Saat kamar kecilmu     &n
Diska Kurniawan

Hancur tak selalu lebur
Jika hanya meradang
Karang yang teguh
Tak selalu gagah
Hingga masanya runtuh.

Hancur tak selalu lebur
Saat kamar kecilmu        
Dijejali oleh,
Beribu-ribu partikel biru

Haru, kau nanti
Hingga mereka bereaksi
Bersenyawa,
Dengan tawa dan bahagia

Takjublah
Pada sang karang
Yang akhirnya menangisi                                          

Kenangan

seperti kamar yang kamu tinggali...
Goldfish
Goldfish
Apr 24, 2015

kamu...
seperti kamar yang kamu tinggali...
seperti ruangan yang menjadi sejarah kita...
terbuka, tanpa sekat, tanpa jendela....

kamu dingin
tapi dalam pelukmu aku merasa hangat...
angin kencang atau hujan gerimis....
mana kamu peduli...
kamu bilang, "asal kamu disini, semua menjadi hangat"

kenapa kita berbeda?
kenapa ruanganmu lebih besar?
bukankah kita saudara?
bukankah aku adik terbaikmu?
lalu, kenapa aku tidak ingat masa kecilku disini?

ya, lagipula...
semua itu hanya mimpi...

#mimpi  
Oleh lampu kecil di sudut kamar;
Saman
Apr 8, 2011

Payudaramu
Masih menatapku dengan murung
Entah sudah berapa lama kupegang
Mungkin ratusan ribu kali.

Temaram yang dibentang
Oleh lampu kecil di sudut kamar;
Ranjang yang bermain melodi sendu
Poster kusam mimpi hari depan
Dan radio tua yang tak henti-henti
Menabuh genderang yang telah hilang
Semangat.

Ah, siluetmu
Yang bergoyang-goyang di tiup
Angin asmara.

Aku mencintaimu malam ini
Lebih dari apapun,
Bilang pada bulan
Jangan berhenti bersinar
Dan taburilah wajahnya
Banyak-banyak cahaya bintang.

Aku mencintaimu malam ini
Lebih dari apapun, sampai pintu bilik di ketuk.

(Batam, 17 Mei 09)

Meniup gundah keluar kamar
Diska Kurniawan

Tahukah kamu, di tepi jendela itulah
Cinta dan kasih kusimpan
Lalu kau terbang semilir dan mencuri
Setiap tak ku tutup jendelanya

Tahukah kamu, berembun juga kaca
Jika di tepi jendela kau tiup rasa
Menjadi buram, dan tak sejernih air pula
Pandangan matanya?

Jika nanti ku kunci engselnya
Engkau tak bisa meluncur seenaknya
Meniup gundah keluar kamar
Hingga sinar senja membayang pudar

Jika nanti kau masuk
Sebagai kupu-kupu lembayung
Yang terhuyung hinggap di tepi jendela
Temani aku, sebentar saja

Ditepi jendela aku kehilangan
Cinta kasihku, ketika
Kau bersemilir masuk
Dan mencuri keduanya

Lihatlah ke tepian jendela itu, yang tak bersudut.
keadaan taman kala malam; didepan tiap kamar diletakkan dua buah kursi dan meja keci
Sunya
Sunya
Jan 2

Hotel Saudade
Sebuah cerita pendek

“Ceritakan padaku,”
Aku yakin semua orang pernah mendengar perintah, atau permintaan itu; diikuti dengan waktu senyap dan getir setelah diminta untuk bercerita dan mencoba menata tutur sedemikian rupa. Menata tutur untuk menyanyikan, dan menuliskan (jika dalam surat,)  pengalaman, senda gurau, romansa, kehilangan,
Rindu, yang entah bagaimana caranya,
Sepi.

Beberapa mengakui bahwa setelah bercerita, mencurahkan isi hati, mereka merasa lega seolah ada beban yang terangkat. Tapi, cerita tidak hanya dapat diutarakan hanya dalam bentuk sepatah kata, sepanjang tangis, pun dalam tawa. Pada sebuah perjalananku (pertamakalinya aku berpergian sendiri, menggantikan ayahku untuk merancang dan menggambar iklan salah satu perusahaan kenalannya.) Aku bertemu seseorang yang memutarbalikkan pandanganku mengenai cerita pengalaman pribadi.
Aku tak tahu siapa dirinya,
Aku belum tahu siapa dirinya—
Namun pria ini mengaku bahwa ia tak memiliki cerita,
Cerita apapun.

Inilah cerita yang kupunya untukmu, cerita yang aneh,
Bukan aneh dalam artian mengerikan.
Malam itu kereta sampai terlalu larut, dan niatanku untuk mencari penginapan yang lebih dekat dengan pusat kota telah lenyap; aku sudah lelah. Sebenarnya aku dapat datang besok, tapi aku memilih untuk datang 2 hari lebih awal dari hari yang dijanjikan agar dapat bersantai.

Aku menjinjing tasku keluar stasiun dan membenarkan topiku, melihat kanan dan kiri dengan was-was sebelum bertanya pada orang-orang sekitar apakah ada penginapan di sekitar sini. Kau tahu betapa canggungnya aku bila bertanya ini dan itu, aku tak biasa berpergian sendiri! Namun karena keadaan mendesak, ya beginilah jadinya. Aku mendapat rujukan bahwa dengan berjalan kaki (sedikit jauh, tapi tak sejauh bila harus menjelajah malam atau menjadi angkutan untuk ke pusat kota) aku dapat sampai ke sebuah penginapan yang namanya terlalu puitis—Hujung Malam.
Apa maksudnya? Penghujung malam?
Apalah yang ada dalam sebuah nama, yang penting aku dapat tidur tenang malam ini, dan berganti penginapan keesokan harinya!

Dinginnya malam kala itu membuat mantel dan bajuku yang berlapis mejadi tidak berguna. Aku sedikit berlari melintasi trotoar yang digenangi beberapa kubangan air kecil, terlihat bak emas disinari pantulan lampu jalan. Sesekali menggosok lensa kacamata bulatku dengan sarung tangan hitam yang kukenakan. Ranting-ranting gemeretak, seolah merasakan juga dingin yang menusuk tulang. Setibanya di sana, aku tidak menyangka bahwa bangunan penginapan satu lantai ini terlihat lebih tua (tapi sangat terawat) dan lebih besar dari kelihatannya. Aku diantar ke kamarku yang terletak pada lorong yang tepat mengelilingi sebuah taman besar.

Setelah mempersilahkan keluar pegawai penginapan yang terlalu ramah bagiku, aku membuka pintu dan memperhatikan keadaan taman kala malam; didepan tiap kamar diletakkan dua buah kursi dan meja kecil. Sebuah pohon besar berdiri gagah di sudut taman, pada bagian tengahnya terdapat air mancur yang dikelilingi patung-patung pualam kecil; malaikat, anak-anak, dan bidadari tak berhati.

Aku mulai memperhatikan keadaan sekitar (yang tak biasanya kulakukan) dan barulah aku menyadari bahwa aku tidak sendirian.
Tidak, tak ada hantu.

Hanya ada sayup-sayup suara harmonika tak sumbang, yang dimainkan dengan tepat dan sedih pada pedihnya malam dingin.
Aku tahu lagu ini,
Greensleeves.
Lagu zaman Tudor itu, lagu orang-orang yang ditinggalkan.

Aku menoleh seolah digiring oleh angin yang baru saja berhembus, beberapa kamar kosong (kupikir itu kamar kosong, lampunya dindingnya tak menyala) duduk seorang pria berambut panjang, digelung rapi ke belakang, hanya mengenakan kemeja dan rompinya.

Ia ramping, namun pakaiannya tidak lebih besar dari tubuhnya dan justru terpasang pas pada tubuhnya. Rambut bagian depannya yang panjang dan tak ikut terikat rapi ke belakang berjatuhan, membingkai tulang pipinya yang terlihat jelas. Pria itu sibuk dengan alat musiknya dan memejamkan matanya tanpa menyadari kehadiranku. Aku juga sibuk, sibuk memperhatikannya bermain dan mengingat bagaimana Greensleeves selalu menyayat hatiku. Ini kali pertamanya aku mendengar lagu itu dimainkan pada harmonika.

Setelah ia menyelesaikan musiknya, aku menyapa dari kejauhan sambil memegangi gagang pintu kamarku,
“Greensleeves?”
Ia hanya menatap ke depan tanpa menoleh atau menjawab, duduk di kursi depan kamarnya dengan kaki kanan disila pada lutut kaki kirinya. Aku hanya dapat melihat hidungnya yang mancung dan matanya yang dibayangi gelap, ia terlihat cantik, dan sepi. Setelah menunggu sedikit lama dan masih tetap diabaikan, aku menghangatkan diriku di kamar. Aku akan berpindah penginapan besok siang.

