Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
"bagai" poems
Palembang, 22 Juni 2011 Api itu hampir merajai waktu Merenggut harta benda tanpa ampun Mangarang tubuh yang sesepuh Duduk pun terdiam di kursi besi butut Kekuatan api bagai Sang Supernova Membumbung tinggi tak ada yang terjaga Meletup-letup bagai haus dan lapar Tinggallah hamparan abu di senja tiba Sebelum fajar menyingsing indah Berisik di tengah jalan sirine mengulang Langkah kaki mondar-mandir yang tentu arah Bergotong royong pun dengan peluh dan baju basah Ku duduk terdiam terpaku Setengah melamun di sebelum senja muncul Ku tersadar pun di tengah padam lampu Dan ku lihat Monalisa tersenyum pada ku Ku duduk bersimpuh di kaki Menunduk dan berharap ini hanya mimpi Dan aku bangkit tuk lihat situasi Ku dengar mayat rapuh bagai tiada arti lagi Tak mampu tumpah air mata Hanya tubuh kaku mati rasa Pikiran yang ingin selalu waspada Mental ini rapuh butuh udara Abu terasa di mana-mana Terinjak, menyatu dengan tanah Menutup mata kini selaalu terjaga Menjaga hari tanpa Supernova 9 Juni penuh cerita Di bawah tangisan dan panikan Wanita memasak dan menjaga anak Pria bahu membahu membangun rumah
0
Oct 28, 2011
Oct 28, 2011 at 1:26 AM UTC
Cerita Semi (9 Juni 2011)
Hati sedih nan gelisah Tak tau apa yang harus diperbuat Kaki bagai lari ke ujung dunia Peluh terasa lengket bercucuran Seakan hanya mengikuti jejak Tak tau arah yang benar Mata sayup ingin terpejam Terhalang Guntur yang menggelegar Menggelegarkan nadi meretakan hati Serpih-serpih peluh yang menjadi-jadi Seakan lari menggapai dunia Melawan angin yang amat kencang Sambil berpegang kawat besi tembaga Berjalan di atas angin yang bergoyang
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 10:01 AM UTC
Hati Ku
Palembang, Selasa 21 Juni 2011 Aku punya mimpi mulia Butuh seribu tahun tuk menggapainya Ku tak serius, hanya mengira Karena ku selalu tak sempurna tuk jalaninya Hingga betisku biru Lututku lecet Bobot tubuhky berlipat Sampai pikiran ku sangat terbebani Hanya dapatkan phobia sesaat Saat api kulihat di mata tepat Mulutku kelu ludahku kering dan aku berkeringat Dan tersadar tak satupun peduli aku di malam pekat Ingat hanya aku tahu semampunya Tak buktikan apa-apa yang telah ku buat Orangpun merendahkan aku bagai tersiksa Tak bisa ku membela sendiri karna tlah telat Sadar-sadar di hari nan senja Bahwa ku makan hanya sisa saja Ku terima karena ku akui aku memang suka Berharap perbaikan akan datang mangubah semua Nama-Nya selalu ku sebut di setiap masa Meski aku dan Dia tahu bahwa aku masih salah Namun salahkah aku masih ingin dicinta? Kepalaku berat bagai hampir tak bernyawa
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 9:28 AM UTC
Short Story
voice over: narrator Pemberitahuan terakhir disuarakan, keberangkatan pesawat tujuan Frankfurt Airport akan lepas landas tak lama lagi lagi, orang-orang bersiap masuk kabin. Ada satu hal yang terlintas di pikiran Atlas; ia tahu Venus tidak akan datang. Tidak dalam hitungan waktu tiga puluh menit, sepuluh menit, apalagi lima menit. Percuma saja menunggu, Venus benar-benar tidak datang. Perpisahan mereka sudah berlangsung semalam, pertemuan terakhir yang berhasil membuat Atlas berkali-kali memutar ulang seluruh adegan, mendengar suara gelak tawa mantan pacarnya dalam benak khayal, membayangkan senyuman Venus yang ia lukiskan untuknya terakhir kali. Pertemuan terakhir mereka kemarin bahkan tidak terasa seperti perpisahan, namun tetap bagi Atlas terasa begitu janggal. Mungkin karena terlalu tiba-tiba dan cepat, pertemuan terakhir yang merupakan perpisahan, pertemuan terakhir paling bahagia dan paling sedih, yang juga menyudahi hubungan singkat mereka. Sejenak Atlas merasa sendu. Dalam lubuk hatinya masih sesekali berharap Venus meneleponnya, mengatakan bahwa ia akan datang mengucapkan selamat tinggal. Namun, nyatanya ucapan selamat tinggal Venus hanya berupa memori-memori tentangnya; seratus hal yang tertanam sejati di dalam hati Atlas mengenai segala hal tentang kejanggalan perempuan itu, gelak tawanya, senyumanya, aroma tubuhnya, kerlingan matanya, rambut hitam tebalnya, wajah pemikirnya, serta sosoknya yang seringkali membuat dirinya bertanya-tanya; kisah apa saja yang tidak diketahuinya, yang pernah terjadi dalam sejarah hidupnya sehingga membentuk pribadi sepertinya yang begitu terlihat bagai keajaiban seni paling nyata di mata Atlas? Baginya, Venus adalah sebuah takdir dan keajaiban menjadi satu. Dan, ia tidak akan pernah ada niat untuk melupakannya.
