Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"ditunggu" poems
Perasaan ini terus bergelung Bersembunyi di dalam relung. Seakan mencoba tuk keluar, namun keadaan tak mendukung. Ia pun lelah akan waktu yang terus berjalan namun berbanding terbalik dengannya Yang hanya duduk beralaskan rasa percaya Menatap langit kelabu menunggu turunnya rintikkan hujan pertama. Walau kerinduannya semakin lama semakin bertambah, Ia tak pernah bosan untuk membendungnya Dan menunggu, Menunggu datangnya hujan. Karena ia percaya bahwa seberapa besar kerinduannya, seberapa dalam rasa sakitnya, dan seberapa lama ia menanggung deritanya, hujan yang turun akan menyapu bersih luka di relungnya. Bagaikan obat penawar yang selalu ia temukan saat penyakitnya kembali datang. Ia tak pernah bosan bercerita kepada langit, yang dengan setia mendengar celotehannya. Sambil menunggu turunnya hujan, ia bercerita akan lika liku yang ia alami. Mendongak menatap langit, dan bercerita. Sejenak ia dapat mengalihkan perhatiaannya dari hingar bingar sekitar dan menemukan ketenangannya sendiri. Yaitu bersama langit, saat menunggu hujan. Rintikan pertama menerpa wajahnya. berhasil mengangkat sudut-sudut bibirnya. Ia tersenyum. Yang ditunggu memang tak pernah datang terlambat. Diikuti dengan rintikan lainnya dan kemudian hujan turun dengan deras. Inilah kebahagiaannya. Namun juga kesedihannya. Saat rintikan hujan yang turun berhasil membuatnya tersenyum sekaligus menangis. Karena dapat membawa ketenangan dan penghapus luka, namun juga dapat membawa kerinduan yang turun disetiap rintikannya. “Jika hujan tidak dapat membuatku seutuhnya bahagia, lantas kemana lagi aku harus mengadu?”
0
Mar 9, 2016
Mar 9, 2016 at 3:15 AM UTC
Hujan Pembawa Rindu
Perasaan ini terus bergelung Bersembunyi di dalam relung. Seakan mencoba tuk keluar, namun keadaan tak mendukung. Ia pun lelah akan waktu yang terus berjalan namun berbanding terbalik dengannya Yang hanya duduk beralaskan rasa percaya Menatap langit kelabu menunggu turunnya rintikkan hujan pertama. Walau kerinduannya semakin lama semakin bertambah, Ia tak pernah bosan untuk membendungnya Dan menunggu, Menunggu datangnya hujan. Karena ia percaya bahwa seberapa besar kerinduannya, seberapa dalam rasa sakitnya, dan seberapa lama ia menanggung deritanya, hujan yang turun akan menyapu bersih luka di relungnya. Bagaikan obat penawar yang selalu ia temukan saat penyakitnya kembali datang. Ia tak pernah bosan bercerita kepada langit, yang dengan setia mendengar celotehannya. Sambil menunggu turunnya hujan, ia bercerita akan lika liku yang ia alami. Mendongak menatap langit, dan bercerita. Sejenak ia dapat mengalihkan perhatiaannya dari hingar bingar sekitar dan menemukan ketenangannya sendiri. Yaitu bersama langit, saat menunggu hujan. Rintikan pertama menerpa wajahnya. berhasil mengangkat sudut-sudut bibirnya. Ia tersenyum. Yang ditunggu memang tak pernah datang terlambat. Diikuti dengan rintikan lainnya dan kemudian hujan turun dengan deras. Inilah kebahagiaannya. Namun juga kesedihannya. Saat rintikan hujan yang turun berhasil membuatnya tersenyum sekaligus menangis. Karena dapat membawa ketenangan dan penghapus luka, namun juga dapat membawa kerinduan yang turun disetiap rintikannya. “Jika hujan tidak dapat membuatku seutuhnya bahagia, lantas kemana lagi aku harus mengadu?”
Continue reading...