Ternyata esok berkata lain.
Aku membuka pintu kamarku untuk sarapan dan mendapatinya lagi di tempatyang sama, seolah ia tidak beranjak semalam suntuk.
“Selamat pagi,” sapaku canggung.
“Kau selalu di sini?”
Ia tidak menjawab, hanya menatapku, dan saat itulah aku melihat matanya yang tidak lebih redup dari matahari senja di laut kala mendung.

Ia tidak menjawab, dan aku malah menggeret kursi dari depan salah satu kamar kosong untuk kutempatkan disebelahnya. Kami duduk bersebelahan dalam diam, hanya ditemani rintik hujan yang tak hentinya menghujat; ia mulai memainkan harmonikanya.

Aku beranjak untuk sarapan, dan memperpanjang masa sewa kamarku sampai beberapa hari ke depan.

Setelah aku kembali, ia masih tetap duduk disana, benar-benar tak berpindah dan terus memainkan harmonikanya. Aku tak dapat memperhatikannya lebih lama, aku harus beristirahat dan bersiap-siap untuk besok.

Hari berikutnya tidak banyak yang berubah, pagi masih tetap dirundung hujan dan pria itu masih duduk termenung menghadap taman. Aku bergegas untuk sarapan sebelum pergi ke kota dan menyempatkan diri untuk bertanya mengenai pria yang tak beranjak dari tempatnya. Ada yang bilang bahwa ia dulunya buronan, teman pemilik penginapan yang lalu diberi tempat tinggal disini. Yang lainnya mengatakan bahwa ia dahulu pelancong yang akhirnya memutuskan untuk tinggal dalam penginapan setelah diberi kamar oleh bapak pemilik penginapan yang terkesima olehnya.

Sepulang dari kota aku mengeringkan payungku yang basah kuyub dan mantel yang bagian depannya basah karena terkena air dari kereta kuda yang mendadak lewat didepanku. Bagian bawah gaunku penuh lumpur, dan aku tak tahu apa jadinya sepatuku ini. Aku tak ambil pusing dan kembali keluar kamar untuk sekali lagi mencari tahu tentangnya.
Entahlah, ada hal yang membuatku merasa tertarik. Mungkin karena lagu Tudor itu, mungkin karena ia sama sekali tidak berbicara dan beranjak dari kursi kecil itu. Hanya sesekali melepas ikatan rambutnya, dan membuka jam kantungnya.

Aku sekali lagi menduduki kursi yang kuletakkan di sebelahnya, dan langsung melontarkan pernyataan dan pertanyaan,
“Mereka bilang kau dulunya buronan,” ia terus memandangi jam kantungnya,
“Kenapa kau selalu duduk di kursi ini?”
Aku kira ia takkan menjawabnya, namun malah sebaliknya.
“Memangnya kau tahu kalau aku selalu di sini?”
“Karena aku selalu melihatmu di sini.”
“Itu hanya sebagian bukan keseluruhan.” Ia mengangkat bahunya. “Karena kau selalu melihatku duduk memandangi taman bukan berarti aku selalu melakukannya.”

Aku mengintip jam kantung yang di genggamannya, belum ia tutup. Jarum detiknya tak berjalan, begitu juga jarum panjang dan pendeknya. Namun derasnya hujan dan gema suaranya membuat kesan bahwa jam itu terus berjalan mengejar rindu. Ia mengutak-atik sedikit jamnya, dan jam itu mengeluarkan suara kotak musik. Tapi ini bukan jam kantung dengan kotak musik yang biasa kita lihat, jarum jamnya berputar secara terbalik.

“Boleh aku tahu siapa namamu?” aku mencoba mengajaknya berkenalan.
“Aku membuatmu teringat akan apa?”
“Apa? Entahlah.”
“Bukannya kau berlagak seolah mengenalku? Mengatakan aku selalu di sini.”
“Kau mengingatkanku pada senja di laut saat mendung.”
“Kalau begitu, namaku Laut. Aku selalu di sini seperti laut, kan? Ia tidak berpindah dari tempatnya.”

Percakapan kami terhenti di situ karena hujan makin deras dan aku harus kembali ke kamar untuk menyegerakan gambarku. Aku tidak ke kota lagi esok hari, dan menghabiskan waktu menggambar iklan itu di kursi kecil yang menghadap taman tanpa sepatah katapun, disamping orang yang mengakui dirinya sebagai Laut dan dibawah lindung hujan deras. Kami tidak berbicara pun berbincang, tapi aku menikmati kesepiannya seolah ada rindu yang belum dilunasi.
Tapi entah mengapa aku justru memulai pembicaraan,

“Ada yang bilang kau pelancong, apa kau mau bercerita sudah pergi ke mana saja?”
“Kau jarang berpergian?”
“Sangat.”
“Kau jarang berpergian, dan aku tak punya cerita.”
“Tak punya cerita?”
“Tak ada yang menarik untuk diceritakan. Tak akan ada yang merasakan sebuah cerita seperti penuturnya.”
Aku menyelesaikan gambarku, dan bersiap untuk menyetorkannya keesokan harinya.

Sore hari setelah aku kembali ke penginapan dengan keadaan yang sama, basah, terguyur hujan. Senja dalam hujan kembali ku habiskan bersamanya tanpa sepatah kata dan ia kembali memainkan nada-nada pada harmonikanya. Lagu yang sama dengan yang diputar oleh jam kantungnya. Lagu soal sunyinya malam ditengah laut, menunggu rintik dan bulan yang tak kunjung datang.

“Lagu apa itu? Sama seperti di jam yang kemarin.”
“Pesan Malam.”
“Aku belum pernah mendengarnya.”
“Aku yang membuatnya, wajar kau tidak tahu.”
“Sayang lagunya pendek, lagu yang indah.”
Ia hanya mengangguk,
“Aku akan pulang besok. Terima kasih telah menemaniku disini.”
Ia tak menjawab, dan terus memainkan harmonikanya tanpa menoleh. Seperti suara rintik hujan yang tak tentu, bingung akan apa yang ia tangisi, pria disebelahku tak memiliki cerita, tak bisa bercerita. Namun ia dapat berkisah, kisahnya tertuang pada lantunan nada dan lagu-lagu yang ia mainkan. Aku memejamkan mata, mendengarnya fasih menyihir suara menjadi sebuah fabel dan parabel, berharap dapat menyisihkan kisah-kisah yang tak diutarakan secara tersurat dan harfiah.

Aku undur diri untuk tidur lebih awal, dan menulis sebuah pesan dalam secarik kertas; lagunya mengingatkanku akan bagaimana caranya mengingat dan rindu. Aku harus pulang, tapi entah mengapa aku ingin kembali ke sini.

Dalam hening tidur malamku, ada sebuah lagu yang berulangkali dimainkan tanpa henti. Lagu di penghujung malam, lagu sunyi laut. Aku terbangun, dan dentingnya masih berputar dalam kepalaku.
Sayangnya aku harus kembali sebelum jam 12 esok hari, dan ketika terbangun, aku sayup-sayup sadar akan ketukan halus di pintu kamarku. Aku membukanya setelah memakai mantel, dan memejamkan mata pada keadaan yang sama sambil meluruskan gaun malamku. Hujan masih rintik, malam masih gelap, lampu-lampu menyala beberapa saja, dan hanyalah satu perbedaan; pria itu tak duduk pada kursi kecilnya.

Aku kembali masuk, linglung. Siapa yang tadi mengetuk pintu kamarku? Tanganku meraba gagang pintunya yang sudah menghitam dan saat itulah aku melihat sebuah jam kantung tergantung lesu pada lampu dinding didepan kamarku. Jam kantung yang selalu ia lihat, yang jarum jamnya berputar terbalik.

Tidurku tak kulanjutkan. Aku mengutak-atiknya sesperti yang ia lakukan tadi, dan menyadari bahwa bukan hanya ada satu lagu di situ, namun beberapa lagu pendek. Tiap lagu memiliki suasanya dan warna nada yang berbeda, membangkitkan berbagai macam bentuk ingatan dan kisah-kisah yang dapat kita bayangkan sendiri tanpa dipacu cerita dari siapapun. Hanya sebuah lagu, dan seuntai suasana.

Aku tak dapat terlelap lagi setelahnya. Aku membereskan barang-barangku dan beranjak untuk meninggalkan penginapan. Aku ingin berpamitan padanya dahulu, mengembalikan jam kantungnya, dan berterimakasih atas kisah-kisah yang ia ceritakan secara tersirat dalam senandung sepi. Tapi ia tak di sana, tidak pada kursi kecilnya. Tidak dengan harmonikanya, tidak menatap taman. Ia tak ada dimanapun untuk saat ini, dan aku mengitari taman serta koridor untuk mencari tanda-tanda kehadirannya untuk hasil yang nihil.