0
Jan 28, 2017
Jan 28, 2017 at 6:56 AM UTC
daydreaming part 2: tentang perpisahan
voice over: narrator Pemberitahuan terakhir disuarakan, keberangkatan pesawat tujuan Frankfurt Airport akan lepas landas tak lama lagi lagi, orang-orang bersiap masuk kabin. Ada satu hal yang terlintas di pikiran Atlas; ia tahu Venus tidak akan datang. Tidak dalam hitungan waktu tiga puluh menit, sepuluh menit, apalagi lima menit. Percuma saja menunggu, Venus benar-benar tidak datang. Perpisahan mereka sudah berlangsung semalam, pertemuan terakhir yang berhasil membuat Atlas berkali-kali memutar ulang seluruh adegan, mendengar suara gelak tawa mantan pacarnya dalam benak khayal, membayangkan senyuman Venus yang ia lukiskan untuknya terakhir kali. Pertemuan terakhir mereka kemarin bahkan tidak terasa seperti perpisahan, namun tetap bagi Atlas terasa begitu janggal. Mungkin karena terlalu tiba-tiba dan cepat, pertemuan terakhir yang merupakan perpisahan, pertemuan terakhir paling bahagia dan paling sedih, yang juga menyudahi hubungan singkat mereka. Sejenak Atlas merasa sendu. Dalam lubuk hatinya masih sesekali berharap Venus meneleponnya, mengatakan bahwa ia akan datang mengucapkan selamat tinggal. Namun, nyatanya ucapan selamat tinggal Venus hanya berupa memori-memori tentangnya; seratus hal yang tertanam sejati di dalam hati Atlas mengenai segala hal tentang kejanggalan perempuan itu, gelak tawanya, senyumanya, aroma tubuhnya, kerlingan matanya, rambut hitam tebalnya, wajah pemikirnya, serta sosoknya yang seringkali membuat dirinya bertanya-tanya; kisah apa saja yang tidak diketahuinya, yang pernah terjadi dalam sejarah hidupnya sehingga membentuk pribadi sepertinya yang begitu terlihat bagai keajaiban seni paling nyata di mata Atlas? Baginya, Venus adalah sebuah takdir dan keajaiban menjadi satu. Dan, ia tidak akan pernah ada niat untuk melupakannya.
Continue reading...
