"bermakna" poems
Palembang, 8 September 2011
Dia adalah..
yang mampu membersihkan fikiranku,
membuatku tertidur di malam hari,
menemaniku hingga pagi.
Dia adalah..
yang berharga dari benda apapun,
sangat suci dan terang,
sumber hidup yang bermakna.
Dia adalah..
penerang jalan selamanya,
takkan pernah berubah,
terkadang dilupakan.
Dia adalah kitab milik Nabi ku Muhammad,
yang abadi,
indah,
warisan paling mulia.
Dia adalah Al-Qur'an,
hal yang selalu ku baca sebelum tidur,
ayat yang selalu bku ulang setiap sholat,
nilai yang selalu ku aplikasikan di dalam kehidupan.
Aku cinta Al-Qur'an.
Nov 21, 2011
Nov 21, 2011 at 6:21 AM UTC
Dengarkan ketika kau merasa takut,
akan semua ketulian,
Gosip dan kata-kata tak bermakna,
Semua berita peperangan
Maupun musik tanpa nada.
Telingamu seharusnya takut.
Lihatlah ketika kau merasa takut,
akan semua kebutaan,
Kebajikan yang munafik,
Imajinasi yang berlebihan
Terlebih jika kau tampik
Matamu selayaknya takut.
Ucapkan ketika kau merasa takut,
akan semua puisi dan syair,
Mantra yang mereka panjatkan,
pada setan dimana mereka lahir
Semua bisu yang kau nyanyikan
Bibirmu seharusnya takut.
Cintai ketika kau merasa takut
akan semua iba dan nestapa,
Mabuk dengan segelas kasih,
Mereka yang bertelanjang jiwa
Sehingga matipun tertatih
Hatimu selayaknya takut
Pikirlah ketika kau merasa takut
akan semua yang dungu,
dimana nuklir-nuklir itu mereka sesap,
dan kebijaksanaan para ***** dituju
Ketika para pendeta tergagap.
Otakmu seharusnya takut
Rasalah ketika kau merasa takut
akan semuanya yang berbentuk,
menyerupakan tawa dengan doa,
Yang menyayat hiruk pikuk
Derap dan tangis yang fana
Dirimu selayaknya takut
Maka biarkan aku berani
Karena kau hidup, dan aku tak punya diri.
May 7, 2016
May 7, 2016 at 2:26 PM UTC
Seorang Part I
Baru-baru ini aku merasakan yang hidup ini tidak lagi bermakna buat aku. Di mana aku rasa kosong setiap kali nak memulakan sesuatu. Bagaikan terputus tali layang-layang yang asyik ditiup angin di langit biru itu. Aku cuba dan terus mencuba untuk memahami setiap apa yang berlaku di sekeliling aku. Akhirnya aku masih di situ dan terbelenggu keseorangan tanpa sesiapa pun sedar aku di mana. Tidak ada tangan yang mahu menolong aku apatah lagi bahu untuk ku sandarkan tiap kali aku mencurahkan air mata. Aku keseorangan.
Seorang Part II
Aku masih diam di situ kaku. Sejenak aku terdetik untuk mendongak ke langit. Tika itu kelihatan malam pekat dihiasi dengan bintang-bintang berkerlipan penuh gemerlapan dan juga bulan yang terang memukau aku seketika. Waktu itu aku masih ingin menangis lagi kerana aku lupa pada Yang Maha Mendengar Yang Maha Melihat Yang Maha Mengasihi. Aku alpa kerna selama ini aku melupakan Yang Maha Berkuasa. Aku merasakan kerdil waktu itu dan pada saat itu juga aku merasakan aku dibius semangat baru.
Seorang Part III
...........................................................................................
Nov 28, 2014
Nov 28, 2014 at 2:57 PM UTC
Hentian tak bermakna tiba
kegelapan tak semestinya hiba
keindahan tunjang sehingga pucuknya
bukanlah anugerah dalam sekilat cahaya
sambungan cerita kita yang punya
tapi beza adaptasinya
terkadang patah renyuk tak disangka
terkadang wangi semerbak bunga
terkadang terik memancar sinar
terkadang kaku kelu membisu
namanya perjuangan masihkan kekal
entahkan wujud entahkan binasa
menggapai semua mampukah kita
menyelongkar hingga tak ketemu jua
masakan diri menongkah jaya
moga memijak di alam nyata
agar sempurna gambaran selamanya....
Oct 11, 2014
Oct 11, 2014 at 10:05 AM UTC
Daniel,
Waktu panorama nyata cerah merona
Aku termenung dungu
Malu, cemas tak pernah begini
Atau entah pernah namun kulupa
Kala aku berlari menuju hilang
Cerah itu muncul, kupikir selesai semua
Berpapasan sosokmu, membelai pipimu
Ku tak becus
Yang terasa dijiwa makin bermakna
yang ada dihati makin berarti
Tak harap lebih berjumpa denganmu
Dimimpiku
Dipelaminan
Atau dirumah kita nanti
Rasa cintamu sudah cukup
Sungguh,
Terima kasih
Buatmu, 2017.