Ketika aku menuju serambi depan penginapan barulah aku melihatnya lagi, di ujung koridor, menatap kosong kearahku lalu tersenyum simpul. Senyum yang tak lama langsung sirna. Ia dibalut jas yang biasanya hanya ia selampirkan di kursi kecil dan ia mengurai rambutnya. Aku menyematkan secarik kertas kecil pada telapak tangan kiri beserta jam kantungnya, namun ia enggan menerima jam kantung yang kukembalikan.
“Simpan, dan jaga baik-baik.”
“Aku akan kembali.”
“Kembali kemana?”
“Ke tempat ini.”
“Untuk apa?”
“Bertemu denganmu. Lagi.”
“Bagaiamana kalau aku sudah pergi?”
“Aku akan tetap datang kesini.”
“Terserahmu.”
Ia meninggalkanku dalam remang-remang lorong kosong, sambil menggumam setelah melihat tulisan kecil di kertas yang kuberikan.
“Aku tidak paham puisi.”

Aku tak menoleh ke belakang saat ia berjalan melewatiku; yang kutahu, saat aku membalikkan badan untuk melihat apakah ia duduk di kursi kecil yang sama atau tidak, ia sudah tak ada, dimanapun. Bahkan tak ada suara pintu dibuka yang menandakan apabila ia memasuki kamarnya. Tidak ada lampu dinding didepan kamar yang menyala, hanya aku dan sunyi. Aku, sunyi, dan jam kantung yang putarannya terbalik mengindikasikan kisah masa lampau.
Sebagaimana ia memberi pesan di malam hari, aku mengirimkan secarik surat dalam bentuk sajak;

Untuk pesan malammu,
Yang tiap barisnya menari
Perih dalam benak,
Biarkan tanyaku dirundung rindu
Dan menjadi alasan
Untuk tertawa pada angan yang terlalu luluh
Mereka berhantu,
Dan akan kembali—
Sebagai sesayat serpih
Untuk melabuhkan kisah yang lain
Dalam seuntai surat malam

Memang tidak ada perlunya aku kembali, sayangnya lagu itu berputar-putar terus di kepalaku. Seolah nada-nadanya nyata mengirimkan pesan dan kisah yang berubah pada tiap bunyinya; fana, hanya dalam benak.

Mungkin cerita memang tidak selalu harus diutarakan secara tersurat begitu saja; akan banyak emosi yang terkikis habis, tidak tersalur secara utuh dalam penyampaiannya. Kisah yang disampaikan akan mati. Namun dalam lagu-lagu yang ia pahat abadi dalam jam itu, dan yang ia lantunkan dengan alat musiknya, ia menggiring hati yang tersesat dalam imaji untuk menguraikan kisah-kisah sendiri berdasarkan benak serta pedih. Dan tiap lembaran kisah itu,
Mereka membara,
Dalam kasih dan hidup yang belum pernah kita jalani,
Bahkan sekalipun.

Aku akan kembali, setelah membawa kidung-kidungnya pulang bersamaku. Bukan kembali pulang, namun kembali menemuinya di kemudian hari. Aku yakin, percaya, ia akan tetap disana—Menatap taman dan hujan. Entah bermimpi, entah bercerita dalam asa. Karena ia seperti laut, yang selalu disana dalam gelagap rindu, selalu ada dalam dahaga dan dan sejuknya malam. Juga seperti hujan, yang datang kala sepi dan tak kunjung pulang jua. Menemani dengan gesit suaranya, dalam tiap rintih fana.

Aku akan kembali,
Dan ia akan ada di sana.

Ia hanya menatap langit-langit kamar  sambil tersenyum pahit.
Elle Sang
Elle Sang
Dec 14, 2015

Gadis itu pulang dengan kepingan jiwanya
Berusaha untuk menahan segala rasa sakit
Semua ia simpan rapat-rapat walau tersirat dari matanya
Ia menghempaskan badan diatas tempat tidur
Sambil sesekali memijat keningnya, berharap rasa sakit tak akan hinggap kesana.

Lalu ia berusaha tak mengingat-ingat semuanya
Berharap entah bagaimana caranya agar ia mematikan perasaannya
Dalam hati ia bertanya "kapan terakhir kali kau bahagia?"
Tak ada satupun yang bisa menjawab pertanyaan itu
Ia hanya menatap langit-langit kamar  sambil tersenyum pahit.

"Yah, begitulah realita hidupmu. Tersiksa karena jatuh berkali-kali untuk orang yang salah"
Otaknya berbicara pada hati yang masih kukuh membela perasaan yang ia punya
Ia tak bisa lagi menampik bahwa kepala dan hatinya setelah ini tak akan pernah ada di kubu yang sama
Karena kelalaian hatinya lah ia berada disini sehingga logika menghukum hati itu, menutup pintunya rapat-rapat dan menenggelamkan kuncinya kedalam samudera pemikirannya.

Suara hujan mengiringi gadis itu
Tak terasa satu demi satu tetes air mata mengalir
Ia hanya bisa memejamkan mata dan berkata
"Aku sudah tak punya hati lagi"

njungi mengintip dari sela-sela jendela kamar, sinarnya selalu mengingatkanku kepadam
el
el
Mar 13

lagi, aku menulis untukmu. tidak pernah bosan jemari ini menari diatas kertas putih merangkai kata hanya untukmu, seseorang yang lebih berharga dari sebutir berlian termahal di duna ini.

teruntuk seseorang yang namanya masih belum mampu aku tulis diatas kertas ini,
selamat hari minggu. semoga minggu depan lebih baik dari minggu ini. tenang saja, aku sudah meminta kepada Tuhan untuk menukar seluruh kesedihanmu selama seminggu ke depan dengan kebahagiaanku. ah, tenang saja. aku bisa menahan rasa sedih sebanyak apapun itu.

apa kabar? bagaimana senjamu kemarin? apakah mengesankan? ah, sangat disayangkan. bagiku, setiap senja datang mengunjungi mengintip dari sela-sela jendela kamar, sinarnya selalu mengingatkanku kepadamu. aneh, bukan? hah, mengapa setiap hal yang aku lihat selalu mengingatkanku padamu? mau sampai kapan kamu tetap bersarang dibenakku? tapi aku berjanji, setelah kamu selesai membaca surat usang ini, aku sudah melupakanmu dan seluruh kenangan indah tentangmu.

tujuanku kali ini adalah untuk mengucapkan terima kasih. terima kasih telah mengajariku bagaimana rasanya dijaga dan diperhatikan. bagaimana rasanya jatuh hati. bagaimana rasanya ditinggalkan begitu saja. bagaimana rasanya mengukir rindu diatas batu. aku ingin berterima kasih kepadamu. dan aku berterimakasih kepadamu. karenamu, aku dapat paham bagaimana rasanya mencintai seseorang tanpa timbal balik.

aku hendak pergi. maka itu, aku menulis surat ini sebagai tanda perpisahan denganmu. aku akan pergi meninggalkanmu di belakang. aku akan melepasmu pergi, membiarkanmu mencari kebahaigaanmu sendiri. karena aku akan berkelana mencari kebahagiaanku.

aku akan mengikuti kemana angin akan membawaku. aku ingin bebas leluasa mencari penggantimu. tidak mungkin selamanya aku akan hidup di dalam bejanamu. sudah cukup banyak air mata yang tertahan karena diam mengagumi dari jauh. hal itu sudah cukup membuat hati tersayat sangat dalam. bahkan dengan kecupan macam apapun tidak akan memperbaikinya.

satu hal yang aku minta darimu.
berbahagialah dengan siapapun itu perempuan pilihanmu. hargai dia dan perlakukan dia seperti dia adalah perempuan terakhir yang akan kamu lihat. aku tidak akan pernah berhenti mendoakan kebahagiaanmu. dimanapun kamu berada, berbahagialah.

selamat tinggal. terima kasih untuk 1.700 hari ini. aku belajar sangat banyak. aku tidak akan melupakanmu seutuhnya. aku akan selalu mengingatmu sebagai senja favoritku.

berjanjilah, jangan pernah mencariku lagi.
nya; ia mempersilahkanku untuk tidur di kamar anaknya, dan minum teh malam sebelum te
Sunya
Sunya
Jan 3

Pondok Pancawarna
Sebuah cerita pendek

Apa aku harus menyesal pindah rumah? Tak ada anak seumuranku di sini. Tak ada penjual susu yang lewat tiap pagi, atau gelak tawa dari permainan sore hari. Aku sedih, tapi itu bukan masalah besar, mungkin. Toh tahun depan usiaku beranjak 15 tahun, aku tak punya waktu untuk banyak bermain. Rambut keritingku yang dipelihara ibu ini juga nantinya akan kupotong, aku tak mau berulangkali dikira sebagai perempuan di tempat tinggalku yang baru.

Tahun depan usiaku 15 tahun, dan aku takkan punya waktu untuk banyak bermain lagi. Aku ingin menghabiskan sisa usiaku dengan bermain di jalanan sampai sore hari. Sayangnya lingkungan ini terlalu asing untukku. semua jalannya terlihat sama dan terlalu besar, terlalu banyak rumput liar dari rumah-rumah kosong yang jaraknya terlalu jauh, dan dedaunan pohon menjuntai bak rambut kasar nenek tua.