4
Untukmu Cinta Sejuta kata tercipta untukmu Segenap jiwa ku serahkan padamu Hingga akhir waktu ku sembahkan hanya untuk mu Meski tak kau terima Cinta dalam hati ku Terhempas begitu saja Bagai dari langit ku jatuh Ingin ku berenang di lautan Arungi samudera bersama ombak Desir pasir melagukan alunan daun Lambaian tangan untuk berselancar Indah cinta mengikat raga Satu aliran nadi di salam darah Mulut mengucap selalu kata cinta Hati pun akan selalu bahagia
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:53 AM UTC
Untukmu Cinta
Jika aku berdosa Tuhan Hati tak ingin disalahkan Karena jiwa yang serakah Telah terbelah menjadi dua Ingin hati terbang ke Surga Apadaya terbelenggu senja Mentari panasi dunia Bagai raga ku yang mulai gersang Tuhan... Tolong... Teriakan ku memohon Hujanilah raga ku yang gersang ini Beri tanda jiwa yang asli Jiwa keras bagai karang Terhempas ombak baru mengalah Jiwa lembut bagai awan Terhempas angin baru tersadar Sadar akan 2 jiwa yang terbagi Begitu berbeda bagai langit dan bumi Amat berbeda bagai air dan api Ku sadari, aku manusia yang Munafik Created by Aridea Purple
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:39 AM UTC
Munafik
Jakarta, 10 Mei 2008 Suara gitar mu indah Sayang… Lirikmu pun buat ku menangis Bagaimana aku bisa memeluk mu? Ucap kata cinta untukmu Atau cium kening mu… Dengan penuh rasa cinta Karena kau ciptakan lirik indah Bagai Untukku Selamanya Kau tak perlu tau Sayang… Aku di sini inginkan kamu Sungguh lagumu cerminanmu Meski tak seindah kamu Lirik lagumu luluhkan hati ku Sampai kapanpun ku tetap sayang kamu Tak perlu kau jawab bahwa kau sayang aku Dengar lagumu di sini pun Hati ku s’lalu tersenyum untukmu
0
Oct 16, 2011
Oct 16, 2011 at 10:00 AM UTC
Sayang . . .
Inderalaya, 27 Agustus 2014 Seorang gadis kebingungan di antara kerumunan orang dewasa yang asyik menikmati pesta dansa yang diadakan penguasanya Matanya biru terang, namun jauh di lubuk hatinya, ia begitu kelam Seorang yatim yang ditinggalkan ibundanya tuk melayani pria yang bukan pasangannya Gadis itu terpaku, hanya sendiri di tengah-tengah manusia lain berdansa berpasangan Namun dia hanya sendirian Musik telah terlalu lama menyeberangi gendang telinganya Otot-otot di kepalanya mulai berontak tuk membuat gadis itu pergi meninggalkan tempat ia berada Namun ia hanya diam, matanya memancar sorot sangat kebingungan Pikirannya terbang jauh menelusuri kenangan saat ia masih balita dibawa Ayahnya pergi ke taman paling indah di negaranya Dentuman keras kaki-kaki manusia yang masih berdansa tanpa lelah dan tanpa jeda Menyadarkan sekali lagi bahwa gadis itu masih sendirian Kaki gadis itu serasa tak mampu lagi tuk melangkah Maka ia mulai membuat gerakan tak berarti pada kedua tangannya. ke kanan dan ke kiri, mengitari tubuhnya Semakin lama gerakan tangannya semakin cepat dan kini gadis itu menari pada akhirnya Sekali lagi, ia menari sendiri, berputar-putar bagai roda yang diputar pedal sepeda Kini semakin cepat gadis itu berputar-putar Semakin cepat Semakin cepat Semakin makin cepat Gadis itu menutup matanya, ia bahkan dapat merasakan detakan jantungnya Ia memutar makin cepat dan sangat cepat Sampai akhirnya di antara putaran yang cepat itu, ia berteriak AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH Ia kemudian terjatuh di pelukan Ayahnya Sang Ayah yang telah lama pergi meninggalkannya Sang Ayah kini kembali, namun tiada satupun manusia di sana menyadari kehadirannya Pesta dansa terhenti dan semua pasang mata tertuju pada pemandangan tak biasa di tengah-tengah mereka Sang Gadis sedang berdansa dengan Ayahnya Suasana menjadi hening, hentak kaki manusia yang sedang berdansa kini benar-benar sunyi Oh kelamnya hidup ini
