Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"berpaling" poems
Palembang, 25 Desember 2011 Ini aku apa adanya Aku yang berbakat Aku yang multi talenta Aku yang serba bisa Aku yang terbaik Ini benar-benar aku apa adanya Berbakat menyakiti hati orang lain Dengan segenap kata-kata pedas yang ku lontarkan Ini aku apa adanya Multi talenta Juara satu mempermalukan orang lain Juara umum membuat orang lain menjauh Inilah aku! Apa adanya Serba bisa membuat orang lain marah Bisa berbohong Bisa mengejek Bisa sok tahu Bisa segalanya. Aku yang terburuk Akulah yang terbaik Terbaik yang mampu membuat teman-teman ku berpaling Terbaik sebagai bahan omongan sedunia Terbaik menjadi bahan ejekan orang -orang
0
Dec 30, 2011
Dec 30, 2011 at 7:44 AM UTC
Inilah Aku Apa Adanya
aku bernama sepi... tanpa ayah, ibu, sahabat, apalagi seorang kekasih hidupku tak bahagia... tapi aku tak pernah frustasi aku tak pernah berpaling dari realita... karna ini memang nasibku... aku bernama sepi... tanpa ayah, ibu, sahabat, apalagi seorang kekasih! berbahagialah kau yang memiliki semuanya! sepi lalu meninggalkanku bahagiakah aku?
0
Sep 20, 2009
Sep 20, 2009 at 11:50 PM UTC
sepi bercerita padaku tentang hidupnya
rindu berarti merangas, kehausan akan tubuh itu mulut ku gersang lalu bisu, tidak dapat mengucapkan bahwa tubuhku ini haus akan tubuhmu yang sudah berpaling berjalan jauh. Lalu, harus diguyur air apa raga yang sudah kering ini? Atau, biarkanlah saja rindu merangas menggerogoti raga hingga tubuh tak berdaya Ya sudah, biarkanlah mati dan di kubur hingga kau bersedia kembali membasahi lagi di atas tanah saat semua sudah sia-sia.
0
Jan 9, 2019
Jan 9, 2019 at 11:56 AM UTC
Merangas, kering tak berdaun
setiap arah yang kita lalui itu adalah berbeza. tiap kali takdir akan menemukan kita tanpa sedar. pada satu saat itu. bila kita berpaling antara satu sama lain. kita akan bertentang mata. setiap langkah yang menuju ke arah cinta itu. tiap kali takdir akan menemukan kita tanpa sedar. pada saat itu juga. kita akan berjalan pada arah yang sama. dan sekali lagi kita bertemu. betapa takdir itu tidak bisa disangkal. dan kita anggap cinta itu seperti jenaka. kita tidak bisa menafikan hati kita berdua. bolehkah kita mengisi jawapan bersama? di tempat kosong iaitu hati kita berdua.
0
Nov 28, 2014
Nov 28, 2014 at 4:57 PM UTC
Cinta I
Palembang, 27 Maret 2017 aku pernah bermimpi tentangmu kamu menggenggam erat tanganku menuntunku ke tempat yang belum pernah ku tuju sesaat kau hilangkan semua perasaan sesak dihatiku kita bergandengan berdua, ya, di dalam mimpiku kamu begitu tampan sehingga ku tak bisa berpaling memandangmu kamu seorang yang belum pernah ku temui sebelumnya kamu yang membuatku teringat kembali rasanya jatuh cinta kamu menghargai setiap aksiku kamu memandangiku bak perhiasan yang berharga kamu jua lah yang membuatku berharap ketika ku kembali ke dunia nyata
0
Mar 26, 2017
Mar 26, 2017 at 11:58 PM UTC
Untitled #3
Ketika kerinduan mengumpul jadi satu Menciptakan letupan bernada Berdesir mengikuti melodi hati Mencari tahu siapa gerangan yang dirindukan Bulan menemani dalam sunyi Dewi malam memetik harpa Memainkan lagu kerinduan Jantung ini milikmu Hati ini untukmu Tak kan kubiarkan kau berpaling Wahai gerangan yang kurindukan
0
Dec 24, 2016
Dec 24, 2016 at 10:38 PM UTC
Merindu
