, kan? Ia tidak berpindah dari tempatnya.”

Percakapan kami terhenti di situ karena hujan makin deras dan aku harus kembali ke kamar untuk menyegerakan gambarku. Aku tidak ke kota lagi esok hari, dan menghabiskan waktu menggambar iklan itu di kursi kecil yang menghadap taman tanpa sepatah katapun, disamping orang yang mengakui dirinya sebagai Laut dan dibawah lindung hujan deras. Kami tidak berbicara pun berbincang, tapi aku menikmati kesepiannya seolah ada rindu yang belum dilunasi.
Tapi entah mengapa aku justru memulai pembicaraan,

“Ada yang bilang kau pelancong, apa kau mau bercerita sudah pergi ke mana saja?”
“Kau jarang berpergian?”
“Kau jarang berpergian, dan aku tak punya cerita.”
“Tak punya cerita?”
“Tak ada yang menarik untuk diceritakan. Tak akan ada yang merasakan sebuah cerita seperti penuturnya.”
Aku menyelesaikan gambarku, dan bersiap untuk menyetorkannya keesokan harinya.

Sore hari setelah aku kembali ke penginapan dengan keadaan yang sama, basah, terguyur hujan. Senja dalam hujan kembali ku habiskan bersamanya tanpa sepatah kata dan ia kembali memainkan nada-nada pada harmonikanya. Lagu yang sama dengan yang diputar oleh jam kantungnya. Lagu soal sunyinya malam ditengah laut, menunggu rintik dan bulan yang tak kunjung datang.

“Lagu apa itu? Sama seperti di jam yang kemarin.”
“Pesan Malam.”
“Aku belum pernah mendengarnya.”
“Aku yang membuatnya, wajar kau tidak tahu.”
“Sayang lagunya pendek, lagu yang indah.”
Ia hanya mengangguk,
“Aku akan pulang besok. Terima kasih telah menemaniku disini.”
Ia tak menjawab, dan terus memainkan harmonikanya tanpa menoleh. Seperti suara rintik hujan yang tak tentu, bingung akan apa yang ia tangisi, pria disebelahku tak memiliki cerita, tak bisa bercerita. Namun ia dapat berkisah, kisahnya tertuang pada lantunan nada dan lagu-lagu yang ia mainkan. Aku memejamkan mata, mendengarnya fasih menyihir suara menjadi sebuah fabel dan parabel, berharap dapat menyisihkan kisah-kisah yang tak diutarakan secara tersurat dan harfiah.

Aku undur diri untuk tidur lebih awal, dan menulis sebuah pesan dalam secarik kertas; lagunya mengingatkanku akan bagaimana caranya mengingat dan rindu. Aku harus pulang, tapi entah mengapa aku ingin kembali ke sini.

Dalam hening tidur malamku, ada sebuah lagu yang berulangkali dimainkan tanpa henti. Lagu di penghujung malam, lagu sunyi laut. Aku terbangun, dan dentingnya masih berputar dalam kepalaku.
Sayangnya aku harus kembali sebelum jam 12 esok hari, dan ketika terbangun, aku sayup-sayup sadar akan ketukan halus di pintu kamarku. Aku membukanya setelah memakai mantel, dan memejamkan mata pada keadaan yang sama sambil meluruskan gaun malamku. Hujan masih rintik, malam masih gelap, lampu-lampu menyala beberapa saja, dan hanyalah satu perbedaan; pria itu tak duduk pada kursi kecilnya.

Aku kembali masuk, linglung. Siapa yang tadi mengetuk pintu kamarku? Tanganku meraba gagang pintunya yang sudah menghitam dan saat itulah aku melihat sebuah jam kantung tergantung lesu pada lampu dinding didepan kamarku. Jam kantung yang selalu ia lihat, yang jarum jamnya berputar terbalik.

Tidurku tak kulanjutkan. Aku mengutak-atiknya sesperti yang ia lakukan tadi, dan menyadari bahwa bukan hanya ada satu lagu di situ, namun beberapa lagu pendek. Tiap lagu memiliki suasanya dan warna nada yang berbeda, membangkitkan berbagai macam bentuk ingatan dan kisah-kisah yang dapat kita bayangkan sendiri tanpa dipacu cerita dari siapapun. Hanya sebuah lagu, dan seuntai suasana.