0
Aug 27, 2014
Aug 27, 2014 at 12:43 AM UTC
Berdansa Lagu Sedih
Inderalaya, 27 Agustus 2014 Seorang gadis kebingungan di antara kerumunan orang dewasa yang asyik menikmati pesta dansa yang diadakan penguasanya Matanya biru terang, namun jauh di lubuk hatinya, ia begitu kelam Seorang yatim yang ditinggalkan ibundanya tuk melayani pria yang bukan pasangannya Gadis itu terpaku, hanya sendiri di tengah-tengah manusia lain berdansa berpasangan Namun dia hanya sendirian Musik telah terlalu lama menyeberangi gendang telinganya Otot-otot di kepalanya mulai berontak tuk membuat gadis itu pergi meninggalkan tempat ia berada Namun ia hanya diam, matanya memancar sorot sangat kebingungan Pikirannya terbang jauh menelusuri kenangan saat ia masih balita dibawa Ayahnya pergi ke taman paling indah di negaranya Dentuman keras kaki-kaki manusia yang masih berdansa tanpa lelah dan tanpa jeda Menyadarkan sekali lagi bahwa gadis itu masih sendirian Kaki gadis itu serasa tak mampu lagi tuk melangkah Maka ia mulai membuat gerakan tak berarti pada kedua tangannya. ke kanan dan ke kiri, mengitari tubuhnya Semakin lama gerakan tangannya semakin cepat dan kini gadis itu menari pada akhirnya Sekali lagi, ia menari sendiri, berputar-putar bagai roda yang diputar pedal sepeda Kini semakin cepat gadis itu berputar-putar Semakin cepat Semakin cepat Semakin makin cepat Gadis itu menutup matanya, ia bahkan dapat merasakan detakan jantungnya Ia memutar makin cepat dan sangat cepat Sampai akhirnya di antara putaran yang cepat itu, ia berteriak AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH Ia kemudian terjatuh di pelukan Ayahnya Sang Ayah yang telah lama pergi meninggalkannya Sang Ayah kini kembali, namun tiada satupun manusia di sana menyadari kehadirannya Pesta dansa terhenti dan semua pasang mata tertuju pada pemandangan tak biasa di tengah-tengah mereka Sang Gadis sedang berdansa dengan Ayahnya Suasana menjadi hening, hentak kaki manusia yang sedang berdansa kini benar-benar sunyi Oh kelamnya hidup ini
Continue reading...
31
mana mungkin rindu aku terasa jika diungkap dengan bait bahasa sayang dakaplah aku rasakan rindu aku kerna mana bisa ayat dan kata curah rasa ini andai kau rasa perit dan pahit ini, lepaskan lah. biar aku bebas terokai dunia tanpa rasa sekat dalam raga aku penat -menunggu sesuatu yang tidak pasti dalam hal ini, adalah kamu jalan yang dahulu kita lewati tengah malam kini kian sunyi dulu, ada sahaja tawa kita kedengaran entah bukan aku tidak cuba untuk berhenti ada fikiran tentang kamu tapi bagai aku tersekat sayang andai kau rindu andai kau rasa perit dan pahit ini lepaskan lah aku agar aku bebas teroka dunia
0
May 10, 2016
May 10, 2016 at 10:12 AM UTC
ada apa pada rindu pt2
Hari ku tak tenang Tanpa alun lagu terindah Di pantai sana Bagai tempat ku merana Jeritan ombak bagai mewakili Hati ku yang sedang menangis di sini Risauan burung tanpa henti Bagai raga ku yang terancam Tak akan melihatmu lagi Saat cahaya mentari redup Bagai mimpi ku yang telah berakhir Begitu menyesalnya aku Tak dapat cinta nya Yang pasti akan indah sampai ku mati Created by Aridea Purple
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:38 AM UTC
Nuansa Pantai
