Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"berakhir" poems
sedikit demi sedikit, aku sudah tidak merasakan kamu di cangkir kopiku setiap pagi. entah rasanya mengapa sangat sangat habar. seakan kamu sudah benar-benar pergi dari sini. tidak ada yang membuat jantung ini seakan sudah tidak berada di tempatnya lagi ketika mataku menangkap sosokmu. aku tahu, nantinya memang kamu akan pergi. mencintai pilihanmu yang lebih sempurna dariku. aku hanya manusia, mi querido. aku bukan dia yang lebih dari manusia normal. dia spesial untukmu. sedangkan aku tidak. oh, tidak. aku tidak pernah kemana-kemana. aku tidak pergi. aku tetap disini dan menunggu. hanya sepertinya kamu saja yang tidak pernah sadar jika aku disini. sudah menerka-nerka. semua ini akan berakhir tidak berbalas. semua ini berakhir sia-sia. tapi apakah kamu tahu? semenjak kamu bersama dia, aku sangat menikmati hobiku merangkai aksara tentangmu. walau kadang maknamu sudah terasa hambar. kamu tahu mengapa? karena tangan ini tidak akan pernah mampu meringkuh wajahmu dan mulut ini akan kaku ketika bertatapan denganmu. aku membiarkan tangan ini menari-nari diatas papan kata dan merangkai karangan tentangmu.
0
Aug 11, 2014
Aug 11, 2014 at 7:09 PM UTC
tidak terucap
Aku menangis, padahal tak ada yang harus ditangisi Aku tertawa, padahal tak ada yang harus ditertawai Aku berjanji... Tanpa tahu akankah ku tepati Aku bersumpah Tanpa tahu azab apa yang akan ku dapati Keinginan hati hanya mimpi Hati munafik padahal baik Mangapa jiwa ku terbagi? Selalu hadir bergant-ganti Jiwa keras hadir, terluluhkan oleh dia Sesal pun menghampiri Air mata curahan hati Jiwa lembut hadir, tertegur perkataan "MUNAFIK" Mengucap kata meyakini Inilah aku yang asli Mengapa jadi serba salah? Hati ku keras, hati ku lembut Selalu berakhir air mata Bertanya, dosakah aku pada Tuhan? Created by Aridea Purple
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:44 AM UTC
MUNAFIK
Hari ku tak tenang Tanpa alun lagu terindah Di pantai sana Bagai tempat ku merana Jeritan ombak bagai mewakili Hati ku yang sedang menangis di sini Risauan burung tanpa henti Bagai raga ku yang terancam Tak akan melihatmu lagi Saat cahaya mentari redup Bagai mimpi ku yang telah berakhir Begitu menyesalnya aku Tak dapat cinta nya Yang pasti akan indah sampai ku mati Created by Aridea Purple
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:38 AM UTC
Nuansa Pantai
Semusim ini ku jalani dengan bebas Hingga suatu hari di musim berikutnya aku tersesat Menanggung sakitnya duri kehidupan akibat perbuatanku sendiri Di saat begitu siapa yang ada bersamaku di jalanan sepi? Kalian bisa lihat sendiri betapa kehilangannya diriku Kehilangan akal sehatku Kalian tidak mengerti, kalian tidak mau mengerti Aku memang terlalu rumit Musim ini aku ditemani sepi Melanglang buana sendiri Mencoba tuk temukan ketenangan yang pernah aku miliki Aku duduk lama di tepi sungai dan menatap ke air seraya lirih Menggoyangkan kaki-kakiku yg beralas sepatu usang Merasakan angin sore menusuk hingga ke telapak kaki Aku menunggu mentari jatuh di ufuk barat Kemudian pulang berjalan kaki berharap pamrih Hari ini aku masih sendiri Musim masih lama berakhir
0
Nov 20, 2013
Nov 20, 2013 at 8:12 AM UTC
Musim Ini
seluruh hidup, kau akan berdengung menyanyikan lagu selamat tidur ke telinga ini, dan di tempat tidur mati ini akan menjadi semua saksi.. suatu hari ku kan memuat sebuah memoar di dalam genggaman tanganmu..diiringi sebuah melodi terputus-putus dan bergetar.. mereka menemukan cinta dan ketenangan seperti mereka belum pernah mengenalnya..seperti sebuah daging yang diangkat dari sinar matahari mereka menemukan cinta dan ketenangan seperti mereka belum pernah mengenalnya..dan tulisan berakhir tanpa sebuah resolusi..sebuah revolusi sebuah kesudahan perlahan, meleleh, melebur melalui ruang dan waktu ke dalam diri lagi..kebutuhan sebuah realita akan menjadi hampa.. mereka berteriak kepada kehampaan “oh wahai kosmos, oh cahaya suci!”.. ia akhirnya belajar dari sebuah bayangan tidak hanya pada kegelapan dan kepada mereka yang tidak percaya pada sebuah proses, kelak akan menjadi akar yang busuk di dalam sebuah kandungan.