pasal VI: tentang aku dan kau; sebuah rasa dalam diam. - yang aku percaya, skenario tuhan selalu indah walau tak kelihatan di awal, sebab tentu saja, pemandangan akan lebih nampak anggunnya dari ketinggian. dan ini perkara melihat sesuatu dari direksi yang berbeda, atau bahkan berlawanan. rasa dalam diam. - perihal rasa yang terus saja terpendam, anggap saja aku hanyalah secuil makhluk yang kagum kepadamu, terlepas dari senyummu yang menawan, atau paasmu yang santun, dan hal "wah" yang mereka utarakan lainnya. rasaku apa adanya, tanpa menuntut apapun darimu. - mengingat kau dan aku tak pernah bersua dengan sengaja, kurasa, rasarasa yang kumiliki hanya akan bertepuk sebelah rasa, sekedar sapa, dan berujung tanpa kata. toh nyatanya entah aku yang sanggup bertahan ataukah memang aku yang terlalu bodoh karena masih saja bertahan, hitungan tahun tanpa jawaban terus saja membuatku beradaptasi dengan keadaan. - dan jika dilihat, mungkin hanya usahakulah yang terus membuatku bertahan, melihat segalanya hanya jarak dan jarak yang membuat kita dekat, walau kau masih saja entah purapura tak peduli, atau mungkin memang tak peduli. tapi kuharap kau tak bosan menjadi tempat rasaku bermuara. - menuntut kejelasan? oh, tentu bukan caraku bermain dengan memaksa kehendak. karena dimataku, rasa bukan hanya sekedar hasrat, melainkan suatu hal yang sensitif, terlepas dari rasionalnya akal. takutku kemudian hari, salah rasaku menetap, kemudian menjadikanku lupa arah pulang sebenarnya. - sampai nanti di akhir cerita, kau menjawab segala tanya yang tak kuharap terjawab. rasa mu sedikitbanyak memiliki kesamaan denganku, sama2 dalam diam, memilih berdiam diri dalam kediamannya. hanya saja kau lebih mahir, sedangkan aku memilih nyaman dalam zona amatir. - bahagia? kupikir begitu, mengingat rasa kita sudah samasama berirama, terlepas dari tujuanku yang enggan menjalin hubungan (entah apa alasannya). kukira jawab yang membuatku senang, namun haluan berubah arah. justru jenuh yang kurasa, lelah, dan memilih berpaling di kemudian hari. prdks.
0
Apr 2, 2018
Apr 2, 2018 at 9:10 PM UTC
sajaksajakrasa
pasal VI: tentang aku dan kau; sebuah rasa dalam diam. - yang aku percaya, skenario tuhan selalu indah walau tak kelihatan di awal, sebab tentu saja, pemandangan akan lebih nampak anggunnya dari ketinggian. dan ini perkara melihat sesuatu dari direksi yang berbeda, atau bahkan berlawanan. rasa dalam diam. - perihal rasa yang terus saja terpendam, anggap saja aku hanyalah secuil makhluk yang kagum kepadamu, terlepas dari senyummu yang menawan, atau paasmu yang santun, dan hal "wah" yang mereka utarakan lainnya. rasaku apa adanya, tanpa menuntut apapun darimu. - mengingat kau dan aku tak pernah bersua dengan sengaja, kurasa, rasarasa yang kumiliki hanya akan bertepuk sebelah rasa, sekedar sapa, dan berujung tanpa kata. toh nyatanya entah aku yang sanggup bertahan ataukah memang aku yang terlalu bodoh karena masih saja bertahan, hitungan tahun tanpa jawaban terus saja membuatku beradaptasi dengan keadaan. - dan jika dilihat, mungkin hanya usahakulah yang terus membuatku bertahan, melihat segalanya hanya jarak dan jarak yang membuat kita dekat, walau kau masih saja entah purapura tak peduli, atau mungkin memang tak peduli. tapi kuharap kau tak bosan menjadi tempat rasaku bermuara. - menuntut kejelasan? oh, tentu bukan caraku bermain dengan memaksa kehendak. karena dimataku, rasa bukan hanya sekedar hasrat, melainkan suatu hal yang sensitif, terlepas dari rasionalnya akal. takutku kemudian hari, salah rasaku menetap, kemudian menjadikanku lupa arah pulang sebenarnya. - sampai nanti di akhir cerita, kau menjawab segala tanya yang tak kuharap terjawab. rasa mu sedikitbanyak memiliki kesamaan denganku, sama2 dalam diam, memilih berdiam diri dalam kediamannya. hanya saja kau lebih mahir, sedangkan aku memilih nyaman dalam zona amatir. - bahagia? kupikir begitu, mengingat rasa kita sudah samasama berirama, terlepas dari tujuanku yang enggan menjalin hubungan (entah apa alasannya). kukira jawab yang membuatku senang, namun haluan berubah arah. justru jenuh yang kurasa, lelah, dan memilih berpaling di kemudian hari. prdks.
Continue reading...
9