Aku tak dapat terlelap lagi setelahnya. Aku membereskan barang-barangku dan beranjak untuk meninggalkan penginapan. Aku ingin berpamitan padanya dahulu, mengembalikan jam kantungnya, dan berterimakasih atas kisah-kisah yang ia ceritakan secara tersirat dalam senandung sepi. Tapi ia tak di sana, tidak pada kursi kecilnya. Tidak dengan harmonikanya, tidak menatap taman. Ia tak ada dimanapun untuk saat ini, dan aku mengitari taman serta koridor untuk mencari tanda-tanda kehadirannya untuk hasil yang nihil.

Ketika aku menuju serambi depan penginapan barulah aku melihatnya lagi, di ujung koridor, menatap kosong kearahku lalu tersenyum simpul. Senyum yang tak lama langsung sirna. Ia dibalut jas yang biasanya hanya ia selampirkan di kursi kecil dan ia mengurai rambutnya. Aku menyematkan secarik kertas kecil pada telapak tangan kiri beserta jam kantungnya, namun ia enggan menerima jam kantung yang kukembalikan.
“Simpan, dan jaga baik-baik.”
“Aku akan kembali.”
“Kembali kemana?”
“Ke tempat ini.”
“Untuk apa?”
“Bertemu denganmu. Lagi.”
“Bagaiamana kalau aku sudah pergi?”
“Aku akan tetap datang kesini.”
Ia meninggalkanku dalam remang-remang lorong kosong, sambil menggumam setelah melihat tulisan kecil di kertas yang kuberikan.
“Aku tidak paham puisi.”

Aku tak menoleh ke belakang saat ia berjalan melewatiku; yang kutahu, saat aku membalikkan badan untuk melihat apakah ia duduk di kursi kecil yang sama atau tidak, ia sudah tak ada, dimanapun. Bahkan tak ada suara pintu dibuka yang menandakan apabila ia memasuki kamarnya. Tidak ada lampu dinding didepan kamar yang menyala, hanya aku dan sunyi. Aku, sunyi, dan jam kantung yang putarannya terbalik mengindikasikan kisah masa lampau.
Sebagaimana ia memberi pesan di malam hari, aku mengirimkan secarik surat dalam bentuk sajak;

Untuk pesan malammu,
Yang tiap barisnya menari
Perih dalam benak,
Biarkan tanyaku dirundung rindu
Dan menjadi alasan
Untuk tertawa pada angan yang terlalu luluh
Mereka berhantu,
Dan akan kembali—
Sebagai sesayat serpih
Untuk melabuhkan kisah yang lain
Dalam seuntai surat malam

Memang tidak ada perlunya aku kembali, sayangnya lagu itu berputar-putar terus di kepalaku. Seolah nada-nadanya nyata mengirimkan pesan dan kisah yang berubah pada tiap bunyinya; fana, hanya dalam benak.

Mungkin cerita memang tidak selalu harus diutarakan secara tersurat begitu saja; akan banyak emosi yang terkikis habis, tidak tersalur secara utuh dalam penyampaiannya. Kisah yang disampaikan akan mati. Namun dalam lagu-lagu yang ia pahat abadi dalam jam itu, dan yang ia lantunkan dengan alat musiknya, ia menggiring hati yang tersesat dalam imaji untuk menguraikan kisah-kisah sendiri berdasarkan benak serta pedih. Dan tiap lembaran kisah itu,
Mereka membara,
Dalam kasih dan hidup yang belum pernah kita jalani,
Bahkan sekalipun.

Aku akan kembali, setelah membawa kidung-kidungnya pulang bersamaku. Bukan kembali pulang, namun kembali menemuinya di kemudian hari. Aku yakin, percaya, ia akan tetap disana—Menatap taman dan hujan. Entah bermimpi, entah bercerita dalam asa. Karena ia seperti laut, yang selalu disana dalam gelagap rindu, selalu ada dalam dahaga dan dan sejuknya malam. Juga seperti hujan, yang datang kala sepi dan tak kunjung pulang jua. Menemani dengan gesit suaranya, dalam tiap rintih fana.