0
Mar 29, 2012
Mar 29, 2012 at 10:47 AM UTC
Revolusi dalam Kandungan
Palembang, 11 Juni 2012 Debu ini sudah lengket, tak bisa hilang Meski ku usap dengan kain dari ulat sutra Angin sudah terlanjur tertiup Aku tak sempat lagi tuk pakai penutup Petir sedari tadi mengamuk Aku hanya bisa bersembunyi di bawah selimut Banjir belum juga surut Hujan tak pernah berhenti sedetikpun Lampu belum juga padam Padahal lilin dan api telah aku siapkan Aku sudah siap menekan tombol Stop Padahal lagu masih panjang untuk dinyanyikan Aku belum juga tertidur Padahal aku sudah menentukan mimpiku Aku masih terjaga menunggu pagi Meskipun malam belum akan berakhir
0
Jun 11, 2012
Jun 11, 2012 at 10:45 AM UTC
Menyesal
sekali kau berbicara jujur mereka akan mematahkan hati mu. jangan pernah melihat mata mereka, karena akan membuat perasaanmu tercabikcabik ku rekomendasikan kau tuk jaga jarak, karena sekali kau dapat, kau hilang kontrol. jangan pernah jatuh cinta, simpan di lubang kesepianmu yang dalam ambillah pengalaman bahwa bertindak depresi adalah konyol. jangan pernah berbicara jujur. jangan pernah. karena seseorang yang kau cintai akan berbuat yang sama kepadamu. kalau mereka melepas tanganmu, dan menjatuhkan mu, dan kau jatuh… kau hanya berakhir untuk berpura-pura kepada semua orang bahwa semua tidak pernah terjadi apa-apa.. kau tahu….kadang.. tawa tersedih adalah yang terkeras.
0
Mar 29, 2012
Mar 29, 2012 at 7:19 AM UTC
Hidup yang sama saja
Malam ku kemarin Amat indah kan abadi Terukir selalu di dalam hati Nama mu walau hanya mimpi Sungguh bahagia hati ku Bila ingat akan mimpi itu Lamunan ku berakhir Saat mentari muncul di pagi hari Tak dapat ku sebut nama mu Di dalam mimpi ku malam itu Karena gugup hati ku Tergetar semua nadi ku Kelak kita bertemu Bertemu menjadi satu Akankah kau campur cinta mu Dengan cinta ku yang menunggu Created by Aridea Purple
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:37 AM UTC
Mimpi "Cinta"
Saat cinta mempersatukan Kau yang indah dengan dia Aku pun terancam sendiri Tak ada harapan lagi Kau bahagia... Aku akan sangt bahagia Karena kau temukan Dewi Cinta yang kau inginkan Semoga bahagia Dan setia dengan mu Ku kan mendendam Bila dia mengkhianati mu Meski vonis yang kejam Ku terima hidup di kandang Yang panas dan pengap Tak bisa hirup udara bebas Ketika vonis ku berakhir Kau akan ku cari Tapi, melihat mu telah bahagia lagi Ku kan mengenang itu untuk terakhir kali By. Aridea Purple
0
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 12:00 PM UTC
Untuk Terakhir Kali
Tak ada yang bergerak di luar jendela Rahasia tersimpan rapi diantara bantal-bantal yang tersusun Izinkan aku untuk masuk Aku tak akan menyakitimu Kita terjebak diantara Surga dan Neraka Mencari tempat berlindung Ketika rasa sakit mengalir turun seperti hujan Mereka membagikan rasa itu secara cuma-cuma Saat bagian tersulit berakhir Kita akan terus berada disini Kita bisa memberitahu Iblis untuk kembali ke tempat ia berasal Karena kau dan aku telah melawati batas-batas ketakutan berdua.
