"ditemukan" poems
Ah muncul lagi
Lelaki benalu kesayanganku
mengendap-endap masuk ke pikiran kosong
Di hitamnya langit
kutemukan selintas retrospeksi terselip diatara bintang
kau dadakan hilang
tak 1 pun kata kau anggap perlu kau beberkan
mulutmu rapat terkunci
mungkin penjelasan itu hanya bisa ditemukan di air luka hatimu yang dalam
Sini duduk sebentar
biar kupinjamkan sepatu heelsku
malah tak perlu kudandani kamu
tak perlu busana merah muda mencolok
kamu sendiri sadar kamu banci,
maksudku pengecut
Tak sudi kusebut kamu banci
banci saja lebih jantan darimu
mereka berani unjuk diri depan dunia
gagah gigih tampil beda mencolok
meniupkan asap rokok ke muka komentator
Ada udang dibalik batu
ada busuk dibalik hadirmu
kau pergi karena kau anggap tak ada lagi gunaku bagimu kan?
Dalam senyum sumingrah kuucap syukur pada Bapa di sorga
sebab benalu sepertimu tak pantas ada disini
jam pasir telah dibalik
segera akan habis waktu permatamu
biar gelapnya malam yang menghajar pancaran sinarmu yang menjijikan
Lelaki benalu kesayanganku habis digerogoti nafsu keserakahannya
Jul 3, 2019
Jul 3, 2019 at 12:30 PM UTC
Mana pernah kau paham tentang perasaanku walau berulang kali sudah kusampaikan. Sekedar mendengar saja tidak. Sudah tau begitu, masih pula aku menaruh pengharapan yang besarnya melebih-lebihi besar nafsu makanku. Kasihan ya melihat naifku ini. Memaksakan sesuatu yang sudah mati.
Aku ini kadang ingin terbahak karena lucunya kisah kamu dan aku, tapi anehnya masih selalu membuatku terpana, seperti terhipnots. Kepalaku yang sekeras batu dan hatiku yang serapuh kulit telur disanding dengan kepalamu yang pula berisikan batu, juga hatimu yang sedingin kutub utara sebelum global warming. Aku dan diriku, dan kamu dengan dirimu. Memang benar mungkin, kita hanya ditemukan untuk saling belajar, bukan untuk berakhir bersatu.
Sebenar-benarnya, kamu adalah yang aku mau. Tapi rasanya permintaanku ini terlalu bertele-tele jika yang ku minta adalah kamu dan tidak ada luka. Karena memilih bersamamu akan selalu satu paket dengan luka dan perih. Aku saja yang sombongnya setengah mati, menutup mata dari ratusan pertanda yang Tuhan berikan.
Dec 4, 2019
Dec 4, 2019 at 11:12 PM UTC