29
Teriakan demi teriakan Kami... menangis... Sakit... sakit... Kenapa? Mengapa? Setiap detik hati kami Selalu resah dan gelisah Terbelenggu, kami terbelenggu Apa salah kami? Apa yang jadi dendam? Anak cucu kami Tak bersalah? Tak tahu menahu? Tapi mengapa? Kau binasakan mereka? Kau hancurkan kami? Mengapa kami, tempat tinggal kami? Kenapa? Mengapa? Tolong... tolong... Tuhan Apa rencana-Mu? Apa yang Kau inginkan? Kami sabar, kami diam! Seakan menunggu ajal datang Kami diam, kami takut Suara ledakan hancurkan hati kami Kenapa? Tak ada pembelaan? Mengapa? Harus ada perang? Kami lemah kami tak berdaya! Kami hanya bisa menunggu! Entah apa yang ditunggu. Ajalkah... Damaikah... Ataupun derita... Ya Tuhan kami... Mengapa ini terjadi??
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 9:58 AM UTC
Tanya Rakyat Palestina
Hati ku terbakar Melihat mu berpelukan Dengan dia di sana Kenapa bukan aku saja? Aku cinta kamu Tapi, cinta ku tak sampai Setulus hati, ku sayang kamu Tapi, kamu tak tahu Aku di sini menunggu Kamu tak merasa ditunggu Aku di sini cemburu Kamu tak mersa membuat ku cemburu Bila kamu bahagia dengan itu Ku pendam dalam cinta ku Biar tangis sebagai pelampiasan Hingga ku bertemu kamu tuk bersama Created by Aridea Purple
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:31 AM UTC
Cemburu
Malam Belahan rindu memebelai malam sunyiku.. Tak dapat kutolak.. Bagai tetes hujan yang hanay dapat ditunggu hingga selesai tak dapat ku hentikan..hanya dapat kunikmwaktu yang hanya Pagi Malam tadi aku ingin secepatnya menyelesaikan.. Menyelesaikan segala kesunyian yang dialandasi oleh malam penuh kerinduan.. Berharap pagi dapat menopang rindu ini.. tapi ternyata pagi pergi meninggalakanku bersama rindu-rindu yang menyiksa.. Dan melimpahkan segala kerinduan ini kepada siang.. Siang yang membakar hampa sunyiku... pagi.. Tak dapat menyelesaikan rindu ini.. Siang pun begitu.. waktu hanya membuatku kecewa melewatinya.. Sore.. membawa pelangi indah nan menyejukkan mata.. Tanpa hujan yang mendahuluinya..
0
May 5, 2017
May 5, 2017 at 1:22 PM UTC
Waktu yang menyiksa hingga menyisa
rindu adalah candu membawa nyeri kala terlalu lama dipendam hanya diladeni oleh orang penyakitan rindu adalah candu wewangian dari yang dirindu yang menyesakkan tapi ditunggu rindu adalah candu canduku untuk kamu.
0
May 1, 2017
May 1, 2017 at 12:16 AM UTC
candu rindu
Jantung semesta. Ku sebut ia jantung semesta. Pengatur detak jantung antara hidup dan mati. Manusia penguasa rasa. Yang datangnya ditunggu dan hilangnya dibenci. Masih dalam keadaan koma di ruang ICU
0
Apr 30, 2020
Apr 30, 2020 at 7:05 PM UTC
JANTUNG SEMESTA
jiwa ini kembali meragu; terbeban pertanyaan memburu. rasa tidak tentu, entah apa yang ditunggu. berawal dari sebuah tatap, rasa ingin sekali menetap. entah apakah diriku ini sedang kalap, atau hati ini memang sedang berharap. jiwa ini kembali meragu; sepertinya aku jatuh cinta padamu.
0
Oct 3, 2020
Oct 3, 2020 at 2:55 PM UTC
meragu-
••• Tak jarang jiwa ini meragu Akan pikiran ini dan itu Tak jarang sukma ini terbelenggu Oleh rasa yang tak menentu Ada detik ku ingin melupa semua Ada saat ku ingin menikmati semua Ada malam ku ingin mengakhiri semua Namun, ada juga hari ku ingin meresapi semua rasa Rasa yang tak menentu Ntah apa yang ditunggu Mungkin karena diri terlalu lama terbelenggu Hingga dia datang saat itu, Memberi sebongkah cita dalam hidupku •••
0
Jun 7, 2020
Jun 7, 2020 at 9:43 AM UTC
Afeksi Cita