0
Jun 5, 2016
Jun 5, 2016 at 10:01 AM UTC
Selisih
Seteguk apapun, semua tak akan berakhir Aku adalah seorang pemabuk yang selalu menguarkan harum arak kemanapun aku pergi. Anggur, dan berbotol-botol ***** telah kutenggak pagi ini. Dan hanya hari ini pula aku ingin bicara, tentang segenggam racun yang kalian semua suntik ke dalam nadi dan pembuluhku. Topeng yang dengan bangga kalian pakai tak ubahnya ketelanjangan hanya mengumbar malu dan aib Tawa yang sesenggukan kalian jeritkan hanyalah tangis jiwa kalian yang memudar memutihkan kejujuran dan kebajikan Oh, beginikah cara kerja dunia berduri dan berbatu, sama saja disetiap lajurnya kemanapun aku pergi, dijejali mulutku dengan dusta dan hanya dusta belaka Menghitamnya jiwaku, seandainya bagai langit malam tak ada chandra di ufuknya Sudah selayaknya aku berkabung atas jiwaku, dimana dia merintih penuh sesal dan tanya. Apakah lalu lalang motor dan diesel itu memusingkan kepala atau hanya sebuah kesibukan belaka. Dan dengan itu pula jiwaku berakhir, terdiam, dalam kematian. Kukubur dia dengan layak, diantara nisan-nisan lain disekitarku, yang diberi nomor, sesuai urutannya. Jiwaku tersungkur di nomor tujuh. Beruntung sekali! Kukubur dia, pelan sekali dengan tertidur. Tak berharap bangun lagi di keesokan pagi. Kutaburi bunga-bunga dan prosa yang harum, dan kusiram dengan sebotol Martini dan bir. Harum. Seharum embun yang kau injak ditepian jalan. Wangi. Sewangi sukmamu yang kuingat telah pergi. Aku adalah pemabuk. Yang selalu menenteng sebotol arak, bermabuk di tepian jalan kehidupan. Mengambil jeda diantara kalimat-kalimat mencela dan busuk, yang tergelincir masuk ke dalam telingaku. Botol-botol inilah sang penawar, berminum pula para nabi terdahulu menyesali umatnya, sedangkan aku? Menyesali kalian.
0
Sep 7, 2016
Sep 7, 2016 at 12:30 PM UTC
Sebotol Penawar
Seteguk apapun, semua tak akan berakhir Aku adalah seorang pemabuk yang selalu menguarkan harum arak kemanapun aku pergi. Anggur, dan berbotol-botol ***** telah kutenggak pagi ini. Dan hanya hari ini pula aku ingin bicara, tentang segenggam racun yang kalian semua suntik ke dalam nadi dan pembuluhku. Topeng yang dengan bangga kalian pakai tak ubahnya ketelanjangan hanya mengumbar malu dan aib Tawa yang sesenggukan kalian jeritkan hanyalah tangis jiwa kalian yang memudar memutihkan kejujuran dan kebajikan Oh, beginikah cara kerja dunia berduri dan berbatu, sama saja disetiap lajurnya kemanapun aku pergi, dijejali mulutku dengan dusta dan hanya dusta belaka Menghitamnya jiwaku, seandainya bagai langit malam tak ada chandra di ufuknya Sudah selayaknya aku berkabung atas jiwaku, dimana dia merintih penuh sesal dan tanya. Apakah lalu lalang motor dan diesel itu memusingkan kepala atau hanya sebuah kesibukan belaka. Dan dengan itu pula jiwaku berakhir, terdiam, dalam kematian. Kukubur dia dengan layak, diantara nisan-nisan lain disekitarku, yang diberi nomor, sesuai urutannya. Jiwaku tersungkur di nomor tujuh. Beruntung sekali! Kukubur dia, pelan sekali dengan tertidur. Tak berharap bangun lagi di keesokan pagi. Kutaburi bunga-bunga dan prosa yang harum, dan kusiram dengan sebotol Martini dan bir. Harum. Seharum embun yang kau injak ditepian jalan. Wangi. Sewangi sukmamu yang kuingat telah pergi. Aku adalah pemabuk. Yang selalu menenteng sebotol arak, bermabuk di tepian jalan kehidupan. Mengambil jeda diantara kalimat-kalimat mencela dan busuk, yang tergelincir masuk ke dalam telingaku. Botol-botol inilah sang penawar, berminum pula para nabi terdahulu menyesali umatnya, sedangkan aku? Menyesali kalian.
Continue reading...
