Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"hitung" poems
3..2..1.. aku hitung tempat pijak cakrawala tapi tidak pada tempu jejak awan mereka pinta benah kala diri diacung pangkal lusa berpayung tangguh metronom berdecak habis sabar bagai waktu berkecimpung ikut mengawasi tanda memaafkan kabarnya kamu boleh lihai bersembunyi, tetapi gelombang muara mimpi tetap pilih rasa hujan hujan rindu katanya karena dinginnya menggigit menyebar hentikan kata buat tercekat, ke seluruh tubuh buat menggigil aku sudah bangun dari terkejut terimakasih terutama kamu, ciptaan di penghujung hari karen satu dan lain hal
0
Mar 18, 2017
Mar 18, 2017 at 1:53 AM UTC
Sekilas Semburat
Sebab hari tak beraut mentari Sinar malam yang di curi teknologi Senyum anak cucu tanpa gigi Mari pukul tifa deng menari.. Biarpun tanah adat sudah jadi kali hutan ruba kulit laut tinggal ari-ari mari pukul tifa deng manari biarpun suku tinggal hitung jari id,02/april/2014, tegalrejo, bantul
0
May 6, 2014
May 6, 2014 at 5:29 PM UTC
Mari pukul tifa deng manari
Sebab hari tak beraut mentari Sinar malam yang di curi teknologi Senyum anak cucu tanpa gigi Mari pukul tifa deng menari.. Biarpun tanah adat su jadi kali hutan ruba kulit laut tinggal ari-ari mari pukul tifa deng manari.... biarpun suku tinggal hitung jari di bunuh tamu: dari pulau mati id,02/april/2014, tegalrejo, bantul
0
May 6, 2014
May 6, 2014 at 4:48 PM UTC
Mari pukul tifa deng manari
Sukab yang naif dan tidak tahu diri, aku masih hidup dan terpaksa melayangkan surat ini kepadamu. Aku mengelayap, mencari jalan pulang dengan nyawa yang sudah tak menempel di badan. Semenjak air bah tumpah ruah dari atas bukit kapur, nyawaku entah tersangkut di mana. Mengapa aku masih hidup itu misteri. Mungkin karena cintamu yang sialan itu. Idih, menyatakannya saja membuatku mual dan jijik. Akibat cintamu, hidupku terselaput kegelapan. Tapi lihatlah, bintang jatuh bertebaran di atas gelombang laut dan bayangannya terpantul-pantul, berbinar dan indah. Aku melihat wajahku dan bola mata yang tampak terang di antara kelegaman malam. Apakah, akhir-akhir ini, batinmu kalut juga, Sukab? Pemandangan di samudera membuat manusia menerawang jauh ke masa lalu dan sempurna melemparkan pikiran kepada dekapan kenangan. Persis seperti omong kosong yang kau selalu bicarakan dulu. Bagaimana tentang akhir  hidup? Surga manakah yang sudi menerima kita? Akankah kita kembali atau mengembara lebih jauh lagi? Bisakah kau hitung dan bertaruh dengan dadu tentang nasib? Aku tidak suka kira-kira, aku mau jawaban yang pasti. Jawab aku, Sukab.
0
Apr 28, 2021
Apr 28, 2021 at 2:57 AM UTC
Surat dari Alina
Jika kau adalah pendosa Maka genggamlah tanganku Jangan lagi kau hitung waktu Nerakalah tempat kita menunggu Namun kaulah malaikat Andaikan kau genggam tanganku Sekalipun dinanti surga Sekalipun surga, kau dan aku Surga yang berbeda
0
Jan 9, 2018
Jan 9, 2018 at 1:22 PM UTC
Surga yang Berbeda