"anakku" poems
Bapak, aku ingin pulang
Aku rindu dengan rumah atau ide akan rumah
Tapi kau telah mempunyainya.
Aku rindu disambut harum masakan buah tangan sang Ibu
Tapi kau tak pernah menyicipinya, Ibu tak bisa masak.
Aku rindu berduduk diatas kursi kayu yang terletak di ruang makan
Tapi kau bahkan tak pernah melakukannya. Kau, tak pernah makan.
Aku rindu akan ruang sesak penuh sayang
Akan kentalnya keakraban yang melekat di dinding-dinding bisu;
yang dalam diam mendengar isak tangis setiap manusia yang menjajalkan diri dalam rumah ini
Akan hangatnya cinta kasih yang tergurat diantara bisingnya suara televisi yang kau nyalakan setiap Minggu jam tujuh pagi dan gaduhnya percakapan seorang diri yang terproyeksi dalam tiap benak manusia, lagi-lagi, dirumah ini.
Kau tak akan menemukannya disana
Aku dan Ibumu ini hanyalah tamu
Kau adalah rumahmu
Tapi kau adalah bukan tempat singgah
Badanmu bak ruang luas tak terbatas
Tamu-tamu tak bisa lalu-lalang melalui satu pintu saja
Banyak pintu-pintu lain didalamnya namun tak terbuka
Ribuan pintu tersebut tertutup adanya
Terkunci dengan rapat
Namun kuncinya telah kau telan
Dibalik pintu itu,
Lagi-lagi ribuan misteri
Teka-teki tentang dirimu yang tersimpan dalam boks berbagai macam ukuran
Tersimpan terlalu aman
Jiwamu adalah fondasi
Kebaikanmu harum masakan yang mengundang setiap orang
Keingintahuanmu benda mahal; memikat tamu untuk ingin bertualang ke setiap ruang
Kenekatanmu—sisi Sang Pembangkang yang kusayang—menantang mereka untuk tinggal lebih lama
Empatimu alunan musik yang menyodorkan kenyamanan
Namun parasmu, anakku sayang,
Matras termahal yang membuat mereka ingin menginap
Hati-hati dalam memberi izin
Jaga rumahmu
Bersihkan
Bagiku Istana terbesar di Dunia tak ada nilainya jika disandingkan dengan Rumah yang kau punya.
Mar 24, 2019
Mar 24, 2019 at 1:23 AM UTC
Selamat ulangtahun anakku
Sudah dewasa kau kini....
Bertambah2lah kau bijak
Pandai2lah kau bergaul
Biarlah ucap dan lakumu baik
Orang akan memperhitungkan engkau
Selamat ulangtahun anakku
Dewasa bukanlah jumlah umur
Bukan pula besar tubuh
Apalagi tinggi badanmu
Rendahkanlah hati
Berbagi dan peduli yang lain
Itulah dewasa yang sesungguhnya
Selamat ulangtahun anakku
Terbanglah tinggi setinggi citamu
Lepaskalah segala belenggu
yang mencekam dan menahanmu
Untuk maju dan maju
Menapak dikesuksesan yang menunggu
Selamat ulangtahun anakku
Ingin kuucapkan kata2 ini
Sampai usiaku tinggi
Menggapai Sang Khalik
Mar 22, 2017
Mar 22, 2017 at 9:32 PM UTC
Nak
Ibumu lahir saat gawat ekonomi seluruh semesta
Saat gawat sebumi memikirkan nilai
Saat dunia ditimpa wabah tak ternampak
Tapi dunia masih cantik
Nak
Ibumu saksi dunia sedang gusar
Saksi pemimpinan goyah
Rebutkan yg tak pasti
Matanya buta
Telinga nya tuli
Tak terdengar rintihan kasta bawahan
Tak terpeduli dan lari meninggalkan hakiki
Ibumu tegak ditengah
Saat mereka berkelahi
Bercemuhan
Hai, ibu saksi saat mereka tak waras
Nak,
Ibumu saksi peninggalan ramai org
Mata kepala ibu melihat org rebah tak bermaya
Ibumu saksi bapak menangisi anak
Bayi lahir tak bersusu ibu
Adik pergi tak berpeluk abang
Dan
Ibumu saksi org tak bisa menjamah nasi
Bukan kerna tak upaya
Tapi kerna rakus ahli prejudis
Dan anjing ditaktor
.
.
Nak
Ibumu saksi saat propaganda dilaungkan
"Demokrasi ini adalah kita semua
Suara kamu kami dengar"
.
.
Anakku
Dengarlah
Ibumu saksi saat dunia tak adil tapi dihias indah
Ibumu saksi saat negeri kita kacau tapi dirai aman
Ibumu saksi nak...
Ibumu saksi perit itu tak cuma kehilangan
Tapi rindu yg bakal tak terubatkan
Salam yg takkan tersampaikan
Dan sebelum kau hingga ke saat itu
Harus lah kau tau
Setiap sisi kita tertanam secebis sedikit hati
Maka harus kau cari yg baik baik sentiasa
.
Kerna mmg sifat dunia begitu
Rebut yg tak pasti
Bertelinga dan tuli
Bergeliga tapi rakus
Dan punyai mata tapi buta
Dan harus kau ingat yg merbahaya sekali
Punyai iman tapi tak berTuhan
Oct 23, 2021
Oct 23, 2021 at 12:00 PM UTC