"ditelan" poems
Awan hitam tersenyum telak
Hujan datang menyambut
Jari jemari yang biasa menari
Terlelap dalam dingin
Membeku membiru
Sinarnya telah hilang
Dibawa oleh lamunan
Dikandaskan oleh waktu
Api yang dulu merah meradang
Kini hilang ditelan sunyi
Bercak emas itu bukanlah dia
Dibiarkanlah semua membeku
Dengan begitu ia tak perlu tertatih berjalan
Biar waktu yang membunuhnya perlahan
Feb 24, 2016
Feb 24, 2016 at 4:28 AM UTC
Cinta aku walau mati
Masih hidup
Dalam tulisan ku
Dalam setiap bibit kata cinta
Melalui dakwat air mata
Dan setiap barisan lara
Cinta aku walau sudah lama pergi
Masih bernafas
Dalam bait bait permata
Sulaman nafas cinta pertama
Di atas sehelai selendang
Yang dulu mengikat erat akal dan nyawa
Cinta aku tetap hidup dan bernafas
Di atas empat penjuru putih
batasan terakhir nyawa cinta ini
Yang jasad sudah lama hilang
Ditelan masa manusia
Jun 9, 2018
Jun 9, 2018 at 12:54 PM UTC
Aku berdiri kaku di depan cermin menatap nanar dirimu.
Bertanya...
Berapa banyak malam yang kau habiskan untuk mencaci tubuh tak bersalah itu?
Mencabiknya agar kau tetap bisa merasa hidup.
Biru dan ungu selalu menjadi tanda bahwa kau menang melawanku.
Aku ingat beberapa orang
mengubahmu menjadi kelabu,
membunuhmu dengan kejam,
lalu membuangmu jauh ke jurang hitam.
Kita berjalan beriringan dengan kapak berlumur kata-kata tak dimaksudkan,
tapi kau bilang kau telah mati jauh sebelum kita berdamai.
Lalu bagaimana denganku?
Seperti ruang kosong yang hilang ditelan kesendiriannya,
aku berjalan menuju ujung lorong yang tak pernah sempat kau injak.
Menari-nari di bawah binar harapan seperti aku lupa bahwa kau tak lagi diam di sana.
Ingatkah kau saat kita duduk di meja makan bersama dua orang asing?
Kau sibuk bermain dengan gelisahmu,
sementara aku tersenyum lebar berperan sebagai hantu.
Kau melahap habis semua isi di sana, tetapi hanya berakhir pada kamar air yang sengaja kau sembunyikan.
Kau mati.
Lalu bagaimana denganku?
Oct 4, 2016
Oct 4, 2016 at 7:24 AM UTC
habisnya seluruh suara
lenyap ditelan Samudra
bersembunyi di ujung lidahku
satu lautan cinta untuk kamu
ngga akan aku ucapkan
kamu ngga perlu tau
Mar 21, 2016
Mar 21, 2016 at 7:02 AM UTC
bagimu
sengsaraku lucu
dipijak ragu, dirundung pilu
bagiku
semesta hanya mu
ditertawai rindu, ditelan waktu
bagimu
masih saja tentang ku
bagiku
gelagat semu
Jan 12, 2018
Jan 12, 2018 at 8:57 PM UTC
"dasar kamu anak biadab"
sekali,dua kali aku tersakiti
sekali,dua kali aku ingin mati
sekali,dua kali aku hanya ingin disayangi
siang ini aku mati
malam ini aku mati
bulan sebagai saksi
tetes,tetes aku pun senyap
kelam hidup ini
hampa,sunyi aku tidak ingin sepi
sekali dua kali,aku tidak hidup lagi
tuhan,maaf aku tidak kuat lagi
senyap senyap jiwaku ini
ditelan oleh bumi
Oct 31, 2017
Oct 31, 2017 at 11:24 AM UTC
[2/6 22.08] SITO FOSSY BIOSA: Perempuanku yang Sendu, sebuah puisi.
[2/6 22.12] VINDA MAYA: Lantas Senja menenggelamkannya
[2/6 22.12] VINDA MAYA: Malam....dan hilang
[2/6 22.15] SITO FOSSY BIOSA: Kukan hilang pun bersamamu.
