Submit your work, meet writers and drop the ads. Become a member
Masih kubayangkan seperti apa jadinya aku apabila suatu saat aku benar-benar bisa memiliki dia. Mencintai dia begitu dekat. Sedekat tarikan napas dari setiap udara segar yang aku hirup di pagi hari. Masuk ke dalam paru-paru. Kemudian bercumbu di sana.

Benar apabila aku memang sangat ingin bisa memiliki, segala hal yang mungkin tidak pernah bisa aku miliki.
Begitu naif apabila kita sedang belajar mencintai seseorang.
O wajahnya. O matanya. O hidungnya. O pipinya. O bibirnya. O rambutnya yang panjang tergerai jatuh di bahunya. Begitu jelas, hingga mimpi seperti realita.
Dia begitu jelas terlihat. Dia begitu nyata, bahkan kurasakan sesuatu berdetak begitu cepat dan kencang, seperti angin yang menyibak rambutnya.
Senyumnya membuat segala yang hancur menyatu kembali, tetapi tidak, tidak untuk setiap kali.

Aku masih mencintainya, begitulah cinta yang semestinya aku akan katakan apabila memang dia benar ada di sini. Tetapi dia tidak di sini. Dan aku tidak bisa mengatakan bahwa aku mencintainya.

Dia begitu dekat, tetapi juga begitu jauh. Dia jauh dari mataku. Dan dia begitu jauh untuk bisa merasakan perasaanku padanya.
Indonesia, 23 Maret 2021
Arif Aditya Abyan Nugroho
Megitta Ignacia Mar 2020
356 putaran bumi, kita beradu rasa
Raga saling terlekat erat, tak terasa
Rapat serapat barisan bata, tak terduga, terbiasa
Memadukan jari, tanpa perlu banyak bicara
Saling menyaut, berjalan searah

Memang arus yang membimbingku
Langit bumi berselurus mengantarmu
Bingkisan besar para dewa untukku
Berkat kebesaran yang Maha Segala
240320 | 20:48 PM di kosan tukad badung, malam ini satu hari sebelum Nyepi, diem di rumah karena masih ada pandemic Corona. Rasa syukur, satu tahun ini ditemani singa kesayanganku. Anargya artinya tidak terhingga nilainya, itulah A buatku. 💜
Next page