Hello Poetry
Submit your work and get some sparkles! Create free account
Jika ini bukan salahku, mengapa beban tetap bertumpu? Penglihatanku kabur menatap sendu, seakan masalah menempel di bahu. Aku tak memilih luka ini, tetapi mengapa aku yang berdarah? Jika semua ini bukan salahku, mengapa aku dihukum seakan aku dalangnya? Pandanganku buram penuh air, seakan dunia tenggelam dalam getir. Aku mencoba melawan arus, tetapi hanyut dalam luka tanpa akhir. Suara-suara menggema di kepalaku, menyebut namaku seolah aku tersangka. Mungkin dunia hanya ingin melihatku hancur, dan aku harus rela menjadi abu di antara kabut tanpa arah. Jika ini bukan salahku, kenapa hatiku terus dihukum?
0
Feb 15
Feb 15, 2026 at 2:46 AM UTC
Jika bukan, mengapa?
Jika ini bukan salahku, mengapa beban tetap bertumpu? Penglihatanku kabur menatap sendu, seakan masalah menempel di bahu. Aku tak memilih luka ini, tetapi mengapa aku yang berdarah? Jika semua ini bukan salahku, mengapa aku dihukum seakan aku dalangnya? Pandanganku buram penuh air, seakan dunia tenggelam dalam getir. Aku mencoba melawan arus, tetapi hanyut dalam luka tanpa akhir. Suara-suara menggema di kepalaku, menyebut namaku seolah aku tersangka. Mungkin dunia hanya ingin melihatku hancur, dan aku harus rela menjadi abu di antara kabut tanpa arah. Jika ini bukan salahku, kenapa hatiku terus dihukum?
Sepucuk surat untukmu yang menyiksaku: Pergilah engkau, cari ketenangan milikmu. Berhenti menghukum jiwa yang hampir ditelan kata milikmu.
shizukori
Written by
Feb 15
Feb 15, 2026 at 2:46 AM UTC
Request permission to use this poem