Sayangnya lingkungan ini terlalu asing,

Dan aku tak punya pilihan lain selain menjelajahinya
Dengan senang hati.
Jangan bilang ibuku.

Ibu dan mbah selalu melarangku berjalan sendirian di luar saat pagi-siang-sore-malam semenjak pindah ke rumah yang terlalu besar ini, terlalu sepi ini. Mungkin untuk alasan keamanan. Aku tidak sebodoh itu untuk harus bertanya kenapa. Dan karena aku tidak sebodoh itu, aku tidak menyukai cara mereka—Wanti-wanti dari mereka agar aku tak berkeliaran sendiri.

Mereka bilang dahulu jalan besar di depan sana adalah tempat tengkorak para jawara-jawara pembela negara dikuburkan, dan tiap sore akan terlihat pria-pria muda dengan baju berlumur darah merokok serta makan-makan daun sambil bermain catur di pinggiran jalan.

Mbah tambah berkata kalau di perempatan sebelah rumah ini, apabila aku bermain sendirian, aku akan dikejar-kejar oleh serdadu kompeni tak berkepala yang akan menebas kepalaku, atau membawaku untuk disembunyikan.

Aku tak takut pada hantu-hantu bekas perang itu, aku juga tak tertarik pada mereka.
Kesalahan ibu dan mbah, dalam menakut-nakutiku, adalah menceritakan sebuah kisah yang, entah benar atau tidak, justru membuatku tertarik untuk mendekati sumbernya.

Di ujung gang, yang jalannya sedikit menurun, terdapat sebuah rumah kayu yang dijuluki oleh warga sekitar sebagai Pondok. Padahal, menurutku bentuknya tidak seperti Pondok. Rumah itu tidak buruk, justru didepannya terdapat taman besa. Sebuah gerbang mawar besar memagarinya; di taman indah itu, hanya terdapat lima jenis bunga bermekaran. Aku tak tahu jenisnya apa saja, yang kuingat dari cerita itu, pokoknya terdapat warna merah, ungu, biru, kuning, dan yang paling aneh, sebuah mawar hitam. Aku tak tahu bagaimana mawar hitam dapat tumbuh di tempat seperti ini. aku bahkan tak tahu kalau ada mawar yang berwana hitam.

Mereka menyebut rumah itu Pondok,
Pondok Pancawarna.
Pondok milik seorang pelukis yang kata orang-orang kakinya buntung.

Karena tak memiliki objek untuk dilukis, dan tak bisa keluar mencarinya, mereka bilang pelukis itu menarik gadis-gadis kecil dengan bunga yang indah di tamannya, lalu menyekap mereka dalam Pondok itu sampai ia puas melukisnya. Hal ini diceritakan setelah aku mendengar pembicaraan ibu saat membeli sayur pagi hari 2 minggu lalu, setibanya dirumah aku langsung menanyakannya soal cerita itu.
Seram?

Aneh, bukan seram. Memangnya seorang pelukis baru bisa melukis bila ada objeknya?

Kalau ingin membuatku berhenti berkeliaran dan bermain sampai larut malam di daerah baru, seharusnya mereka memberi alasan yang bagus dan masuk akal. Bukan malah menakut-nakutiku dengan sesuatu yang ditakuti anak perempuan.

Nah, malam ini aku akan menyelinap. Aku ingin mencari tahu mengenai pelukis itu; lumayan, aku dapat mencari kesenangan disela malam-malam yang selama ini selalu jenuh.

Setelah aku yakin ibu dan mbah terlelap dengan memperhatikan apa semua lampu sudah mati, aku melepas baju tidurku dan mengambil kemeja lengan pendek putih yang kupakai tadi pagi, celana pendek hitam, dan suspender yang biasanya kupakai setiap hari. Aku keluar lewat—Ini sebenarnya jendela atau pintu, sih? Bentuknya seperti jendela, terlalu besar, dan memiliki gagaing pintu—Aku keluar lewat jendela-pintu di kamarku yang langsung mengantarku ke serambi kanan rumah yang terlalu besar ini. Tanpa sepatu, aku berlari-lari kecil ditemani lampu jalan yang remang-remang dan rambut pohon yang menjuntai menuruni jalanan lebar nan sepi, menuju Pondok Pancawarna di ujung jalan.

Aku sampai didepan pagaarnya. Pagar besi hitam yang ditengahnya terdapat gerbang dari semak-semak mawar. Aku mendorog pagar yang ternyata tidak terkunci itu, berderit pelan, dan perlahan masuk. Kenapa tidak dikunci? Apa memang ia bertujuan untuk menarik anak-anak yang penasaran kemari? Dan sekarang, sejauh mata memandang dibawah bulan sabit yang temaram, aku hanya melihat hamparan taman bunga yang indah didepan sebuah rumah kayu tua yang mulai berlumut. Seperti kata mereka, dalam remang aku dapat melihat bahwa bunga didalam sini hanya memiliki 5 warna—mawar, yang jelas, bunga sepatu, lavender, violet—Entah apa lagi, aku hanya mengenali itu. taman ini terlihat makin gelap karena tak ada bunga yang berwarna putih. Aku mengambil sebuah ranting panjang yang patah, dan mengibas-ngibaskannya seolah itu adalah pisau untuk memotong dahan-dahan yang menghalangi jalan, aku seorang penjelajah.

Aku melihat taman dari ujung-ke-ujung, sampai akhirnya berhenti ketika aku mencoba untuk mencari jalan menuju belakang Pondok—
Di sana lah aku melihatnya,
Dengan sebuah lampu ublik yang ia letakkan di sebelah cagak kanvasnya,
Ia duduk pada sebuah kursi roda kayu,
Sambil terus melukis dan menoleh ke arahku.
“Nak?”
Ia memutar kursinya,
Dan kakinya tak ada—Tak ada dalam artian, benar-benar tak ada. Seolah tak ada apa-apa lagi setelah bagian bawah perutnya.
“Sedang apa kau kemari? Tak ada yang berani kesini, lho.”
Ia tidak tua seperti yang kubayangkan, tidak setua mbah, dan mungkin hanya beberapa tahun di atas ibu. Kemeja biru bergarisnya terlihat kusam di bawah mata sabit rembulan.
Aku terus mengayun-ayunkan ranting yang kupegang.
“Tak apa, aku hanya penasaran. Kukira bapak cuma sekedar cerita. Ibu dan mbah biasanya menakut-nakutiku.”
“Apa menurutmu aku terlihat seperti orang jahat?”
“Tidak. Bapak terlihat seperti—”
“Ya?”
“Orang sedih, pak.”
“Lho, mengapa?”
“Karena bapak melukis  sendirian jauh dari orang. Aku punya teman yang selalu menggambar sendirian saat sedih.”
Bapak itu hanya tertawa. Dan memanggilku untuk melihat lukisannya lebih dekat.
“Ada apa dengan kakimu, pak?”
“Ini Memento Mori. Kau tahu apa itu?”
“Apa itu?”
“Pengingat kematian.”
Aku melihat lukisannya—Seperti tamannya, aku hanya mengenali lima warna pada lukisannya.
“Datanglah lagi bila kau mau. ”

Ketika aku datang esok pagi, setelah beli sayur bersama ibu dan mbah, (aku menyelinap setelah mereka masuk ke rumah) ia tak ada disana. Aku mencoba kembali malam hari, dan saat itulah aku sadar bahwa ia selalu melukis tiap malam, dan entah berada di mana saat pagi. Aku mulai mengunjunginya tiap hari, tiap minggu, sewaktu kesepian dan suntuk melandaku.

