Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"berwarna" poems
Diawali dengan udara pukul setengah empat sore yang hangat dan suasana hati yang sedang bagus, aku melihat perempuan itu berada di tamannya yang berantakan. Ya, berantakan kataku. Tamannya, bukan dirinya. Ia duduk di sana, dengan anggun dan cantiknya membibiti bunga bakung dan menyirami bunga krisan. Di sekelilingnya terdapat semak bunga mawar liar dan pohon pinus tua. Pohon itu berbatang tebal dan tampak kukuh, kini ia duduk menyila di bawahnya, berbincang dengan semak lavender di sebelahnya. Ia tidak gila, tapi tampak penyayang dan sangat lembut. Rambutnya yang berwarna gelap itu diterpa angin senja, di atasnya secerah sinar matahari menyeruak dari balik dedaunan membuat wajahnya tampak berkilau. Lihat bagaimana cara matanya mengerling dan lihat bagaimana caranya tersenyum; manis sekali. Itu dia, Qinaani. (Mahesa)
0
Nov 28, 2014
Nov 28, 2014 at 1:53 AM UTC
Bagian I: Bunga Kertas
Tiga musim berturut-turut aku berupaya keras menggila Di saat kewarasanku sedang ambruk Pada saat yang sama aku tidak tahu apakah kau sadar bahwa aku sedang merasa Atau jangan-jangan kau memang tidak pernah memerdulikannya Sedikit banyak aku berharap semoga kau tidak perlu membaca ini Jika iya, artinya aku sudah tiada di sini Meskipun aku harus melihatmu mengenakan kaus hitam dengan rambut sepanjang itu—tentunya aku tak tahu bahwa rambutmu bisa tumbuh sepanjang itu Dengan bunga berwarna kuning di telinga Kau nampak seperti orang asing di mataku dan itu membawa ketersengsaraan sendiri Suara-suara teriakan temanmu yang membuatku tertunduk layu Semoga kau sadar bahwa—ya, aku keliru, tapi bukan itu harapanku Aku tak pernah berburu air mata Cacatnya tindak-tanduk Dambaan-dambaan fana Janjimu menjadi cerminan bahwa semuanya tak semestinya terjadi Jika ya, artinya kau sudah tiada di sini Mengenai ibuku—kau tahu dia tak paham bahasa tubuhku Tak paham raut lukaku Untuk perundingan hening pada pagi buta lain nya Sepertinya kita terbiasa mengemasi firasat Untuk senyuman tanpa arti dan tangisan tanpa rupa yang masih saja dipertimbangkan Akankah kau halang aku untuk menghembus telapak kaki nya? Jika ya, artinya aku sudah tiada di sini Si Manis, yang tutur kata nya lembut Namun siap untuk memecahkan piring makan kesukaanmu Ruam pada tubuhmu Bukan salahmu Masihkah kau berdiam mematung? Untuk anjing-anjing yang terus kau rawat Noda pada kamar mandi yang kau bersihkan Dan kaki-kaki yang kau pijat Jika ya, artinya kau sudah tiada di sini
0
Jan 22, 2021
Jan 22, 2021 at 11:45 PM UTC
Suratan dan Imbalan
Tiga musim berturut-turut aku berupaya keras menggila Di saat kewarasanku sedang ambruk Pada saat yang sama aku tidak tahu apakah kau sadar bahwa aku sedang merasa Atau jangan-jangan kau memang tidak pernah memerdulikannya Sedikit banyak aku berharap semoga kau tidak perlu membaca ini Jika iya, artinya aku sudah tiada di sini Meskipun aku harus melihatmu mengenakan kaus hitam dengan rambut sepanjang itu—tentunya aku tak tahu bahwa rambutmu bisa tumbuh sepanjang itu Dengan bunga berwarna kuning di telinga Kau nampak seperti orang asing di mataku dan itu membawa ketersengsaraan sendiri Suara-suara teriakan temanmu yang membuatku tertunduk layu Semoga kau sadar bahwa—ya, aku keliru, tapi bukan itu harapanku Aku tak pernah berburu air mata Cacatnya tindak-tanduk Dambaan-dambaan fana Janjimu menjadi cerminan bahwa semuanya tak semestinya terjadi Jika ya, artinya kau sudah tiada di sini Mengenai ibuku—kau tahu dia tak paham bahasa tubuhku Tak paham raut lukaku Untuk perundingan hening pada pagi buta lain nya Sepertinya kita terbiasa mengemasi firasat Untuk senyuman tanpa arti dan tangisan tanpa rupa yang masih saja dipertimbangkan Akankah kau halang aku untuk menghembus telapak kaki nya? Jika ya, artinya aku sudah tiada di sini Si Manis, yang tutur kata nya lembut Namun siap untuk memecahkan piring makan kesukaanmu Ruam pada tubuhmu Bukan salahmu Masihkah kau berdiam mematung? Untuk anjing-anjing yang terus kau rawat Noda pada kamar mandi yang kau bersihkan Dan kaki-kaki yang kau pijat Jika ya, artinya kau sudah tiada di sini
Continue reading...
32
Sebenarnya apa aku ini ? Dan apa kamu itu ? Dan untuk apa kita ini ? Tak pernah ada kejelasan Selalu abu yang kamu berikan. Sebenarnya bagaimana kita ini ? Aku ingin melangkah Aku ingin searah Dan aku ingin serakah kali ini. Serakah atas kepemilikan. Serakah atas kejelasan dan kepastian. Karena aku ingin terang dan berwarna, Bukan gelap dan kelabu, Seperti jejak yang selalu kamu tinggalkan untukku.
0
Jul 1, 2020
Jul 1, 2020 at 11:28 AM UTC
Apa
Rasa tanpa tuan ini takkan diam Tidak akan hilang karena hanya berganti Entah itu lebih berwarna Atau tambah kelabu Aku juga tidak mau tahu Yang jelas petualangan denganmu Rasanya berbeda Menyadarkanku bahwa ada sesuatu yang tidak mungkin Bukan, bukan ragamu, hanya hal bersamamu Denganku mungkin menjadi sulit untuk dilakukan Karena aku takkan minta hatimu Dan aku sudah menyerah tentangmu
0
Apr 22, 2019
Apr 22, 2019 at 12:46 AM UTC
Berganti rasa
ketika itu langit tidak begitu cerah hanya ada awan kehitaman aku tak mau memperhatikan orang-orang kecuali seseorang, yg berambut lurus, bermata kecil, pakaian berwarna melankolis dgn tangan memegang kuas yang sibuk menari di atas canvas sesekali matanya terpejam seakan sedang berimajinasi ingin mewarnai langit kala itu menjadi lebih berwarna menambahkan pelangi dan aura langit pagi ingin dunia yang diimpikanya itu terjadi sementara aku.. terus memperhatikannya pikiranku terbawa arus olehnya dia dgn dunianya sendiri dan aku pun... mulai merasa ingin menjadi bagian dari dirinya
0
Feb 28, 2020
Feb 28, 2020 at 6:12 PM UTC
Seseorang
Kuoleskan perona pipi berwarna merah muda di wajahku Agar ketika bertemu denganmu Aku bisa menutupi perasaan tersipu malu Pukul berapa anda datang, tuan? Sekarang sudah pukul delapan lebih lima Aku menunggu dengan rasa yang sama Dan tak lupa bersama puisi milik Joko Pinurbo Aroma ekstrak parfummu menghampiri Dengan setangkai bunga di mimpi
0
Apr 1, 2020
Apr 1, 2020 at 12:23 AM UTC
Kencan Hari Rabu