Fadil sungguh memilikinya Akan bahagia terasa selamanya Dihiasi lirik lagu yang indah Itulah momen special sepanjang masa, dengan Luapan cinta kasih di sekelilingnya Angkasa, bagai terbang melayang Nuansa hati hadir tercipta Ejaan kata terhias di awan-awan Sungguh indah langit terhias Pegang tangan erat-erat Untuk menantang tornado yang datang Tak terlepas, bahkan jangan sampai Riang selalu walau terhempas Agar cinta kan sampai bersama di surga
0
Oct 16, 2011
Oct 16, 2011 at 10:13 AM UTC
F.A.D.I.L A.N.E.S P.U.T.R.A
Tergetar nadi ku saat teriakanmu Tersenyum aku saat melihatmu Bagai mentari pelawan gelap Bagai jiwa ku yang amat tenang Saat terjunan air membasuh raga Alangkah indahnya pelangi melingkar Bercahaya terang amat indah warnanya Begitu segar sambil menatapnya Tatapan itu tak sama Dengan saat aku menatapmu Di hati ku hanya kau yang terindah Tak tertandingi dari apapun Cinta... Segelas darah ku buang Selaut air mata ku tumpahkan Saat ku lihat kini kau berada di Surga Created by Aridea Purple
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:45 AM UTC
Kenang Cinta
Ya Tuhan Berikanlah aku jodoh seperti Ayahku Yang mencintaiku meskipun tahu putrinya banyak kekurangan Yang selalu mendoakan yang terbaik dan tak mengijinkan hati putrinya terluka Ya Tuhan Ijinkan aku memilih pasangan seumur hidupku, yaitu seperti Ayahku Yang tak pernah melukai hatiku dan memanjakanku bagai Putri Ya Tuhan Pertemukanlah aku dengan jodohku yang seperti Ayahku Yang akan melindungiku dari bahaya apapun Yang takkan melukaiku dengan ucapan kasar Ya Tuhan Aku membutuhkannya sekarang
0
Feb 9, 2015
Feb 9, 2015 at 11:13 AM UTC
jodoh seperti Ayah
perjalananmu pasti cukup melelahkan, bahkan menjadi buta pun bisa melihatnya dengan baik. ini, disini, rebahkanlah kekhawatiranmu yang semakin hari menjadi gusar dalam doa-doa yang tabah. akan kuganti dari setiap amin yang kamu titipkan pada malam diam-diam. hati yang kemarin kamu pertaruhkan untuk menemukanku dalam mereka laut yang kesulitan kamu pelajari siapa Tuhannya, yang telah bersusah payah kamu coba taklukkan. tidak apa-apa. tenggelamlah sesekali, mungkin lima, teguk pilunya, dan pelajari dengan bijak. pada akhirnya, jiwamu yang diberi nama manusia akan piawai membawa diri. paling sedikit, penjaga yang tahu kapan dan untuk apa waktunya sepadan dengan raga yang tersedia. aku akan menerima sebutan sialan, menyebalkan! dalam hidup bagai keputusasaan jarum dalam jerami dengan senang hati, malah. setidaknya, kamu adalah pelaut yang cukup handal karena aku, dari jatuh-bangun-tenggelam-terbentur-salah nama dan angkatan telepon yang kesalnya harus diangkat. bahkan, syukurku akan terpenuhi menjadi sebuah tetes melengkapi lautanmu. aku adalah satu tetes yang akan cukup membuatmu rumpang kapan saja, yang akan kamu kejar dengan bodohnya kapan saja. katakan saja terdengar ganjil. siapa peduli. aku tidak akan menjadi mudah karena aku adalah pembalut kulit dan hati terlukamu dan akan selamanya menjadi tugasku. namaku lebih dari sebuah harap. aku tak akan pernah dan ingin menjadi harap, sebab payah adalah nama kedua dari harap. aku adalah, “kamu bisa mempunyai bagian besar dari kue ini.” atau, “tentu saja. aku punya alasan untuk mengemudi dengan hati-hati dan kembali.” namaku sederhana. sederhana dan akan selalu nyaman. setelah hari itu yang penuh prasangka dan tanda tanya dari dunia yang kamu kenal dan tidak. namaku adalah seorang pelindung dan pahlawan yang gigih nafasnya, nama yang ketika rindumu akan lapar dan kehausan menemui pelepasnya. aku adalah kemenangan dan hadiah kemurahan hati. rumah.