Aku mulai hafal pola-pola lukisannya, gurat-guratan garisnya yang abstrak. Ia tidak pernah menggunakan warna yang tidak ada pada tamannya, seolah cat yang ia dapat berasal dari bunga-bunga yang ia tanam. Yang ia hancurkan, dan renggut warnanya.
Pada suatu malam yang anehnya tidak dingin, justru sedikit hangat, ia bertanya,
“Apa yang kau lihat di lukisan-lukisanku, nak?”
“Hmm.. Apa ya.. Warna yang dicampur-campur.. Lima warna.. Garis putus-putus..”
“Ini warna-warna dan suara masa lampau.”
Aku menatapnya penasaran,
“Kau masih ingat Memento Mori?”
“Pengingat kematian?”
“Kakiku yang hilang ini bukan hanya pertanda agar aku selalu mengingat kematian. Tapi agar aku tak bisa melupakan, dan meninggalkan masa lampau.”
“Maksud bapak, agar tak bisa meninggalkan tempat ini juga?”
“Ya, ini tempat dimana aku kehilangan banyak hal, kehilangan orang-orang yang kukasihi. Aku ingin tetap bersama jiwa mereka di Pondok ini. Rumah tua reot kami yang sudah lumutan.”
“Apa ini ada hubungannya dengan bunga yang hanya memiliki lima warna?”
Ia meletakkan kuasnya dan memutar kursi rodanya menghadapku, lalu melonggarkan kerah kemeja putih lusuhnya; aku lebih suka kemejanya yang biru bergaris.
“Aku dahulu tinggal dengan empat orang anakku, dan istriku. Ia sangat suka berkebun, dan menanam enam bunga sesuai warna kesukaanku kami. Ia sangat cantik, tak banyak memikirkan soal dirinya. Pada suatu hari, nak, ketika ia pergi ke pasar pagi buta, mendung semilir, dan aku masih menemani anak-anak yang belum terbangun—Badai terjadi. Kami lindung didalam rumah sedangkan—Entah apa jadinya pada istriku dan ibu-ibu yang ke pasar pada pagi hari. Yang kutahu, ketika hujan mulai reda dan semuanya kembali seperti sedia kala, taman kami sudah tak berbentuk, kacau. Pepohonan semua tumbang, jalan-jalan dipenuhi lumpur, dan entah berapa lamapun aku menunggu,
Ia tak kembali dari pasar pagi itu.
Cuaca sangat buruk, dan untuk keluarga di daerah terpencil seperti ini, flu bukanlah penyakit yang mudah, nak.”
“Kau kehilangan keempat anakmu karena flu, pak?”
“Tepat sekali, dan setelahnya, aku mencoba menghidupkan mereka dalam warna-warna yang mereka sukai. Lima warna yang mereka gemari di pekarangan kasih ini. Tapi entah bagaimanapun, mawar putih yang kutanam untuk istriku, di tanah hitam yang sedih dan lembab ini, mendadak menunjukkan bercak-bercak hitam yang makin menyebar ke seluruh kelopaknya. Seolah alam bahkan tak mengizinkanku untuk mengenang dan bertemu lagi dengannya,
Seolah kami takkan pernah bersatu lagi.”
“Aku tak tahan, nak. Aku ingin pergi dari sini. Tapi jika aku pergi, siapa yang akan merawat bunga-bunga ini dan mengenang, mengasihi mereka di gelap sana? Aku berusaha keras mengurungkan niatku, dan untuk memaksa diriku agar tak pergi,
Aku memotong kedua kakiku.”
“Apa tetangga-tetanggamu tak berpikir kau gila, pak?”
“Tentunya. Hal terakhir yang kuingat dari mereka hanyalah kursi roda kayu ini.”
“Mereka menuduhmu menculik anak-anak.”
“Aku tak pernah menculik mereka, mereka datang sendiri, dan aku memperlakukan anak-anak itu sepantasnya.”
“Dasar, gosip ibu-ibu.”
Cerita mengerikan itu terus menghantuiku. Tapi aku tak dapat berhenti mengunjunginya. Aku kasihan padanya, bapak itu pasti kesepian;

Sama sepertiku.

Setahun hampir berlalu, dan minggu depan usiaku akan menginjak 15 tahun. Aku akan dikirim untuk tinggal bersama ayah di ibu kota, dan harus meninggalkan tempat ini.
Aku mengkhianati keinginanku untuk tidak banyak bermain dan mulai menjadi anak yang serius,
Aku tidak ingin kehidupan dewasa yang terlihat sepi dan penuh sesak serta hambar,
Aku masih ingin bermain.

Semalam sebelum ulang tahunku, aku melesat ke Pondok Pancawarna. Aku bersembunyi diantara semak bunga biru sampai pak pelukis menemukanku.
“Hei, apa yang kau lakukan?”
“Sembunyikan aku, pak! Sampai dua hari ke depan?”
“Apa? Mengapa? Mbah dan ibumu akan mencarimu!”
“Aku tak ingin jadi orang dewasa yang sedih dan membosankan, aku masih ingin bahagia dan bermain! Besok lusa ayah akan menjemputku, dan aku harus ikut dengannya untuk belajar di ibu kota—Dengan seragam yang pucat dan kehidupan yang ketat.”
“Bukannya kau pernah bercerita akan memotong rambut keritingmu itu dan berhenti bermain-main.”
“Itu hanya untuk menghibur sepiku—”
“Jangan membohongi dirimu, nak.”

Aku menoleh melihat lukisannya—Lukisan yang biasanya abstrak. Meskipun tidak jelas, aku dapat melihat bahwa itu adalah lukisan Pondok ini, dengan hamparan taman harum dan 4 anak yang bermain riang bersama orangtua mereka, berlarian di pekarangan.

“Kuharap aku dapat bersenang-senang seperti yang lukisanmu itu.”
“Hei, ayolah, jangan murung. Kau harus senang dapat bersama orangtuamu.”
Aku hanya membenamkan wajahku dalam lututku.
“Baiklah, kau boleh menginap untuk dua hari ke depan.”

Pak pelukis menggiringku masuk sambil memutar roda kursinya; ia mempersilahkanku untuk tidur di kamar anaknya, dan minum teh malam sebelum terlelap. Aku biasa melakukannya dengan ibu, mbah, dan ayah; tapi semenjak pindah kemari dan ayah harus berada di ibu kota, ibu dan mbah tidak lagi mengajakku minum teh sebelum tidur

Keesokan harinya aku terbangun, cahaya matahari menyinari jendela kamar yang sedikit berdebu ini, namun terlihat lebih indah dan menarik daripada tadi malam. Mainan dan buku berserakan dibawahnya. Kakiku sedikt nyeri saat tak sengaja menginjak empat batang krayon yang tergeletak di karpet. Aku mencari pak pelukis, tapi sebelum menemukannya aku mendengar tawa riang anak-anak.

Aku berlari ke pintu depan yang letaknya kuraba-raba; aku tak tahu. Tadi malam kami masuk lewat pintu belakang. Pintu depan berhasil kucapai, dan dengan melindungi mataku dari sinar matahari pagi, aku beranjak keluar untuk melihat sebuah keluarga bahagia; empat orang anak dan sepasang suami istri bermain, berlari riang pada sebuah pelataran mengenakan mahkota bunga.
Sang ayah, dengan kemeja biru bergarisnya dengan mudah kukenali,
Itu pak pelukis, tapi ada yang berbeda dengannya.
Ia berdiri pada kedua kaki, dan berdansa dengan riang bersama istri serta anak-anaknya,
Tangannya terulur, ia mengajakku untuk bergabung dengannya,
Dan aku menyambutnya.

Kami berdansa, berdendang, dan makan enak sepanjang hari. Saat malam, aku mencoba untuk melewati gerbang mawar dan mengintip keadaan rumahku; tapi tak bisa. Yang kulihat selepas gerbang mawar adalah hamparan taman yang sama, lebih besar dan luas dari ini.

Aku mencoba untuk melewati gerbang mawar, tapi tak bisa.
Seolah ada kain kasar tebal yang membatasi antara aku dan taman selanjutnya.

Keesokan harinya kami masih bermain, bersenang-senang. Aku semakin akrab dengan empat orang anak yang pakaiannya berwarna sesuai dengan kesukaan mereka, dan dapat dengan mudah mengambil hati istri pak pelukis.
Tapi, malam ini,
Saat aku mencoba untuk melewati gerbang mawar, di depan tirai kain tebal itu;
Yang kulihat adalah wajah ibu.
Wajah ibu, mbah, dan ayah yang panik serta berteriak seolah memukul-mukul tirai kain.
Aku menoleh ke belakang,
Istri pak pelukis memanggilku untuk makan malam.
Pagi hari setelahnya kami masih terus berdendang, dan berbahagia bersama. Tapi ini sudah esok lusa, dan aku harus pulang karena pasti ayah sudah kembali ke ibu kota dan tak akan ada yang mengambilku lagi.
Aku mencoba untuk melewati gerbang mawar, didepan tirai kain tebal itu;
Aku masih tak dapat melewatinya,
Tapi sekarang aku tak melihat taman bunga, ataupun wajah ibu dan mbah yang terlalu dekat—
Aku melihat ruang tamu rumahku,
Dengan ibu, mbah, dan ayah duduk termenung menundukkan kepalanya.
Aku menoleh ke belakang,
Pak pelukis mengajakku bermain lagi; empat anaknya, serta beberapa anak lain, berlari mengejar, menarik tanganku untuk tinggal bersama mereka.

Tinggal dan berbahagia di Pondok Pancawarna untuk selamanya.

Sorry for writing in my native language lately ^^
Suara angin berhembus kencang di depan kamar, pohon di teras bergoyang-goyang dan da
Sunya
Sunya
Aug 25

Penembang Mimpi Buruk
Berusaha membuat sebuah dongeng

Duh, paman tidak ingin mendongengimu cerita seram sebelum tidur, kenapa kamu tiba-tiba minta diceritakan yang seram-seram? Kalau tidak bisa tidur jangan salahkan paman, ya. Apa yang kau dengar sebelum terlelap biasanya akan menyusupi mimpimu, lho. Cerita seram yang kau dengar akan menjadi kutu yang hinggap dan menempel padamu, menghisap darahmu bulir demi bulir. Orang lain tak akan peduli. Mereka juga tak akan merasakan ketakutanmu kecuali kamu dapat menularkannya pada mereka. Kamu yakin masih ingin mendengar cerita yang seram-seram?

