Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"bagaikan" poems
Kau datang di saat ku menginginkanmu Kau bagaikan menerangi hidupku Ku tersenyum di setiap waktu Ku selalu memikirkanmu Kau menjauh entah mengapa Ku tersadar bahwa ku yang memulainya Kau tak sedetikpun berbicara Ku hanya bisa menyesal Ku mulai belajar tuk melupakanmu Ku buka hati ini tuk yang lain Namun tiba-tiba kau datang dengan sejuta kata Entah apakah kau berpura-pura peduli pada ku Kau menyentuh hidup ku, lagi Kau buat aku menginginkanmu, lagi Kau buat aku salah tingkah, lagi Serasa tak ingin aku kehlangan mu, lagi Kau membuat aku bersyukur pernah mengenal mu Kau adalah hal terindah yang tak nyata yang pernah aku tahu Kau adalah semua topik pembicaraan yang ku ceritakan Kau adalah yang mengiringi perjalanan singkat hidup ku Kau yang amat susah lepas dari ingatan ku Kau yang menerangi hidup ku Kau lah alasan aku tersenyum di setiap waktu Kau lah yang ku harap hadir di mimpi ku Kau... Yang selalu aku harapkan hadir di sisi ku Yang selalu membuatku ingin merasakan peluk mu Yang ingin sekali mengecup bibir mu Kau... Yang selalu membuat aku gelisah Yang membuat aku berusaha lebih baik Yang membuat ku berusaha lebih pantas tuk dimiliki Kau... Tak pernah habis kata-kata untuk mu Selalu ku puji dirimu Ku ingin bisa mengatakan bahwa Aku sangat mencintaimu I LOVE YOU
0
Nov 21, 2011
Nov 21, 2011 at 8:41 PM UTC
Semua Tentang Kau
Palembang, 18 Desember 2011 Ku tak ingat pertama kali aku membuka mata tuk melihat dunia Yang ku ingat aku hidup bersama keluarga kecil yang bahagia Semasa hidup dunia tak pernah berubah 7 samudera, 7 benua Tetap Bukti kecintaan Sang Pencipta kepada manusia Cinta itu penipu Bisa berperan menjadi apa saja dan siapapun Ombak di laut lepas, itulah cinta Sinar mentari pagi, itulah cinta Tetes embun pagi, itulah cinta Dingin angin malam, itulah cinta Cinta itu tirta Sama seperti air, tak dapat disentuh, hanya bisa dirasakan Cinta itu air sungai yang mengalir Cinta itu jalanan berkelok di pegunungan Cinta itu pepohonan di kaki gunung Cinta itu butiran pasir di Sahara Cinta mampu hidup di mana saja Bak parasit yang mengikuti kemana manusia Cinta itu suci di Mekkah Cinta itu tinggi di Everest Cinta itu luas di Pasifik Cinta itu dingin di Antartika Namun terkadang cinta bisa menjadi liar Tak mau disentuh, pantang diucap Cinta bagaikan Viranha di Amazon Bagaikan Voldemort, The Dark Lord Bagaikan Troll di pedalaman Bagaikan kota hilang di Peru Cinta bagaikan mumi di Mesir Bagaikan terowongan di Jalur Gaza Bagaikan Titanic yang tenggelam Bagaikan laut mati di Yugoslavia Aku merenung,, diam Memandang jam,, terus berdetak Ku akan tinggal di Laguna indah Jauh dari semua,, jauh dari cinta
0
Dec 19, 2011
Dec 19, 2011 at 1:26 AM UTC
CINTA dan Dunia