Sep 18, 2017
Sep 18, 2017 at 12:15 PM UTC
Dia,
Bagaikan angin yang menderu,
Lembut dan tenang menyapaku.
Bagaikan matahari,
Menerangi hidupku.
Di kala aku kesunyian,
Dia menjelma.
Di kala aku kesepian,
Dia juga yg ada untukku.
Di kala aku sedih,
Dia tempatku mengadu.
Dikala aku gembira,
Dia yang aku mahu.
Tidak bermakna hidupku,
Tanpa dia di sisi ku.
Jan 16, 2015
Jan 16, 2015 at 12:12 AM UTC
Hey buddy
Engkau yang tak pernah mungkin kembali
Kau yang membuatku terjebak dalam sebuah ironi
Kita dihadapkan dengan sebuah hukum pasti
Semua yang terlahir pasti akan mati
Pada masanya
10 tahun penuh makna
Bersamamu ku dapat melihat indahnya dunia
Ya, indahnya dunia
Walaupun sekarang engkau sudah di alam baka
Dan sosokmu hanya tergambar dalam sebuah berkas kamera
Kehadiranmu kala itu bak seberkas cahaya
Yang membuatku tetap ingin bertahan di tengah ketidakadilan dan penindasan yg bermakna
Di saat aku tidak bisa lagi melihat sisi baik 'manusia'
Ketika aku pulang dari kandang ilmu dengan penuh tangisan
Seakan engkau menanyakan 'apa yg sedang terjadi?'
Ketika aku hanya ingin berhenti
Berhenti dari segalanya
Bahkan untuk sekedar bersinggungan dengan udara
Engkau seakan tak rela
Aku tak pernah ingin mengulang waktu
Walaupun itu bersamamu
Waktu yang begitu berat bagi hidupku
Waktu yang membuat semua yg kucita-citakan seakan tabu
Waktu yang telah membentukku sebagai sosok pemalu
Malu dalam segala hal
Bahkan terlalu malu hanya untuk sekedar mengatakan 'aku'
Aku hanya ingin menambah waktuku bersamamu
Agar aku bisa membagi kisahku denganmu
Aku yang sudah bisa pergi jauh
Yang sudah banyak mengenal Medan baru
Yang sedikit banyak telah mendapat penerimaan waktu
Dulu, saat aku jatuh
Engkau selalu ada didekatku
Dengan untaian kata motivasi dan semangat alamu
Tapi, di usia rentamu
Aku terlalu peduli dengan sibukku
Hingga ku lupa hanya sekedar menyapa keadaanmu
Entah apa yg ada dipikirku
Sungguh egois memang
Tapi, apa mau dikata
Semua telah tertulis rapi dicatatan-Nya
Aku hanya bisa menjalankan
Dengan tetap menjagamu dalam lamunan
Jan 4, 2019
Jan 4, 2019 at 10:20 PM UTC
Dia ingin bermain kata-kata ternyata.
Sampah!
Mari kita permainkan dia bersama kata-kata! Akankah takut siapa yang tahu jika tidak pernah kita coba!
Kita perlu membencinya!
Membenci kebohongan busuk akal manusia.
Mari kita bermain kata-kata!
Siapa yang takut jika ia sering di cerca oleh pertanyaan mengapa!
Baiklah, bunyinya seperti ini.
Kau busuk akal rupa juga canda tawa tidak pernah ada artinya.
Kalimat yang kau lontarkan tidak pernah bermakna lantas apa arti jika harus hidup tak bisa bebas dan merdeka!
Bebas dan merdeka hanya kata-kata, tindakan ada setelahnya, apa yang kau perbuat setelah bermain lantas kau bereskan semua permainan yang ada!
Kau dalang permainan yang sejak awal kau ingin menang di dalamnya!
Masih ingin bermain?
Masih ingin bermain atau kau tak punya lawan main?
Seperti apa kata-kata kita cipta seperti apa kau punya wewenang kuasa!
Lupa cara, buta aturan semua kau yang pegang!
Itu ujaran kebencian katanya!
Feb 11, 2021
Feb 11, 2021 at 4:33 AM UTC
bakar saja paru-parumu.
hantam saja semua,
biar jatuh berhamburan sampai koyak.
tendang sekeliling deretan batu bata yang tersusun rapi sampai kakimu ngilu.
aku telah kebal pada tatapan tajammu.
telingaku tuli dari raungamu yang menderu.
ketukan bunyi lidah tak bermakna kian lesap mengganggu.
biar bergelut dengan bingungmu.
aku benci
caramu menyatakan perang.
Jul 11, 2019
Jul 11, 2019 at 11:56 AM UTC
Waktu aku ditawan sepi,
Tuhan kirim aku seorang puisi.
Dan Lalu,
sejak itu
apa-apa tentangmu
jadi sedikit lebih dekat
dan jauh lebih bermakna.
Nov 15, 2022
Nov 15, 2022 at 10:15 AM UTC