Submit your work, meet writers and drop the ads. Become a member
Oct 2019
Jam selalu berdetik , lembaran tanggal makin menipis tata ruang sedemikian rupa berubah dari masa ke masa
Anak kecil difoto itu sudah mempunyai tulang yang kuat, fikiran yang matang
tidak sabar menunggu besar
Namun tidak juga siap dengan kehilangan

Mau dikata apa? Kematian pasti ada

Buat apa terlalu puitis untuk menggambarkan kematian, toh Anak kecil itu sudah pernah ditinggalkan
Bahkan sebelum merasakan kepemilikan
inang pemberi asi sudah Pergi mencari jati diri

Mau dikata apa? Kehilangan pasti ada

Merasakan kehilangan tanpa kematian, kematian tanpa kehilangan

Ayahnya, sebagai penopang terkuat mempunyai ibu  sebagai fondasi akan badai yang menerpa anak kecil itu , wajar bila anak itu tidak butuh seorang inang si pemberi asi
bentengnya sudah cukup kokoh
Namun apa yang terjadi saat benteng itu mati? Hilang?

Ya apalagi? Sudah jelas seperti
Kematian tanpa kehilangan.

Seperti embun, bisa dirasakan tapi tidak dapat dilihat

Sudahlah
Ia tumbuh dari keturunan tulang yang kuat dan ombak yang besar
Ialah sebenar-benarnya fondasi terkuat di bentengnya dulu

Dia sudah merasakan tsunami
Jadi bila ada hujan badai , ia pasti sudah pandai.
Written by
F  21/F
(21/F)   
198
     Edgar Jansam
Please log in to view and add comments on poems