Perasaan ini terus bergelung Bersembunyi di dalam relung. Seakan mencoba tuk keluar, namun keadaan tak mendukung. Ia pun lelah akan waktu yang terus berjalan namun berbanding terbalik dengannya Yang hanya duduk beralaskan rasa percaya Menatap langit kelabu menunggu turunnya rintikkan hujan pertama. Walau kerinduannya semakin lama semakin bertambah, Ia tak pernah bosan untuk membendungnya Dan menunggu, Menunggu datangnya hujan. Karena ia percaya bahwa seberapa besar kerinduannya, seberapa dalam rasa sakitnya, dan seberapa lama ia menanggung deritanya, hujan yang turun akan menyapu bersih luka di relungnya. Bagaikan obat penawar yang selalu ia temukan saat penyakitnya kembali datang. Ia tak pernah bosan bercerita kepada langit, yang dengan setia mendengar celotehannya. Sambil menunggu turunnya hujan, ia bercerita akan lika liku yang ia alami. Mendongak menatap langit, dan bercerita. Sejenak ia dapat mengalihkan perhatiaannya dari hingar bingar sekitar dan menemukan ketenangannya sendiri. Yaitu bersama langit, saat menunggu hujan. Rintikan pertama menerpa wajahnya. berhasil mengangkat sudut-sudut bibirnya. Ia tersenyum. Yang ditunggu memang tak pernah datang terlambat. Diikuti dengan rintikan lainnya dan kemudian hujan turun dengan deras. Inilah kebahagiaannya. Namun juga kesedihannya. Saat rintikan hujan yang turun berhasil membuatnya tersenyum sekaligus menangis. Karena dapat membawa ketenangan dan penghapus luka, namun juga dapat membawa kerinduan yang turun disetiap rintikannya. “Jika hujan tidak dapat membuatku seutuhnya bahagia, lantas kemana lagi aku harus mengadu?”
0
Mar 9, 2016
Mar 9, 2016 at 3:15 AM UTC
Hujan Pembawa Rindu
Perasaan ini terus bergelung Bersembunyi di dalam relung. Seakan mencoba tuk keluar, namun keadaan tak mendukung. Ia pun lelah akan waktu yang terus berjalan namun berbanding terbalik dengannya Yang hanya duduk beralaskan rasa percaya Menatap langit kelabu menunggu turunnya rintikkan hujan pertama. Walau kerinduannya semakin lama semakin bertambah, Ia tak pernah bosan untuk membendungnya Dan menunggu, Menunggu datangnya hujan. Karena ia percaya bahwa seberapa besar kerinduannya, seberapa dalam rasa sakitnya, dan seberapa lama ia menanggung deritanya, hujan yang turun akan menyapu bersih luka di relungnya. Bagaikan obat penawar yang selalu ia temukan saat penyakitnya kembali datang. Ia tak pernah bosan bercerita kepada langit, yang dengan setia mendengar celotehannya. Sambil menunggu turunnya hujan, ia bercerita akan lika liku yang ia alami. Mendongak menatap langit, dan bercerita. Sejenak ia dapat mengalihkan perhatiaannya dari hingar bingar sekitar dan menemukan ketenangannya sendiri. Yaitu bersama langit, saat menunggu hujan. Rintikan pertama menerpa wajahnya. berhasil mengangkat sudut-sudut bibirnya. Ia tersenyum. Yang ditunggu memang tak pernah datang terlambat. Diikuti dengan rintikan lainnya dan kemudian hujan turun dengan deras. Inilah kebahagiaannya. Namun juga kesedihannya. Saat rintikan hujan yang turun berhasil membuatnya tersenyum sekaligus menangis. Karena dapat membawa ketenangan dan penghapus luka, namun juga dapat membawa kerinduan yang turun disetiap rintikannya. “Jika hujan tidak dapat membuatku seutuhnya bahagia, lantas kemana lagi aku harus mengadu?”
Continue reading...