[2/6 22.19] VINDA MAYA: Bunga bunga layu itu jatuh ditaman berduri
[2/6 22.19] VINDA MAYA: Lalu ditelan angin berbisik
[2/6 22.21] SITO FOSSY BIOSA: Hujam Jantung, Hujan Rindu
[2/6 22.24] VINDA MAYA: Pilu....Berantakan....Tak terselamatkan
[2/6 22.27] SITO FOSSY BIOSA: Aku sengaja tak mau tahu tentang tuhan, sebaliknya, kau sepenuhnya kutelusuri sedalam hati.
[2/6 22.32] VINDA MAYA: Wajahmu ada di kening....rinduku sepanjang jalan
[2/6 22.32] SITO FOSSY BIOSA: Padaku?
[2/6 22.34] VINDA MAYA: Lalu pada siapa
[2/6 22.34] VINDA MAYA: Adakah selain bayangmu menyapa
[2/6 22.35] SITO FOSSY BIOSA: Lebur.
[2/6 22.36] VINDA MAYA: Berkeping-keping
[2/6 22.41] SITO FOSSY BIOSA: Tuntas.
Jun 2, 2020
Jun 2, 2020 at 11:46 AM UTC
MALAM yang indah, bulan sabit tiba-tiba hilang dari pandangan.
KLISE; bunyi burung malam dibarengi meong kucing-kucing kecil, bunyinya seperti +-@$"'=,/::!
aku diam, aku tak sanggup gugup atas dua jiwa yang sudah ditelan bersama potongan tuna setengah segar. kutukan penantang tuhan. nging
Sep 21, 2020
Sep 21, 2020 at 8:54 AM UTC
Ada hal yang terlalu indah.
Tak bisa di jamah,
Pembicaraan dengan mu yang mengusik kalbu ,
Menambah candu pada irama suaramu.
Singkat , penuh arti.
Kau yang terlalu pemalu,
Aku yang begitu terpaku.
Ingin bercakap hingga lupa waktu.
Namun gengsi masih terbelenggu.
Diam-diam menatap ,
Diam-diam bergejolak,
Matapun saling menatap,
Garis senyum mulai terkuak.
Kita sama-sama saling
Saling tahu,
Saling ingin,
Dan tak saling mengungkapkan,.
Sore yang mnjadi saksi mata,
Pada pembicaraan di meja kedua,
akan sekeping hati yang kian pasrah,
Rasa Ketidakpastian yang ditelan mentah,
Menjadi tema pembicaraan yang kian membetah.
Sejatinya, harapan kian menggersang,
Mengikis hati tanpa bak diiris pedang,
Dan semakin rasa ini mendalam,
Semakin menumbuh renjana dalam diam.
-Tan
May 30, 2020
May 30, 2020 at 6:15 AM UTC
Hidup begitu singkat untuk disesali
Indah sedemikian nyata di depan kalbu
Duka rembulan diatas awan temaram
Untuk kemudian ditelan pagi
Pergi tak tersisa meninggalkan jejak kenangan
Dec 30, 2021
Dec 30, 2021 at 11:22 PM UTC
kulihat warna dedaunan begitu indah melayang di udara
begitu kuat namun rapuh hingga terbang terbawa angin
begitu rindang namun sekejap hilang ditelan pergantian bumi
apakah benar yang kulihat adalah dedaunan?
ataukah hanya hatiku menipu sang mata yang telah lama merindukannya
biar
biarlah tetap aku abadikan indah yang kulihat malam itu
tersimpan jelas dalam hati dan mataku
apapun itu
dedaunan tetaplah dedaunan
akan selalu indah walau sudah jauh pergi bersama angin
Jul 25, 2018
Jul 25, 2018 at 8:02 AM UTC
Dibawah hujan
kamu berdiri
memandangi cahaya langit
yang mulai berjatuhan memudar
harapan dan kenangan mulai hilang
ditelan waktu yg tidak pernah berakhir
tangisanmu terefleksi diatas genangan
dengan kilauan dan tertiup angin
mereka semua yang memiliki keterbatasan
mempunyai hati
seperti bintang-bintang
sangat luas dan dalam
setiap cahayanya memiliki cerita
ketika hatimu memiliki keraguan
kamu memandangi langit
mengharapkan sebuah keajaiban
dan melemparkan pertanyaan :
"jika setiap hal akan memudar, apakah kita harus menyimpan semua itu sebagai kenangan?"
"jika satu keajaiban terjadi, apakah kita bisa memilikinya selamanya?"
"waktu memang harus berjalan,
tapi apakah kita sedang berada
di jalan yg memiliki arti?"
Mar 9, 2020
Mar 9, 2020 at 9:32 AM UTC