Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"berandai" poems
Setoples garam, sejumput di jarinya Dikulum masa mudanya, berani. Bukan hanya menembak, menusuk Melayangkan doa istri yang merindu Menghapus sosok bapak, dari sang anak Dikenangnya pandangan serdadu itu Jarinya adalah maut, matanya adalah bidik Senapannya adalah kubur, pelebur semua cinta Juang adalah bahan bakar seruannya, Merdeka! Bambu itu simbol perjuangan, ibu Namaku akan seharum sukma bapak! Saat kawannya berkawin, bunting, mati Dia tetap bersolek layaknya gadis Gincunya dari belanda, mengucur langsung dari lubang pelornya tepat di jantung Bedaknya dari tanah desa bapaknya dulu bergundu Parfumnya alami dari pori-pori semangatnya berlari Belum lagi perhiasannya, Antingnya dari granat, meledak tepat di sisinya Kalungnya adalah medali sebagai pengingat maut, bergurau dengan nyawanya Tiba saatnya dia berbaring, lelah, terluka dan pusing Menjadi guling yang dicengkramnya Berselimut lumpur dan mayat sebagai kasurnya, lelap. Senja itu angin semilir bergema Kenangan atau mimpi, dia berandai Namun pecah ketika aku berteriak Ibu! Sudahkah? Aku lapar!
0
Aug 13, 2016
Aug 13, 2016 at 10:51 AM UTC
Sepanci Kenangan dan Perjuangan
Lalu lintas jalan padat merayap pengap namun tetap senyap Karena dia menulikan setiap kata-kata di perempatan jalan Pula desah resah mata-mata yang memandang Kunang-kunang kuning itu tiba-tiba melintas tenang Mengambang lembut bagai daun dihanyutkan arus Membius lampu-lampu sein agar berhenti mengedip Malam itu, di perempatan jalan itu cahaya meredup Orang-orang tak tahu menahu, beberapa berandai Indah juga jika dipelihara di pekarangan rumah Satu bangkit lalu berjingkat mendekat Kunang-kunang kuning itu melesat Tiba-tiba semua orang mengejar berlari Ingin agar Kunang-kunang itu dipelihara di rumah Tukang becak, penjaja koran, bos besar perusahaan, mahasiswa, semuanya tak mau mengalah Berlari, menyerobot, menggapai, meraih, mendorong, menginjak, menjambak, mendepak, merusak, menolak. Lelah. Kunang-kunang Kuning menang Tak ada yang berhasil merebutnya Orang-orang pun lesu, menyumpah, dan kembali ke apa yang mereka kerjakan sesaat lalu sambil bergumam "Tak ada Kunang-kunang Kuning di pekarangan rumah" Kemudian semua berubah normal Seperti lalu lintas biasanya Hanya ada aku, yang masih memandang, kemana Kunang-kunang Kuning itu terbang. Aku tahu, bahwa di kota ini, tidak ada rumah yang memiliki pekarangan
0
Nov 18, 2016
Nov 18, 2016 at 1:29 PM UTC
Kunang-kunang Kuning di Remang-remang Jalan
"Apa benar, khayalan bisa menjadi kenangan sekuat kenangan dari kenyataan?" Aku berandai-andai menanyakan itu pada Tuan Lalu sekiranya Tuan bertanya, "Puan, perihal apakah gerangan?" Akan kujawab, "Tuan, tak sadarkah kita terjebak?" Tuan bergeming. "Tuan, jika saja kau tahu; perihal kita tiada sederhana”
0
Aug 24, 2019
Aug 24, 2019 at 7:00 AM UTC
Kepada: Tuan
Katanya aku berani suatu masa pernah kuikuti bela diri tetapi dibilang seperti lelaki sedikit sulit untuk merelakan ucapan lewati kuping kiri padahal seringkali harus kulakukan segalanya sendiri kadang pernah berandai punyai saudara atau saudari Ya, aku tahu itu cuma mimpi Kusyukuri saja dan nikmati Katanya lagi pasti semuanya dituruti tidak seperti yg dipikiri terkadang kucicipi sunyi namun ada yang lebih sepi toh nantipun disana* juga sendiri bila boleh meminta..jangan pernah pergi, pelangi bila jujur tak bisa ku sendiri ajariku tuk lebih dewasa lagì dengan warnamu ku pelajari bahwa hidup miliki arti
0
Nov 6, 2019
Nov 6, 2019 at 9:47 AM UTC
Kepada diri