Ya sudah, lagipula paman sudah datang jauh-jauh dan berjanji akan mendongengimu tiap malam selama menginap di sini. Kemarin ‘kan sudah paman ceritakan kisah pahlawan-pahlawan dan para pemberontak pada masa lampau, tentang hewan-hewan nakal dan peri yang baik pun sudah. Mungkin memang tinggal cerita seram yang belum paman ceritakan.

Nah, kamu ‘kan sedang paman dongengi sebelum tidur, kalau di tempat paman, sebelum seorang anak terlelap biasanya ibu atau bapaknya akan menembang untuk mereka. Katanya biar sang anak dapat bermimpi indah. Tembang-tembang ini biasanya mereka buat sendiri, tapi sebagian besar mereka dengar dan ingat dari seorang empu yang sangat ahli dalam membuatnya. Apabila seseorang merasa bosan akan tembang untuk anaknya, atau anaknya sudah bertambah usia, ia boleh meminta ditembangi Sang Empu agar nantinya bisa menyampaikan tembang baru ke anaknya. Kebiasaan ini sudah berlangsung puluhan tahun dan tak pernah ada masalah. Semua orang di desa itu selalu bermimpi indah.

Alkisah, ada seorang empu pesakitan yang tembangnya begitu sakti. Empu ini diberi gelar Penembang Mimpi. Dalam tembangnya terkandung doa-doa. Konon seorang anak yang sakit bila ditembangi karya Sang Empu sebelum tidur dapat segera sembuh esoknya. Kata orang-orang, kesaktian empu ini berasal dari nuraninya yang tidak ingin anak-anak tumbuh menjadi pesakitan sepertinya. Tapi, pada sebuah musim yang terik, kesehatan empu makin parah. Obat-obatan dan jamu yang diracik warga desapun tidak banyak menolongnya. Untungnya Sang Empu memiliki seorang anak bernama Handurya Rananta yang sejak kecil telah ia didik untuk menguasai tembang-tembangnya. Si Durya dapat dengan mudah menguasai karya Sang Empu, dan mulai belajar untuk membuat tembang-tembangnya sendiri. Ia ingin menjadi seorang penembang yang sakti dan membawa hal baru bagi orang di sekitarnya.

Suatu hari, Sang Empu dirasa sudah tak mungkin sembuh. Matanya terus terpejam, namun mulutnya masih bisa komat-kamit berbicara. Durya terus berada di sisinya, ia sama sekali tidak berhenti menembang untuk bapaknya. Tiba-tiba mata empu terbuka. Ia menghentikan Durya dan gantian menembang. Kata Sang Empu, “Le, ini tembang terakhirku ya.” Tapi belum sampai tembang itu selesai dilantunkan, nafas Sang Empu sudah tak lagi berhembus. Durya langsung berlari memanggil warga dan mereka menembang untuk Sang Empu sebelum memakamkan beliau.

Iya, iya, lebih terdengar seperti cerita sedih ya?
Coba paman selesaikan dulu ceritanya, menurutmu ini sedih atau seram?

Durya, dengan sigap, langsung menasbihkan dirinya sebagai Penembang Mimpi yang baru. Ia disukai orang-orang dan dikenal sebagai anak yang berbakti, pastinya semua menerima keputusan itu dengan lapang hati. Para orangtua gemar datang pada Durya, minta diajari tembang-tembang terakhir bapaknya yang belum mereka ketahui. Sejauh ini, tidur anak-anak mereka masih damai dan selelap dahulu. Seorang gadis jatuh cinta pada kelembutan dan kelihaian Durya  dalam menembang. Mereka akhirnya memutuskan untuk menikah setengah tahun setelah kematian Sang Empu.

Saat itulah orang-orang mulai menghendaki tembang-tembang baru dari Durya. Mereka juga berpikiran, tembang Durya akan menjadi lebih menjanjikan dan sakti karena cepat atau lambat ia akan menembang untuk anaknya sendiri. Saat para orangtua berkumpul di kediamannya diiringi rintik hujan, Durya melantunkan tembang terakhir Sang Empu yang ia selesaikan sendiri. Mereka tercengang mendengarnya, nadanya merasuk ke hati dan diksinya membuat mereka ingin menangis. Dengan wajah puas, para orangtua kembali. Dengan kebanggaan, Durya dan istrinya menikmati teh di teras rumah sambil menembang.

Tapi setelah orangtua menembang dengan puas dan anak-anak mereka tidur dengan pulas, dingin malam tidak seramah hari-hari sebelumnya. Mimpi indah mereka tiba-tiba berubah menjadi jeritan yang memekakkan mereka. Mereka terbangun di tengah malam menangis gero-gero dan membuat semua orang kebingungan. Ini kali pertamanya ada jeritan pedih di tengah malam. Kali pertama ada yang mengaku melihat hal mengerikan dalam tidur mereka. Yang membuat parah: Anak-anak saja yang melihatnya.

Orang dewasa tidak tahu apa yang anak-anak mereka lihat. Mimpi-mimpi mereka tetaplah indah seperti dahulu kala. Mereka ingin tidak percaya, tapi hampir seluruh anak-anak mengalaminya. Mereka mendatangi Durya, dan ia sendiri juga terkejut ketika mendengar lengkingan itu di tengah malam. Keesokan harinya Durya diminta untuk mengajarkan tembang baru. Masalah disangka lenyap begitu saja, ternyata di malam harinya, anak-anak tetap terbangun meronta-ronta dan menangis.

Mereka semua merasa tidak enak pada Durya yang dengan tulus berusaha meneruskan bapaknya. Tapi mereka tidak ingin kengerian ini terlus berlanjut. Esoknya mereka sepakat untuk mencoba kembali menembangkan karya-karya empu, dan ketenangan kala malam kembali menyelimuti mereka. Durya pun akhirnya mendapat julukan yang hanya diutarakan dengan bisik-bisik; Penembang Mimpi Buruk.

Tapi Durya tak ditinggalkan begitu saja. Karena sungkan, mereka tetap mendatangi Durya dan meminta diajari tembang-tembang baru tanpa mengamalkannya. Di malam-malam sudah tak lagi terjadi teriakan, itu karena mereka kembali menembangkan karya Sang Empu. Hal ini membuat Durya berpikir kalau tak ada yang salah dengan karyanya, dan ia terus membuat tembang pengantar tidur yang baru.

Kepelikan terjadi lagi ketika anak Durya lahir dan usianya menginjak satu tahun. Durya menembangkan karyanya, dan anaknya senantiasa berteriak kencang di tengah malam. Hal ini mulai merisaukan istrinya. Tak ada malam mereka lalui tanpa teriakan sang buah hati kala terlelap. Bangun dengan mata merah yang sembab dan keringat dingin. Parahnya lagi, seraya usinya bertambah, ia jadi lihai mengigau. Pertama-tama hanya ceracau dalam tidur, lambat laun menjadi tindakan-tindakan mengerikan yang menimbukan keresahan. Anaknya seringkali ditemukan berjalan-jalan di sekitar perkampungan dalam keadaan tidur. Memanggil-manggil anak-anak lainnya untuk ikut menyusuri jalanan malam bersamanya. Pernah pada suatu malam seorang yang sedang ronda mengikuti arak-arakan anak kecil yang dipimpin oleh anak Durya. Ia mendapati mereka menuju bukit yang tak jauh dari perkampungan. Karena kejadian itu, Durya menggembok pintu rumah dan menyegel jendela saat malam. Ketika anaknya tak berteriak pun bersuara pada jam biasanya, ia melihat anaknya menindih wajahnya dengan bantal dan megap-megap kehabisan nafas. Istrinya mulai menjauhi Durya, sampai akhirnya, ia membawa kabur anaknya dan menghilang di kegelapan. Tapi keresahan di perkampungan terus belanjut. Orang-orang tak tahan lagi dan akhirnya meluapkan kemarahan mereka pada sang Penembang Mimpi Buruk. Mereka tidak menerima permintaan maaf Durya. Mereka tidak menerima keputusan Durya untuk pergi dari kampung. Hanya bila Durya mati dan ada Penembang Mimpi yang baru lah kengerian di malam hari dapat berakhir. Mereka mengakui bahwa Durya memang piawai dalam menembang dan mengarang, tapi mereka yakin, tidak ada doa di dalam tembang-tembang Durya. Ia menembang dengan menjual lidah dan jiwahnya pada Syaitan.

Dan di malam itulah mereka merantai Durya pada sebuah keranda bambu. Tak lupa, rantai itu dijejalkan pada mulutnya dan mereka memaksa Durya menembang sampai ia tak sanggup lagi bicara. Beberapa hari kemudian, Durya meregang nyawa di atas keranda itu.