27
Tadi pagi kumakan anggur ungu Buah kesukaanku Asam manis rasanya Tapi kulahap langsung semuanya Taksadar ku gigit bijinya Kecil dan tak nampak Bergizi pun tidak Dan kecut ternyata Seperti rasa ini Yang tak dihirau orang banyak Juga kecut dihati kurasa Tak berigizi memang Tapi kalau tak dimakan mentah-mentah Rasa itu takkan ada matinya Malah hanya terbuang dan terinjak Dan berakhir dipembuangan
0
Jun 30, 2014
Jun 30, 2014 at 11:43 AM UTC
Biji Anggur
Aku berdiri kaku di depan cermin menatap nanar dirimu. Bertanya... Berapa banyak malam yang kau habiskan untuk mencaci tubuh tak bersalah itu? Mencabiknya agar kau tetap bisa merasa hidup. Biru dan ungu selalu menjadi tanda bahwa kau menang melawanku. Aku ingat beberapa orang mengubahmu menjadi kelabu, membunuhmu dengan kejam, lalu membuangmu jauh ke jurang hitam. Kita berjalan beriringan dengan kapak berlumur kata-kata tak dimaksudkan, tapi kau bilang kau telah mati jauh sebelum kita berdamai. Lalu bagaimana denganku? Seperti ruang kosong yang hilang ditelan kesendiriannya, aku berjalan menuju ujung lorong yang tak pernah sempat kau injak. Menari-nari di bawah binar harapan seperti aku lupa bahwa kau tak lagi diam di sana. Ingatkah kau saat kita duduk di meja makan bersama dua orang asing? Kau sibuk bermain dengan gelisahmu, sementara aku tersenyum lebar berperan sebagai hantu. Kau melahap habis semua isi di sana, tetapi hanya berakhir pada kamar air yang sengaja kau sembunyikan. Kau mati. Lalu bagaimana denganku?
0
Oct 4, 2016
Oct 4, 2016 at 7:24 AM UTC
Bagaimana Denganku?
Setia ku hingga akhir waktu Cinta ku tak mati meski hancur Kasih ku tak habis slalu merindu Diriku kan mati ditinggal mu Suara hati ini bisu Jejak langkah ini lumpuh Tapi tetap kepakkan sayap Menuju surga hidup kebahagiaan Lagu cinta hilang Berasa hening kali ini Suara indah berhenti Hatipun bersedih Luapan cintaku tak berakhir Sampai nanti, sampai aku mati
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:50 AM UTC
Untitled
Palembang, 6 Januari 2011 Dewasa ini Awan hampir menipis Takkan lagi menyelimuti langit Tak mampu lagi menutupi terik Di masa ini Udara tak bersahabat lagi Tak ingin didekati Dan selalu berlari-lari Sekarang ini Penjahat bagai belut yang licin Tak mampu tersentuh dengan tangan kosong Selalu bisa lolos dari jeruji Dunia ini, hari ini Semakin tidak adil menghakimi Tak berdaya, miskin, mudah tuk dijatuhi Tinggal menunggu dunia ini berakhir
0
Jan 6, 2012
Jan 6, 2012 at 1:34 AM UTC
Dunia Ini
Angin berbisik berita, Cerita satu baris kata, Disini berakhir segalanya, Senyum mu, Gelak tawa mu, Sedih dan Amarah Menghempas bumi, Kini tinggal di masa lalu, Luka yang telah mati, Tidak kembali berdarah, Coretan di hati ini, Kekal sebagai parut sesal, Kesilapan aku mencipta memori, Pada khayalan yang tidak pasti. Wahai dunia yang mengkhianati, Seandai aku tidak berdaya lagi, Izinkan teladan ini menjadi nukilan, Pada jalan yg tidak dijulang.
0
Mar 26, 2024
Mar 26, 2024 at 11:41 PM UTC
Luka
Kutarik secarik kertas putih Kutumpahkan tinta hitam Kutulis namamu Kuceritakan segalanya Cintaku kepadamu yang terawali layaknya sebuah kepompong Hingga menjadi sebuah kupu-kupu Terbang melintas dunia Berakhir dengan kematian Tetes demi tetes tinta Menyusun kata per kata Membentuk sebuah kalimat yang ramai Mewakilkan mulutku yang membisu Untuk siapa kubuat tulisan ini? Tulisan yang tak lebih melibatkan amarah dan kebencian Namun ditulis dengan sedikit rasa cinta yang masih melekat Putih suci ditimpah hitam penuh dosa Bisik Sang Hati " Lipat dan buang. Sudah cukup sudah. " Jemari bergerak melipat surat itu Berbentuk perahu Perahu kertas. Raga berjalan ke tepi laut Seakan jiwa yang menggerakkan Mulut yang berbisu mengucapkan sebuah doa Tangan melepaskan surat itu Perahu kertas, Bawalah mimpi buruk ini berlayar denganmu Berlabuhlah di neraka Agar dosa dan penyesalan ikut terbakar disana.