0
Jan 18, 2019
Jan 18, 2019 at 8:53 AM UTC
Akan Ku Peluk Apa yang Berantakan Darimu
perjalananmu pasti cukup melelahkan, bahkan menjadi buta pun bisa melihatnya dengan baik. ini, disini, rebahkanlah kekhawatiranmu yang semakin hari menjadi gusar dalam doa-doa yang tabah. akan kuganti dari setiap amin yang kamu titipkan pada malam diam-diam. hati yang kemarin kamu pertaruhkan untuk menemukanku dalam mereka laut yang kesulitan kamu pelajari siapa Tuhannya, yang telah bersusah payah kamu coba taklukkan. tidak apa-apa. tenggelamlah sesekali, mungkin lima, teguk pilunya, dan pelajari dengan bijak. pada akhirnya, jiwamu yang diberi nama manusia akan piawai membawa diri. paling sedikit, penjaga yang tahu kapan dan untuk apa waktunya sepadan dengan raga yang tersedia. aku akan menerima sebutan sialan, menyebalkan! dalam hidup bagai keputusasaan jarum dalam jerami dengan senang hati, malah. setidaknya, kamu adalah pelaut yang cukup handal karena aku, dari jatuh-bangun-tenggelam-terbentur-salah nama dan angkatan telepon yang kesalnya harus diangkat. bahkan, syukurku akan terpenuhi menjadi sebuah tetes melengkapi lautanmu. aku adalah satu tetes yang akan cukup membuatmu rumpang kapan saja, yang akan kamu kejar dengan bodohnya kapan saja. katakan saja terdengar ganjil. siapa peduli. aku tidak akan menjadi mudah karena aku adalah pembalut kulit dan hati terlukamu dan akan selamanya menjadi tugasku. namaku lebih dari sebuah harap. aku tak akan pernah dan ingin menjadi harap, sebab payah adalah nama kedua dari harap. aku adalah, “kamu bisa mempunyai bagian besar dari kue ini.” atau, “tentu saja. aku punya alasan untuk mengemudi dengan hati-hati dan kembali.” namaku sederhana. sederhana dan akan selalu nyaman. setelah hari itu yang penuh prasangka dan tanda tanya dari dunia yang kamu kenal dan tidak. namaku adalah seorang pelindung dan pahlawan yang gigih nafasnya, nama yang ketika rindumu akan lapar dan kehausan menemui pelepasnya. aku adalah kemenangan dan hadiah kemurahan hati. rumah.
Continue reading...
11
Ulang tahun singkat ku Ingin ku rayakan di Surga-Mu Yang indah penuh warna pelangi Yang panjang, ku harap bagai usia ku Ku yakin kamu tak kan tau Hari ulang tahun ku Namun, melihat senyummu dari jauh Adalah hadiah terindah di Hari Ulang Tahun ku Kue tinggi tidak ada Lilin pun tak menyala Hanya ku tusuk di atas tanah Ku ucapkan harap ku selamanya
0
Feb 18, 2012
Feb 18, 2012 at 10:58 PM UTC
Ulang Tahun Ku
Jakarta, Selasa 8 April 2008 Kerlip indah di malam Awal hidup bahagia Melukiskan kata cinta Indah cinta tercipta Bagai bintang di surga Cinta ku indah di atas Bintang yang bercahaya terang Membawa kasih cinta Menebarkan padanya Cinta ku suci padanya Surga-Mu indah penuh bintang Membawa kasih cinta Tuk sampaikan padanya Bercahayalah tenang Hingga akhir jiwa ku Hingga hati kan terluka Indah cinta terlukiskan Bagai bintang di surga
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 10:02 AM UTC
Bintang
Jakarta, Minggu 31 Agustus 2008 Jika malam ini indah … Ku kan memuji bintang-bintang Tanpa sakit ku sementara Ku beri senyum indah tuk mereka Namun bila sebaliknya Ku kan jatuh dari langit Dan tertimpa sakit selamanya Aku kan menangis tuk mereka Dunia ku memang tak indah Bagai hancur saat bumi berputar Hati ku pun bertahan Tuk tetap indah selamanya Dan biarkan cinta Ku tunggu darinya
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 10:09 AM UTC
Cinta Dari-Nya
Jakarta, Senin 20 Oktonber 2008 Malam ini aku bersedih Aku menangis, aku berfikir Agar waktu menunggu Hingga aku mulai tenang Cobaan hidup datang Melumuri ragaku Hingga terasa lumpuh Tak berdaya bagai mati Ku tunggu hujan bunga Yang harum bebaskan raga Mungkinkah aku bisa sabar? Jika petir tetap menyambar