Saat itulah warga mulai sering merasakan angin yang aneh berhembus seantero kampung. Angin itu diiringi suara kayu bergesekan dan krincing rantai. Kadang ada juga yang mendengar juga suara seorang pria bergumam lirih. Anak-anak yang paling peka pada hal ini. Sejak kejadian itu, setelah mereka ditembangi oleh ibu bapaknya, mereka tak dapat langsung terlelap seperti dahulu. Mereka akan mendengar suara-suara aneh; gesekan kayu, angin, gemerincing rantai, dehem seorang pria, dan terkadang seperti ada sesuatu yang melesat secepat bintang jatuh terlihat di jendela mereka. jika terlelap, mereka akan bermimpi buruk sampai akhirnya sulit tidur. Kesehatan mereka memburuk. Para orangtua mulai khawatir. Hal ini terjadi pada banyak anak, dan tak sedikit yang berujung pada kematian karena sakit dan takut.

Ada yang bilang kalau tembang-tembang Durya mengantarkan mimpi buruk karena, seperti yang paman bilang tadi, tak ada doa dalam tembangnya. Ada yang bilang juga kalau hal ini karena Durya memiliki ketakutan dan kekhawatiran dalam hatinya yang ia salurkan dalam tembang karyanya. Tak ada yang tahu mana yang benar.

Katanya, hantu Durya membalas perbuatan buruk mereka dengan melesat menggunakan keranda tempat ia dirantai sampai mati. Ia pakai suara-suara yang ditimbulkan oleh keranda bambu, rantai, dan angin sebagai ganti mulutnya yang tak dapat lagi berucap. Ia benar-benar menjadi Penembang Mimpi Buruk. Suara keranda yang terbang melesat ini mirip sekali dengan angin yang suka berhembus tiba-tiba sunyi malam, menggesek ranting pepohonan di halaman rumah. Suara rantainya seperti rantai gembok pagar yang sesekali itu bergoyang karena angin itu jua.

Betul-betul terjadi? Wah, paman tidak tahu pasti. Yang jelas ini cerita yang sudah sering diceritakan di kampung. Apakah cukup seram? Kamu sudah takut? Hati-hati ya, terbawa mimpi. Paman sudah menyalurkan dan menularkan ketakutan paman selama kecil dahulu kepadamu lho ya. Kau yang meminta, jangan marah padaku. Oh, dan jangan lupa membaca doa sebelum tidur.

Paman keluar dari kamarku sembari menyanyikan lagu yang aku tak tahu artinya.
Aku tak takut, tapi tak tahu kenapa kok tak bisa langsung tidur?
Suara angin berhembus kencang di depan kamar, pohon di teras bergoyang-goyang dan dahannya saling bergesekan.
Pagar rumah juga berbunyi karena angin. Rantainya menatap-natap.
Srek, srek, srek,
Hum, hum, hum.

gul itu, tapi dalam dingin dan gelapnya kamar ini yang begitu fana, sanggul ini mengg
Sunya
Sunya
Aug 8

Sebuah cerita pendek

Ketika bertemu temannya, ia menatapnya sejenak dan langsung duduk tanpa menegur sapa.

“Mengapa kau kembali kemari?”

Wajahnya tak sekalipun memandang lawan bicaranya yang terlihat khawatir. Ia hanya menyalakan korek tanpa menyulutnya pada rokok, lilin, atau pada dedaunan kering di bawah kakinya. Ia justru meniup lilin di antara mereka yang sesekali di dekati oleh laron kelimpungan. Kali ini, ia hanya ingin merayakan malam.

Kepalanya tertunduk, wajahnya tak sekalipun memandang lawan bicaranya yang terlihat khawatir. Pendopo tidak semeriah bulan-bulan sebelumnya. Lampu yang dinyalakan tidak sebanyak dahulu. Tidak ada alunan musik dan tarian malam ini. hanya ada dua orang yang saling berdiam dan merayakan malam. Temannya itu menujukan pertanyaan yang sama padanya.

“Untuk apa kau ke sini? Tidak ada yang ingin kemari sekarang sejak kepergianmu.”
“Dan kau?”
“Rumahku hanya di sini, rupanya. Aku tak dapat tidur di ranjangku sendiri.”
“Aku pun.”

Mereka dan para gerong biasanya menginap di pendopo sampai berhari-hari setelah pertunjukan. Itulah rumah mereka. Sekarang, tak seorangpun mau menapaki pendopo itu. Mereka saling terheran dan saling bertatapan saat melihat satusama lain.
Ia mengulangi dan melanjutkan kata-katanya,

“Aku pun, aku terus mengalami mimpi yang sama. Sejak kematian Supadmi,”
“Sejak kematian Supadmi?”
“Ya, sejak kematian Supadmi aku terus memimpikan satu hal.”
“Oh, ya, benar. Aku seharusnya tahu bagaimana kematian Supadmi mengacaukan pikiranmu.”
“Aku penyebab kematiannya, tidakkah begitu?”
“Aku tidak tahu.”
“Supadmi menungguku hingga hilang kewarasannya.”
“Aku tidak tahu kenapa kau sampai tega meninggalkan paguyuban karawitan begitu saja.”
“Aku tidak ingin kalian terus bergantung padaku.”
“Tapi Supadmi yang begitu menaruh harap padamu menginginkanmu kembali. Ia tidak menerima kepergianmu. Ia tak membiarkan siapapun mengambil tindakan. Supadmi terus menunggumu.”
“Benar kan, aku membunuh Supadmi.”
“Aku tidak bilang begitu. Aku hanya bilang ia terus menunggumu,”
“Sendirian—”
“Aku pun menunggumu. Setelah kau pergi dari pendopo ini tanpa membawa apapun siang itu, aku tetap datang kemari malamnya. Tidak ada yang cangkruk malam itu. Tidak ada yang ikut serta menunggumu kembali. Semuanya kecewa. Tidak ada lagi pertunjukan di malam-malam setelahnya. Hanya aku dan Supadmi yang merayakan malam. Supadmi tak pernah melihat wajahku, hanya lereng gunung yang ditatapnya. Sambil menyanyi.”
“Apa yang ia nyanyikan?”
“Pakai bertanya, Ayun-Ayun Tanjung Gunung. Lagu kesukaannya. Iring-iringannya saat menunggu dengan nelangsa.”
“Aku kembali malam itu saat kalian mengadakan pagelaran. Bayangku kalian telah bangkit tanpaku. Ternyata itu pagelaran Ramayana terakhir kalian. Supadmi menyambar keris Jatayu dari Dewi Sinta dan menusukkannya pada perutnya sendiri.”
“Barulah saat terjatuh ia menyadari kalau kau ada di kerumunan.”
“..Aku ingin bertemu Supadmi sekali lagi.”
“Kau menyimpan sanggulnya kan?”
“Aku menyimpan apapun yang miliknya. Hanya tubuhnya yang tak dapat kusimpan.”
“Kau tidak bisa menyimpan nyanyiannya.”
“Tapi ia selalu memberiku nyanyiannya.”
“Supadmi sudah mati, ia tidak bisa bernyanyi lagi.”
“Sejak kematian Supadmi aku terus mempikan satu hal,”

Mereka berpandangan. Lawan bicaranya meletakkan rokok yang abunya rontok pada lantai batu di bawah sadalnya. Tidak ada cahaya dan laron lagi di sekitar mereka. Hanya lampu yang jauh, lereng gunung di seberang sana, suara air dari sungai di belakang pendopo, dan kunang-kunang yang diharap akan datang.

Tidak ada suara, tidak ada nyanyian.

Ia melanjutkan kalimat yang dipenggalnya sendiri,

“Ayun-Ayun Tanjung Gunung.”

Lagu itu, kata Supadmi, selalu mengayun-ayun hatinya. Supadmi yakin betul kalau lagu itu sarat akan kerinduan dan penantian yang getir, bertolak belakang dengan hawa lagunya sendiri yang terkadang terasa sejuk nian.

Ia selalu teringat kata-kata Supadmi. Ia tak pernah melupakan Supadmi meskipun ia meninggalkan paguyuban itu. Dalam hatinya, memang betul ia meninggalkan paguyuban karawitan agar semua orang tak terlalu bergantung padanya, tapi ia tak sekalipun ada pikiran untuk meninggalkan Supadmi.

Sanggul Supadmi dan kebaya merahnya yang bersimbah darah ia simpan dalam kamarnya. Sanggulnya ia letakkan pada sisi kiri ranjangnya. Tiap malam ia tidur menghadap kanan, dan dalam mimpi terlelapnya suara Supadmi yang mendayu menyanyikan Ayun-Ayun Tanjung Gunung tidak mengelusnya dalam haru, tidak menjatuhkannya pada kenyamanan gelapnya lelap. Belum sampai lagu itu selesai, ia selalu membangunkan dirinya dan mengintip ke kiri.

Biasanya, sanggul Supadmi pada meja, di matanya yang buram akan terlihat seperti sebuah kepala yang membelakanginya. Seperti Supadmi yang selalu berada di depannya saat ia memainkan kendang. Ia merindukan kulit sawo matang Supadmi yang tak dapat lagi ia sentuh. Sesekali ia coba gapai sanggul itu, tapi dalam dingin dan gelapnya kamar ini yang begitu fana, sanggul ini menggelinding begitu saja; ia tak ada upaya untuk mengambilnya.