0
Nov 18, 2017
Nov 18, 2017 at 4:32 AM UTC
Perahu Kertas.
Kisah cinta ku indah Namun berakhir malam ini Ku cari sebuah nama Agar menjadi sebuah cerita Yang indah bagai langit Penuh warna dan kabut Memori indah hidup ku By. Aridea Purple
0
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 11:53 AM UTC
Sebuah Nama, Sebuah Cerita
Inderalaya, 30 September 2014 Rasanya ingin saja aku menutup mata ini, tertidur Menuai mimpi yang selalu bahagia ceritanya, terhibur Hati tak ingin terbangun namun mataku berkata lain, terlanjur Semangat hati tuk melanjutkan tidur pun haidr, dan Bangunkan aku saat September berakhir
0
Oct 20, 2014
Oct 20, 2014 at 7:00 AM UTC
Wake Me Up When September Ends
Tik tik berakhir tok Kau bersua laksana si empu sendok Meniti waktu dengan langkah jongkok Asal bukan dengan otak yang pekok. Satu menit kau pergi Tiga menit kau balik lagi Menit ke-lima kau berlari Menit ke-tuju kau cuma berdiri. Kejar kejaran jarum kau paling peduli Bunyi desah jarum kau paling kagumi Salah sedikit kau hitungi Sedang waktu kau coba bagi.
0
Jan 24, 2017
Jan 24, 2017 at 2:14 AM UTC
membagi waktu.
Yang bermula dengan suara, Berakhir juga dengan suara. Disaat kita harus sepakat bahwa semuanya mesti disudahkan Sedunia tak henti-hentinya mencekokkanku dengan bayangnya Karena belum genap 24 jam sejak kesepakatan bahwa semuanya sudah, Ku dengar suaranya dimana-mana, Kali ini, lagi-lagi, tanpa rupa Disaat dunia mendengarnya bercerita tentang gadis manis berduduk seorang diri, Atau tentang bagaimana akal serta tubuhnya dikupas habis oleh hidup sehingga dia tak punya pilihan selain menerima bahwa ia dan mutlaknya semua manusia adalah tunggal; adalah sendiri; adalah harus menelan, memahami, lalu (jika beruntung) mencintai kesendirian itu sendiri Atau sekiranya tentang bagaimana ia mengibaratkan air mata bagai tanda suatu yang kuat, yang tak malu, yang berteriak, yang patut diwadahkan jika bisa; Lalu disimpan, bukan dilihat untuk sekedar menyenangkan diri bahwa kita ditangisi Namun sebagai tanda bahwa pada dasarnya semua manusia akan berserah diri Tak ada habisnya menganalisa karya—ataupun jiwa—yang memang dari lahir sudah pamungkas Karena disaat bongkahan karyasuara itu berisi wejangannya untuk mereka yang mencari Suara itu bercerita kepadaku tentang hal-hal yang agaknya butuh dua kali hidup dan dua kali mati untuk menemukan inti; Seperti perempuan Seperti keyakinan Seperti kesendirian dalam kehidupan dan kematian Seperti jarak dan waktu yang superfisial disaat kita sadar akan Tuhan Dimalam itu, Dimalam saat aku menyadari bahwa ada hal-hal yang jawabannya tak bisa kucari dalam prosa Sang Nabi atau puisi Jalalludin Rumi, Ia berkata, “Tak akan—sampai mati—ku mencampuri urusan akal perasaan dengan keyakinan yang sebetulnya sudah ada sebelum apapun.” Disaat itu juga aku memutuskan untuk mundur sepuluh langkah, Karena disaat kalimat itu kelar terlontar, Adalah bukan suaranya yang kudengar, Namun Ibunya. Ibu, sama halnya dengan keyakinan, sudah ada sebelum apapun. Malam ini aku pamit.