Aku akan kembali,
Dan ia akan ada di sana.
Thirty years had passed me by
I was approaching fifty one
For my birthday I thought I would go
to New York and take my son
I'd been there once many years ago
When my boy was not yet born
With his mother gone, I thought it time
To go back there with my son
I checked the web and booked a room
In a hotel that looked real nice
It was just three blocks from Broadway
I guess I should have checked it twice
We flew on in from Michigan
We were set to see some games
We would also go to Broadway
And see some plays with some big names
I should have seen it coming
Problems arising from the start
Our plane was late in leaving
They had crashed the luggage cart
An hour to reload it
Got us off and in the air
With a strong tail wind behind us
The pilot said we'd soon be there
We landed at the airport
Waited forty minutes for our bags
You see, when they loaded us in Detroit
They forgot to fasten all our tags
We went outside to get a cab
We were almost to our stop
We would find the Biltmore Hotel
My young son and me...his pop
We told the taxi driver
To the Biltmore Hotel please
He said "Sir, are you certain"
"They've had bed bugs and there's fleas"
"I checked it on the internet"
"It looked nice and was cheap"
The driver said "OK Sir,"
"But, the Biltmore...it's a heap!"
I thought a bit, but said...."come on"
"It cannot be that bad"
But as we pulled of Broadway
The neighborhood looked quite sad
The street was dark and nondescript
there was no one to be found
Except for idle yelling
You could not hear a sound
Windows were all boarded up
The farther we went east
I thought, for thugs and hoodlums
this street would yield a feast
I thought the cabbie might be right
A new hotel we'd get
But, I still had not decided
Even though the streeted was quite the threat
The sign outside the hotel
Was burned out in some spots
But, I guess from our reaction
We both deserved what we had got
I told the cabbie, do not stop
Just floor it and we'll go
The sign outside the Biltmore
lit up as "BI T MO HO"
I wasn't gonna stay there
We went back and made it quick
Just looking at the Biltomre
Well, it really made me sick
I learned one thing this trip
Next time, I'll call ahead
And won't book at the "BIT MO HO"
For I might just wake up dead.
Tim Knight Nov 2013
The Cam passes through
behind a chain hotel belonging to the Hilton
with its lights always on, a 24 hour midnight sun,
that lasts all day until a power cut comes along
and covers bedroom maids, halfway through a job,
in complete silence.

And home I go, slight lightening in the distance and
the road remains long, bending only once
and carrying on straight thereafter
mounting another road heading south until it meets no more ground,
except a bridge over a mouth of a river leading
to somewhere safer than here ever was.

My coat's corners misses your hand
and no expanse of green, mountainous land
could ever be sold or swapped for it.
snowshoecaptain Jul 2010
streaming moonlight wakes me from demented dreams
of green staring eyes
and blood on the bathroom walls
and shoeless hallways
and blindless windows

they took my purse they took my wallet they took my
clothes earrings phone sunshine air leaves and grass

they took my blood

the north winds cookie crumbles constellations
and wafts her sultry glares through my eyelids

heres your cocktail go home
Lysander Gray Dec 2012
At the old hotel
the one by the wharf
with the peeling paint
(those clapboard memories
that linger as summer does)
we traveled to exotic lands
foreign for these travelers.

Our fingers were the compass that led the way
for two fugitives sailing silken waves.

Your hair was morphine
in the sweetest way,
Your lips were like ice
on a hot summer day.

We never questioned the reasons why
the afternoon crumbled us into dust.
Yet I recall the handful you took from me,
and you recall the teaspoon I took from you.

On the pier I was cast to the wind,
and on the shore I let my passion burn you
into a diamond.

Tim Knight Dec 2012
Ideas are darkened figures,
built upon pigments and ideas.
They can whip through gallery doors,
the canteen,
across mezzanine floors.

Ideas are hotel love affairs,
with their take away trays;
they’ll check up on you
every once in awhile,
with a phone call diverted from
the Hotel Lobby’s, binary file.

Ideas are those ghosts of girls,
pale skinned beauties that’ll pass you
in the street,
only to unfurl at the feet
of some other man
as a fireside treat.
Isaiah Herpes Aug 2013
Hotel maids.
They worry me.
I hope someone would agree.
They could steal my stuff.
And they give me cheap soap that make my skin rough.
I like to use the little notepads to write them creepy notes.
I wish they would clean the blankets because they sometimes smell like goats.
It pisses me off when they knock on your door.
Bitch its 7 in the morning.
Serenus Raymone Oct 2012
The Heartbreak Hotel

(Poem by Serenus)

…Where you check-in


But you don’t check-out

In the condition you started

It’s simply heaven

When you walk through the lobby doors

But hell becomes apparent

When reaching the highest floors

Where a bride and groom

Enters a beautifully decorated room

Flooded in misery

Dripping in gloom

They floated in on a cloud

But the rain came

And they separated

So not to drown

Empty King-Sized bed

With tear- stained pillows

Blind to the outside world

No light, no widows

Countless visitors come

But their story is the same

Hopelessly in love, then…

Earth shattering pain

You are guaranteed

Not to enjoy your stay

Because the love of your life

Will surely go away

Where a deliciously decadent

Love goes stale

Dreams go to die

And faith goes to fail

Remember.. No refunds

This is the final sale

No pets allowed...

Welcome to The Heartbreak Hotel
Next page