29
***Jika kau tanya siapa aku Bagaimana harus kujawab?*** *Tiada hari tanpa kukenakan kedok tebal ini Menebar senyum, canda, berpesta Aku meraung sambil tertawa Riasan mata dan bibir dengan berbagai opsi warna Jangan! Jangan terlalu pucat juga jangan terlalu mencolok Nanti orang tidak senang Kau kan harus memuaskan setiap mata Jangan lupa pasang tameng itu tanggal demi tanggal Jika tak lalai kalungkan secercah pamor dan aga Bagaimana jika terlalu pucat? Ah ya orang  tidak suka Cakap nista kan menghardik Memekik Menghamun Siapa monyet abu kucam menjijikkan didepanku? Namun jika terlalu mencolok Jua hinaan berkunjung ada Biar ku beritahu Mereka tak suka kau lebih darinya Aku benci dunia Aku berantakan Kecurian Namaku hilang dimakan cacian Bagaikan karang tertutup berjebah rumput lautan Aku mahkota yang hilang Ah! Omong kosong semua! Enyah kau kepala cemar Umbi harus kembali didekat akar Aku berkenan rujuk atas jasadku Biar aku melalak tinggal abu Aku enggan gemang Aku punya Sembilan nyawa Jika kau tanya siapa aku Aku namaku Jangan berani-berani hina nama itu! Marcapada boleh berlimpah belang dan muka dua Aku  jijik serupa dengan dunia*
0
May 11, 2016
May 11, 2016 at 8:54 AM UTC
Jika Kau Tanya Siapa Aku
Palembang, 9 Juni 2012 Kau bagaikan embun di pagi hari Menyegarkan tubuhku dengan sejukmu Merasakan kamu di setiap ku hirup udaramu Kau bagaikan sinar mentari di siang hari Menyelimutiku dengan terikmu Berada di atasku setiap waktu Kau bagaikan udara di sore hari Menyentuhku tak disengaja Membelai rambutku dan aku bahagia Kau bagaikan gelap di malam hari Tak pernah melihat wajahmu Tak pernah bermimpi kamu Kau adalah nafasku untuk hidup Yang selalu ku ingat setiap waktu untuk ku hirup
0
Jun 9, 2012
Jun 9, 2012 at 12:41 PM UTC
Kau Bagaikan
Terbayang akan wajah mu Saat pertama kau tersenyum kepada ku Tubuhku terasa diam terpaku Tak terucap sepatah kata dari mulutku Di hadapanmu dulu Ku sesali saat ku keluh Keinginan untuk bersamamu Kini hancur bagaikan debu Betapa hancurnya hatiku Berkeping-keping saat kau tinggalkan aku Yang ku mau kini selalu Jangan pernah lupakan aku
0
Oct 16, 2011
Oct 16, 2011 at 10:10 AM UTC
Jangan Lupakan
Ku terlelap seperti lalu lintas jakarta, berjalan dan berhenti, dari padat menjadi kosong. Yang tak tahu pergi kemana. Gambar-gambar yang lewat begitu saja seperti cepatnya kereta. Lampu-lampu jalan yang menerangi aspal hitam. penjual-penjual yang menjual minuman di lampu merah. Pengamen yang bermimpi membuat kemacetan menjadi hal musikal. Keringat-keringat dibalik helm dan jaket kulit. Tawa-canda dibaluti pendingin didalam mobil. Bis-bis kota dengan kepenuhan penumpang. Orang-orang yang mengumpat jika kau dengar dengan seksama, umpatan mereka begitu indah, tak ada seorangpun di bagian dunia lain mampu menirunya. para pedestrian yang semakin tergeser eksistensinya karena tak ada lagi ruang bagi mereka. Stasiun-stasiun yang nampak menakjubkan ketika sepi. Spanduk-spanduk keagamaan yang dipasang sembarangan sama layaknya dengan iklan-iklan yang berteriak ke telingamu tiap radius 10 meter. aku terlelap bagaikan lalu lintas jakarta. Aku tak tahu kemana.