0
May 10, 2019
May 10, 2019 at 9:17 AM UTC
Suara Tanpa Rupa
Yang bermula dengan suara, Berakhir juga dengan suara. Disaat kita harus sepakat bahwa semuanya mesti disudahkan Sedunia tak henti-hentinya mencekokkanku dengan bayangnya Karena belum genap 24 jam sejak kesepakatan bahwa semuanya sudah, Ku dengar suaranya dimana-mana, Kali ini, lagi-lagi, tanpa rupa Disaat dunia mendengarnya bercerita tentang gadis manis berduduk seorang diri, Atau tentang bagaimana akal serta tubuhnya dikupas habis oleh hidup sehingga dia tak punya pilihan selain menerima bahwa ia dan mutlaknya semua manusia adalah tunggal; adalah sendiri; adalah harus menelan, memahami, lalu (jika beruntung) mencintai kesendirian itu sendiri Atau sekiranya tentang bagaimana ia mengibaratkan air mata bagai tanda suatu yang kuat, yang tak malu, yang berteriak, yang patut diwadahkan jika bisa; Lalu disimpan, bukan dilihat untuk sekedar menyenangkan diri bahwa kita ditangisi Namun sebagai tanda bahwa pada dasarnya semua manusia akan berserah diri Tak ada habisnya menganalisa karya—ataupun jiwa—yang memang dari lahir sudah pamungkas Karena disaat bongkahan karyasuara itu berisi wejangannya untuk mereka yang mencari Suara itu bercerita kepadaku tentang hal-hal yang agaknya butuh dua kali hidup dan dua kali mati untuk menemukan inti; Seperti perempuan Seperti keyakinan Seperti kesendirian dalam kehidupan dan kematian Seperti jarak dan waktu yang superfisial disaat kita sadar akan Tuhan Dimalam itu, Dimalam saat aku menyadari bahwa ada hal-hal yang jawabannya tak bisa kucari dalam prosa Sang Nabi atau puisi Jalalludin Rumi, Ia berkata, “Tak akan—sampai mati—ku mencampuri urusan akal perasaan dengan keyakinan yang sebetulnya sudah ada sebelum apapun.” Disaat itu juga aku memutuskan untuk mundur sepuluh langkah, Karena disaat kalimat itu kelar terlontar, Adalah bukan suaranya yang kudengar, Namun Ibunya. Ibu, sama halnya dengan keyakinan, sudah ada sebelum apapun. Malam ini aku pamit.
Continue reading...
29
Tahun lalu kita menyusun rencana Menuliskannya pada setiap lembar catatan Di antara selipan buku laporan Meletakkannya secara berantakan Hingga lupa mana tulisan Mana struk belanjaan Memang benar tolol aku kala itu Membangun cinta di atas rasa penasaran Dan selalu berakhir pada tempat pelarian Malam itu kau membelikanku sebuah rak buku Untuk hadiah ulang tahunku Karena tidak ada lagi yang dapat kita perbincangkan Setelah lepas habis cerita kau bacakan Dan aku selalu ketiduran dan tak pernah serius mendengarkan Hujan kembali berderai dengan ringan Malam pekat angin berhebus tak karuan Aku masih mabuk di pangkuan kegelisahan Memukul rata puisi menuliskannya hingga nanti aku mati
0
Apr 13, 2021
Apr 13, 2021 at 7:41 AM UTC
Rencana
pasal IV: tentang hujan yang tak kunjung reda, dan tangis yang tak kunjung berakhir. - terkadang, ada beberapa hal yang datang, selain membawa berkah dan kebahagiaan, juga turut di dalamnya kesedihan yang berlarutlarut. seperti halnya hujan, yang datang membawa unsur kehidupan, tapi kemudian, dinginnya mengundang pilu, berusah mencari kehangatan. begitu pula dirimu, datang sekiranya membuatku bahagia walau di awal, namun akhirnya memilih pergi setelah membunuh setiap harapan baru yang tumbuh dengan tega. - ada beberapa hal yang terjadi, namun datangnya tak dapat dihentikan, dan kepergiannya tak dapat dipaksakan, layaknya hujan ketika mentari tengah bersinar, membuat sebagian orang mendengus kesal, banyak hal rencana yang gagal. seperti halnya dirimu, ketika dirimu datang ketika ku tengah sedemikian rupa menata hati. kau datang mengambil setitik kecil potonganmu yang tertinggal, kemudian justru potongan kecil itu yang menghancurkan hati yang telah tertata rapi. hancur. kembali. lalu kau beranjak pergi, layaknya hujan badai yang reda, seolah tak terjadi apaapa. - setelahnya, setelah sisasisa hujan pada dedaunan mengering, dan musim hujan telah berlalu, masih sesekali duakali ia datang, mebawa harapan sekilas, kemudian pergi seolah tak ingin kembali. sejenak menentramkan, meluruhkan kotoran di udara, namun tetesannyamengandung racun yang tak baik. seperti ketikamu datang tibatiba, seolaholah baikbaik saja, ternyata memang tidak ada apaapa, bukan benarbenar tidak ada, hanya saja, bukan untukku, tapi untuk dia yang lain. - selalu ada akhir dari jutaan tetesan air yang jatuh ke bumi, dan semoga, hal itu juga berlaku pada diriku. entah kapan tangis akan reda, namun kau tetap saja berlalu, semoga kau tak lagi datang membawa harapan. maafkan keegoisanku memilih menangisi kepergianmu. prdks.