0
Oct 17, 2011
Oct 17, 2011 at 8:27 AM UTC
Cobaan Hidup
Seteguk apapun, semua tak akan berakhir Aku adalah seorang pemabuk yang selalu menguarkan harum arak kemanapun aku pergi. Anggur, dan berbotol-botol ***** telah kutenggak pagi ini. Dan hanya hari ini pula aku ingin bicara, tentang segenggam racun yang kalian semua suntik ke dalam nadi dan pembuluhku. Topeng yang dengan bangga kalian pakai tak ubahnya ketelanjangan hanya mengumbar malu dan aib Tawa yang sesenggukan kalian jeritkan hanyalah tangis jiwa kalian yang memudar memutihkan kejujuran dan kebajikan Oh, beginikah cara kerja dunia berduri dan berbatu, sama saja disetiap lajurnya kemanapun aku pergi, dijejali mulutku dengan dusta dan hanya dusta belaka Menghitamnya jiwaku, seandainya bagai langit malam tak ada chandra di ufuknya Sudah selayaknya aku berkabung atas jiwaku, dimana dia merintih penuh sesal dan tanya. Apakah lalu lalang motor dan diesel itu memusingkan kepala atau hanya sebuah kesibukan belaka. Dan dengan itu pula jiwaku berakhir, terdiam, dalam kematian. Kukubur dia dengan layak, diantara nisan-nisan lain disekitarku, yang diberi nomor, sesuai urutannya. Jiwaku tersungkur di nomor tujuh. Beruntung sekali! Kukubur dia, pelan sekali dengan tertidur. Tak berharap bangun lagi di keesokan pagi. Kutaburi bunga-bunga dan prosa yang harum, dan kusiram dengan sebotol Martini dan bir. Harum. Seharum embun yang kau injak ditepian jalan. Wangi. Sewangi sukmamu yang kuingat telah pergi. Aku adalah pemabuk. Yang selalu menenteng sebotol arak, bermabuk di tepian jalan kehidupan. Mengambil jeda diantara kalimat-kalimat mencela dan busuk, yang tergelincir masuk ke dalam telingaku. Botol-botol inilah sang penawar, berminum pula para nabi terdahulu menyesali umatnya, sedangkan aku? Menyesali kalian.
0
Sep 7, 2016
Sep 7, 2016 at 12:30 PM UTC
Sebotol Penawar
Seteguk apapun, semua tak akan berakhir Aku adalah seorang pemabuk yang selalu menguarkan harum arak kemanapun aku pergi. Anggur, dan berbotol-botol ***** telah kutenggak pagi ini. Dan hanya hari ini pula aku ingin bicara, tentang segenggam racun yang kalian semua suntik ke dalam nadi dan pembuluhku. Topeng yang dengan bangga kalian pakai tak ubahnya ketelanjangan hanya mengumbar malu dan aib Tawa yang sesenggukan kalian jeritkan hanyalah tangis jiwa kalian yang memudar memutihkan kejujuran dan kebajikan Oh, beginikah cara kerja dunia berduri dan berbatu, sama saja disetiap lajurnya kemanapun aku pergi, dijejali mulutku dengan dusta dan hanya dusta belaka Menghitamnya jiwaku, seandainya bagai langit malam tak ada chandra di ufuknya Sudah selayaknya aku berkabung atas jiwaku, dimana dia merintih penuh sesal dan tanya. Apakah lalu lalang motor dan diesel itu memusingkan kepala atau hanya sebuah kesibukan belaka. Dan dengan itu pula jiwaku berakhir, terdiam, dalam kematian. Kukubur dia dengan layak, diantara nisan-nisan lain disekitarku, yang diberi nomor, sesuai urutannya. Jiwaku tersungkur di nomor tujuh. Beruntung sekali! Kukubur dia, pelan sekali dengan tertidur. Tak berharap bangun lagi di keesokan pagi. Kutaburi bunga-bunga dan prosa yang harum, dan kusiram dengan sebotol Martini dan bir. Harum. Seharum embun yang kau injak ditepian jalan. Wangi. Sewangi sukmamu yang kuingat telah pergi. Aku adalah pemabuk. Yang selalu menenteng sebotol arak, bermabuk di tepian jalan kehidupan. Mengambil jeda diantara kalimat-kalimat mencela dan busuk, yang tergelincir masuk ke dalam telingaku. Botol-botol inilah sang penawar, berminum pula para nabi terdahulu menyesali umatnya, sedangkan aku? Menyesali kalian.
Continue reading...
