Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"cucu" poems
Teriakan demi teriakan Kami... menangis... Sakit... sakit... Kenapa? Mengapa? Setiap detik hati kami Selalu resah dan gelisah Terbelenggu, kami terbelenggu Apa salah kami? Apa yang jadi dendam? Anak cucu kami Tak bersalah? Tak tahu menahu? Tapi mengapa? Kau binasakan mereka? Kau hancurkan kami? Mengapa kami, tempat tinggal kami? Kenapa? Mengapa? Tolong... tolong... Tuhan Apa rencana-Mu? Apa yang Kau inginkan? Kami sabar, kami diam! Seakan menunggu ajal datang Kami diam, kami takut Suara ledakan hancurkan hati kami Kenapa? Tak ada pembelaan? Mengapa? Harus ada perang? Kami lemah kami tak berdaya! Kami hanya bisa menunggu! Entah apa yang ditunggu. Ajalkah... Damaikah... Ataupun derita... Ya Tuhan kami... Mengapa ini terjadi??
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 9:58 AM UTC
Tanya Rakyat Palestina
Sebab hari tak beraut mentari Sinar malam yang di curi teknologi Senyum anak cucu tanpa gigi Mari pukul tifa deng menari.. Biarpun tanah adat sudah jadi kali hutan ruba kulit laut tinggal ari-ari mari pukul tifa deng manari biarpun suku tinggal hitung jari id,02/april/2014, tegalrejo, bantul
0
May 6, 2014
May 6, 2014 at 5:29 PM UTC
Mari pukul tifa deng manari
Sebab hari tak beraut mentari Sinar malam yang di curi teknologi Senyum anak cucu tanpa gigi Mari pukul tifa deng menari.. Biarpun tanah adat su jadi kali hutan ruba kulit laut tinggal ari-ari mari pukul tifa deng manari.... biarpun suku tinggal hitung jari di bunuh tamu: dari pulau mati id,02/april/2014, tegalrejo, bantul
0
May 6, 2014
May 6, 2014 at 4:48 PM UTC
Mari pukul tifa deng manari
nyatanya, sampai kini kau merasa aku sudah pulih, namun tuanku sayang, aku belum cukup kuat untuk melangkah, ragaku masih tertatih meraba jalan pulang, masih terasa sesak luka yang kau buat. apa kau mengerti, anak cucu adampun akan merintih bila disakiti. bukan, bukanku menyalahkanmu. hanya saja aku yang terlalu terbuai. menggantungkan seluruh hidup dan matiku padamu, tanpa pernah terpikir olehku, bahwa kaupun tidak mungkin menggantungkannya padaku seorang. jika menurutmu aku baik-baik saja, ya, kau benar, aku baik-baik saja. setidaknya sampai aku besar nyali untuk mengutarakannya di depan wajah tak bersalahmu. kau tak benar-benar tahu, sayang. tapi, ah sudahlah! semoga Tuhan menggenggam luka kita kuat-kuat.
0
Mar 20, 2017
Mar 20, 2017 at 2:01 PM UTC
titik