0
Nov 17, 2013
Nov 17, 2013 at 1:55 AM UTC
Elegi Jakarta
Palembang. 24 Desember 2011 Ku panggil namamu Kamu ucapkan Selamat Tinggal! Aku raih tanganmu Kamu terus berjalan melepaskan genggamanku Aku menghampirimu di bangku taman Kamu beranjak pergi tanpa sepatah kata Ku bawakan buku favorit mu di perpustakaan Kamu malah membeli buku yang sama Kamu bagaikan kenyataan di masa depan Sungguh tak sanggup aku tuk menebakmu Tak mampu aku memenuhi semua kebutuhanmu Kamu pun tak pernah angkat bicara Apa mau mu? Aku terjatuh, kamu diam saja Apa yang ada di pikiranmu? Aku bicara, kamu memalingkan wajah Aku sakit, kamu tak tahu Aku menjauh, kamu mengejarku Aku menghilang, kamu mencariku Oh sayang, aku tak tahu apa mau mu
0
Dec 30, 2011
Dec 30, 2011 at 7:47 AM UTC
Apa Mau Mu
Palembang, Senin 7 November 2011 Bagaikan berharganya air mataku Hanya terjatuh bagi para berlian hatiku Yang sangat berarti bagiku Yang sangat dekat dengan ku Bagaikan rapuhnya hati ini Terasa sesak setiap mengingat dia Serasa ingin mati saja Tak mau lagi hidup jika ada dia Doaku tak sering ku panjatkan Hanya bisikan hati yang sering terngiang Rasaku sudah cukup tak perlu diberitahu Toh orang pun tak mau tahu Selalu minta yang terbaik Sungguh aku menginginkannya Agar tak lagi aku menangis sepi Supaya tak perlu aku berpura-pura Bagaikan tak terjadi apa-apa Padahal hati ini penuh luka
0
Nov 7, 2011
Nov 7, 2011 at 10:30 AM UTC
Air Mata Ku
Jalan menuju hatiku Bagaikan jalan berliku Bagaikan jalan berbatu Yang tikungannya tajam Penuh rintangan Jalanan jalanan ini menjadi saksi Bagaimana cinta bisa membutakan, Membutakan kalian dari kebenaran Tempat kalian tikung menikung tanpa memikirkan lagi pertemanan. Jalanan jalanan ini menjadi saksi Bahwa cinta itu ada Dan untuk mendapatkannya Butuh banyak pengorbanan Butuh banyak waktu Jalanan jalanan ini pernah menjadi saksi sebuah kisah cinta Kisah cinta tentang dua orang Yang dulu saling menyayangi Kisah aku dan kamu.
0
Mar 2, 2017
Mar 2, 2017 at 2:58 AM UTC
JALAN
Terbangun aku di kamar mimpi, dulunya kau ada di sisi, kini sepi, mata dan minda tempat ku jelajah, menerokai diri mu tanpa lelah, kembara kita tiada henti, kerna, tiap kali kita bersua, kucupan dan senyuman manis menghiasi pipi, ku susun aksara ini, untuk mereka tahu, bertapa indahnya kau di mata ku cereka tiada noktah atau koma, kerna di sini, kau kekal selamanya. Bila kau tiada, Jumantara ku gelita Malam ku sunyi tanpa suara, renjana pada roh ku kian lemah. ku berharap kita bersua lagi, dengan renjana sama dengan ku, kau bagaikan sahmura, menghiasi kamar mimpi, dengan ukiran kirana di bibir, kerna Gian aku kepada sanubari mu, tiada henti
0
Jun 16, 2022
Jun 16, 2022 at 3:27 AM UTC
Kamar Mimpi
Dalam retrospeksi minda naif kecilku pernah berimaginasi memikirkan dunia luar sana yang bagaikan fantasi hati merontakan suatu kebebasan yang diimpi namun kini ku sedari, itu semua hanyalah persepsi seorang gadis kecil yang dahulunya bercita-cita tinggi masa sudah tiba untuk kembali ke realiti. Selamat datang ke Kota Korupsi di mana manusia-manusia bertopengkan syaitan kehausan kuasa, kerakusan harta duniawi dipuja, dipuji dan disanjung tinggi pil penawar pula makanan ruji untuk depresi tiada lagi tempat mengadu, tempat meluahkan hati hanya tinggal kata-kata yang kehilangan erti terpapar di kotak skrin empat segi. Bangsaku semakin alpa, agamaku jauh sekali soal halal haram tidak dipertikaikan lagi hanya topik sembang santai di kedai kopi bicara hari nanti ditolak dahulu ke tepi. Dunia yang dahulu semakin pudar hanya serpihan di hujung sudut memori masa berlalu terlalu pantas, terlepas dari jari-jemari sekarang sudahpun tiba generasi baru menapakkan kaki namun, lihatlah sejarah mengulangi dirinya sekali lagi selagi nafas belum terhenti selagi kita belum pergi.