Rino wengi aku tansah ngayun-ayun
Sesinom e tanjung argo
Mangayon-ayon panggalih

Ia lalu akan kembali mengayun-ayun kenangan dan hatinya yang pedih penuh sesal, dan  menidurkan dirinya. Ia tak yakin apakah kejadian tadi hanyalah mimpi belaka atau benar-benar terjadi. Karena saat ia terbangun lagi, sanggul itu tetap berada pada meja kecil reot di samping kiri ranjangnya. Jendela tetap terbuka dan angin subuh dari lereng gunung mengelus-elus dalam sunyi rambut halus yang berjatuhan di keningnya.

Ingin rasanya ia menceritakan hal itu pada kawannya, tapi saat sampai di pendopo, kawannya masih tertidur lelap. Bukan masalah, memang ini masih terlampau pagi. Ia sambangi sungai kecil di belakang pendopo tempat mereka biasanya mencuci kaki setelah berlari-larian di tanah becek dahulu. Sungai yang dangkal, di bawahnya terdapat banyak batu. Dan tak sedikit batu yang tajam. Alirannya juga deras. Ia tak memiliki keluarga lagi setelah pertunjukan terakhir paguyuban karawitan dan gamelan akhirnya dijual. Ia tak memiliki keluarga lagi setelah meninggalkan paguyuban saat itu. Hanya kawannya dan Supadmi. Kawannya yang masih menantinya dan sama-sama tak punya tempat untuk kembali, Supadmi yang tak sampai hati untuk menunggu karena kepedihan dan kehilangan yang ia rasakan.
Ia kini lebih kehilangan banyak hal.

Ia kehilangan keluarga, ia kehilangan cinta, dan ia kehilangan hal yang lestari.

Ia ingin mengumpat tiap tersadar bahwa tidak akan ada lagi di desa ini orang-orang yang akan memeriahkan malam dengan tabuhan gamelan dan gending-gending Jawa. Tidak ada tempat baginya untuk membuka lebar hatinya. Ia lelah. Ia menjadi salah satu dari sekian banyak yang tersesat dalam rimba raya tanpa pelita, dan salah satu dari sekian banyak yang menutup mata serta memotong kedua tangannya sendiri. Ia hanya berharap tidak menjadi salah satu dari yang meludahi dirinya sendiri dan mengacaukan hidupnya.

Ia ingin mengumpat tiap tersadar bahwa ia ingin menhanyutkan dirinya pada arus deras sungai dangkal ini. Ia terkadang ingin mati dan bertemu Supadmi. Kesedihan akan kehilangan Supadmi mencincang habis hatinya pada beberapa banyak bagian. Semua perbuatannya sekarang terasa sakit, semua hal yang lampau begitu sia, dan hal yang kini dan yang akan datang adalah sesal.

Ia ingin mengumpat tiap tersadar bahwa ia mungkin cuma merindukan Supadmi. Hal itu membuat pikirannya melayang kemana-mana.

Bulan tertutup mega dan ia ingin tertidur dengan ingatan indah akan dirinya dan Supadmi di pikirannya. Sanggul berada di meja kecil sebelah kiri ranjangnya, dan ia tidur menghadap kanan seperti malam-malam sebelumnya. Tapi bata merah pada dindingnya yang diterangi cahaya lilin tak dapat membuatnya lupa akan kebaya merah Supadmi yang menghitam karena berlumur darah. Tak juga lupa bagaimana keris itu menancap pada perutnya yang kurus, menembus stagen yang dililitkan berulang kali. Tak bisa lupa bagaimana mata Supadmi terkejut nian saat tergeletak dan melihat dirinya berdiri di antara kerumuman.

Lir mulat randhu kang kenthar
Aku kang sedyo nututi
Mring bathari supadmi
Esemi lir sepet madu

Ia terlelap dan memimpikan nyanyian Ayun-Ayun Tanjung Gunung oleh Supadmi seperti biasanya. Ia membiarkan suara Supadmi memanjakannya sampai bait kedua, dan ia membuat dirinya terbangun. Tak pernah ia berani membiarkan suara Supadmi dalam tidurnya menyanyi sampai habis. Ia ingin tahu, tapi juga takut. Kedua mata itu ia buka perlahan dan ia mengintip kiri. Sanggul itu sedikit serong ke tempat tidurnya. Ia menyentak dan kembali menghadap kanan. Bayang dan angannya melambung pada wajah Supadmi. Pada senyuman Supadmi, pada wajah dan perasaan Supadmi yang begitu terluka saat mengetahui bahwa ia meninggalkan paguyuban karawitan begitu saja. Supadmi mengikutinya kala itu, mengejarnya, memohonnya agar tetap pergi karena ini bukan perkara saling menggantungkan atau masalah lainnya. Ini masalah kekeluargaan dan semuanya di sini saling mencintai. Supadmi pun mencintainya dengan tulus, ia akan rela mengikuti dan menungguinya kapanpun sampai ia kembali. Ia justru merendahkan dan mengumpatnya. Ia meninggalkan Supadmi di jalan menuju lereng gunung. Supadmi memberinya senyuman dan janji bahwa ia akan terus menunggu. Janji yang tak ia tepati.

Rasa bersalahnya pada Supadmi makin memuncak. Ia makin merindukan Supadmi. Ia tak ingin bagun pagi ini.

Ia mengambil kebaya Supadmi yang telah ia cuci dari lemari kayunya. Tubuhnya yang kurus mudah saja cukup dalam kebaya Supadmi. Ia menghabiskan waktu di pendopo bersama kawanna tanpa sepatah kata pun. Kawannya masih tertidur, ia tak terbangun meski sudah dibangunkan.
Kawannya tak terbangun,
Atau sudah tak dapat bangun?

Ia meninggalkan kawannya di pendopo dengan sebuah kata perpisahan,

“Aku merindukan Supadmi, aku merindukan paguyuban, aku merindukan keluargaku,
Aku merindukan Supadmi. Aku ingin bertemu Supadmi.”

Supadmi,
Supadmi,
Supadmi,

Karena ia merasa paling berdosa pada Supadmi yang begitu mencintainya.
Boleh jadi paguyuban karawitan memutuskan untuk membubarkan diri dan menjual gamelan. Tapi meski begitu, ia tahu kalau Supadmi yang dari awal telah bersama dengannya pasti akan tetap tinggal di sisinya.

Begitu juga kawannya.
Tak ada dari mereka yang menepati janji.

Malam itu ia terduduk menghadap sisi kanan ranjangnya. Ia melepaskan kebaya Supadmi, dilipat, lalu ia letakkan di sampingnya, dan tertidur bertelanjang dada. Saat memasuki alam sunyinya, ia mulai mendengar nyanyian lirih Supadmi yang terdengar lebih lantang dari sebelumnya. Untuk pertamakalinya ia membiarkan nyanyian Supadmi mencapai bait terakhir dan putaran kedua lagu,

Dasare ambudaya
Ingudi murih lestari
Kang wus nyoto
Lahir bathin condong roso..

Angin berhembus lembut mengelus rambut di sekitar keningnya. Ia membalik diri dan teringat akan siluet Supadmi dari sanggul yang ia letakkan di meja dekat ranjangnya. Ia menyesali perbuatan yang ia pikir benar dan baik. Ia hanya ingin menyadarkan orang lain dan membuat hidup lebih bermakna dan nyata. Tapi sekarang semuanya malah menjadi semu semata.

Ia membuka matanya setelah menghadapkan dirinya ke arah kiri. Supadmi membuka matanya. Supadmi berada di sebelahnya, matanya terbelalak dan bibirnya tersenyum getir, ia mengenakan sanggul yang terakhir ia pakai dan kebaya merah kebanggaannya. Gincunya belepotan karena darah yang ia muntahkan saat menujamkan keris pada perutnya. Supadmi berada di sebelah kirinya. Supadmi masih menunggunya sampai saat ini. Meski dunia menolak dan mereka telah terpisahkan, sebuah keinginan yang kuatlah yang akhirnya akan mempetemukan mereka.

Ia tak lagi memiliki keluarga. Ia tak lagi memiliki paguyuban karawitan. Ia tak lagi memiliki hal yang ingin ia lestarikan. Ia tak lagi memiliki kawan. Ia tak lagi menginginkan kenyataan.

Sekarang ia hanya merindukan Supadmi, menginginkan Supadmi, dan ingin hidup abadi bersamanya karena cuma Supadmilah yang ia miliki meski berbau amis dan perutnya mengucurkan darah. Supadmilah yang masih ingin memilikinya dalam keadaan apapun.

“Aku kang sedyo nututi.”
“Lahir bathin condong roso.”

Ia merayakan malam untuk terakhir kali, dan tak pernah terbangun lagi setelahnya.

 
To comment on this poem, please log in or create a free account
Log in or register to comment