0
Sep 25, 2017
Sep 25, 2017 at 8:52 AM UTC
sajaksajakrasa
pasal IV: tentang hujan yang tak kunjung reda, dan tangis yang tak kunjung berakhir. - terkadang, ada beberapa hal yang datang, selain membawa berkah dan kebahagiaan, juga turut di dalamnya kesedihan yang berlarutlarut. seperti halnya hujan, yang datang membawa unsur kehidupan, tapi kemudian, dinginnya mengundang pilu, berusah mencari kehangatan. begitu pula dirimu, datang sekiranya membuatku bahagia walau di awal, namun akhirnya memilih pergi setelah membunuh setiap harapan baru yang tumbuh dengan tega. - ada beberapa hal yang terjadi, namun datangnya tak dapat dihentikan, dan kepergiannya tak dapat dipaksakan, layaknya hujan ketika mentari tengah bersinar, membuat sebagian orang mendengus kesal, banyak hal rencana yang gagal. seperti halnya dirimu, ketika dirimu datang ketika ku tengah sedemikian rupa menata hati. kau datang mengambil setitik kecil potonganmu yang tertinggal, kemudian justru potongan kecil itu yang menghancurkan hati yang telah tertata rapi. hancur. kembali. lalu kau beranjak pergi, layaknya hujan badai yang reda, seolah tak terjadi apaapa. - setelahnya, setelah sisasisa hujan pada dedaunan mengering, dan musim hujan telah berlalu, masih sesekali duakali ia datang, mebawa harapan sekilas, kemudian pergi seolah tak ingin kembali. sejenak menentramkan, meluruhkan kotoran di udara, namun tetesannyamengandung racun yang tak baik. seperti ketikamu datang tibatiba, seolaholah baikbaik saja, ternyata memang tidak ada apaapa, bukan benarbenar tidak ada, hanya saja, bukan untukku, tapi untuk dia yang lain. - selalu ada akhir dari jutaan tetesan air yang jatuh ke bumi, dan semoga, hal itu juga berlaku pada diriku. entah kapan tangis akan reda, namun kau tetap saja berlalu, semoga kau tak lagi datang membawa harapan. maafkan keegoisanku memilih menangisi kepergianmu. prdks.
Continue reading...
6
Jam tujuh pagi tadi Ibu mengetuk pintu Bunyi ketukan itu sampai empat kali terulang Di ketukan empat setengah, Pintu terbuka setengah juga “Ya?” “Mandi, Mbak.” “Pingin tidur lagi.” “Tapi hari ini hari kemenangan.” Raut wajahnya yang telah menjadi warisanku tak sedikitpun menunjukkan bahwa dia telah memenangkan apapun. Tidak seperti kebanyakan orang, Untuknya hari ini bukanlah tentang seberapa kental kolam santan yang menyimbahi santapan-santapan Bukan juga tentang berpeluk-rindu dengan orang-orang sambil sesekali bertukar kabar Lelah mengutuk dirinya karena seumur hidup merasa kalah, Aku tahu bahwa sehari saja ia ingin merasa menang. Ia sendiri tahu betul saat hari ini berakhir dan tamu berpamit untuk pulang setelah semua habis terkunyah; ia akan kembali merasa kalah. Menang atas dan untuk apa? Seribu kata maaf pun ia telan begitu saja tanpa mencerna kata tersebut keluar dari mulut siapa Tanpa adanya hari kemenangan yang dibanjiri oleh teks bersampul maaf, Hidupnya memang sudah tentang meminta maaf dan memaafkan Tak ada pilihan lain. Hanya saja hari ini sinar sendu wajahnya menunjukkan bahwa akhirnya, Setidaknya untuk dia, Harapan pahitnya terhadap ‘maaf dan memaafkan’ akan diselebrasikan; Dan seperti dirinya, lebih dari sejuta orang akan melakukannya walaupun untuk sehari saja. Kepada siapa lagi ia harus meminta maaf dan meminta dimaafkan?