0
Dec 29, 2017
Dec 29, 2017 at 6:45 AM UTC
Kota Korupsi
*Ini aku, gambaran hatiku Kusertakan padamu, kusisipkan untukmu* Sejenak aku rebah, luka tanpa daya Aku didera puluhan cabikan Aku kalah dalam perang Perang melawan hatiku Gersang namun hujan Tandus namun ranum Itulah hatiku Malam demi malam kulalui Dengan mata terjaga Hari demi hari kulewati Ditemani gundah gulana *Aku yang hanya menunggu, bagaikan menantang murka laut* Tiang layarku patah dihantam ombak Kain layarku robek diterjang badai Aku terombang-ambing antara suka dan duka Ombak bergulung-gulung menanti di depanku Aku menoleh ke belakang, Menimang untuk merubah haluan Kutak rela
0
Aug 29, 2017
Aug 29, 2017 at 1:47 PM UTC
Gambaran Hatiku
Aku benci bila tutur bicara mu kurang jelas. Aku lalu bagaikan Si Pungguk merayu malam melabuhkan tirai. Putus asa rindukan purnama. Kerana terkandung butir kecil harapan dalam setiap bait yang kau coretkan. Yang telah kau utuskan. Padaku. Hening pagi pun tidak dinanti lagi. Izinkan ku teroka awan di sana Mungkin sayapku bukan untuk langit ini Mungkin persinggahanku bukan di lembah ini Jangan bimbang duhai cinta Senja berlabuh, aku sudah tiada.
0
Oct 11, 2013
Oct 11, 2013 at 8:52 AM UTC
Pungguk
Jakarta, 31 Mei 2008 Alunan piano mengarungi ku Melantunkan ayat-ayat indah Penuh harap atas ridho-Nya Enggan berbuat yang tak sempurna Ragaku gemetar, Serasa Aku mulai menyentuh-Nya Padahal ku tekan tuts-tuts nada Alangkah terkejut saat kau berkata Laksana Tuan menasehati Hamba-Nya Enggan berbuat tak sempurna Music terus ku mainkan Bagaikan hidup yang kekal Akankah sekekal masa? Niscahya indah hidup di Surga Gembira rasa hati hidup bahagia
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:35 AM UTC
A.M.P.E.R.A P.A.L.E.M.B.A.N.G
Seorang Part I Baru-baru ini aku merasakan yang hidup ini tidak lagi bermakna buat aku. Di mana aku rasa kosong setiap kali nak memulakan sesuatu. Bagaikan terputus tali layang-layang yang asyik ditiup angin di langit biru itu. Aku cuba dan terus mencuba untuk memahami setiap apa yang berlaku di sekeliling aku. Akhirnya aku masih di situ dan terbelenggu keseorangan tanpa sesiapa pun sedar aku di mana. Tidak ada tangan yang mahu menolong aku apatah lagi bahu untuk ku sandarkan tiap kali aku mencurahkan air mata. Aku keseorangan. Seorang Part II Aku masih diam di situ kaku. Sejenak aku terdetik untuk mendongak ke langit. Tika itu kelihatan malam pekat dihiasi dengan bintang-bintang berkerlipan penuh gemerlapan dan juga bulan yang terang memukau aku seketika. Waktu itu aku masih ingin menangis lagi kerana aku lupa pada Yang Maha Mendengar Yang Maha Melihat Yang Maha Mengasihi. Aku alpa kerna selama ini aku melupakan Yang Maha Berkuasa. Aku merasakan kerdil waktu itu dan pada saat itu juga aku merasakan aku dibius semangat baru. Seorang Part III ...........................................................................................
0
Nov 28, 2014
Nov 28, 2014 at 2:57 PM UTC
Seorang
Dia, Bagaikan angin yang menderu, Lembut dan tenang menyapaku. Bagaikan matahari, Menerangi hidupku. Di kala aku kesunyian, Dia menjelma. Di kala aku kesepian, Dia juga yg ada untukku. Di kala aku sedih, Dia tempatku mengadu. Dikala aku gembira, Dia yang aku mahu. Tidak bermakna hidupku, Tanpa dia di sisi ku.