27
Jiwa ku terbang Raga ku hilang Raga ku menangis Hati ku mencari Saay hancur hati ku Berkeping-keping bagai sisik Susah dicari untuk dihiasi lagi Untuk menjadi seutuhnya hati Serpihan hati ini terbang Sisa, ku peluk erat sampai ku mati Sampai kembali lagi Jiwa dan raga ku ke sini Tempat terindah kini hatiku Saat menemukan mereka Dalam buaian hangat Hidupku indah untuk selamanya Le Gra, created by. Aridea Purple
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:52 AM UTC
Seutuhnya Hati
Segenap usia t'lah ku pegang. Namun, akankah telepas? Usia akhir hampirkah dekat. Apakah raga akan terbunuh? Cintaku belum tergapai. Bisik hasut baik, terngiang di telinga. menyerukan kata indah tentang cinta. Agar ku tak merasa terikat usia. Belum lama ku cicipi dunia. Akankah kandas bagai tergilas. Tiupan angin menjadi puing. Terbakar api menjadi debu. Nyawa kini menjadi asap. Tak berguna tanpa cinta. Menangis haru karena suara indah. Dan tersenyum bahagia bermimpi cinta. Created by. Aridea Purple
0
Oct 22, 2011
Oct 22, 2011 at 8:55 AM UTC
Usia
Tenggelam dalam riak nafasmu Bagai ombak bertalu-talu di tepian kalbu Terbuai oleh lantunan irama kehidupan Bersenandung dibalik kerangkeng iga Aku perahu di lautan luasmu Tanpa dermaga yang hendak ku tuju Hening malam tak kuasa membungkam Detak yang berteriak memuja semesta _______________________________ *Engulfed in the ripples of your breath Tides pulsing at the shorelines of soul Lulled by the chanting rhythm of life Strumming against the rib cage I am a boat in your vast ocean Without a harbor to go to The silence of night can't hold in the heartbeats that bellow praises to universe*
0
Jul 22, 2014
Jul 22, 2014 at 11:43 AM UTC
Perahu
Menemukanmu layaknya menemukan sebuah oase di gurun pasir Bagai ilusi, bagai khayalan Sangat aneh, juga sangat nyata Setelah perjalanan yang panjang Setelah mendamba akan air Setelah mendamba akan cinta Akhirnya kutemukan dirimu Penghilang kehausan Penyejuk jiwa
0
Mar 4, 2015
Mar 4, 2015 at 1:36 AM UTC
oase
Malam sunyi ini Berubah menjadi berarti Karena penguasa hati ku Datang pada ku Tuk persembahan terakhir Lagu paling indah Ku katakan dengan indah Suatu ungkapan yang berarti Bahwa ku akan setia Walau kau harus terganti Sebagai inspirasi hari Dan di masa depan Datang hadir temani hati Takkan terlupa Persembahan terakhir mu Ada senyum, tawa, hembusan nafas, teriakan, alunan yang behitu indah Bagai hati ku dan hidup ku by. Aridea Purple
0
Oct 19, 2011
Oct 19, 2011 at 11:56 AM UTC
Persembahan Terakhir
Lalu lintas jalan padat merayap pengap namun tetap senyap Karena dia menulikan setiap kata-kata di perempatan jalan Pula desah resah mata-mata yang memandang Kunang-kunang kuning itu tiba-tiba melintas tenang Mengambang lembut bagai daun dihanyutkan arus Membius lampu-lampu sein agar berhenti mengedip Malam itu, di perempatan jalan itu cahaya meredup Orang-orang tak tahu menahu, beberapa berandai Indah juga jika dipelihara di pekarangan rumah Satu bangkit lalu berjingkat mendekat Kunang-kunang kuning itu melesat Tiba-tiba semua orang mengejar berlari Ingin agar Kunang-kunang itu dipelihara di rumah Tukang becak, penjaja koran, bos besar perusahaan, mahasiswa, semuanya tak mau mengalah Berlari, menyerobot, menggapai, meraih, mendorong, menginjak, menjambak, mendepak, merusak, menolak. Lelah. Kunang-kunang Kuning menang Tak ada yang berhasil merebutnya Orang-orang pun lesu, menyumpah, dan kembali ke apa yang mereka kerjakan sesaat lalu sambil bergumam "Tak ada Kunang-kunang Kuning di pekarangan rumah" Kemudian semua berubah normal Seperti lalu lintas biasanya Hanya ada aku, yang masih memandang, kemana Kunang-kunang Kuning itu terbang. Aku tahu, bahwa di kota ini, tidak ada rumah yang memiliki pekarangan
0
Nov 18, 2016
Nov 18, 2016 at 1:29 PM UTC
Kunang-kunang Kuning di Remang-remang Jalan