"dambakan" poems
"Cahaya redup itu umpama semesta alam."
birunya naungan langit fajar
ketika tetes embun hadir di atas permukaan daun
pada hari itu kau berujar
"Pernahkah kamu tahu bahwa gelapnya mengisahkan beribu kisah?"
yang ada suaraku bungkam oleh pertanyaanmu
gaungnya terngiang mengisi sudut hampa telingaku
sebuah kubus berisi ruang kosong tak beraksara
ada sorot matamu yang terjebak di dalamnya
"Pernahkah kamu sentuh sisi gelap yang bersembunyi itu?"
pernah
taman kecil berisi bunga warna-warni dalam suaramu yang sepi kusam, kota lama yang redup di tengah peradaban
kuperhatikan rambut ikal panjangmu menjilati tengkukmu
sambil disiuli angin yang bernyanyi pelan, begitu tenang
"Atau yang tidak sengaja kamu sembunyikan?"
"Ralat, yang sengaja kamu sembunyikan."
matamu mengerling menerawang memandang langit Juni
apa lagi yang kamu dambakan dari gelap pada pagi secerah ini?
"Cahaya redup umpama semesta alam, gelapnya mengibarkan beribu ilham."
jemarimu cepat berdansa dengan senar begitu cermat
ingat pertama kali dua pasang mata sendu ini berkenalan
dalam gelap dalam redup
lahir melodrama di tengah rintik tangisan langit bulan kedua
"Gelapnya mengibarkan seribu ilham. Gelapnya mendatangkan pelangi di tengah tulisan dalam buku kelabuku."
diremasnya jemariku, lalu tenggelam dalam beribu rasa
bunga-bunga merekah membentangkan senyum sang surya
apa lagi yang kudambakan dari gelap pada pagi secerah ini?
satu pertanyaan kubisikkan untuk langit biru pada bulan Juni
apakah hadirku sudah cukup bagi hari-hari gelapmu?
lalu, jemarimu meremas jemariku lebih keras
seolah tak pernah ingin lepas.
Oct 2, 2017
Oct 2, 2017 at 8:53 AM UTC
Jakarta, 13 Mei 2007
Ku pandang sisi-sisi sudut di sebuah ruangan
Tiada apapun yang dapat ku kenang
Selain seorang teman yang setia kawan
Ku harap ada seorang kawan yang menemaniku
Di kesunyian malam yang terus mengancam
Seolah tak peduli akan ketenangan
Namun
Ku mencoba untuk sabar menanti kerinduan
Pada seorang terkasih yang s’lalu ku dambakan
(Puisi ini dibuat untuk dinilai oleh guru bahasa pada tanggal 14 Mei 2007, dan mendapat nilai 8)
Jan 2, 2012
Jan 2, 2012 at 4:42 AM UTC
Rasanya tubuhku seperti ditikam jutaan kali
Ragaku,perlahan mati
Rasaku hancur tak bertepi
Dan kau si bajingan,yang ku dambakan
Yang selalu ku beri pujian
Yang detik ini masih pertahankan
Tapi malah membunuh ku secara perlahan
Aku benci hadirmu yang selalu membayangi diri
Disaat ku mulai melangkah kan kaki
Sejauh mungkin, melupakan kau
Dan rasa kita yang perlahan mati
Tolong,untuk kali ini
Jadilah bajingan yang sedikit punya rasa baik hati
Bantu sedikit aku memulihkan raga ini
Bantu aku sedikit percaya diri
Bahwa kau memang sudah sepantasnya tak di sisi
Pergilah jauh dan tak perlu lagi kau kembali disini
Rasaku sudah mati
Sejak kau memilih berlalu pergi
Aku benci
Tapi aku mencintai
Jun 9, 2019
Jun 9, 2019 at 11:09 AM UTC
Di hatimu ada tulisan yang tak pernah selesai.
Tentang rindu yang lumpuh di tengah jalan dan perasaan yang mekar di tempat lain.
Jauh dari yang tak akan kembali.
Jauh dari yang tak pernah terjadi.
Kau seperti sebuah bayangan
Yang tak pernah bisa ku kejar
Kau seperti sebuah angin
Yang tak pernah bisa ku gapai
Kau hanyalah harap
Yang hanya bisa aku dambakan.
Tak dapat di raih.
Hanya dapat dirasa.
Itulah kamu.
Orang yang ku kagumi.
Jun 12, 2019
Jun 12, 2019 at 5:54 AM UTC