0
Jan 16, 2015
Jan 16, 2015 at 12:12 AM UTC
Dia
indahnya kota jogjakarta pada malam itu tidak seberapa indah dengan binar mata dan senyum lekuk bibir mu pada malam itu, bising klakson mobil pada kemacatan malam itu bahkan bukanlah perihal yang menggangu. nyaman, bahkan bagiku semua tenang. teringat jelas bagaimana kita menelusuri kota jogja sambil mendengarkan lagu saat kau menggengam tanganku erat, bagaikan takut kehilangannya. untukmu Tuan, sosok yang selalu memberikan ku kehangatan di malam hari disaat semua bergetar kedinginan. tubuh dan ragamu yang amat ku kasihi, terima kasih sudah memperlihatkan indahnya dunia yang pernah jahat ini. padamu Tuan, aku mengundangmu untuk sejenak meletakan kepala mu dibahuku dan menikmati malam yang indah, berdua.
0
Jan 9, 2019
Jan 9, 2019 at 12:30 PM UTC
Jogjakarta malam itu
teruntuk bulan Juli, walaupun aku selalu membenci hujan dan bagaimana air turun dari langit, bagaimana hujan menghancurkan segala hari-hariku dan lembab tanah yang mengganggu, dan yang pada akhirnya bulan Juli, mataharimu bersinar cerah, dan saking teriknya, panasmu menusuk jiwa bagaikan aku tidak siap untuk segalanya, aku jatuh sendirian dan sejujurnya, naif. aku rindu, langit gelap dan aroma basah tanah saat air hujan turun, aku rindu, kamu memegang tangan eratku pada tengah hujan di kota itu teruntuk bulan Juli, maukah kamu untuk terakhir kali menjatuhkan hujan dari langitmu itu? bukan, bukan untuk mengenang hal indah, tidak, tidak, untuk apalagi? hujan di bulan Juli, aku mohon, hanya untuk membasuh semua luka sakit.
0
Jul 11, 2019
Jul 11, 2019 at 12:40 PM UTC
hujan di bulan Juli
Dirimu bagaikan api yang membara Panas jika disentuh sembarang, Tapi indah jika aku menatapnya dengan benar. Dirimu bagaikan lautan yang luas Tenggelam jika tidak berhati-hati, Tapi bisa membuatku menghargai keindahanya. Bagiku dirimu adalah keindahan Tapi bagimu diriku hanyalah sepotong cerita masa lalu.
0
Jun 23, 2018
Jun 23, 2018 at 1:14 PM UTC
Keindahan Sendiri
Pertama kalinya kugenggam tanganmu Satu kembang api dipantik dari ulu hatiku Seribu lainnya menyusul saat jemari kita saling bertaut Menghiasi langit malam dengan pendar menggoda Hitam pekat dibasuh percik api warna-warni Kusaksikan dengan jelas saat kutatap wajahmu lekat-lekat Kala itu tak satupun kata berhasil kita ucapkan Namum dalam hati, tiap detik kulayangkan ribuan doa dan segala mantra : "Tuhan sang empunya dunia ini, hendaklah hentikan waktu sejenak untuk hambamu ini. Atau panjangkanlah malam sebelum mentari terbit nanti. Terima kasih Engkau turunkan bidadari, tepat disebelah hambamu ini". Rambutmu bagaikan ombak musim panas Bergulung-gulung indah harum manis bergairah Namun dadaku layaknya laut dikala badai Gemuruh layaknya seribu ksatria berkuda Inginku berteriak sekencang-kencangnya Gemanya terdengar sampai kampung Ayah-Ibuku Jikalau nun jauh di belahan dunia sana Seseorang berhasil menginjakkan kakinya di bulan Inginku umumkan pada dunia Malam itu akulah manusia pertama yang berhasil menggenggam bulan Akulah pungguk yang melawan seluruh hukum gravitasi Akulah pungguk yang tak lagi merindukan bulan Kalau saja bisa, saat itu juga Ingin kutuliskan berlembar-lembar puisi cinta Ingin kupetik gitar dan bersenandung mesra Karena bisikan lembutmu melantunkan hasrat hidup Tatapan sayumu membiaskan mimpi-mimpiku Senyuman indahmu melukiskan harapan-harapanku Mimpi dan harapan seorang lelaki biasa Menghabiskan hidup dengannya, tuan putriku ratuku, malaikatku, wanitaku yang istimewa