0
Jun 5, 2019
Jun 5, 2019 at 8:40 AM UTC
?
pasal III; tentang berpisah, memisahkan diri, dan sebuah perpisahan. -sampailah rasa ini di titik paling akhir perjuangannya, dimana setelah semua usaha bermuara, dan nyatanya tak terbalas sesuai ekspektasi. akhirnya, aku (dan kamu) memilih untuk mundur dari pengharapan masingmasing, memilih memisahkan diri, untuk kemudian bersamasama mencari jalan hidup pribadi. - mungkin saja di satu sisi, ada pihak yang merasa terberatkan, dan tentu saja yang memberatkan, mengingat perihal perpisahan adalah suatu fase, dimana 2 pribadi yang dulunya saling dan berusaha terikat mengikat, kini harus mulai merenggangkan ikatan masingmasing. dan pasti ada yang tak sanggup, dan ada yang terburuburu berpisah. tapi tak apa, aku terbiasa menopang perkara berat ini. - namun ada kalanya, kau lah yang terberatkan dengan proses ini, jadi mulai sejak dinilah, kumohonmaaf untuk apa yang akan terjadi di kemudian hari, atau mungkin saja esok hari, ketika ku mulai merasa, bahwa perpisahan adalah cara terbaik untuk melanjutkan hubungan ini. - plot twist; adalah ketika kita masih tetap berusaha saling menyatakan setia dan menjaga keberadaan masingmasing kita, tapi, kita tetap saja terpisahkan, karena sebab masa depan masih terlalu gelap untuk diterawang sekarang, mengingat kodrat yang bernyawa akan mati, yang dekat akan jauh, dan yang jauh, tak penah lagi kembali. maka nanti kemudian masa, jika saja kita memang terpisahkan oleh takdir, maka sekali lagi maafkanku, juga terima kasih, untuk mu, dan untuk hadirmu. - karena berpisah, bukan sematamata hanya sekedar ego, melainkan sebuah komitmen. semoga kau mengerti, jika kelak kita berpisah, dirimu tetaplah dirimu, kau tetap saja begitu, dan jangan berubah, sebab kisah kita yang berakhir tragis, tak layak mengubah senyummu yang manis. prdks.
0
Aug 6, 2017
Aug 6, 2017 at 12:39 PM UTC
sajaksajakrasa
pasal III; tentang berpisah, memisahkan diri, dan sebuah perpisahan. -sampailah rasa ini di titik paling akhir perjuangannya, dimana setelah semua usaha bermuara, dan nyatanya tak terbalas sesuai ekspektasi. akhirnya, aku (dan kamu) memilih untuk mundur dari pengharapan masingmasing, memilih memisahkan diri, untuk kemudian bersamasama mencari jalan hidup pribadi. - mungkin saja di satu sisi, ada pihak yang merasa terberatkan, dan tentu saja yang memberatkan, mengingat perihal perpisahan adalah suatu fase, dimana 2 pribadi yang dulunya saling dan berusaha terikat mengikat, kini harus mulai merenggangkan ikatan masingmasing. dan pasti ada yang tak sanggup, dan ada yang terburuburu berpisah. tapi tak apa, aku terbiasa menopang perkara berat ini. - namun ada kalanya, kau lah yang terberatkan dengan proses ini, jadi mulai sejak dinilah, kumohonmaaf untuk apa yang akan terjadi di kemudian hari, atau mungkin saja esok hari, ketika ku mulai merasa, bahwa perpisahan adalah cara terbaik untuk melanjutkan hubungan ini. - plot twist; adalah ketika kita masih tetap berusaha saling menyatakan setia dan menjaga keberadaan masingmasing kita, tapi, kita tetap saja terpisahkan, karena sebab masa depan masih terlalu gelap untuk diterawang sekarang, mengingat kodrat yang bernyawa akan mati, yang dekat akan jauh, dan yang jauh, tak penah lagi kembali. maka nanti kemudian masa, jika saja kita memang terpisahkan oleh takdir, maka sekali lagi maafkanku, juga terima kasih, untuk mu, dan untuk hadirmu. - karena berpisah, bukan sematamata hanya sekedar ego, melainkan sebuah komitmen. semoga kau mengerti, jika kelak kita berpisah, dirimu tetaplah dirimu, kau tetap saja begitu, dan jangan berubah, sebab kisah kita yang berakhir tragis, tak layak mengubah senyummu yang manis. prdks.
Continue reading...
7