0
Jun 4, 2018
Jun 4, 2018 at 12:31 PM UTC
Kugenggam Tanganmu
Pertama kalinya kugenggam tanganmu Satu kembang api dipantik dari ulu hatiku Seribu lainnya menyusul saat jemari kita saling bertaut Menghiasi langit malam dengan pendar menggoda Hitam pekat dibasuh percik api warna-warni Kusaksikan dengan jelas saat kutatap wajahmu lekat-lekat Kala itu tak satupun kata berhasil kita ucapkan Namum dalam hati, tiap detik kulayangkan ribuan doa dan segala mantra : "Tuhan sang empunya dunia ini, hendaklah hentikan waktu sejenak untuk hambamu ini. Atau panjangkanlah malam sebelum mentari terbit nanti. Terima kasih Engkau turunkan bidadari, tepat disebelah hambamu ini". Rambutmu bagaikan ombak musim panas Bergulung-gulung indah harum manis bergairah Namun dadaku layaknya laut dikala badai Gemuruh layaknya seribu ksatria berkuda Inginku berteriak sekencang-kencangnya Gemanya terdengar sampai kampung Ayah-Ibuku Jikalau nun jauh di belahan dunia sana Seseorang berhasil menginjakkan kakinya di bulan Inginku umumkan pada dunia Malam itu akulah manusia pertama yang berhasil menggenggam bulan Akulah pungguk yang melawan seluruh hukum gravitasi Akulah pungguk yang tak lagi merindukan bulan Kalau saja bisa, saat itu juga Ingin kutuliskan berlembar-lembar puisi cinta Ingin kupetik gitar dan bersenandung mesra Karena bisikan lembutmu melantunkan hasrat hidup Tatapan sayumu membiaskan mimpi-mimpiku Senyuman indahmu melukiskan harapan-harapanku Mimpi dan harapan seorang lelaki biasa Menghabiskan hidup dengannya, tuan putriku ratuku, malaikatku, wanitaku yang istimewa
Continue reading...
30
Setiap yang datang pun aku rasa bagaikan yang terakhir yang akan menjadi penutup karangan pendek hidupku Pasti aneh rasa jika ketemu yang satu itu kerana aku tak pernah kecap rasa aneh itu untuk kesemuanya
0
Mar 25, 2015
Mar 25, 2015 at 11:29 AM UTC
Sampai Masa
ku katakan pada kau, jika pada akhirnya tidak akan berjalan lurus seperti yang di damba-damba kan. ingatlah bahwa kau dan aku telah terjatuh didalam perjalanan yang amat panjang dan melelahkan, dan jika kau meminta ku untuk memutar balik agar tidak lagi berjalan bersama, bagaikan sama saja dengan bunuh diri, walaupun akhirnya akan mati, setidaknya kita mati berdua, setidaknya kita pernah bahagia.
0
Jan 8, 2019
Jan 8, 2019 at 12:46 AM UTC
setidaknya aku mati bahagia
RODA BERPUTAR KESANA KEMARI MENGIKUTI ALUNAN HATI DAN ENGKAU TETAP DIAM MENATAP KECERMELANGAN YANG MENGHAMPIRIMU SEKETIKA MENYEJUKKAN ENGKAU KEMBALI ALANGKAH BESAR LUAS SAMUDERA RAYA MENCOBA MENGUTARAKAN INDAHNYA DIRIMU SAYAP-SAYAP MENAUNGI DIRIMU DENGAN ENGKAU TERJAGA BAGAIKAN MAHKOTA YANG TERINDAH
0
Oct 12, 2018
Oct 12, 2018 at 3:24 PM UTC
PERNAK-PERNIK KEHIDUPAN